RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
228. Hamil


__ADS_3

Restu bagai orang linglung ketika mendengar Aleesa dinyatakan positif hamil. Echa sudah terlihat sangat bahagia tidak seperti menantunya.


"Apa Anda tidak senang?"


Pertanyaan dokter belum mampu membuat Restu tersadar dengan cepat. Antara percaya dan tidak itu yang tengah restu rasakan. Dia menatap ke arah sang istri yang juga masih terdiam sama seperti dirinya.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu." Echa berkata dengan mata yang sudah nanar. Dia tidak menyangka jika putrinya akan secepat ini memberikannya seorang cucu.


Dokter yang sudah memeriksa Aleesa hanya tersenyum ketika melihat sepasang suami istri yang masih terbengong. Mereka seperti terkejut mendengar kenyataan yang ada.


"Apa kalian syok?"


Restu dan Aleesa masih terdiam tidak bisa menimpali atau juga menjawab menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.


"Apa secepat ini?" batin Aleesa. "Apa aku bisa?" lanjutnya membatin lagi.


Setelah dokter pergi, Eca pun ikut pergi. Dia memberikan ruang dan waktu kepada anak dan menantunya untuk mencerna ucapan dari dokter tersebut. Restu sudah duduk di samping tempat tidur. Dia menatap dalam wajah sang istri yang juga kebingungan.


"Aku nggak salah dengar kan?" Restu bertanya hal bodoh kepada Aleesa. Jelas-jelas dokter dan mertuanya sudah mengatakan hal itu.


"Beneran aku hamil?"Aleesa malah balik bertanya.


Suasana mendadak hening kembali. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Restu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Sudah dari tadi dia belum berganti pakaian. Dia baru saja pulang dari Singapura dan dikejutkan melihat istrinya limbung dan terjatuh ke lantai ketika dia baru datang.


Matanya memicing ketika dia melihat sesuatu benda di atas wastafel kamar mandi. Dia mulai meraih benda tersebut dan seketika dadanya bergemuruh hebat.


"Garis dua."


Ucapan penuh tidak percaya yang keluar dari mulut Restu. Dia membeku sesaat. Kemudian, dia keluar lagi dengan baju yang masih sama dan mendekat ke arah Aleesa.


"Lovely." Dia menyerahkan benda tersebut kepada sang istri tercinta.


Aleesa baru teringat jika pagi tadi dia menggunakan tespek untuk mengecek urinenya. Ketika dia melihat hasilnya matanya nanar, ada rasa yang beda yang tengah melanda hatinya.


"Aku nggak salah lihat kan, Bie?" Restu menggeleng, air matanya pun sudah menganak.


Mereka berdua baru tersadar jika Apa yang diucapkan oleh dokter tadi memang benar adanya. Aleeza tengah hamil muda. Perihal usia kandungan itu belum bisa diketahui secara jelas. Mereka harus pergi ke dokter obgyn untuk memastikan.


Kabar bahagia ini sudah sebar kepada sang kakak ipar, yakni Nesha. Istri dari Rindra sangat bahagia mendengarnya.


"Akhirnya rumah ini akan ramai dengan suara tangisan dan suara jeritan anak kecil."


Memiliki hanya satu orang anak membuat Nesha merasa kesepian tatkala Rio beranjak dewasa. Tidak ada tangis, jarang ada tawa. Mereka hidup seperti di goa, menyendiri masing-masing.


Rindra yang sedang berada di luar kota pun diberitahukan perihal kabar baik tersebut. Respon Rindra pun sama seperti Nesha. Dia sangat bahagia dan ingin segera pulang ke Jakarta untuk mengucapkan selamat kepada Sang putra.


Beda halnya dengan Rindra, si manusia kalem Raditya Addhitama yang hanya merespon dengan tersenyum dan ucapan Alhamdulillah. Dia sudah memiliki feeling seperti itu dan dugaannya itu benar jika putrinya sedang mengandung benih cinta dari Restu Ranendra.


"Kayaknya kita harus bikin syukuran kecil deh." Ide dari Rendra kepada Radit. Mereka berdua memang tengah berada di luar Kota karena ada meeting penting.


"Terserah Abang aja, Radit mau ikut aja."


Rio yang mendapat kabar dari sang Ibu tertawa bahagia mendengarnya. Wajahnya tidak bisa berdusta.


"Iyo akan jadi Om ya, Mih."


"Jadi, Om doang bangga. Jadi, Ayah kaya Restu barulah bangga." Rio mendengkus kesal mendengar ucapan sang ibu. Hal yang paling membuatnya sebal jika membahas perihal ini.


"Makanya cepet nikah beri mami cucu yang lebih banyak lagi."


Kedua orang tuanya seakan menuntut dia untuk segera meminang seorang perempuan. Pada nyatanya tidak ada perempuan yang sedang dekat dengannya.


.


Kembali ke kamar Restu dan Aleesa, Restu terus memeluk tubuh Aleesa dan mengucapkan banyak terima kasih kepada istrinya tersebut. Wajah bahagia sangat kentara.

__ADS_1


"Jaga anak kita ya, Lovely. Kelak dia akan menjadi pelipur lara untuk kita. Penguat untuk kita dan pemersatu hubungan kita agar tetap langgeng hingga akhir hayat."


Tak hentinya Restu mengecup kening sang istri tercinta. Begitu juga dengan Aleesa yang tidak ingin jauh dari sang suami walaupun sekuat tenaga dia harus menahan rasa mual karena bau minyak wangi yang Restu pakai membuat perutnya terasa diaduk-aduk.


Tak tahan, akhirnya Aleesa turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya hingga dia terkulai lemas. Untung saja Restu ada di belakangnya dan bisa menangkap tubuh Aleesa.


"Bie, jangan pakai minyak wangi itu lagi, ya. Aku nggak kuat."


Lagi lagi Aleesa memuntahkan isi perutnya dan kini mengenai lengan baju sang suami. Akan tetapi, Restu tidak mempermasalahkan itu. Dia segera membuka baju kemeja tersebut dan langsung membuangnya. Bukan karena dia jijik, tapi dia tidak ingin istrinya kembali mual karena sudah pasti itu akan mengganggu Aleesa.


"Masih mual nggak?"


Aleesa menggeleng. Dia terus memeluk tubuh suaminya. Seakan dia tidak ingin ditinggalkan oleh Restu barang sedetik pun.


"Aku mandi dulu ya."


Restu membawa tubuh istrinya yang lemah ke atas tempat tidur. m Dia kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah bersih dia kembali memeluk tubuh Aleesa. Semenjak dia sadar akan kehamilan Aleesa, ada rasa sayang dan cinta yang lebih besar dari sebelumnya untuk istrinya tersebut. Tangannya pun refleks terus mengusap rambut perut sang istri yang masih rata.


"Besok aku akan ambil cuti dan kita akan ke dokter obgyn." Aleesa mengikuti apa saja yang dikatakan oleh Restu.


.


Pagi hari tiba, rasa mual di perut Aleesa semakin parah. Tubuhnya sudah tidak berdaya dan sangat lemah. Tanpa berpikir panjang Restu membawanya ke rumah sakit. Dia tidak ingin saya istrinya kenapa-kenapa.


"Pokoknya kamu harus diopname."


Restu memaksa. Bukan Tanpa Alasan tubuh istrinya sudah sangat lemas wajahnya sudah sangat pucat. Dia tidak ingin terjadi hal buruk kepada istri maupun anaknya.


Awalnya Aleesa menolak, tapi Restu terus membujuk hingga dia pun akhirnya luluh.


"Aku tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita. Aku akan menjaga kalian berdua sekuat tenaga aku."


Aleesa mendadak melow ketika mendengar ucapan Restu yang begitu tulus yang keluar dari hatinya Yang terdalam. Tangan Restu tak pernah melepaskan tangan Aleesa. Dia terus menggenggam tangan putih Aleesa hingga ke ruang perawatan.


"Kalau ada yang sakit bilang ya." Aleesa hanya tersenyum seraya mengangguk. Tangannya pun tak mau melepaskan tangan Restu.


Ketika tiba di rumah sakit mereka berdua bisa bernafas lega ketika melihat Aleesa dan juga Restu tengah tertidur bersama, Senyum mereka mengambang dengan begitu lebar.


"Manis banget ya kaya di drama-drmaa romansa."


Radit hanya tersenyum mendengar ucapan dari sang Abang. Dia juga mengakui jika sikap restu kepada Aleesa itu sangat manis dan juga hangat. Sama seperti dirinya yang memperlakukan Echa seperti itu. Restu selalu memberikan rasa nyaman hingga membuat Aleesa merasa terlindungi. Itu poin pentingnya.


Radit dan Rindra memilih untuk menunggu mereka berdua dengan duduk di sofa di dalam kamar perawatan Aleesa. Mereka tidak mau mengganggu tidur sepasang suami istri yang terlihat sangat lelah. Mereka berdua juga mendengar kabar jika semalaman Aleesa tak bisa karena seringnya memuntahkan isi perutnya yang mual.


Setengah jam berselang Restu membuka mata, dan dia terkejut ketika baba dan papihnya sudah ada di kamar tersebut.


"Kapan kalian datang?"


Restu sengaja mengecilkan volume suaranya. Dia tidak ingin mengganggu sang istri yang memang semalaman ini tidak bisa tidur dikarenakan rasa mual yang tidak bisa dia tahan.


"Ada satu jam-an mah."


Perlahan restu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aleesa. Dia mendekat ke arah sang papih dan baba.


"Selamat ya." Radit tersenyum ketika mengucapkan kalimat tersebut yang menepuk pundak sang menantu.


"Makasih, Ba." Restu malah berkaca-kaca.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi Ayah. Jadilah ayah yang baik dan juga selalu ada untuk anak kamu kelak." Restu menjawa iya dengan nada yang sangat berat.


"Ajari Aku untuk menjadi ayah yang baik seperti kalian berdua, Papih, Baba."


Rindra segera memeluk tubuh Sang putra. Dia tahu Restu sedang tidak bisa berkata karena kebahagiaan yang datang tiba-tiba.


"Papih yakin kamu akan menjadi suami dan ayah yang hebat untuk istri dan anak kamu."

__ADS_1


"Baba setuju dengan ucapan papih kamu. Kamu adalah pria penuh tanggung jawab dan sudah pasti akan menjadi Ayah yang hebat untuk anak kamu nantinya."


Restu semakin tidak bisa berkata. Kebahagiaannya semakin terasa karena kedua ayahnya selalu mendukungnya dan juga selalu memberikan petuah yang baik kepadanya. Sekalipun dia salah, dia bukan dimarahi atau dibenci melainkan dia dinasehati.


"Jaga Putri Baba. Jadilah suami yang siaga."


"Tentu, Ba."


Obrolan mereka berlanjut pada masalah pekerjaan. Obrolan yang amat serius dan sangat profesional. Membicarakan peran perusahaan yang sedang mengalami kemacetan. Tengah serius membicarakan perihal perusahaan, suara lemah seorang wanita terdengar. Ketika pria itu menoleh dan terlihat Aleesa memanggil sang suami. Dia masih lemah dan terlihat masih pucat.


Aleesa tersenyum ketika melihat sang ayah sudah ada di sana. Juga sama papi yang sudah menemaninya di rumah sakit.


"Calon ibu muda."


Rindra akan selalu berkelakar jika bertemu dengan Aleesa. Respon Aleesa hanya tertawa dan tersenyum dengan begitu bahagia dia menatap ke arah sang ayah yang menatapnya begitu dalam.


"Anak Baba sudah dewasa ya."


Aleesa hampir menitipkan air mata jika Radit tidak memeluknya terlebih dahulu. Tangis pun pecah dan air mata pun tak bisa dia mendung. Hati Alyssa sangat melow dan tidak boleh mendengar kata sayang dari orang yang dekat dengannya. Terutama jika keluarga yang mengatakannya, hatinya akan mudah tersentuh.


"Jaga calon anak kamu ya, Sa. Jangan melakukan hal aneh-aneh jangan makan yang aneh-aneh harus makan yang bergizi dan sehat supaya anak kamu juga tumbuh dengan sehat."


Nasihat dari sang ayah yang tak lain adalah dokter membuat Aleesa mengangguk. Aleesa pun mulai menatap ke arah sang suami yang juga tersenyum ke arahnya.


"Apapun boleh kamu makan asalkan jangan berlebihan."


.


Kondisi Aleesa yang semakin hari semakin membaik membuatnya cepat keluar dari rumah sakit. Di rumah dia sudah disambut hangat oleh keluarga besar dari Wiguna. Aleesa pun menangis haru.


"Ya ampun ibu hamil ini kenapa sensitif banget."


"Kayaknya anaknya cewek," timpal Riana ketika Jingga sedikit mencandai Aleesa.


"Jangan ngidam yang aneh-aneh, Sasa." Gavin Agha Wiguna sudah membuka suara. Jika, mendengar ada keluarganya yang hamil, memori otaknya akan berputar ke masa di mana dia masih kecil dan sering menjadi objek ngidam dari kehamilan istri sang istri.


"Di dunia ini tidak ada kata ngidam. Jangan pernah ngadi-ngadi." Agha sudah berbicara sedikit keras. Semua orang malah tertawa terbahak.


Kondisi kandungan Aleesa bisa dibilang sedikit lemah. Maka dari itu, dia harus bed rest dan tidak boleh kecapean, itulah yang membuat Restu memilih untuk kerja di rumah dibandingkan harus pergi ke kantor. Dia akan keluar rumah jika ada hal mendesak. Jika, masih bisa diselesaikan di rumah dia akan tetap bersama istrinya.


Echa sudah menawarkan diri untuk menjaga Alyssa tapi Restu tidak mau. Bukan karena dia tidak percaya kepada Ibu mertuanya, tapi dia tidak ingin merepotkan Ibu mertuanya. Sudah pasti ketika Aleesa kecil dia sudah direpotkan oleh Aleesa dan dia tidak ingin itu terjadi lagi ketika Aleesa dewasa dan menjadi seorang istri. Seharusnya Aleesa dan dirinya yang membahagiakan ibu mertuanya


"Lovely, makan dulu."


Tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam mulut Aleesa, kecuali masakan Restu. Anaknya seperti tidak ingin jauh dari sang ayah. Apapun yang Restu masak pasti akan Aleesa makan dengan lahap tanpa mual. Walaupun rasanya hambar, asin ataupun tidak enak, dia akan tetap memakannya. Pernah Restu melarang karena rasanya tidak karuan, tapi Aleesa malah menangis dan sedih. Akhirnya Restu membiarkannya saja yang penting makanan itu tidak mabuk.


Suami siaga itulah Restu Ranendra. Dia akan menyuapi sang istri jika sudah waktunya makan. Rasa mual itu masih ada, tapi Restu terus memaksa Aleesa untuk makan walaupun hanya sedikit agar ada asupan nutrisi ke dalam janin yang tengah tumbuh di perut sang istri tercinta.


"Mau beli es krim rasa apa?"


Restu tidak akan melarang Alisa memakan es krim hanya saja ada batasan di mana Aleesa tidak boleh berlebihan karena itu tidak baik untuk janin yang dikandung oleh istrinya tersebut.


"Aku ingin es krim yang ada di mall, Bie."


Tangan Restu mengusap rambut sang istri. Dia juga menatap Aleeaa dengan begitu dalam.


"Pakai kursi roda ya." Alisa menggeleng.


"Aku masih sehat Bi."


Jika, Aleesa sudah menolak sulit untuk dia mengatakan iya walaupun Restu akan membujuk hingga mulutnya berbusa. Di kehamilan Alyssa saat ini, hormonnya sering berubah-ubah dan Restu harus sabar menghadapi istrinya sekarang.


Usia kandungan 6 minggu membuat Alisa harus hati-hati karena masih sangat rentan terjadinya keguguran.


Semua rasa es krim Aleesa sebutkan hingga Restu menggeleng pelan. Namun, dia tidak akan melarang karena es krim ini memang dari buah asli.

__ADS_1


"Mau?" Aleesa sudah menyendokkan es krim untuk Restu.


"Enggak. Buat kamu aja dan anak kita."


__ADS_2