
"Kenapa gak dibukain, Kak?" Suara Aleesa sudah terdengar. Di sana bukan hanya ada Aleesa, Restu pun ada juga di sana.
Melihat kelakuan Rio yang seperti tadi membuat Restu maju dan melihat ke arah kamera. Lengkungan senyum yang begitu lebar terukir jelas di wajahnya. Tanpa ragu dia pun membukakan pintu.
"Tuan."
Kepala pria itu menunduk sopan. Begitu juga dengan seorang wanita yang duduk di kursi roda. Dia ikut menunduk dengan kepala dia anggukkan sedikit.
"Masuklah!"
Pria dan wanita yang duduk di kursi roda itu menunduk sopan kepada Aleesa yang mematung. Aleesa tahu siapa pria itu. Wajahnya sudah berubah dan segera menatap suaminya. Restu mendekat dan merangkul mesra pundak Aleesa. Gelengan kepala yang Restu berikan.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
.
Satria terus memaksa Kalfa untuk terus menggali informasi kepada Aleeya tentang langkah yang diambil oleh Restu.
"Aleeya tidak tahu, Pih. Lagi pula sudah dua hari ini dia tidak bisa dihubungi."
Seketika tubuh Satria menegang. Dua hari yang lalu dia ke rumah Radit dan beradu mulut dengan Aksa karena Aksa membeberkan sebuah fakta yang keponakannya pun tak tahu.
__ADS_1
"Apa Aleeya mendengar semuanya?"
Satria berpikir keras. Satria harus bisa meyakinkan Aleeya. Melihat sang ayah yang terdiam membuat Kalfa semakin curiga.
"Kenapa Papih diam pas aku bilang Aleeya tidak bisa dihubungi? Apa Papih melakukan sesuatu hal kepada Aleeya?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Kalfa. Tatapan tajam pun Kalfa berikan.
Satria langsung menoleh ke arah Restu. Dia menatap serius ke arah putranya tersebut.
"Mana mungkin Papih menyakiti calon menantu Papih?"
Kalfa mengangkat sudut bibirnya sedikit. Kepercayaannya terhadap sang ayah perlahan mulai terkikis. Dia merasa banyak drama yang Satria lakukan.
Sudah lama kalimat itu ingin Kalfa ucapkan, tapi mulutnya tak mampu terbuka. Beda halnya dengan sekarang ini. Dia seakan berani mengungkapkan apa yang dia rasakan. Pertanyaan itu sontak membuat Satria terdiam.
"Benar kata Papih cinta akan datang seiring berjalannya waktu, tapi rasa cinta aku ke Aleena itu beda dibandingkan kepada Aleeya. Aku tidak mengerti dengan perasaan aku kepada Aleeya, cinta atau iba," terang Kalfa dengan begitu lemah.
"Fa, Papih--"
"Papih ingin memberikan yang terbaik untuk aku." Kalfa memotong ucapan Satria dengan senyum terpaksa.
"Kamu adalah penerus Papih. Jadi, kamu juga berhak mendapat pasangan yang sepadan dengan kamu."
__ADS_1
"Kenapa Papih tidak setuju kepada Aleena? Padahal dia juga sama anak Om Radit."
Satria tidak bisa menjawab. Mulutnya kelu. Dia tidak akan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Dia tidak ingin menunjukkan keburukannya kepada sang putra. Satria selalu menunjukkan hal yang membanggakan kepada putranya agar Kalfa bisa meniru dirinya.
"Papih melarang, tapi tak pernah memberikan alasannya. Jangan buat aku bingung, Pih."
Satria mulai merasa terpojokkan dengan apa yang dikatakan sang putra. Dia bingung harus menjawab apa. Hingga suara bel berbunyi. Satria pun bisa bernapas dengan lega.
"Papih bukain pintu dulu."
Kalfa menjawab dengan menghembuskan napas kasar. Dia menatap punggung sang ayah yang mulai menjauh. Kalfa memejamkan matanya sejenak.
"Kenapa semakin ke sini aku semakin tak mengenal Papih?"
Satria membuka pintu rumahnya. Seketika tubuhnya menegang melihat seorang pria muda dengan wajah tegas dan sorot mata tajam ada di depan pintu rumahnya. Dia tidak sendiri, dia datang dengan seorang perempuan yang berada di atas kursi roda.
"Bagaimana dengan rencana Anda? Apa berjalan lancar karena saya tak muncul ke permukaan?"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1