
Suara derap langkah kaki terdengar. Bukan suara sepatu para pengawal, melainkan heels wanita. Perempuan yang sedang bersama Aleesa itu memberikan kode lewat tatapan matanya. Aleesa mengangguk. Perempuan itu menghilang. Sedangkan Aleesa mencoba mendengarkan apa yang sedang mereka katakan.
"Kamu sudah memastikan jika Raje tidak akan pernah terbangun?"
Mata Aleesa melebar mendengarnya. Sungguh ibu yang sangat tak berakhlak. Tangan Aleesa sudah mengepal dengan keras.
"Tentu. Obat yang saya berikan itu sangat ampuh. Dua puluh lima hari ke depan dia akan menjadi pengeran yang lupa ingatan. Dia milik Anda, Nyonya."
"Jahat sekali kalian."
Aleesa benar-benar geram mendengat percakapan dua wanita berhati iblis itu. Matanya melebar ketika mendengar kalimat lain yang dokter Kaitan ucapkan.
"Ketika dia sadar, jangan lupa katakan padanya jika aku adalah calon istrinya."
"Bang ke!!"
Dada Aleesa sudah turun naik mendengar ucapan dari dokter Kaira tersnebut. Wajahnya sudah merah padam dan urat-urat kemarahannya sudah terlihat di wajahnya. Tiba-tiba tubuhnya lemah dan matanya tertutup hingga tak bisa mendengar apa-apa.
.
Iyan sudah bersembunyi dan Aksa sudah memantau apa yang terjadi di dalam ruang perawatan. Gemke, dia terkena tamparan madam. Zenith Andrea sangat marah kepada Gemke. Wanita itu mulai menaruh curiga.
Kedua paman Aleesa sangat mengkhawatirkan keadaan Aleesa. Mereka takut Aleesa ketahuan. Namun, tidak ada kode dari Gemke membuat Aksa merasa sedikit tenang. Tidak mungkin Gemke akan mengkhianatinya.
Dokter Kaira merasa ada yang aneh ketika dia sudah berada di samping ranjang pesakitan Restu. Dia melihat ada bekas lipstik di dahi Restu. Samar sekali memang, tapi di mata dokter Kaira itu sangat jelas. Dia menatap tajam ke arah Gemke.
"Apa ada yang masuk ke sini?" Suara dokter Kaira sudah terdengar berbeda.
__ADS_1
"Tidak ada." Gemke menjawab dengan tegas.
"Jangan bohong kamu, Gemke!" Dokter Kaira sudah meninggikan suara. Dia mendekat ke arah Gemke dan menarik tangan Gemke menuju ke arah Restu yang masih memejamkan mata.
"Lihat ini!" Dokter Kaira sudah menunjuk ke arah kening Restu. Di sana ada bekas lipstik. Tubuh Gemke pun menegang. Perlahan, dia menekan sesuatu yang ada di dalam saku celananya. Sinyal pun diterima oleh Aksa.
"Gimana ini?" Iyan sudah mulai cemas. Aksa pun sama.
Dokter Kaira sangat amat curiga. Dia menyuruh beberapa pengawal untuk mencari keberadaan orang lain di sana. Jangan ditanya bagaimana wajah madam Zenith sekarang.
"Jika, kamu berani mengkhianati saya ... nasib kamu akan lebih parah dari Raje."
Untung saja Gemke masih tersambung dengan Aksa. Jadi, Aksa bisa mendengar apa yang dikatakan oleh mereka di sana.
"Kartu As-nya gua pegang," gumam Aksa. Dia dan Iyan masih mendengarkan apa yang tengah terjadi di dalam sana.
Feeling dokter Kaira sangat tajam. Dia sangat yakin jika ada orang lain di dalam ruangan ini selain mereka.
"Cek ke seluruh ruangan ini. Jangan ada yang terlewat."
Madam Zenith memperhatikan putranya yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Dia menggenggam tangan Restu yang tak lain adalah Rajendra Wiratama. Dadanya sangat sesak dan air mata menetes begitu saja. Dia menunduk dalam. Dia merasa menjadi ibu yang sangat kejam terhadap putra semata wayangnya. Ucapan kaya maaf terlontar dari dalam hatinya.
"Maafkan Mamih."
Bayang wajah Restu nampak terlihat jelas. Dia menghampiri Madam Zenith dengan penuh luka di wajahnya. Tatapannya amat menyeramkan walaupun madam Zenith sudah memberikan senyum yang sangat menghangatkan. Tanpa dia duga, ternyata Restu menodongkan sebuah pistol ke lehernya.
"Peluru dibayar dengan peluru juga." Senyum dengan penuh dendam terukir di wajah Restu.
__ADS_1
Pelatuk pistol yang ada di tangan sudah dia tekan setengah. Dia tidak main-main ternyata.
"KAU HARUS MATI!" Pelatuk pun tak segan dia tarokndan terdengar suara tembakan yang begitu nyaring di telinga Madam Zenith. Dia melihat lehernya yang bersimbah darah.
"TIDAKK!!"
Madam berteriak dan menutup telinganya hingga membuat orang yang ada di sana terkejut. Dia seperti orang yang tidak waras sekarang. Berteriak tanpa sebab.
"Anda kenapa, Madam?" Dokter Kaira mendekat dan menatap ke arah Madam Zenith. Napas Madam Zenith tersengal, dan dia pun mendudukkan diri di kursi yang ada di sana dengan begitu lemah.
"Apa Raje akan Setega itu kepada ibu kandungnya?"
Dokter Kaira menghela napas kasar karena madam Zenith tidak menjawab pertanyaannya. Seorang pengawal mendekat dan melaporkan jika tidak ada yang mereka temukan di ruang perawatan itu. Namun, dokter Kaira masih tetap bersikukuh dengan feelingnya.
"Pasti ada yang tengah bersembunyi."
Jika, di setiap sudut tidak ada, tinggal di kolong tempat tidur yang belum diperiksa. Perlahan dokter Kaira merendahkan tubuhnya. Senyum tipis sudah terukir di wajahnya. Hati Gemke sudah berdegup tak karuhan. Dia juga memiliki feeling jika Aleesa bersembunyi di sana.
Satu.
Dua.
Tiga ....
...***To Be Continue***...
Komen atuhlah, crazy up hari ini.
__ADS_1