
Restu menggelengkan kepala ketika melihat keakraban Rio dan juga Ghea. Ada kekhawatiran di hatinya jika Rio menaruh hati kepada Ghea. Ghea masih terlalu kecil. Dia tidak ingin Rio menjadi pedofil.
Sama halnya dengan Rio, Agha pun merasakan hal yang sama. Dia ingin melarang sang adik, tapi melihat adiknya bisa tertawa lepas jika bersama Rio membuat dia tidak tega mengatakan itu. Agha masih memperhatikan dari jauh. Jika, sudah kejauhan barulah Agha bertindak. Dia tidak akan grasak-grusuk. Kedua orang tuanya pun masih bersikap biasa.
Rio tak segan mengusap lembut rambut Ghea begitu juga dengan mencubit gemas pipi Ghea di depan banyak orang. Restu hanya bisa menatap dengan menghela napas berat. Itu menandakan Rio sudah kelewat batas di matanya.
Aleesa mengusap lembut punggung tangan Restu ketika dia sedang menyusui putranya. Restu malah meletakkan kepalanya di pundak Aleesa. Kecemasan Restu dapat Aleesa rasakan.
"Kalau kamu lelah tidur aja." Restu menggeleng. Dia masih memperhatikan adiknya yang tidak tahu umur menggoda bocah ABG. Tawa Ghea dan Rio sangat lepas. Itu membuat Restu menghela napas bera untuk kesekian kalinya.
"Sasa, Aqis mau pulang. Si bibit unggulnya juga udah tidur." Balqis sudah berdiri dan diikuti ketiga kakaknya.
"Ahjussi, Apang pulang, ya. Kalau butuh bantuan telepon Apang aja." Restu pun mengangguk.
Agha sudah mengajak Ghea pulang. Namun, adiknya menolak. Agha pun mulai mendesah panjang. Dia menatap ke arah Aleesa. Meminta bantuan kepada sang kakak sepupu. Biasanya jika Aleesa sudah membuka suara, dia akan menurut.
"Adek, pulang dulu gih. Ahjussi gak bisa anterin Adek pulang kalau Adek gak pulang bareng sama Mas Agha.. Juga sopir lagi gak ada." Aleesa berkata dengan begitu lembut. Alhasil, Ghea pun menuruti apa yang dikatakan oleh Aleesa dengan raut sedikit kecewa.
Ketika mereka semua telah pulang, Restu mendekat ke arah Rio yang tengah memandangi putranya.
"Jangan jadi pedofil!"
Dahi Rio mengkerut mendengar ucapan Restu. Dia menoleh ke arah Restu dan menatap tajam ke arah sang kakak.
"Apa sih maksud lu?" tanya Rio.
"Ghea masih kecil. Judulnya menikahi Om."
Restu memarahi Rio tanpa ampun hingga Rio berdecak kesal. Dia malah mengajak bicara sang keponakan yang sedang tertidur.
"Bapak kamu kenapa itu? Baru juga puasa tiga hari udah negcapruk bicaranya."
Kini, Restu yang menggeplak kepala Rio dengan cukup keras hingga Rio mengaduh kesakitan..
"Lu mah beneran mainnya."
Aleesa menggelengkan kepala ketika melihat Rio dan suaminya beradu mulut. Aleesa memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sudah sang ibu siapkan di ruang keluarga. Itu sengaja Echa lakukan karena akan ada banyak yang menjenguk cucunya agar tak keluar masuk kamar pribadi mereka.
"Bie, aku mau tidur dulu, ya. Jaga si tampan."
Restu mengangguk. Dia mengecup kening Aleesa sebelum sang istri memejamkan mata dan itu mampu membuat Rio berdecak kesal.
"Udah punya anak. Sadar ngapa," omel Rio karena tetap saja kakaknya ini senang mengumbar kemesraan di hadapannya.
"Makanya kawin. Jangan godain bocil." Rio pun berdecak kesal.
"Gua itu udah anggap Ghea kayak Adek gua. Kan bahagia banget tuh ketika gua punya Kakak terus punya adik juga."
Menjadi anak tunggal dan tidak punya saudara kandung membuat Rio merasa kesepian. Dia terkadang iri melihat temannya yang memiliki saudara banyak. Bisa bertengkar, bisa gantian pinjam baju dan banyak lagi yang lainnya. Beda halnya dengan dirinya yang tak memiliki siapa-siapa.
"Beneran cuma anggap Ghea adik doang?"
Rio pun mengangguk dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ghea adalah anak yang sangat manis dan dia menyukai sikap Ghea tersebut. Bukan hanya Rio yang menyukai Ghea, kedua orang tuanya pun sudah menganggap Ghea seperti anak mereka.
"Jangan terlalu dekat. Cewek itu main perasaan. Apa yang kita anggap biasa, bisa jadi dia menganggap tidak biasa."
Restu mencoba untuk memberitahu sang adik. Dia pernah merasakan hal itu. Maka dari itu sebelum menikah dia sangat menjaga jarak kepada perempuan.
"Tatapan Agha aja udah beda banget."
Restu tersenyum dan menatap ke arah Rio. Sedangkan Rio sudah memejamkan mata.
"Lu tahu kan segimana protect-nya Agha ke Ghea. Dia udah merasakan hal yang gak beres makanya dia seperti itu."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Rio. Dia malah mendekat ke arah keponakannya yang sangat nyenyak tidurnya.
"Kalau udah gede jangan banyak suudzon, ya. Kalau ada apa-apa cari tahu dulu, baru bertindak."
Rio malah mengajak sang keponakan berbicara. Padahal, keponakannya sedang tertidur.
"Jangan badung kaya bapak kamu. Entar Om gantung di pohon toge."
.
Banyak kiriman hampers untuk cucu pertama Raditya Addhitama dari para kolega kakek dan neneknya. Kamar Restu junior sudah dipenuhi kado dan hampers dari brand dunia. Namun, Restu menyuruh seseorang yang ditugaskan untuk membuka dan memeriksa barang-barang tersebut. Dia takut ada yang mengirimkan barang aneh.
"Baru seminggu juga udah punya pengawal."
Echa yang tengah menggendong sang cucu mengajak bicara restu junior yang terjaga. Sedangkan Echa sedang bersiap karena hari ini jadwal dia kontrol ke dokter.
"Beneran jalannya udah enakan?"
Restu masih sangat khawatir. Dijahit di tangan saja lama sembuhnya apalagi di bagian bawah istrinya.
__ADS_1
"Udah, Bie."
Aleesa sudah ada di depan meja rias dan membubuhkan bedak tipis di wajahnya. Suaminya memeluk tubuh Aleesa dari belakang.
"Baru seminggu dan butuh tiga puluh tiga hari lagi buat buka puasa."
aleesa tertawa mendengarnya. Dia membalikkan tubuhnya dan mendongak menatap ke arah sang suami.
"Kepala aku cenat-cenut terus."
Restu merendahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. Aleesa mengusap lembut rambut sang suami yang seperti anak kecil.
"Kan masih ada cara lain, Bie."
Restu menegakkan kepalanya dan menatap ke arah Aleesa, Dahinya seketika mengkerut. Aleesa tak menjawab, dia malah mencium singkat bibir sang suami seraya tersenyum. Kedua alisnya pun dia naik-turunkan.
"Emang kamu mau?"
"Untuk suami aku apa yang enggak sih." Restu malah tertawa dan tanpa berlama-lama dia sudah membuka resleting celana. Keluarlah belalai bongsor yang sudah sangat mengeras.
"Bie--"
"Ini gak bisa tidur, Lovely. Apalagi kamu selalu ada di samping aku."
"Tapi, kita mau--"
"Sebentar aja."
Aleesa menyesal menjawab pertanyaan Restu. Jika, akhirnya sang suami langsung merealisasikan. Mau tidak mau Aleesa memegang belalai tegangan tinggi yang urat-uratnya sudah nampak begitu jelas.
"Jilatin, Lovely."
Desisan bagai ular sudah keluar dari mulut Restu. Pelan-pelan Aleesa mulai mengikuti perintah Restu. Baru sekali dijhilat, suara sang ibu sudah terdengar,
"Anak kamu nangis, Sa."
Suara Restu junior yang tengah menangis pun terdengar. Restu senior malah mengerang kesal karena diganggu oleh putranya sendiri.
"Atuhlah!"
Restu sudah frustasi sendiri. Belalai yang sudah sangat panas kini mulai menciut karena sudah tidak ada sengatan.
"Pakai celana kamu, Bie."
Aleesa meninggalkan sang suami yang kesal kepada sang putra. Sang istri sudah mengambil Restu junior dari ibunya.
Aleesa duduk di sofa panjang kamar dan memberikan putranya asi. Restu mendekat dan menowel-nowel pipi merah restu junior
"Kayaknya mulai posesif banget ya sama Mami, sampai Papi gak boleh deketin Mami."
Anak itu malah asyik menyusu dan membuat Aleesa sedikit meringis karena poetingnya yang masih sakit.
"Campur susu formula aja atuh kalau setiap enen begitu mah."
Restu memberikan ide, tapi Aleesa malah meliriknya dengan begitu tajam menandakan dia tidak setuju dengan ucapan sang suami.
"Aku akan mompa susu. Jadi, pas nanti aku kembali kuliah dia udah punya stok banyak."
Asi eksklusif itulah yang ingin diberikan Aleesa kepada putranya. Restu tidak bisa berkata, dia mengikuti saja kemauan sang istri.
"Sama Pupu dan Mumu dulu, ya. Mami dan Papi mau ke rumah sakit. Jangan nakal, ya."
Aleesa mencium pipi merah sang putra. Lalu, meletakkannya di tempat tidur bayi yang ada di kamar.
"Papi pergi ya, Nak."
Restu mencium pipi merah sang putra. Dia tersenyum ketika melihat wajah putranya seperti dirinya.
"Ke anak mah gak bisa marah ya, Pi."
Sang istri mulai meledek Restu. Sontak Restu mencubit gemas pipi ibu dari Restu junior.
"Bisa dong kalau dia salah."
Aleesa tersenyum memeluk tubuh sang suami. Restu membalas pelukan istrinya dan mencium ujung kepala Aleesa.
"Makasih ya, sudah menjadi suami dan ayah yang siaga."
Setiap hari mereka selalu mengucapkan terima kasih satu sama lain. Kehadiran Restu junior membuat rumah tangga mereka semakin hangat.
.
Dua Minggu berlalu, belum ada satupun keluarga yang tahu akan nama dari Restu junior. Sang ayah seakan masih merahasiakan. Begitu juga dengan Aleesa.
__ADS_1
Sudah banyak sebutan untuk si bayi tampan berpipi merah itu. Dari Restu junior, bocil merah, si tampan dan masih banyak lagi yang lain.
"Sa, siapa nama cucu Mamih?" Nesha sudah sangat penasaran. Begitu juga dengan Rindra
"Nanti ada waktunya Sasa dan Papinya Restu junior ngumumin."
Kedua mertua Aleesa pun berdecak kesal. Restu yang tengah membersihkan poop anaknya pura-pura tidak mendengar.
"Bapaknya juga berlagak budeg."
Restu malah tersenyum mendengar ucapan dari sang papih. Anaknya yang sedang terjaga ikut tersenyum.
"Ada yang penasaran sama nama kamu." Bayi yang sudah memiliki berat empat kilo setengah itu tertawa lagi.
"Rahasia ya, Nak."
Lagi-lagi bayi itu tersenyum. Rindra dan Nesha yang melihat senyum sang cucu mendekat dan mencium gemas pipi gembil Restu junior.
"Kayaknya bakal jadi CS bapaknya ini mah." Restu tertawa mendengar tebakan sang ayah. Begitu juga dengan Aleesa.
"Selesai masa nifas hajar lagi," bisik Rindra kepada Restu. "Ngadon lagi, siapa tahu jadi cewek. Mamih pasti senang banget."
Restu melirik tajam ke arah sang papih. Sedangkan Rindra sudah mengulum senyum.
"Kasihan istri akunya, Pih. Nahan sakitnya aja bukan main. Aku gak tega."
Restu menatap ke arah sang istri yang sedang fokus pada laptopnya sekarang. Dia ingin mengejar cepat skripsi agar bisa mengurus restu junior dengan fokus.
"Cucu Mamih kalau kamu kuliah sama siapa? Bubu kamu 'kan masih suka sibuk ke toko pusat."
Aleesa menegakkan kepalanya menatap ke arah sang ibu mertua yang tak lain Adalah tantenya.
"Kayaknya Sasa dan Papinya si tampan akan sewa jasa baby sitter."
Aleesa menatap ke arah sang suami yang juga tengah menatapnya. Restu mengangguk pelan.
"Kenapa harus baby sitter?" RIndra sudah membuka suara. "Titip aja ke rumah Mamih dan Papih. Kalau enggak Mamih yang datang ke sini setiap kamu kuliah buat jagain si ganteng."
"Apa yang dikatakan oleh Papih benar tuh, Sa. Mamih senang banget bisa ngurus cucu Mamih ini." Dia mengusap lembut rambut Restu junior yang tengah asyik mimi susu di botol.
"Tapi--"
"Enggak ada tapi-tapian." Rindra memotong ucapan dari sang putra.
"Tidak ada orang tua yang merasa direpotkan untuk mengurus cucu sendiri."
Jika, Rindra sudah membuka suara pasti tidak akan bisa dibantah. Restu pun akan tunduk kepada sang ayah.
"Jangan sungkan," ucap Nesha. "Sedari kecil kamu sudah sama Mamih 'kan. Mamih juga sudah menganggap kamu seperti anak kandung Mamih."
.
Hampir satu bulan berada di dunia, anak Restu dan Aleesa belum juga diberi nama. Semua keluarga sudah protes, tapi kedua orang tua baru itu masih menyikapinya dengan santai.
Aleesa tengah melakukan video call dengan kedua saudaranya. Dia membicarakan perihal sesuatu yang penting.
"Sasa ngadainnya dadakan?"
Aleena sudah membuka suara. Aleeya hanya mendengarkan saja.
"Sebenarnya ini udah Sasa siapin setelah lahirnya si tampan. Sasa juga udah bilang ke Kak Restu, dan dia setuju."
"Yaya mah ikut aja."
Restu sudah menyiapkan acara aqiqah untuk sang putra. Acara yang mengundang cukup banyak anak yatim piatu. Restu sendiri yang menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuan orang tua dan mertuanya.
Echa terkejut ketika pagi hari ada yang mendekor halaman samping rumahnya. Dia memanggil sang suami dan Radit tidak tahu menahu akan hal ini.
"Ini untuk acara aqiqahan putra Pak Restu."
Echa dan Radit saling tatap, suara langkah seseorang terdengar mendekat dan Restu sudah tersenyum ke arah mereka berdua.
"Bubu dan Baba gak usah repot. Aku udah siapin semuanya." Restu berkata dengan begitu tulus.
"Sasa gak ingin terus-terusan repotin kalian berdua. Sudah sedari kecil Sasa merepotkan Bubu dan Baba." Aleesa menambahkan sambil menggendong di tampan.
Echa dan Radit mendekat ke arah sang putri dan memeluk Aleesa dari samping. Kalimat sederhana, tapi mampu membuat hati kedua orang tuanya mencelos.
"Gak ada kata merepotkan, Sa." Radit sudah menyahuti.
Restu mengambil gambar di mana kedua orang tua Aleesa memeluknya dari samping. Foto candid yang sangat cantik. Tanpa berpikir panjang, Restu yang tidak pernah membuat status di aplikasi pesan singkat mulai mengetikkan sesuatu di bawah foto tersebut.
"Benar kata orang, harta yang paling berharga bukanlah uang berlimpah dan barang mewah, tapi sebuah keluarga yang hangat. Terima kasih, Baba, Bubu, dan istriku, telah menerimaku masuk ke dalam keluarga kalian. Untuk putraku, jadilah seperti Mamimu. Selalu berbakti kepada kedua orang tua dan membuat mereka bahagia."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ..