RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 195. Lakukan Saja


__ADS_3

YANG GAK SUKA CERITA BERTELE-TELE LEBIH BAIK SKIP AJA. JANGAN DIBACA ATAUPUN KOMENTAR PEDAS.


SAYA HANYA AUTHOR YANG MENGEJAR KATA BUKAN AUTHOR TERKENAL YANG TANPA MEMBUAT CERITA BERTELE-TELE PEMBACANYA BANYAK.


YUK, SEMINGGU JADI SAYA BIAR SAYA YANG JADI PEMBACA DAN NGOMENTARIN TULISAN DARI KALIAN. BIAR KALIAN MENGERTI BAGAIMANA JADI SAYA.


...----------------...


Feeling seorang Restu Ranendra sangatlah tajam. Sedari mobil yang membawanya keluar dari rumah dia sudah merasakan firasat yang tidak enak. Hingga baru seperempat perjalanan dia meminta sopir untuk memutar arah.


"Kenapa?" tanya Rio.


"Hape gua ketinggalan."


Rio menghela napas kasar. Sudah pasti tiket pesawat ini tidak berlaku dan akan masuk ke tong sampah. Untung saja kakak angkatnya sudah sultan. Jadi, tidak masalah untuk Rio. Semua biaya sudah pasti akan ditanggung oleh Restu.


Tibanya di rumah, Restu dan Rio saling pandang. Mereka melihat ada sebuah mobil yang tidak seperti keluarga besar Aleesa miliki terparkir di depan rumah Raditya Addhitama.


"Mobil siapa?" Rio sudah membuka suara. Restu menggeleng pelan. Dia segera turun karena hatinya mengatakan hal yang buruk.

__ADS_1


"Apalagi hingga menyebabkan mantan pacar kamu meninggal. Itu sudah sangat fatal."


Tubuh Restu menegang ketika mendengar kalimat tersebut. Urat-urat kemarahannya sudah muncul. Namun, tepukan di pundak belakang membuat Restu harus menarik napas panjang. Mereka berdua melangkah mendekat ke asal suara. Benar dugaan Restu. Dia dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Satria tanpa filter. Hingga dia bertepuk tangan dengan keras setelah Satria selesai berbicara.


"Sepertinya Anda ingin segera menyusul mantan kekasih dari istri saya."


Kalimat yang begitu menyeramkan keluar dari mulut Restu. Senyum tipis dia ukirkan dan tatapan tajam dia berikan. Jantung Satria berdegup tak karuhan ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Restu Ranendra.


Restu belum menatap ke arah Aleesa. Matanya masih menatap tajam ke arah Satria. Jangan ditanya bagaimana wajah seramnya.


"Sepertinya Anda terlihat sudah siap saya kirim ke neraka." Sungguh kejam sekali ucapan dari Restu tersebut.


"Putuskan saja rem mobilnya."


Semua mata tertuju pada Restu sekarang. Apalagi Aleeya yang sudah melebarkan mata.


"Jangan!" Satria dan Aleeya berteriak bersamaan. Itu membuat Radit dan lainnya menatap tajam ke arah Aleeya.


Restu tersenyum tipis. Aleeya malah menunduk dalam ketika semua mata tertuju padanya. Echa menggeleng pelan melihat sikap Aleeya.

__ADS_1


"Bukan hanya tua Bangka ini ternyata yang tidak ingin anaknya mengikuti jejak almarhum sahabat istri saya, ternyata adik ipar saya pun seperti itu juga." Sindiran keras dari Restu semakin membuat Aleeya tak berkutik. Sedangkan Satria sudah berwajah pucat.


"Wajar Aleeya seperti itu karena dia sayang dan cinta sungguhan sama Kalfa!" tegas sekali ucapan dari Satria. Aleeya semakin memejamkan matanya. Sudah pasti kedua orang tua juga keluarganya tidak setuju.


Aleena hanya diam, dia Tersenyum sangat perih. Aleesa sudah mulai menenangkan sang kakak.


"Cinta boleh, Dek. Buta jangan." Perkataan yang sangat menyakitkan keluar dari mulut sang ibu. Wanita yang jarang mengeluarkan kata sarkas kini menyindir dengan sangat keras.


"Bubu--"


"Cukup kakak kamu yang disakiti. Bubu tidak ingin kamu juga disakiti oleh pria yang sama dengan pria yang menyakiti kakak kamu." Kalimat yang begitu tegas yang keluar dari mulut Echa menandakan Restu sudah tidak akan pernah dia dapat.


"Bagaimana ini, Tuan?"


Suara dari balik sambungan telepon terdengar. Restu mulai menatap ke arah Satria dengan senyuman yang mematikan.


"Lakukan perintah saya tadi."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2