RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 17. Menyambut Rio


__ADS_3

Rio dan Restu sudah menuju rumah yang ditempati oleh Rindra. Restu sudah memakai pakaian dinasnya.


"Asli, lu keren banget." Rio memuji penampilan Restu. Namun, Restu hanya tersenyum tipis. Matanya masih terlihat sembab karena ulah Rio semalam yang membuat dia menangis.


"Lu langsung kerja?" Restu mengangguk dengan menatap lurus ke jalanan.


Mobil sudah berbelok ke halaman rumah yang ditempati Rindra. Restu pun ikut masuk ke dalam.


"Selamat pagi!"


Semua orang yang berada di meja makan menoleh. Mereka semua terkejut dengan kehadiran Rio, kecuali Rindra.


"Rio!"


Pemuda itu segera berlari menuju ke arah sang ibu. Dia memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat.


"Kenapa gak bilang kalau udah terbang ke sini?" Nesha mencium pipi kanan dan kiri sang putra. Juga keningnya.


"Biar surprise, Mih." Nesha tersenyum. Dia menarik putranya untuk segera duduk.


Ketika dia menoleh ke arah Restu, mata Nesha memicing dan memanggil Restu untuk mendekat. Sedangkan orang yang dipanggil seperti tengah mencari seseorang.


"Restu, sini!" Nesha memanggilnya. Restu pun menghampiri ibu dari Rio tersebut. Tangan lembut itu menyentuh pipi Restu yang terluka.


"Res--"


"Tidak apa-apa, Tante. Ini hanya luka kecil saja," potongnya.


Terlihat wajah Nesha yang amat cemas. Restu sungguh tidak tega melihatnya. Dia menggenggam tangan Nesha dan menatapnya dalam.


"Kata Papih, laki-laki itu harus kuat. Luka sedikit tidak apa-apa."


Rindra tersenyum ketika Restu memanggilnya Papih. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya walaupun Restu bukan darah dagingnya.


"Janji sama Mamih, pulang harus dengan selamat. Tanpa ada luka sedikit pun." Restu tersenyum dan mengangguk.


Nesha menangkup wajah Restu dan mencium kedua pipi pemuda itu juga keningnya. Restu merasakan kasih sayang yang teramat tulus dari keluarga Rio.


"Kok kamu belum tidur, Sen. Jarak waktu di sini dan--"


Tubuh Aleesa menegang ketika Restu ada di ruang makan. Restu sudah menatap ke arah Aleesa dengan tatapan datar.


Aleesa merasa seperti orang yang tengah ketahuan berselingkuh.


"Sa!"


Dia melihat Restu sudah berdiri dan kini tatapannya tidak ke arahnya.


"Iya, Sen. Ini aku mau sarapan sama kelurga." Aleesa seakan berhati-hati dalam berucap. Dia mulai melangkahkan kaki menuju meja makan.


"Yansen?" Rio sengaja memperkeras pertanyaannya dan mampu membuat Restu menatap kesal ke arah Rio. Aleesa hanya mengangguk.


"Itu Kak Rio."

__ADS_1


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu. Dia memilih untuk pamit.


"Sarapan di sini aja, Nak." Nesha mencoba untuk mencegah.


"Makasih, Tante. Tapi, aku harus berangkat." Restu sudah tersenyum. Dia mencium tangan Nesha juga Rindra. Serta Radit dan Echa.


"Hati-hati, ya." Echa berucap sangat lembut. Restu menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Hati Aleesa terasa sakit ketika Restu melewatinya begitu saja. Dia merasa pagi ini Restu berbeda dari Restu yang semalam dia temui. Dia juga melihat mata Restu yang sembab. Ingin dia menahan tangan Restu, tapi di sana banyak orang.


Aleesa mematung memandangi tubuh Restu yang semakin jauh. Rio dan Rindra hanya mengulum senyum.


"Kenapa kamu berdiri saja, Sa?" Sang ibu sudah membuka suara.


.


Restu sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Kenapa dengan lu? Lu yang salah. Lu datang ke dalam hubungan mereka."


"Aarrgghg!!" Restu berteriak sendiri.


Tiba di kediaman Zenith. Rekan Restu yang lain tidak berani menyapa karena wajah Restu sudah sangat tidak bersahabat.


Benar saja baru beberapa jam bekerja, Restu sudah mengamuk. Ada hal yang membuatnya geram, yakni kecerobohan salah satu rekannya. Untungnya Restu seperti kancil memiliki banyak ide.


Restu menyesap rokoknya dalam-dalam. Kemudian, dia keluarkan kepulan asap itu ke udara. Mencoba menstabilkan hatinya yang tengah dilanda kemarahan yang tak beralasan.


"Ada masalah?" Suara yang begitu lembut yang mampu Restu dengar.


"Tidak, Madam."


Zenith tersenyum dan dia menepuk lembut pundak sang pengawal.


"Biasanya kalau seseorang tengah dilanda masalah akan lari pada rokok." Zenith mencoba untuk menelisik wajah Restu


"Tidak, Madam. Saya baik-baik saja. Rokok adalah sahabat saya. Ketika ada ataupun tidak ada masalah rokok akan tetap saya hisap." Zenith pun tertawa. Sungguh jujur sekali pengawalnya ini.


"Saya suka kejujuran kamu."


Ponsel Restu berdering membuat dia meraih ponsel di sakunya. Sang ibu angkatnya lah yang menghubunginya. Namun, Restu biarkan karena tidak pantas menerima panggilan di jam bekerja.


"Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu penting."


"Ini jam bekerja, Madam. Ketika waktu istirahat tiba saya baru akan menghubunginya kembali."


"Jawablah," ujar Zenith dengan begitu lembut. "Saya tidak melarang pengawal saya menerima telepon." Akhirnya, Restu pun mengangguk.


"Saya jawab dulu." Sebuah anggukan menandakan persetujuan dari Zenith.


"Iya, Tante."


Zenith terhenyak ketika mendengar Restu berbicara bahasa Indonesia. Benar dugaannya jikalau Restu bukan orang Swiss asli.

__ADS_1


"Aku gak janji, Tante. Jadwalku sampai malam."


Zenith tersenyum ketika mendengar ucapan Restu yang teramat lembut. Di balik wajahnya yang serius dan garang, tutur katanya begitu sopan.


"Iya, Tante. Aku usahakan."


...


"Iya. Aku akan pulang dalam keadaan tidak terluka sama sekali."


Restu terkejut ketika melihat Zenith masih ada di sana. "Maaf, dari Tante saya."


"Tidak apa-apa." Zenith menjeda ucapannya. Namun, tatapannya masih tertuju pada Restu.


"Boleh saya bertanya sesuatu?" Restu mengangguk.


"Ini perihal masalah pribadi."


"Saya akan menjawabnya, kecuali apa yang saya anggap privasi." Zenith mengangguk.


"Apa kamu orang Indonesia?" Restu tercengang ketika mendengar Zenith berbicara bahasa Indonesia dengan fasih.


.


Nesha mengadakan acara makan-makan untuk menyambut kedatangan Rio. Semuanya sudah dia siapkan. Aleesa pun turut menjadi seksi sibuk walaupun dia terus terhubung dengan Yansen. Seolah Yansen tengah melepas rindu kepadanya.


"Bucin banget sih kamu, Sen," goda Nesha ketika ponsel Aleesa yang tersambung dengan panggilan video dari Yansen diletakkan di meja. Sedangkan Nesha dan Aleesa tengah menyiapkan semuanya.


"Kangen banget sama Sasa, Tante. Sasa pergi tanpa kabar buat aku cemas."


Aleesa hanya tersenyum kecil. Dia sangat bersemangat karena dia tahu malam ini Restu akan datang.


Rindra, Radit dan Echa sudah tiba di rumah ketika menjelang malam. Mereka terkejut ketika halaman depan sudah disulap menjadi tempat barbeque-an.


"Ada acara apa ini, Mih?" Rindra sudah mengecup kening Nesha.


"Menyambut anak kita, Pih." Senyum begitu lebar yang Nesha tunjukkan.


Semuanya sudah berkumpul, hanya Aleesa yang belum muncul. Nesha begitu bahagia ketika sang putra sulung sudah hadir di sana.


Restu sedang asyik berbincang bersama Rio karena acara belum dimulai. Restu terlihat tersenyum ketika berbincang dengan sahabatnya tersebut.


Langkah Aleesa terhenti di ambang pintu ketika melihat seseorang mengenakan Hoodie berwarna biru teramat tampan.



Suara dari balik sambungan telepon pun tak dia gubris.


"Halo, Sa. Kamu masih di sana 'kan."


...***To Be Continue***...


Tembus 50 komen Up 3 bab.

__ADS_1


__ADS_2