
Semua karyawan laki-laki maupun perempuan menunggu Restu di meja tempatnya bekerja. Mereka seperti orang yang hendak mengadakan demo besar-besaran. Dahi Restu pun mengkerut melihat mereka semua.
"Ada hubungan apa lu sama keponakan pemilik perusahaan ini?" Pertanyaan tanpa basa-basi. Pertanyaan yang langsung ke inti.
Bukannya menjawab Restu malah menyingkirkan beberapa dari mereka yang menghalangi meja kerjanya. Jangan ditanya bagaimana reaksi mereka yang diusir oleh Restu. Mereka sudah naik pitam dan sudah mencengkeram kemeja yang Restu gunakan. Restu hanya berdecih kesal.
"Jangan songong lu karyawan baru juga."
Dalam hati Restu dia sangat marah. Dia emosi berat, dia ingin memberikan bogem mentah kepada karyawan yang berbicara seperti itu. Karyawan yang merasa sok senior. Restu paling membenci itu. Ditambah dia sudah lama tidak menggunakan tangannya untuk menghajar seseorang. apakah sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya?
"Ngapain lu lihat-lihat? Berani sama gue?" Restu menatap karyawan itu dengan tatapan sangat jengah dan kesal. Dia sudah menandai karyawan itu.
Jika, Restu bukan karyawan magang sudah pasti karyawan itu Restu hajar habis-habisan. Lagi-lagi Restu menarik nafas begitu panjang lalu membuangnya. Dia dituntut untuk sabar.
"Sabar Restu ... sabar." begitulah batinnya berkata.
Bukan hanya karyawan laki-laki yang mendesak jawaban dari Restu. Karyawan perempuan pun sama. Mereka sangat penasaran ada hubungan apa antara Restu yang notabene adalah karyawan baru dengan keponakan sang pemilik perusahaan.
"Kenapa pada kepo sih? inai urusan pribadi saya. Tidak untuk menjadi konsumsi publik.' Itulah jawaban yang keluar dari mulut Restu. Tegas, jelas dan padat.
"Sok ngartis lu!" Lagi-lagi karyawan laki-laki memancing emosi seorang Restu Ranendra, mantan bodyguard kejam di negara luar sana.
"Mau saya memiliki hubungan atau tidak dengan keponakan pemilik perusahaan ini, tidak akan merugikan kalian semua dan tidak ada sangkut pautnya dengan kalian. Kalian paham?" Restu berkata dengan penuh penekanan.
Para karyawan itu mulai emosi. Banyak kata-kata kotor, kata-kata sarkas yang keluar dari mulut mereka. dada Restu sudah turun naik. Dadanya sudah bergemuruh, dia mencoba menahan emosi yang sudah tidak tertahan. Jika, Rindra tidak datang sudah pasti Restu akan mengamuk bagaikan raja hutan.
"Ada apa ini?" Semua karyawan pun mulai panik. Sang pemilik perusahaan datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Mereka saling pandang dan menunduk dalam.
Rindra mulai menatap Restu, menanyakan apa yang terjadi hanya dengan sorot matanya. Restu menjawabnya dengan tatapan malas. Rindra mengerti akan jawaban yang Restu berikan.
"saya tidak pernah mengajarkan kepada semua karyawan saya baik itu karyawan magang atau karyawan tetap untuk menindas karyawan yang lainnya. Hargai karyawan yang lainnya, rangkul mereka dan ajari mereka jika ada yang tidak mengerti. Perusahaan ini maju karena kerjasama kalian semua. jangan merasa paling bisa, paling pintar paling jago karena semuanya sama. Semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tidak ada manusia yang sepenuhnya pintar, sepenuhnya bodoh." Penjelasan rindra seperti tamparan keras untuk mereka semua kecuali Restu.
Mereka pun terdiam, tidak ada yang berani membuka suara. Perempuan yang tadi mengajak Restu untuk makan siang melirik ke arah Restu yang seakan tidak menghormati pemilik perusahaan. Di mana mereka menunduk sedangkan Restu malah menatap berani pada wajah pemilik perusahaan.
"Tuh anak nggak sopan banget sih." Begitulah batinnya.
__ADS_1
"Sekarang kembali bekerja," titah Rindra dengan begitu tegas. Kemudian dia memanggil Restu dan menyuruhnya untuk masuk ke ruangan Rindra Addhitama.
Para karyawan yang lain saling tatap. Ada yang tersenyum bahagia karena mereka menyangka jika Restu akan dipecat dari perusahaan tersebut.
"Mampus lu!"
.
Pulang kerja Restu tidak pulang ke rumah kedua orang tuanya. Dia malah pulang ke rumah Aleesa. Kebetulan rumah Aleesa sedang sepi. Kedua orang tuanya tengah pergi. Restu segera masuk ke dalam kamar sang tunangan. Dia tersenyum sebelum menekan gagang pintu.
Dia tersenyum ketika melihat Aleesa yang tengah duduk di belakang meja belajar dan memandang laptop. Terlihat sesekali Aleesa menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ragu menghampiri Aleesa tanpa suara. Dia berjalan dengan pelan. Aleesa terlonjak ketika ada tangan yang memijat pundaknya. Dia dengan cepat menoleh dan Restu sudah ada di belakangnya. Memijat pundaknya dengan begitu lembut.
"Mau aku bantu?" Penawaran Restu membuat Aleesa tersenyum. Tangan Restu sudah melingkar di leher bagian depan Aleesa. Wajahnya sudah berada di pundak Aleesa.
"Emangnya gak capek?" Aleesa sudah menatap wajah sang tunangan yang masih terlihat tampan walaupun baru pulang bekerja.
"Lelah aku akan hilang jika kamu kiss aku." Aleesa lun tertawa. Bukannya Aleesa yang memberikan kissing, melainkan Restu dan mampu membungkam mulut Aleesa.
Restu yang berada di belakang Aleesa kini sudah memangku Aleesa dan duduk di kursi di belakang meja belajar. Ciuman yang begitu mesra dan lembut yang membuat Aleesa merangkulkan tangannya di leher Restu. Ada rasa yang berbeda yang mereka berdua rasakan. Aleesa lun memundurkan wajahnya ketika napasnya mulai tak beraturan. Restu tersenyum dan mengusap bibir Aleesa yang sangat basah.
Jam delapan malam tugas Aleesa baru selesai dan membuat Restu mengerang kelelahan. Aleesa segera memeluk tubuh Restu. "Makasih, Bie." Restu tersenyum dan mengecup kening Aleesa.
"Bie, makan di luar yuk." Aleesa sudah merengek bagai anak kecil.
"Mau makan di mana?" tanya Restu.
"Makan pecel lele!" Restu dan Aleesa pun menoleh. Empat biang kerok sudah masuk ke dalam kamar Aleesa. Untungnya mereka berdua sedang tidak mengadu bibir. Restu berdecak kesal.
"Kalau ke kamar orang itu ketuk pintu dulu!" Restu memarahi empat sepupu kecil Aleesa.
"Dih ... sendirinya tadi ketuk pintu gak pas ke kamar Sasa?" Apang malah balik bertanya. Sontak Restu pun terdiam. Aleesa malah tertawa.
"Emangnya kalian gak dikasih makan sama orang tua kalian?"
"Justru kami disuruh ke sini sama Ayah. Kata Ayah kami disuruh jagain Sasa dari Ahjussi itu. Kayanya Ahjussi itu membahayakan." Restu melebarkan matanya dan tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ahlam.
__ADS_1
"Emangnya gua kenapa?" Restu mendadak hilang ingatan.
"Kata Ayah, bibir Ahjussi kaya congor bebek." Balqis menjawab.
"Bukan congor, Aqis, tapi sosor bebek." Aleesa tertawa mendengar ralatan dari Abdalla. Sosor bebek yang dimaksud bukanlah apotek hidup yang sesungguhnya. Namun, memiliki makna yang berbeda. Sedangkan Restu sudan mendengkus kesal.
Pada akhirnya Restu mengalah. Dia membawa serta keempat sepupu Aleesa untuk makan pecel lele bersama. Riuhnya mereka membuat Restu memijat keningnya.
"Itung-itung belajar ngasuh anak, Bie." Aleesa sudah menggenggam tangan Restu dan itu membuat Restu meletakkan kepalanya di bahu Aleesa.
"Ih Ahjussi tua-tua manja."
Astaga, Ucapan dari Balqis sangatlah menampar usianya. Ingin rasanya dia marah, tali Aleesa melarang dengan tertawa.
"Emang aku keliatan tua?" Restu menatap ke arah Aleesa dengan serius.
"Enggak kok, Bie. Mereka hanya terbiasa melihat aku sama teman laki-laki yang seumuran. Makanya, Mandang kamu itu lebih dewasa."
"Tetap saja aku dibilang Om--om." Lagi-lagi Aleesa tertawa. Dia mengusap lembut rambut Restu yang jika merajuk seperti bayi, menggemaskan.
Restu menggelengkan kepala ketika melihat porsi makan keempat anak Aksa dan Jingga itu. Masing-masing dari mereka memesan dia porsi nasi juga dia lauk. Restu hanya menggelengkan kepala.
"Jangan kaget. Porsi makan mereka emang kayak kuli." Restu pun tertawa.
Namun, melihat kekompakan mereka berempat membuat Restu merasa terharu. Dia malah tengah berandai-andai. Jika, dia memiliki saudara kandung pasti akan ada tempat untuk berbagi seperti si kuamplet. Di mana ketiga anak laki-laki itu sangat sayang kepada adik perempuan mereka. Ketika hendak memakan lele pun selalu dicek oleh kakaknya apakah masih ada tukang atau tidak.
"Bahagia banget ya kalau terlahir memiliki saudara kandung." Mendengar itu Aleesa menatap ke arah Restu.
"Makanya ... nanti kita punya anak jangan satu biar ada teman gak kesepian kayak kamu." Restu langsung menatap ke arah Aleesa. Dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga wanitanya.
"Ayo kita bikin."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1