
Rio berdecak kesal ketika dia melihat Restu sudah menghabiskan hampir satu bungkus rokok. Dia pun mengambil paksa rokok Yang ada di mulut Restu dan menggerusnya ke asbak.
"Lu gak waras?" Rio mengomel bagai ibu-ibu. Restu hanya berdecak dan seperti orang yang tak punya salah.
"Ngapa sih lu?"
"Lu mau kena paru-paru?" Rio sudah meninggikan suara. Restu hanya meliriknya kesal. "Kalau punya masalah ngomong, jangan kayak orang kesurupan begini."
Terdengar hembusan napas kasar seorang Restu. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi besi sambil melihat ke arah langit yang begitu indah.
"Gua bingung." Dua kata yang keluar dari mulut seorang Restu Ranendra.
"Kenapa?" tanyanya.
"Gua pengen cepat halalin Aleesa." Rio malah berdecih.
"Ngebet amat lu!" omel Rio. Dia menatap tajam ke arah tunangan sang sepupu.
"Bukan ngebet, tapi gua pengen tidur ditemenin, dipelukin, diciumin dan--"
Plak!
Tanpa ampun Rio memukul kepala Restu hingga menimbulkan bunyi. "Kelamaan tinggal di negara bebas lu! Otaknya ngeres kayak lantai yang belum disapu."
__ADS_1
"Alami itu, Yo. Alami!" elak Restu. "Gua cowok normal."
"Lu kira gua gak normal?" sergah Rio.
"Enggak," sahut Restu dengan begitu santainya. "Kalau lu normal, lu udah bawa cewek ke hadapan Mamih dan Papih."
"Siyalan!"
Mereka berdua pun bergulat layaknya anak kecil. Berguling-guling di lantai layaknya pegulat sungguhan. Hanya saja mereka tidak bermain kekerasan. Sudan pasti Rio akan kalah karena Restu petarung handal.
"Astaghfirullah!!" pekik Nesha ketika melihat kedua putranya bagai anak lima tahun.
"Bangun!" Nesha sudah menjewer telinga Restu dan Rio hingga dia pemuda itu mengaduh.
"Mamih marah bukan karena bercanda kalian, tapi itu alkohol kaleng," tunjuk Nesha ke atas meja di mana ada kaleng berwarna hijau yang ada bintangnya.
"Itu Restu yang minum, Mih." Rio menyalahkan.
"Apaan? Lu yang bawa ke sini. Gua mah lagi ngerokok." Mereka pun main salah-salahan hingga pada akhirnya Khodam sang mamih keluar dan membuat sang papih keluar dari ruang kerjanya.
"Kenapa sih? Kayak di hutan aja," sindir Rindra. Nesha menunjukkan apa yang ada di meja.
"Coba itu, Pih." Nesha meminta suaminya memarahi kedua putrinya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Mih. Udah pada gede ini." Nesha melebarkan mata sedangkan kedua putranya menyunggingkan senyum begitu lebar.
"Papih memang terbaik." Jangan ditanya bagaimana wajah Nesha dan pada akhirnya mereka bertiga meninggalkan Nesha yang sudah mengeluarkan asap dari hidungnya. Kepalanya pun sudah mengeluarkan tanduk.
.
Dua pemuda itu pindah tempat. Mereka berbincang di sebuah angkringan pinggir jalan. Mereka tidak malu karena mereka terbiasa makan di sini semasa duduk di bangku sekolah menengah.
"Emangnya Aleesa mau cepat-cepat nikah?" Kini Rio menatap serius ke arah Restu.
"Gua belum nanya sih."
"Terus yang lu bingungin apa?" Rio mulai penasaran. Restu mulai meminum susu jahe yang dia pesan untuk menghangatkan badan. Restu pun tak menjawab. Dia malah membakar rokok yang baru dia keluarkan dan menghisapnya dalam-dalam.
"Lu gak punya duit?" Kalimat itu membuat Restu segera menoleh dan membuang asap rokok yang baru dia hisap ke wajah Rio hingga dia terbatuk-batuk
"Bang sat!" Restu malah tersenyum jahat.
"Gua malah lagi bingung mau ngasih mahar berapa?"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1