
Tidak ada waktu bulan madu untuk Restu dan Aleesa. Setelah pulang dari zurich, Restu fokus pada kasus Satria, dan sekarang sudah disibukkan dengan pekerjaan di perusahaan sang ayah. Berangkat pagi dan pulang larut. Untungnya Aleesa tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan suaminya. Dia juga sudah mulai sibuk dengan kuliahnya. Perihal dia sudah menikah tidak banyak yang tahu. Beda halnya dengan kematian Yansen yang menggemparkan satu kampus. Kepergiaan yang begitu tragis.
Dua bulan sudah pernikahan Restu dan Aleesa berjalan. Restu mengajak istrinya untuk makan malam di luar. Mobil mewah sang suami sudah berhenti di sebuah hotel mewah. Aleesa tersenyum ketika melihat meja yang sudah dihias sebegitu indah dan manis oleh sang suami. Dia rela membooking restoran mahal di dalam hotel untuk merayakan dua bulan pernikahan mereka.
"Kamu suka gak?"
Aleesa mengangguk seraya menatap ke arah sang suami. Tangannya sudah melingkar di pinggang Restu. Sang suami mengecup kening Aleesa begitu dalam.
"Kapan mau ke dokter obgyn?"
Aleesa yang baru duduk segera menatap ke arah sang suami. Restu tengah menunggu jawaban dari sang istri. Sudah dua bulan mereka melakukan hubungan tanpa pengaman apapun. Sedangkan Aleesa menginginkan untuk menunda momongan karena dia ingin kuliah dengan tenang dan lulus sesuai waktunya. REstu takut kecolongan dan pada akhirnya akan membuat istrinya kecewa.
"Aku tidak mau menundanya."
Restu terkejut mendengarnya. Dia menatap sang istri tak percaya. Meminta penjelasan lebih lagi.
"Semenjak aku mendengar cerita Tante Ratu, aku jadi tidak ingin menunda apapun. Aku akan menjalani semuanya sesuai alur saja. Sekuat apapun kita menunda, jika Tuhan memberikan rejeki kepada kita lebih awal apa kita bisa menolak?"
Restu tersenyum, dia meraih tangan sang istri dan menciumnya penuh cinta.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Bie?" Restu menggeleng.
"Jika, Tuhan memberikan rejeki lebih awal kamu tidak akan menyesal 'kan?" Kini, Restu yang balik bertanya.
"Enggak. Aku takutnya jika kita menunda, ketika aku sudah siap jadi ibu malah Tuhan memberinya lama." Restu tersenyum mendengarnya.
Sebenarnya, dia juga tidak ingin menunda perihal momongan. Kedua orang tuanya terus bertanya kapan dia memberikan cucu. Bukan tanpa alasan, Rio sudah mulai kembali ke LN untuk kuliah dan magang di perusahaan sang ayah yang ada di sana.
Tidak ada angin tidak ada hujan, Aleesa menginginkan meminum wine. Awalnya Restu idak mengijinkan, tapi rengekan Alessa dengan wajah memelas membuat Restu tidak tega. Akhirnya, dia mengalah dan menuangkan wine ke dalam gelas milik Aleesa. Efek dari wine yang Aleesa minum membuat tubuhnya sangat panas dan mereka melakukan sesuatu yang begitu panas dan ganas. Sungguh Restu kewalahan karena istrinya tidak ingin cepat selesai.
Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua hingga Aleesa menjerit keras dan tubuh Aleesa barulah ambruk. Napasnya sudah tak beraturan. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
"Mau lanjut lagi?" Aleesa menggeleng cepat.
"Goa aku udah perih." Restu malah tertawa.
Restu sengaja tidak masuk kerja hari ini karena istrinya tidak mau jauh darinya. Ditambah mereka berdua sedang berada di sebuah hotel yang cukup jauh jaraknya dari kantor Restu.
"Masih sakit?" Restu mengusap lembut rambut Aleesa. Istrinya hanya memakai selimut.
"Heem."
"Kamu sih minta dicepetin." Aleesa menatap jengah ke arah sang suami yang sudah tertawa.
Seharian ini Restu benar-benar menemani sang istri di tempat tidur. Dari menonton drama Korea dan China hingga memanjakan sang istri. Ponselnya yang terus berdering pun tak dia hiraukan. Dia terus mengabaikan.
Restu tak melepaskan tangannya untuk terus memeluk tubuh sang istri. Mendengarkan keluh kesahnya di kampus dan banyak yang istrinya ceritakan padanya.
"Maaf, ya. Selama dua bulan ini aku belum bisa memberikan waktu yang full untuk kamu." Mata Aleesa yang tengah terfokus pada layar televisi menoleh kepada Restu. "Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan aku dan tak ada waktu untuk kamu bercerita seperti ini."
Aleesa mengusap lembut pipi rEstu. Dia tersenyum ke arah suaminya. Dia memutar tubuhnya hingga kini mereka berdua sling berhadapan di atas sofa.
"Kamu 'kan sibuk kerja, Bie. Bukan sibuk yang lain."
"Tetap saja, waktuku sangat sedikit sekali untuk kamu." Aleesa tersenyum mendengarnya, Terdengar sang suami merasa sangat bersalah.
"Aku bukanlah istri yang suka menuntut sang suami. Baba selalu menasihati aku jika kamu itu sibuk kerja untuk masa depan aku dan anak-anak kita kelak. Jadi, aku tidak boleh berpikiran jelek. Baba pun selalu mengingatkan aku jika kamu menyembunyikan bangkai, suatu saat nanti bau itu akan aku cium."
Restu tersenyum mendengarnya. Sang ayah mertua membuat istrinya semakin bersikap dewasa. Lagi pula dia juga tidak akan berbuat hal aneh. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan Aleesa.
'
Semingu setelah merayakan dua bulan usia pernikahan, Restu mulai banyak meluangkan waktu untuk istrinya. Setiap jam tujuh malam dia sudah harus pulang. Dia ingin mendengar istrinya bercerita perihal ini itu sambil memeluknya.
"Mau dibawain apa?" tanya Restu dari balik sambungan telepon.
"Enggak deh, Bie. Mulut aku lagi gak enak"
"Kamu sakit?" Restu sudah menepikan mobilnya dan mengubah panggilan suara ke panggilan video. Terlihat wajah Aleesa yang begitu pucat dan lemas.
"Ya ampun, Lovely. Aku pulang kita ke rumah sakit, ya."
"Jangan Bie," tolak Aleesa. "Kayaknya aku cuma masuk angin karena semlaam begadang ngerjain tugas sama dikerjain kamu." Restu malah tertawa.
Tibanya di rumah, Restu langsung menuju kamar. Dia membuka pintu dan terlihat sang istri sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Lovely."
Restu sudah berada di samping tempat tidur. Mengusap lembut rambut Aleesa dan mampu membuat Aleesa membuka mata.
"Ke rumah sakit, ya."
__ADS_1
Aleesa tersenyum seraya menggelengkan kepala. Dia malah memeluk pinggang sang suami.
"Aku gak apa-apa. Boleh kan aku istirahat malam ini."
Restu mencium kening sang istri. DIa meminta maaf kepada sang istri karena sering mengganggu waktu istirahatnya.
Sebagai suami yang baik, dia memijat kaki Aleesa. Restu mulai cemas karena melihat wajah Aleesa yang mulai memucat.
"Lovely, kita ke rumah sakit aja yuk."
Lagi-lagi Aleesa menggeleng. Dia tidak mau dan hanya ingin Restu terus memijatnya.
Ketika pagi menjelang, Aleesa dikejutkan dengan suaminya yang sudah memasukkan baju kemeja ke dalam tas ransel.
"Mau ke mana, Bie?"
Restu menoleh dan dia tersenyum, menunda kegiatannya. Kemudian, menghampiri sang istri.
"Udah mendingan?" Aleesa mengangguk. Restu mengecup bibir sang istri dengan singkat.
"Aku ada tugas ke Singapura."
Mimik wajah Aleesa berubah. Dia menatap ke arah sang suami dengan sendu. Restu memeluknya.
"Besok sore atau malam aku pulang," terangnya. "Tugasnya sangat mendadak. Kalau enggak mendadak mah pasti aku akan ajak kamu. Lagi pula kamu lagi gak enak badan. Aku gak tenang kalau kamu sendirian di hotel."
Aleesa terdiam. Dia memeluk tubuh sang suami dengan begitu erat seakan tidak ingin ditinggalkan. Ketika Restu ke Zurich, Aleesa ikut. Dia juga ingin ikut lagi ke Singapura karena dia tidak bisa jauh dari Restu.
"Untuk malam ini tidur sendiri dulu, ya. Aku janji besok malam aku akan memeluk kamu lagi."
Ada rasa tidak rela, tapi dia harus mau ditinggal. Suaminya kerja untuk dirinya. Pada akhirnya Aleesa mengangguk.
"Nanti aku minta ke Bubu untuk jaga kamu."
"Aku ada mata kuliah hari ini," balas Aleesa. Restu mengangguk.
"Kalau udah kerasa gak enak pulang, ya." Aleesa pun mengangguk. Dia akan menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.
Restu meminta kedua mertuanya untuk menjaga sang istri. Kepada mamihnya pun dia meminta bantuan.
"Jagain istri aku, ya."
Radit dan Echa pun menjawab iya. Sedangkan Aleesa sama sekali tidak mau melepaskan tangannya di pinggang Restu.
"Aku pergi, ya." Aleesa pun mengangguk.
"Kabarin kalau udah sampai."
"Tentu, Lovely."
.
Selepas Restu pergi, tak lama berselang Aleesa pergi ke kampus dengan wajah pucat. Sang ibu sudah melarang, tapi Aleesa tetap bersikukuh. Dia ingin tetap pergi ke kampus karena dia tidak ingin ketinggalan mata kuliah.
"Sopir akan tunggu kamu, ya."
"Gak usah, Bu. Nanti kalau udah keluar aku akan minta sopir jemput."
Echa tidak bisa melarang. Anaknya pasti akan ngeyel. Lebih baik dia membiarkannya saja.
"Ijin ke suami kamu. Nanti Restu nyalahin Bubu karena udah ngebiarin kamu pergi." Aleesa malah tertawa.
"Iya, Bubu."
Ketika masuk kelas Aleesa baik-baik saja walaupun wajahnya nampak pucat. Kemala dan Raina nampak khawatir. Mereka berdua terus memperhatikan Aleesa.
"Sa, lu baik-baik aja 'kan."
Kemala sudah membuka suara. Aleesa hanya tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Kenapa ngampus sih, Sa?" Raina menimpali. Lagi-lagi Aleesa hanya tersenyum.
Setelah kelas selesai, kepala Aleesa semakin berdenyut tak karuhan. Dia memaksa untuk berjalan. Di undakan tangga tengah tubuhnya limbung untung saja ada Kemala dan Raina di sana yang menangkap tubuhnya. Mereka berdua segera membawa Aleesa ke ke ruang UKS.
Kemala langsung menghubungi ibu dari sahabatnya itu. Dia takut terjadi apa-apa dengan Aleesa. Urusannya akan panjang jika berurusan dengan suami Aleesa yang terbilang kejam.
Echa yang mendengar itu langsung ke kampus Aleesa tanpa banyak tanya lagi. Dia khawatir dengan kondisi sang putri. Apalagi Restu menitipkan Aleesa kepada dirinya.
"Bubu," panggil Aleesa ketika dia sudah sadar.
"Ke rumah sakit, ya." Aleesa menggeleng..
__ADS_1
"Sa, Bubu khawatir. Bagaimana kalau suami kamu tahu? Sudah pasti dia akan sangat cemas."
"Sasa hanya pusing biasa, Bu. Nanti juga sembuh."
Anak kedua dari Raditya Addhitama sangatlah keras kepala. Dia tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan tak ada yang bisa melarangnya.
"Ya udah, kita pulang, ya."
Tibanya di rumah Aleesa yang baru sja makan dua suap nasi sudah merasa perutnya bergejolak tak karuhan. Sekuat tenaga dia menahan apa yang tengah dia rasakan agar tak membuat sang ibu semakin cemas.
Akhirnya, Aleesa menyudahi makannya yang hanya baru lima suap. Dia tidak tahan.
"Bu, Sasa udahan makannya."
Echa terkejut dan mulai menatap ke arah sang putri. Nasi yang Echa ambilkan masih tersisa sangat banyak. Padahal, dia mengambilkannya sedikit.
"Mulut Sasa pahit, Bu." Alasan klasik yang dia berikan. "Sasa ke kamar dulu, ya."
Ketika masuk ke kamar dia langsung berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan apa yang baru saja dia makan. Tubuhnya sudah sangat lemas. Dia pun bersandar di dinding kamar mandi dengan keringat mengucur deras.
"Kenapa denganku?"
Tubuh yang sangat lemas, tidak bisa mencium bau apapun langsung memuntahkan isi perutnya yang memang sudah kosong. Tubuh Aleesa sampai luruh ke lantai kamar mandi saking lemasnya.
Setelah dirasa enakan dia mulai mencoba untuk berdiri. Dia berjalan dengan terus berpegangan pada dinding hingga dia berhasil sampai ke tempat tidur. Tiba-tiba dia teringat kepada Apang, sepupunya yang ditugaskan untuk menjaganya ketika sang suami tidak ada. Tanpa ragu dia menghubungi Apang.
"Ya udah, Apang entar ke sana."
Arfan atau sering memanggil dirinya sendiri Apang sudah membawa plastik minimarket. Di dalamnya hanya berisi banyak macam es krim yang Aleesa pesan.
"Struk belanjaannya ada di dalam."
Aleesa memberikan uang sebesar lima ratus ribu kepada Arfan tanpa berlama-lama. Anak itu tercengang dan menatap ke arah sang kakak sepupu yang sudah menikmati es krim dalam cup besar.
"Kamu gak boleh minta. Beli sendiri kalau mau."
"Dih, siapa juga yang mau."
Apang terus memperhatikan sang kakak sepupu yang sedang memakan es krim dengan sangat khidmat. Satu cup besar sudah habis, dan kini beralih pada mangkuk besar yang berisi tiga rasa.
"Sasa, jangan banyak-banyak, nanti batuk."
Aleesa tak menghiraukan hingga semua es krim yang Apang beli tak tersisa dan membuat Apang menggeleng tak percaya. Sasa nanti sakit perut," ujar Apang lagi.
Tidak digubris sama sekali oleh Aleesa, Apang memilih untuk diam. Biarkan saja sang sepupu sakit perut, yang terpenting dia sudah mengingatkan.
"Kenyang."
"Mana ada kenyang makan es krim," celetuk Apang.
Ketika malam menjelang, Aleesa turun ke lantai bawah. Baru hendak duduk di ruang makan, dia malah berlari menuju kamar mandi hingga membuat kedua orang tuanya khawatir. Radit dan Echa mengejar Aleesa ke kamar mandi
Echa terkejut ketika Aleesa sudah memuntahkan isi perutnya hingga keringat dingin bercucuran. Echa segera memijat tengkuk leher sang putri.
"Kamu makan apa, Sa? Kenapa bisa kayak gini?"
"Sasa kebanyakan makan es krim."
Suara Apang menggema. Radit dan Echa menoleh. Apang menjelaskan semuanya. Ingin rasanya Aleesa menyuruh Apang untuk berhenti berbicara, tapi keadaannya yang lemas membuatnya tak berdaya.
Radit membawa tubuh Aleesa ke kamar. Dia membandingkan Aleesa dan memeriksanya. Dari awal dia sudah curiga hingga dia menukikkan kedua alisnya.
"Gimana, Ba?" Raut wajah cemas Echa tak bisa disembunyikan. Namun, Radit belum membuka suara sama sekali.
"Ba," panggil Echa lagi.
"Baba ke apotek dulu beli obatnya."
Aleesa sudah tak berdaya. Dia sudah sangat lemas. Ponselnya berdering pun tak dia hiraukan.
"Sa, itu suami kamu."
"Biarin aja, Bu. Sasa gak mau buat Kak Restu khawatir melihat Sasa seperti ini."
"Bagaimanapun dia harus tahu, Sa."
"Jangan, Bu. Kasihan Kak Restu. Tadi dia bilang kalau dia lagi benar-benar pusing menghadapi perusahaan Papih yang ada di Singapura."
Lima belas menit berselang, Aleesa dikejutkan dengan kehadiran keluarga sang suami.
"Papih, Mamih," panggilnya.
__ADS_1
"Semoga dugaan baba kamu benar, ya."
"Dugaan?"