RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 148. Bagai Guci Langka Nan Mahal


__ADS_3

Restu dan Aleesa pulang ke apartment. Sengaja Restu tidak langsung mengantar Aleesa pulang. Namun, wajah Aleesa berubah muram. Itu membuat Restu sedikit bingung. Padahal tadi Aleesa terlihat baik-baik saja.


"Kamu kenapa?"


Aleesa sedari tadi diam dengan menatap lurus ke depan. Hatinya tiba-tiba sakit tak terkira.


"Lovely." Restu sudah bersimpuh di depan Aleesa yang tengah duduk di sofa. Seketika air matanya menetes. Semakin bingung dan Restu segera memeluk tubuh Aleesa.


"Kenapa?" Lagi-lagi Aleesa tidak menjawab.


Ketika tangis Aleesa reda, Restu mulai mengendurkan pelukannya. Dia menghapus air mata yang sudah membasahi wajah Aleesa.


"Kenapa?" Restu bertanya lagi.


"Bisakah kita hanya melakukan akad terlebih dahulu?" tanya Aleesa dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa?" Restu tidak mengerti. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak perihal Aleesa.


"Aku ingin bahagia bersama kakakku. Aku tidak ingin hanya bahagia sendiri." Suara Aleesa sangat berat. "Bagaimanapun aku dan dua saudaraku dilahirkan berbarengan. Ikatan batin kita sangat kuat, dan aku yakin Kakak Na sedang tidak baik-baik saja di sana." Air mata itu tumpah kembali.


"Ada apa dengan Aleena?" Restu tidak tahu karena keluarga Aleesa seakan tertutup dengan apa yang tengah terjadi pada keluarganya.


Aleesa menunjukkan sebuah video kepada Restu dan itu membuat Restu melebarkan mata. Restu menatap Aleesa penuh tanya.


"Itulah yang terjadi," jelas Aleesa. Restu hanya menggelengkan kepala.


"Kamu mau 'kan?" Aleesa berharap banyak kepada Restu.


"Iya." Dia tidak bisa menolak. Bukan karena dia takut pada Aleesa, tapi dia juga merasa kasihan kepada Aleena.


"Bolehkan setelah dari Zurich kita temui Kakak Na?" Restu pun mengangguk.


"Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu bahagia."


Aleesa merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan Restu dan kini dia disatukan dengan pria yang sama sekali tak dia sangka akan menjadi pendamping hidupnya.


"Kakak Na, aku doakan semoga Kakak mendapat pria yang memang tulus mencintai Kakak dan selalu membuat Kakak bahagia."


.


Kesedihan Bukan hanya dialami oleh Aleesa, Raditya selaku ayah dari si triplets pun tengah menahan rasa sedih yang semakin hari semakin bersarang di hatinya. Rasa sakit semakin menjadi ketika dia mendapat kabar baru perihal Aleena.

__ADS_1


Radit hanya bisa menunduk dalam. Dia bukan diam, tapi dia tengah memberikan ruang. Dia sangat mengerti bagaimana berada di posisi Aleena sekarang.


"Ba--


Suara sang istri terdengar. Echa sudah berada di ambang pintu. Matanya nanar. Radit mencoba untuk tersenyum sesedih apapun dirinya.


"Kita harus pergi menemui Aleena." Radit menggeleng.


"Kenapa? Dia butuh kita, Ba." Suara Echa sudah sangat berat.


Radit menghampiri sang istri. Dia merangkul pundak Echa dan menatap istrinya dengan begitu lekat.


"Aleena bukanlah tipe orang yang merasa nyaman dengan kehadiran kita ketika dia sedih. Dia memang hancur, tapi dia tidak ingin kita melihat kehancurannya. Dia sedang berusaha mengembalikan semuanya. Dia sedang berusaha meskipun jalannya begitu sulit dan penuh air mata."


"Bagaimana dengan psikisnya, Ba? Itu yang paling bahaya." Echa benar-benar khawatir.


"Dia belajar psikolog, dia pasti mengerti bagaimana mengatur emosi. Baba pun sudah mengirimkan seseorang untuk membantunya sembuh dari semuanya."


"Siapa?"


Baca cerita Mengudara Bersamamu (Aleena) di planet F * Z * O karena di sana akan dijelaskan semuanya.


.


"Kenapa sih, Bie?" Aleesa sudah lelah, sedari tadi dia terus bersandar di bahu lebar Restu.


"Ada seseorang yang mau datang." Dahi Aleesa mengkerut, dia mulai menatap penuh tanya ke arah Restu.


"Siapa?"


"Ada lah." Aleesa semakin merengut. Restu semakin gemas jika sudah melihat calon istrinya seperti ini.


Sepuluh menit kemudian, bel berbunyi dan Restu segera membukakan pintu dan meninggalkan sejenak Aleesa. Senyum Restu menyambut kehadiran seorang pria yang rapi dengan setelannya.


Aleesa tidak mengenal orang itu, dia menatap ke arah Restu yang hanya menyunggingkan senyum. Tatapan Aleesa masih tertuju pada Restu.


"Perkenalkan saya Setyo, pengacara dari Pak Restu Ranendra." Aleesa semakin tidak mengerti.


"Ada apa ini?"


Restu sudah menggenggam tangan Aleesa. Dia pun mengusap lembut punggung tangan calon istrinya seraya menyunggingkan senyum manisnya yang membuat hati Aleesa meleleh..

__ADS_1


"Kira-kira seminggu yang lalu Pak Restu datang kepada saya. Dia menceritakan semuanya apa yang dia inginkan dan tengah dia rencanakan. Perbincangan kami berjalan dengan begitu alot hingga pada akhirnya tercipta satu buah keputusan.".


Aleesa masih tidak mengerti. Apa yang Restu dan pengacara itu katakan harusnya tidak perlu dibahas di depan dirinya, tapi ini malah sebaliknya. Aleesa benar-benar bingung.


"Lebih jelasnya Anda baca ini," ujar Pak Setyo. Dia menyerahkan map berwarna merah kepada Aleesa dan menyuruhnya untuk membaca dengan teliti..


Mata Aleesa pun melebar ketika membaca kalimat terkahir. Dia segera menatap ke arah Restu yang sudah mengangguk.


"Enggak." Aleesa menggeleng. "Aku hanya ingin menyempurnakan ibadahku dengan menikah. Bukan untuk menguras hartamu."


Respon Restu malah tertawa. Dia mengusap lembut pipi Aleesa. Dia juga mengusap lembut ujung kepala anak kedua dari Raditya.


"Kamu bukan penguras harta, tapi akulah yang memberikannya dengan suka rela. Itu bukti bahwa aku memang benar-benar ingin menikahimu."


Speechless.


Aleesa tak bisa berkutik, Aleesa hanya bisa diam. Tatapannya masih tertuju pada Restu.


"Ini bukan nominal sedikit," ujar Aleesa. Sungguh Aleesa tidak percaya. Restu hanya tertawa.


"Apa keluarga kamu sudah mengetahuinya?" Aleesa tidak ingin dicap wanita matre.


"Mereka tidak tahu tentang kekayaanku, tapi Papih tahu dengan keputusanku ini." Aleesa semakin memicingkan mata. "Dan Papih tidak mempermasalahkannya."


"Tapi, Bie--"


"Kamu bilang gak ingin mahar besar 'kan. Maka dari itu, aku memberikan itu semua. Kamu ingat 'kan apa yang pernah aku katakan dulu perihal buy your lips."


Pak Setyo melebarkan mata mendengar penuturan Aleesa. Dia masih mendengarkan dengan seksama.


"Bibir kamu aja aku ganti dengan apartment ini, apalagi kesucian kamu, dan nilai itu sepadan untuk membayar seluruh tubuh kamu yang nantinya akan aku miliki." Pak Setyo sangat terkejut.


"Ketika aku sudah berkata ingin menikahi kamu itu berarti aku sudah siap membayar mahal kamu karena aku telah mengambil kamu dari Ayah dan ibu kamu. Kamu itu seperti barang pecah belah, harus dijaga jangan sampai pecah. Apalagi kamu itu bak guci mahal dan langka yang tidak semua pria mampu untuk mendapatkannya." Aleesa merasa sangat tersentuh. Brandal kesayangannya sangatlah manis.


"Sekarang, tanda tanganilah, wahai calon istriku," pinta Restu yang sudah memberikan pulpen kepada Aleesa. Perempuan berusia dua puluh tahun itu menghela napas berat.


Semua kekayaan termasuk aset, saham dan lainnya milik Restu Ranendra akan diserahkan kepada Aleesa Addhitama selaku istrinya. Total kekayaan mencapai 10.000.000$. (Hitung sendiri ya kalau dirupiahkan berapa)🤭


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


Di planet F pun sudah terbit, ya. Yang belum ke sana aku tunggu ...


__ADS_2