
Kehamilan Aleesa tidak membuat Restu repot sama sekali. Hanya saja terkadang mood Aleesa yang sering berubah-ubah yang membuat Restu pusing tujuh keliling jika sudah seperti itu.
Usia kandungan Alyssa sekarang sudah menginjak 10 minggu. Dia sama sekali tidak pernah menginginkan makanan ini atau barang ini dan itu. Tidak seperti wanita hamil pada umumnya. Hanya saja dia selalu bermasalah dengan perhatian dari suaminya.
“Ke mana sih kok telepon aku nggak diangkat?”
Aleesa terus mengomel sendiri. Tiba-tiba matanya perih dan dia menangis tanpa alasan yang pasti. Satu jam berselang, Restu yang memang baru saja selesai meeting dengan para kolega membalas panggilan dari sang istri tercinta. Ketika sambungan video tersambung dia terkejut melihat Aleesa sedang menangis dengan deraian air mata yang begitu deras.
“Kamu kenapa?”
Restu khawatir, tapi Aleesa malah semakin menangis menjadi. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Restu. Hanya isakan yang begitu lirih, air mata yang begitu deras. Sedangkan mereka berdua.
Restu sudah menghela nafas kasar. Itu menandakan bahwa dia tahu penyebabnya apa. Kenapa istrinya seperti itu?
“Maafkan aku ya, lovely.”
Lebih baik meminta maaf daripada urusan semakin rumit. Rumus baru yang Restu kuasai sekarang. Jika Restu terus bertanya maka Aleesa akan semakin menangis keras. Percuma dia juga tidak akan pernah menjawab pertanyaan dari Restu.
“Jangan nangis lagi dong.”
“Kenapa kamu nggak angkat telepon dari aku, Bie?”
Akhirnya, satu masalah terselesaikan. Ternyata perihal telepon yang tidak diangkat itulah yang membuat Aleesa menangis di hadapannya.
“Aku lagi meeting. Kalau aku nggak jawab telepon dari kamu itu tandanya aku lagi sibuk. Kalau aku dengan cepat jawab telepon dari kamu itu tandanya aku lagi sedikit santai. Jangan berpikiran aneh-aneh Ya, kasihan anak kita.”
“Kalau emang kamu lagi sibuk chat aku, bilang kalau kamu lagi sibuk jangan ngediemin begini.”
“Iya.”
Ngediemin, Restu pun menghela nafas kasar. bener kata pepatah wanita itu selalu benar dan lelaki Selalu Salah.
Iya adalah jawaban aman yang harus Restu berikan. Awalnya Restu kaget dengan perubahan sikap Aleesa, tapi dia tidak menyimpulkan sendiri perihal perubahan sikap sang istri. Dia mencari tahu dan bertanya kepada sang papi, mertua kepada kedua Om Aleesa dan juga Om Iyan perihal mod ibu hamil. Mereka menjawab dengan jawaban yang sama dan itulah yang membuat Restu harus ekstra sabar menghadapi istrinya untuk sekarang dan beberapa bulan ke depan.
“Jangan aneh jika nanti tiba-tiba lu dibenci terus lu dicari.” Aska sudah menjawab.
“Belum lagi kalau dituduh selingkuh padahal kerja banting tulang dari pagi ketemu pagi.” Aksa pernah merasakan di tuduh hal aneh-aneh oleh istri tercinta.
.
Di bulan keempat kehamilan sang istri, Restu sedikit protes.
“Kenapa kamu nggak ngidam kayak yang lain? Aku kan ingin membelikan sesuatu untuk kamu.”
Aleesa yang yang tengah asik menonton drama Korea terdiam dan menatap ke arah sang suami yang baru saja selesai membersihkan tubuh.
__ADS_1
“Kenapa kamu jadi aneh?”
Aleesa menggelengkan kepala dengan pelan karena mendengar ucapan sang suami yang tak ada angin dan tak ada hujan mengatakan hal seperti itu. Sedangkan Restu menimpalinya dengan decakan kesal mendengar pertanyaan sang istri. Padahal dia ingin seperti suami yang lain, yang direpotkan oleh istrinya ketika hamil. Sepertinya itu akan menjadi momen yang tak terlupakan.
“Kolega aku itu istrinya lagi hamil. Ingin ini, ingin itu, dak dia harus mencarikannya untuk sang istri. butuh perjuangan untuk mendapatkan sesuatu tersebut." Restu memaparkan secara gamblang.
Aleesa malah tertawa mendengarnya. Dia menatap ke arah sang suami dengan begitu dalam.
“Kamu ingat ya apa yang dibilang Mas Agha.." Alisa seakan tengah membuka memori akan perkataan dari adik sepupunya. Walaupun dia masih remaja, tapi pemikirannya bagi orang dewasa. logikanya pun bisa dipercaya.
"Tidak ada yang namanya ngidam. Itu hanya istilah bagi ibu-ibu hamil yang manja. Sedangkan aku ingin ini itu pun aku beli sendiri tidak perlu menunggu suami. Uang sudah ada di tangan aku lalu mau menunggu apa lagi." Aleesa berkata apa adanya
Sikap Aleesa ini yang terkadang membuat marah dan kesal. istrinya terlalu mandiri hingga tidak pernah mau merepotkan suami sendiri.
“Anak kita itu nggak rewel, Bie. Dia seakan mengerti jika ayahnya sibuk. Dia sangat mengerti kalau ayahnya hanya memiliki waktu ketika malam tiba. maka dari itu aku harus menjadi ibu dan ayah untuk calon anak kita nanti ketika siang hari. Bukan Tanpa Alasan biar dia tidak mengganggu waktu kerja sang ayah. jika ayahnya sudah pulang kerja bolehlah dia bermanja."
Hati Restu mencelos mendengar penuturan dari Aleesa. Begitu bijak dia menyikapi setiap masalah yang ada. Begitu dewasa dia menyikapi hal yang harusnya belum dihadapi sekarang ini.
"Jangan berpikiran aneh-aneh perihal ngidam karena tidak semua wanita hamil mengalami siklus seperti itu."
Restu memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat. Dia benar-benar berterima kasih kepada sang istri yang mampu mengerti dirinya akan kesibukan yang tengah melanda dirinya sekarang ini. Alisa juga tidak pernah menuntut itu harus pulang jam berapa. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih.
“Setiap malam pun aku ‘kan sering menyusahkan kamu. Ingin makan inilah, itulah. Semuanya ingin kamu yang masak.”
“Jadi anak baik ya, Nak. Jangan susah kan mami dan juga Papi. Papi janji ketika kamu menghadirkan dunia apapun yang kamu minta akan tetapi berikan.”
“Jangan bilang begitu dong, Bie.” Aleesa seakan tidak terima dengan perkataan sang suami yang akan memanjakan anaknya.
“Tidak semua yang anak kita minta harus kita turuti. Apa yang dia butuhkan barulah kita turuti. Jika, tidak terlalu penting lebih baik abaikan biar dia menjadi anak yang mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua dan tidak memudahkan dalam hal meminta.”
Restu tak menyangka jika istrinya kini semakin dewasa. Malah dia yang mengajarkan banyak hal tentang parenting kepada dirinya.
“Aku tuh ingin punya anak yang mandiri tidak bergantung kepada orang tua, pandai, Soleh atau sholehah, dan yang penting sayang kepada kita berdua, sayang kepada keluarga dan terus membela keluarga karena tempat pulang Di mana kita tidak dihargai dan tidak dilihat orang lain adalah keluarga bukan yang lain.”
Sang suami tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar kalimat demi kalimat yang Aleesa lontarkan. Sangat di luar nalar dan perkiraan dari dirinya.
“Kenapa Mami jadi sangat dewasa sekarang?”
“Bukan aku yang dewasa, tapi kamu yang membuat aku berpikir lebih dewasa. Kamu yang membuat aku berpikir lebih luas tidak hanya itu-itu saja.”
Restu memilih memeluk erat tubuh Aleesa. Rasa cintanya semakin besar dan juga kuat. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersama Aleesa hingga akhir hayat.
Setiap kali ke dokter Obgyn, Restu akan meluangkan waktu untuk istrinya. Dia akan memilih untuk libur dalam sehari demi untuk menemani istrinya memeriksakan kandungan yang di dalamnya tengah tumbuh sang anak. Namun, Aleesa terkadang risih Ketika sang suami ikut dengannya untuk memeriksakan kandungan. Bukan karena suaminya genit atau yang lain, tapi dokter dan perawat yang menangani Aleesa kini adalah dokter muda. Selalu memperhatikan Restu tanpa mengedipkan Mata. Itulah yang membuat Aleesa terkadang kesal tanpa bisa berkata.
“Udah, lebih aku sendiri aja.”
__ADS_1
Sudah dua kali ke dokter obgyn yang ditangani oleh dokter wanita muda Aleesa merasa risih dan tidak ingin mengajak suaminya. Sangat terlihat jelas betapa dokter itu mengagumi suaminya yang selalu menempel kepada dirinya jika tengah memeriksakan kandungan.
Dia ingin mengubah dokter, tapi dia merasa tidak enak karena itu adalah dokter pilihan dokter rekomendasi dari seorang ayah.
“Kenapa sih? Aku kan ingin melihat anakku dan melihat perkembangan janin yang ada di dalam perut kamu.”
“Udahlah Bie, aku ingin sendiri aja.” Alyssa tetap bersih keras dan Restu pun tidak mau kalah. Hingga pada akhirnya Alisa Dan resto berangkat ke salah satu rumah sakit bersama.
Wajah Aleesa sudah ditekuk hingga lipatan terkecil, tidak ada senyum dan tidak ada manis di mata Restu. Ketika mereka menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruangan dokter obgyn, Restu mulai genggam tangan Aleesa dan menyuruhnya untuk menatap dirinya.
“Kenapa?”
Restu sudah mulai menginginkan jawaban yang benar dan pasti dari mulut sang istri. Rasanya tidak enak jika dicuekin seperti ini.
“Jawab aku, Lovely. “ Restu masih di mode sabar.
“Aku tidak ingin dokter obgyn yang menangani aku menatap kamu genit. Mereka menginginkan kamu. Aku tidak mau itu terjadi." Wajah Aleesa sudah terlihat geram.
Respon Restu malah tertawa.
Semakin kesini rasa cemburu Aleesa semakin tinggi. Restu tidak risih, dia malah senang dengan sikap Aleesa sekarang. Setidaknya sang istri sangat mencintainya dan tidak ingin dia dilirik oleh wanita lain selain dirinya.
“Biarkan mereka menatapku. Aku tidak akan pernah menatap mereka barang sedetik pun karena yang ada di mataku hanya kamu, yang harus aku tatap cuma Kamu, dan yang harus aku cintai the only one dan tidak ada lain hanya kamu. Kamu adalah segalanya untuk aku, kamu adalah ibu dari anak-anak aku esok dan lusa hingga nanti dan selamanya.”
Manis bagai gula ucapan dari seorang Restu Ranendra. Walaupun dia bergelimang harta dan juga asetnya di mana-mana, Dia bukanlah pria hidung belang yang akan tergoda dengan adanya wanita baru di depannya. Secantik-cantiknya juga seksi-seksinya wanita yang ada di depan matanya, bagi dirinya hanya Aleesa yang mampu membuat hasratnya hadir dan belalai imut yang menjadi belalai longsor.
Ternyata dugaan Aleesa benar. Ketika masuk ke dalam ruangan dokter obgyn sang dokter bukannya menyambut kedatangan pasien malah langsung bertanya ke si pengantar pasien. Matanya berpindah seakan tengah mengungkapkan sesuatu kepada Restu. Akan tetapi, Restu tidak pernah memalingkan matanya barang sedetikpun. Dia tetap fokus pada sang istri, menggenggam tangan sang istri dan sesekali mencium ujung kepala sang istri di hadapan dokter Obgyn.
“Pak Apa ada yang mau Anda tanyakan?” Bukannya bertanya pada pada si ibu hamil, ini malah bertanya kepada sang suami.
“Saya ingin mengganti dokter obgyn untuk istri saya.” Dokter itu pun terdiam apalagi tatapan Restu sangat tajam bagi elang.
“Alasannya kenapa?”
“Tidak ada alasan.” Jawaban yang sangat membagongkan.
“Kalau begitu Anda tidak bisa berpindah dokter.”
Mendengar itu Aleesa berdecak kesal. Mulutnya sudah tidak tahan ingin menimpali ucapan dokter yang menanganinya.
“Oh ya?” Restu tersenyum tipis. Dia menunjukkan nama dokter yang akan menangani Aleesa di bulan depan. Tertera nama dokter lain di sana
"Saya datang ke sini untuk memeriksa kandungan istri saya. Bukan untuk bertemu dengan dokter seperti Anda. Secantik-cantiknya dokter yang menangani istri saya, saya tidak akan pernah tergoda. Juga, secentil-centilnya Anda menggoda saya saya tidak akan pernah luluh." Dokter perempuan itupun terdiam.
Restu jika sudah berbicara pasti tanpa ampun dan sangat berbisa.
__ADS_1