
"Pria itu ayahnya!"
Restu terkejut mendengarnya. Dia melebarkan mata ke arah Iyan yang sudah berjalan ke arah dokter Kaira dengan wajah yang jelas-jelas bukan dirinya.
"Bie."
Suara lemah Aleesa membuat Restu dan ketiga pria lain menoleh. Tangan Restu refleks menjatuhkan dua senjata api yang ada di tangannya. Dia segera menghampiri Aleesa dan merengkuh pinggang sang kekasih.
"Istirahat lagi, ya." Aleesa menggeleng.
"Hai, Kak Kaira."
Suara Iyan yang beda dari biasanya mengalihkan pandangan mereka lagi. Apalagi senyum yang jelas-jelas bukan milik Iyan.
"Itu bukan Om Iyan," ucap lemah Aleesa membuat Restu dan tiga pria yang lainnya sedikit terkejut.
Perlahan Iyan menoleh ke arah Aleesa dan dia tersenyum manis. "Hai, calon ipar."
Kini, Aleesa yang dibuat bingung. Begitu juga dengan Restu. Mereka berdua saling pandang. Mereka sama sekali tidak mengerti.
Dokter Kaira melebarkan matanya ketika melihat pandangan Iyan seperti perempuan yang sudah dia jahati.
"Dokter Kaira, masihkah ingat dengan aku? Adikmu ini."
Semua mata orang yang berada di sana melebar. Restu mulai menyatukan puzzle yang berserakan yang baru dia dapatkan.
"Ayahnya, calon ipar, adik. Siapa mereka berdua?"
__ADS_1
"Adikku sudah mati." Kaira jelas menjawab. Restu semakin berpikir keras.
"Iya, dia memang sudah mati. Itupun kamu habisi. Apa kamu lupa?" Iyan tersenyum mengerikan. Semua orang di sana pun terkejut.
"Kamu siapa? Jangan memfitnah aku." Dokter Kaira berkilah. "Adikku itu tidak bisa bicara." Tawa menyeramkan terdengar.
"Aku Kiara Genea." Mata Restu melebar dan jantungnya hampir berhenti berdetak mendengarnya.
"Aku memang bisu, tapi ketika aku mati dan ingin mengungkapkan kebenaran Tuhan memberikan aku suara." Kini, dokter Kaira yang terkejut.
Tangan Aleesa melingkar di pinggang Restu dengan sangat erat membuat Restu menoleh ke arahnya. Aleesa memberikan senyum termanisnya. Itu membuat Restu memeluk tubuh Aleesa tak kalah erat. Dia mengecup ujung kepala Aleesa.
"Kamu sengaja membunuhku, Kak." Aksa dan dokter Rocki saling pandang. "Karena aku tahu rencana Kakak yang ingin membalaskan dendam kepada Restu karena dia sudah membuat Ayah sekarat. Kakak menghasut Nyonya Zenith, dan menyembunyikan siapa diri Kakak sebenarnya yang adalah anak pertama dari istri Ayah."
Madam Zenith menahan napasnya. Dia menatap tajam ke arah dokter Kaira yang hanya membeku.
Plak!
Tamparan keras Zenith Andrea berikan kepada dokter Kaira. Aksa dan dokter Rocki tersenyum tipis.
"Kakak dan Ayah sama-sama licik. Memanfaatkan Nyonya Zenith dengan menumbalkan Restu yang tidak tahu apa-apa. Setelah Restu Kakak kuasai dan Kakak akan membunuh Nyonya Zenith dan menguasai semua hartanya. Kemudian, Kakak akan membuang Restu begitu saja." Penjelasan dari hantu Kiara membuat dada madam Zenith turun naik tak beraturan.
"Wanita bodoh!" Restu sudah mengeluarkan suara dengan begitu lantang dan membuat semua orang terkejut.
"Kamu kira aku akan sebodoh dan selemah itu, hah?" Restu benar-benar murka. Aleesa sudah menahan Restu agar tak berbuat kasar.
"Om, bunuh saja ayahnya sekarang juga!" Restu benar-benar sudah murka.
__ADS_1
"Dia juga ayah kamu, Restu!" Akhirnya dokter Kaira menjawab ucapan Restu. Kekasih Aleesa itu hanya tertawa dengan begitu keras.
"Ayah," ulang Restu dengan seringainya. "AYAHKU SUDAH MATI DAN MASUK NERAKA!" Lantang sekali ucapan Restu kali ini.
"BUNUH DIA, OM. BUNUH!!!" Inilah bentuk rasa kecewa, marah dan sakit hati dari seorang Restu Ranendra.
"Bie--"
"Aku sudah muak dengan semua drama ini. Aku sudah muak disangkut pautkan dengan pria jahanam itu." Restu masih berkata keras walaupun itu kepada Aleesa.
"Nak--"
Restu malah tertawa ketika mendengar ucapan dari madam Zenith. Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar tawa ejekan dari putranya sendiri.
"RAJENDRA WIRATAMA SUDAH MATI DAN IBUKU SUDAH MATI DUA ULUH TUGA TAHUN LALU. CAMKAN ITU NYONYA ZENITH ANDREA."
Air mata Zenith Andrea menetes begitu saja. Hatinya sangat sakit sekali. Dia mencoba mendekat ke arah Restu, tapi Restu semakin mundur dan melepaskan pelukan Aleesa.
"JANGAN PERNAH MENDEKAT ATAU--"
"Kekasih kamu yang akan Mamih bunuh lebih dulu, Nak." Zenith Andrea sudah mengarahkan pistol ke arah jantung Aleesa. "Sekali Mamih tekan pelatuknya, dia tidak akan selamat."
Dor!
...***To Be Continue***...
Komen dong ... Nanti aku UP lagi.
__ADS_1