
Keadaan mendadak hening setelah kehadiran Kalfa yang tak diundang. Wajah kesal Restu pun terlihat jelas. Jangan ditanya bagaimana wajah Aleena. Sedari tadi Aleena hanya terdiam, itu tak luput dari pandangan Rangga.
Restu memang tidak akrab dengan Kalfa. Di matanya Kalfa adalah anak yang selalu berlindung di balik nama ayahnya. Padahal statusnya sama seperti dirinya, anak angkat.
"Kalau lu mau makan Bayar sendiri." Begitu ketus ucapan Restu kepada Kalfa. Aleesa menatap Restu dengan tatapan bingung.
"Bie--"
"Anak tunggal dari orang kaya masa gak mampu buat bayar makanan yang dia makan."
Ternyata ada kejadian di mana Restu menyimpan dendam kepada Kalfa. Ketika Restu membutuhkan pertolongan ketika di bangku SMA karena dia tidak membawa uang, Kalfa malah mengejeknya dan dengan sombongnya melempar uang yang Restu butuhkan ke wajahnya. Sontak, di situ Restu marah dan menonjok wajah Kalfa. Namun, Satria yang tak lain adalah adik dari Addhitama tak terima. Dia malah melabrak Restu dan membalaskan apa yang dilakukannya kepada Kalfa. Tidak hanya itu juga, dia harus menerima skorsing selama tiga hari.
Tidak banyak yang tahu perihal itu. Termasuk Rio. Itulah alasan kenapa Restu menjadi pria pekerja keras karena dia pernah direndahkan oleh anak orang kaya. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa lebih kaya dari orang itu.
Semua orang terkejut mendengar ucapan dari Restu yang begitu kejam. Rindra menatap ke arah sang putra dengan raut penasaran. Sedangkan Aleesa sudah menggenggam tangan Restu mencoba untuk menenangkannya.
"Lu punya masalah pribadi sama nih anak? Ampe segitu tajamnya mulut lu." Rio sudah menaruh curiga. Restu tidak menjawab dan Kalfa pun hanya terdiam.
"AHJUSSI!"
Suara lantang lima kurcaci membuat semua orang
menoleh. Wajah mereka nampak bahagia. Mereka berlari menghampiri Restu.
"Makasih, Ahjussi." Ghea tersenyum manis ke arah Restu membuat Restu ikut tersenyum.
"Thank you, Ahjussi. Sayang banyak-banyak deh sama Ahjussi." Balqis sudah berkata dengan sangat bahagia.
Tiga sepupu Aleesa yang lain hanya mengucapkan terima kasih. Namun, Apang memeluk Restu sebelum dia menghampiri sang ibu.
"Sering-sering aja begini," bisik Apang.
Restu malah tertawa. Aleesa menukikkan kedua alisnya. Ada rasa penasaran di hatinya kenapa para kurcil bisa langsung akrab dengan Restu.
__ADS_1
"Kalian dari mana?" Jingga sudah bertanya kepada anak-anaknya.
Pertanyaan Jingga terjawab dengan adanya lima orang berbaju hitam membawa lima kantong kresek berukuran sangat besar.
"Ahjussi itu sewain kita mainan capit boneka, dan kita banyak dapat boneka." Arfan bercerita dengan sangat antusias.
Aleesa menatap tajam ke arah Restu dan hanya senyuman yang menjadi jawabannya. Dia menatap dalam mata Aleesa.
"Dapat restu dari keluarga besar kamu itu perlu modal yang gak sedikit, Lovely." Jujur sekali ucapan Restu hingga membuat semua orang tertawa. "Apapun akan aku lakuin, supaya ketika menikah semua orang bahagia." Manis sekali ucapan dari Restu. Terlebih dia selalu memperlakukan Aleesa dengan begitu lembut dan penuh cinta.
"Ahjussi, Adek lapar. Boleh pesan makanan?" Ghea sudah meminta dengan sopan.
"Pesanlah apa yang kalian mau." Kelima sepupu Aleesa pun bersorak gembira. Namun, Aleeya mencoba untuk protes.
"Kenapa gak adil sih, Kak?" Restu mulai menatap Aleeya.
"Mereka masih anak kecil, sedangkan laki-laki yang ada di samping lu itu udah bangkotan."
.
"Bisa gak sih kalo masuk ke--"
"Lu kenapa bawa si kelapa ke acara tadi?" Aleesa terlihat geram.
"Itu 'kan keluarga kita juga, Kak." Aleeya masih membela Kalfa.
"Tapi, dia gak diundang, Yaya." Aleesa mulai geram. "Apa lu gak liat gimana wajah kelurga kita tadi?"
"Gak usah lebay deh, Kak. Semenjak pacaran sama Restu lu jadi songong." Aleeya pun mulai terpancing.
"Jaga mulut lu!" Aleesa tidak terima dengan perkataan Aleeya. "Lu harusnya peka sama Kakak Na. Jangan seenak udel lu!" Aleena yang baru saja hendak masuk mengurungkan niatannya. "Lu tuh kaya pohon pisang punya jantung, tapi gak punya hati."
Aleena hanya menghembuskan napas kasar ketika mendengar perdebatan dari kedua adiknya.
__ADS_1
"Apa aku semenyedihkan itu?" Aleena memilih pergi. Dia meminta ijin kepada sang ayah untuk keluar sebentar. Radit mengiyakan karena dia tahu apa.yang terjadi pada putrinya.
Aleena berjalan menuju kedai kopi yang ada di depan kompleks elite rumahnya. Dia hanya ingin menenangkan diri. Choco ice yang dia pesan. Menyandarkan tubuhnya dan mencoba menutup mata sejenak.
Rasa sakit, kecewa yang sudah dua tahun berlalu nyatanya masih tetap ada. Walaupun Kalfa sering menemuinya, tapi tak membuat Aleena luluh untuk memaafkannya. Hatinya sudah terlanjur sakit. Hatinya terlanjur perih. Dia seperti trauma dengan yang namanya rasa cinta.
Aleena memang bersikap biasa, tapi hatinya tidak biasa. Hatinya menangis begitu keras. Selama ini dia menangis dalam hati. Memendam perasaannya seorang diri dan mencoba fokus kepada kuliahnya. Sulit, tapi dia harus bisa menghadapi.
Teringat ketika Aleena didatangi oleh ayah Kalfa. Adik dari opanya tersebut mengancam Aleena untuk menjauhi Kalfa. Padahal, Kalfa lah yang sering datang ke Singapura untuk menemuinya. Aleena hanya diam biarlah dia dicap buruk, yang paling penting dia tidak melakukan itu. Jika, orang yang sudah dianggap jahat berbicara sejujur-jujurnya pun pasti tetap tak akan dipercaya. Sampai sekarang ayah Kalfa masih sering mendatanginya jika sifat Kalfa berubah. Dia selalu menyalahkan Aleena atas Kalfa.
"Aku ambil jurusan psikologi, tapi aku sendiri belum bisa mengendalikan diri."
Aleena menikmati choco ice seorang diri dengan duduk di samping jendela. Pikirannya tengag terbang melayang. Apalagi kedua adiknya bertengkar karenanya.
"Aku sudah mengalah, tapi selalu saja salah."
Ingin rasanya Aleena menjerit kencang dengan keadaan ini. Dia lelah, dia ingin pergi dari keadaan ini. Kata-kata tak pantas pernah dia terima dari ayah angkat Kalfa. Menyakitkan, tapi tak pernah sekalipun dia mengungkapkannya kepada orang lain. Walaupun kepada keluarganya. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
Hubungan kedua adiknya pasti akan renggang karenanya. Dia salah kembali ke Jakarta. Dia ingin kembali lagi ke Singapura atau ke tempat yang lebih jauh dari itu agar Kalfa berhenti mengejarnya. Dia sudah lelah dikejar orang yang dia cintai, tapi sesungguhnya hati orang itu tidak untuknya.
"Psikolog juga manusia, aku membutuhkan bahu untuk bersandar ketika aku lelah dengan semuanya. Aku butuh telinga untuk mendengarkan semua keluh kesah ku yang sama seperti mereka." Lirih dan juga lemah suara Aleena. Bulir bening pun menetes begitu saja. Kembali ke rumahnya seperti membawa ketidaknyamanan untuknya.
"Aku ingin pergi jauh untuk saat ini. Menyembuhkan setiap luka yang sudah aku terima. Aku ingin menenangkan jiwaku yang sudah lama terguncang karena orang-orang yang selalu mengintimidasi ku."
"Jangan menunjukkan air mata dan kesedihanmu di depan orang lain. Bersembunyilah di balik punggungku ini." Aleena terdiam. Dia sangat tahu suara siapa itu.
"Keluarkan semuanya karena aku tahu ada banyak beban kepedihan yang kamu pikul sendirian." Air mata Aleena pun mengalir semakin deras. Dia juga merasa memang ada punggung seseorang yang menghalanginya.
Tanpa Aleena sadar, kedua tangannya dilingkarkan di pinggang orang itu dan pada akhirnya tangis Aleena sedikit bersuara dan wajahnya pun sudah dia benamkan di punggung tersebut.
"Akankah aku bisa menyembuhkan setiap sedihmu, Na?"
...***To Be Continue***...
__ADS_1