
"Bisa gak ya dapat laki-laki semanis dia?" Aleena membatin. Dia melihat ke arah jendela samping di mana awan-awan cantik terlihat jelas. Selama ini dia menyimpan rapat bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
"Pura-pura bahagia itu melelahkan."
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Terkadang mencintai itu lebih menyakitkan dibandingkan dicintai. Itulah yang Aleena rasakan saat ini.
.
"Gua gak mau tahu, sehari harus kelar!" Keras kepala seseorang membuat pihak yang terkait merasa pusing.
Setelah bersikukuh dengan kekeras kepalaannya, dia menghubungi orang lain lagi.
"Bagaimana? Sudah beres?" Kali ini dia tersenyum karena apa yang dia inginkan sudah selesai.
Dia menghembuskan napas lega. Tak apa lelah di awal yang terpenting semuanya tidak berakhir sia-sia. Sudah waktunya dia kembali lagi. Namun, sengaja dia memilih tidur di salah satu hotel. Dia ingin meredakan rasa lelahnya.
Tibanya di kamar hotel, dia langsung menjatuhkan diri di kasur yang begitu empuk. Dia melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan. Hanya hembusan napas kasar yang keluar.
"Udah kaya orang gila gua hari ini." Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi ternyata. Dia baru bisa beristirahat dan beban di pikirannya hilang.
.
Selepas pulang dari rumah Aksara, Aleesa duduk di balkon kamarnya. Dia masih berharap Restu akan datang dan meminta maaf kepadanya dengan menggunakan ilmu malinh. Namun,hingga jam satu malam laki-laki yang tengah dia rindukan tak kunjung datang. Kecewa, sudah pasti. Tidak biasanya Restu semarah ini.
"Kenapa?" Aleesa nampak terkejut karena Anteu Pocita sudah ada di sampingnya. Berdiri di samping Aleesa dengan mata yang sudah menatap dalam.sahabat manusianya.
"Dia ke mana, ya?" Baru kali ini Aleesa curhat dengan seorang pocong wanita. "Kenapa dia seperti itu?" Terdengar sedikit rasa kecewa yang Aleesa alami.
Hantu bungkus wanita itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Dia masih menjadi pendengar yang baik ketika Aleesa mengutarakan isi hatinya. Jarang sekali Aleesa bisa terbuka seperti ini.
"Cemburu boleh, tapi jangan kayak gini juga. Selain merasa bersalah, akunya juga gak tenang." Aleesa seakan mengeluhkan sikap Restu kepada Tante Pocita. Dia lebih percaya curhat dengan hati dari pada dengan manusi yang seperti ember bocor.
Banyak hal yang diceritakan Aleesa kepada hantu bungkus permen berwajah merah itu. Dia seperti tidak sadar mengungkapkan semua yang tengah dia rasakan. Tante Pocita hanya tersenyum karena apa yang Aleesa keluhkan berhubungan dengan Restu.
__ADS_1
"Sekarang kamu mending tidur. Besok kamu akan mendapat jawabannya." Aleesa menatap tajam ke arah Pocita.
"Apa Anteu tahu di mana Kak Restu?" Lagi-lagi anteu Pocita ahnya tersenyum.
"Sudahlah, tidur." Nasihat Anteu Pocita. "Sudah sangat malam. Angin malam gak bagus untuk kesehatan." Tidak biasanya Aleesa menurut kepada sang Tante hantu. Dia pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar.
Apa yang dikatakan oleh Tante Pocita memang benar, Aleesa mendapat jawabannya, yakni wajah Yansen yang memar. Dia pun mencoba untuk berbicara empat mata berdua dengan Yansen walaupun rasanya canggung.
"Apa kamu kemarin bertemu dengan Kak Restu?" Aleesa bagai penyidik. Dia ingin tahu kronologi sesungguhnya hingga menyebabkan wajah Yansen memar.
Restu adalah manusai nekat. Dia juga tidak akan segan untuk menghabisi lawan. Apalagi jika dia sudah marah. Bagai ada setan' yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Iya." Aleesa syok mendengarnya. Dia yang merasa bersalah karena sudah menatap Yansen di depan Restu.
"Apa itu perbuatan Kak Restu?" Yansen hanya tersenyum dan belum juga dia menjawab, teman satu jurusan Yansen memanggilnya karena kelas sudah akan dimulai. Aleesa pun mengerang kesal. Dia tahu sifat kekasihnya jika sedangan emosi.
"Kenapa kamu lakukan itu, Kak?" Aleesa terus membatin. "Itu salah aku, bukan salah Sensen." Aleesa menunduk dalam dengan membuang napas kasar.
Ke rumah sang paman sudah, ke apartment sudah, tapi orang yang dicari tak ada. Apalagi sang Tante mengatakan bahwa Restu tidak pulang ke rumah. Mencoba untuk tenang, tapi tetap tidak bisa.
"Bie, kamu di mana dan ke mana?" Pertanyaan itu yang kini berada di kepala Aleesa.
Untuk kesekian ratus kalinya Aleesa menghubungi nomor Restu. Lagi-lagi di luar jangkauan. Erangan kesal keluar dari mulut Aleesa. Marahnya seorang bodyguard ternyata amat menyeramkan.
Tengah asyik menikmati cokelat di malam hari dengan susu cokelat dingin, Aleesa dikejutkan dengan panggilan Rio yang masuk ke ponselnya. Dahinya mengkerut dan dadanya mulai bergemuruh tak karuhan. Dia takut jika ada kabar buruk menimpa Restu.
"Ada apa?"
Aleesa menjawab panggilan dari Rio dan dirinya cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rio.
"Kak Iyo udah sharelok, datanglah ke tempat itu. Restu--"
Tut ... Tut ... Tut ...
__ADS_1
Sambungan telepon lun terputus dan Aleesa masih tetap memanggil kakak sepupunya itu. Menghubunginya kembali pun tidak bisa. Dadanya sudah bergemuruh tak karuhan. Aleesa segera membuka pesan dari Rio. Dia sudah mengirim lokasi di mana Restu berada. Juga sebuah foto di mana beberapa anggota polisi menangkapnya.
"Kak Restu!"
Kaki Aleesa sudah sangat lemas. Dadanya mulai sesak. Aleesa tidak bisa berpikir. Tubuhnya pun lemas. Baru kali ini dia melihat sang kekasih dibawa oleh pihak berwajib.
"Bie, apa yang sudah kamu lakukan? Apa benar kamu yang sudah menganiaya Sensen." Aleesa berkata sendiri. Dia memejamkan matanya sejenak. Menarik napas, lalu membuangnya.
Setelah dirasa keadaannya membaik, Alees memutuskan untuk menyusul Restu ke sana. Dia tidak tega melihat Restu seperti itu. Apalagi Rio mengirim pesan jika dia harus datang dan menyaksikan sendiri apa kesalahan Restu selama ini.
Aleesa naik ke lantai atas untuk mengambil Sling bag kecil miliknya. Dia tidak berganti pakaian karena dia takut Restu menunggunya.
Aleesa berangkat menggunakan jasa ojek online karena jika malam jalanan menuju arah sana macet parah. Tibanya di sana, Aleesa terus berlari dan langkahnya terhenti ketika banyak orang berpakaian aparat keamanan di sana. Air matanya ingin sekali menetes.
"Ini kenapa lagi, Kak?" gumamnya dengan begitu lemah. "Jangan buat aku takut."
Tubuh Aleesa yang tengah membeku dia coba untuk digerakkan. Dia harus kuat. Dia harus bisa melalui semua ini jika memang hal paht terjadi.
Aleesa manarik napas panjang sebelum dia melanjutkan langkahnya lagi. Mencoba tenang menghadapi para aparat yang berdiri tegap. Sebelumnya dia sudah menarik napas panjang. Kemudian, membuangnya dengan begitu kasar.
"Tuhan, kuatkan hamba-Mu ini."
Perlahan Aleesa mulai melanjutkan langkahnya yang terhenti sejenak. Tak dia sangka pihak keamanan yang berjaga seakan membiarkan Aleesa masuk. Dia cukup terkejut.
Langkah Aleesa terhenti di ambang pintu. Dia sangat tahu itu punggung siapa. Namun, di kedua sisi tubuh sang kekasih ada dua orang yang memakai seragam keamanan.
"Bie--"
Pria itupun menoleh, sontak Aleesa terkejut.
...***To Be Continue***...
Komen atuh lah ...
__ADS_1