RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 186. Belalai Bongsor


__ADS_3

Sedari tadi Aleesa terdiam. Mengantar Apang pulang ke rumah sang om dia bersikap berbeda kepada sang suami. Sekarang, sampai di kamar pun dia tak membuka suara. Restu peka dengan perubahan sang istri. Ketika Aleesa hendak membuka pintu kamar mandi, Restu memeluknya dari belakang.


"Kenapa sih?" Dia sudah meletakkan dagunya di bahu sang istri. Masih tak ada jawaban membuat Restu membalikkan tubuh sang istri. Tangannya sudah merengkuh pinggang Aleesa agar dia tak kabur.


"Jawab aku, Lovely." Aleesa menatapnya dengan datar. Ada air mata yang tertahan di sana.


"Lovely," panggilannya pelan. Restu memeluk tubuh Aleesa. Tangan Aleesa tak membalas menandakan dia memang tengah marah.


"Gak bisa aku tinggal dan wakilkan," terang Restu. Dia tahu apa penyebab istrinya marah. Pekerjaan dadakan yang membuatnya ingin menolak, tapi ini juga sangat penting untuk kemajuan perusahaan dari sang ibu demi kesejahteraan para karyawan yang bekerja di sana.


"Membawa kamu ke sana juga gak mungkin. Saingan bisnis di sana lebih kejam." Restu sangat tahu bahayanya menjadi istri pengusaha di Zurich. Maka dari itu, banyak pengusaha di sana tidak memperkenalkan pasangan mereka dengan alasan keselamatan. Mereka menjunjung tinggi privasi.


Tes.


Bulir bening menetes di wajah Aleesa. Dia tidak bisa menahan laju air matanya. Selama tiga hari terus bersama Restu membuatnya tak mau berpisah. Kabar inioun terdengar sangat mendadak.


"Aku ke sana gak sendiri. Aku sama Rio." Restu berbicara apa adanya. Bukan hanya bersama Rio, sang papih pun sudah menyurh Gemke untuk menyiapkan pengawalan yang ketat untuk sang putra.


Restu menguar pelukannya. Dia mengusap lembut air mata yang sudah membasahi wajah cantik Aleesa. Menatapnya penuh cinta.

__ADS_1


"Hanya tiga hari. Aku janji." Restu mengecup kening Aleesa sangat dalam hingga membuat sang istri memejamkan mata. Dia juga tidak rela meninggalkan istrinya di saat status mereka masih pengantin baru.


Wajah Aleesa masih belum berubah dan membuat Restu tersenyum jahil. Dia mulai menggendong tubuh Aleesa hingga sang istri benar terkejut.


"Bie!" teriak Aleesa.


"Kita lanjutkan yang tadi."


Di tepian tempat tidur Restu sudah memangku tubuh sang istri yang sudah menghadap ke arahnya. Restu membenarkan rambut sang istri. Wajah istrinya masih datar seperti tadi.


"Aku ingin mengajak kamu ke lautan kenikmatan."


Aleesa tidak bisa mejolak. Bibirnya sudah memagut bibir Aleesa. Dari ritme pelan dan lembut hingga kini terdengar suara peraduan yang tak biasa. Tangannya pun sudah tak bisa tinggal diam. Menyusup bagai maling dan membuat si yang empunya pepaya mulai menggeliat. Si maling nakal pun sudah mulai membuka pengait belakang penutup pepaya mengkal, dan kain bagian atas pun sudah dibuka dengan lembut. Pemandangan yang sangat indah yang Restu lihat. Sungguh dia tidak tahan. Namun, dia harus membuat istrinya merasa nyaman dan masuk ke dalam buaian sebelum dia membawa istrinya ke awang-awang.


Tangan nakal mulai beraksi membuat Aleesa me remas sprei. Sesekali Restu melihat respon sang istri. Suara bagai ular sudah terdengar dan si kain itupun sudah sangat lembab. Restu merangkak naik ke atas tempat tidur. Dai mencium bibir manis sang istri lagi dengan tangan yang masih nakal di bawah sana.


"Aku buka, ya." Aleesa membuka matanya dengan tatapan sayu. Anggukan menjadi jawaban darinya. Restu tersnyum. Baru saja dia hendak ke bawah. Lengannya ditahan oleh Aleesa.


"Aku ingin lihat punya kamu."

__ADS_1


Sedari mereka menejelajah, Restu belum menunjukkan belelai imut yang dia miliki. Restu tersnyum dan membantu Aleesa untuk duduk. Dia berdiri di depan Aleesa. Dia menyuruh Aleesa membuka sendiri celana yang digunakan olehnya. Nampak sudah ada jendolan cukup besar.


"Buka, Lovely."


Tangan Aleesa pun perlahan membukanya. Masih ada penutup kain berbentuk segitiga berwarna gelap di dalamnya. Dia mendongak menatap suaminya yang menunduk ke arahnya. Usapan lembut di ujung kepala Aleesa, Restu berikan.


"Buka." Begitulah mulutnya berkata tanpa suara. Perlahan Aleesa membukanya dan belalai imut itu hampir menonjok wajahnya jika dia tak memundurkan wajahnya dengan cepat. Seketika mata Aleesa tak bisa berkedip.


"Sentuh belalai imut itu, Lovely."


Aleesa dengan cepat mendongak menatap ke arah sang suami.


"Belalai imut?" ulangnya. Restu mengangguk.


Aleesa malah menganga. Dia ltun kembali menatap si belalai imut itu. Mencoba untuk memegangnya Walaupun dengan hati deg-degan tak karuhan. Dia kembali menatap ke arah sang suami yang sudah merem melek.


"Bie," panggil Aleesa. Restu pun membuka mata dengan tatapan yang sudah tak tahan ingin melakukan. Dia melihat Aleesa sudah mengepal si imut nan keras itu.


"Ini mah belalai bongsor."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Lanjut jangan ... atau skip?


__ADS_2