
Pagi-pagi sekali Nico sudah sampai di rumah sakit. Kebetulan Dito baru saja pulang untuk berganti pakaian. Nico langsung masuk ke ruang rawat Nisa.
"Pagi bumil cantik,,,how are you today???
"Nico,,pagi sekali kau ke sini".
"Sekalian ke kampus mbak,,ini saya bawakan sarapan untuk kalian berdua".
"Terima kasih,, sudah merepotkan kamu".
"Tidak sama sekali,,, aku senang melihat mbak sudah sehat, aura cantik mu sudah keluar".
"Ayo,,,aku bantu untuk sarapan,, kalian harus makan banyak".
"Tak perlu Nico,, aku bisa sendiri, tinggalkan saja di situ".
"Aku nggak nerima penolakan,, pokoknya kalian harus makan sekarang".
Nico mengatur posisi duduk yang nyaman buat Nisa. Dia juga menyuapi bubur dengan telaten.Sambil bercerita hal-hal yang lucu, sampai tak terasa sarapan Nisa sudah habis.
Setelah meminumkan obat untuk Nisa, Nico pamit ke kampus, dan menyuruh Nisa kembali istirahat. Sebelum pergi, dia memutar musik klasik yang berbeda dari kemarin.
Tepat saat Nico meninggalkan rumah sakit, Dito datang membawa sarapan untuk Nisa.
"Ini sarapan mu sayang,, ayo bangunlah, biar aku suapi kau".
"Aku sudah makan mas,, kau ingat orang yang menolongku di pesawat kan,,, dia kesini menjenguk ku".
"Dia memaksaku makan, katanya biar anak kita sehat dan kau cepat keluar dari rumah sakit".
"Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan nya".
"Dia buru-buru ke kampus, jadi tak sempat menunggumu".
"Lain kali, pasti kalian bertemu".
"Ya sudah, kau istirahat saja".
Dito duduk di sofa sambil memeriksa ponselnya. Ada banyak panggilan masuk dari Ayu. Dito hendak menghapus riwayat panggilannya, namun ponselnya tiba-tiba berdering.
"Kenapa mas, telepon dari siapa??".
"Ini dari Ayu".
"Kau angkat saja mas,,kita lihat dia mau apa".
"Jangan sayang,,, aku takut khilaf lagi".
"Sini,, berikan telpon mu, biar aku yang jawab".
Dito memberikan ponsel nya pada Nisa. Dia tak mau lagi berurusan dengan Ayu.
"Dito,, berikan alamat mu di Jakarta, sebentar lagi pesawat ku berangkat".
"Kau tidak pamit waktu itu, jadi kau akan mengunjungi mu sekarang".
"Maaf,,, tapi saya nggak sembarangan memberikan alamat pada orang yang tidak dikenal".
"Hei,,, berikan telpon itu pada Dito, aku ingin bicara dengan nya".
Nisa mematikan sambungan telpon nya dengan Ayu. Wanita itu benar-benar sudah gelap mata. Dia bahkan sampai menyusul Dito ke Jakarta.
"Apa ku bilang,, lupakan wanita itu".
"Jangan cari penyakit lagi,,aku akan memblokir nomernya".
__ADS_1
"Sekarang kau istirahat saja".
Nyatanya Nisa tambah gelisah memikirkan kedatangan Ayu. Kalau dia sampai menemukan Dito, bukan tak mungkin Dito melupakannya lagi.
Nisa sebenarnya hendak menelpon Ratri, dia butuh bercerita tentang masalah Ayu. Tapi Nisa merasa tidak enak kalau harus membuat
repot Ratri terus-menerus. Lagipula saat ini
dia dan Anton sedang proses pendekatan.
Nisa tak mau mengganggu kedekatan mereka berdua.
Di kantor, justru Ratri dan Anton mengkhawatirkan Nisa. Walaupun Dito kembali, tapi raut mukanya belum sepenuhnya sadar dari guna- guna Ayu. Mereka berdua tengah mencari cara untuk menyembuhkan Dito seperti semula.
"Setelah dari kantor nanti, kita ke rumah kyai Ahmad,,,bagaimana???".
"Aku setuju,, kasihan Nisa kalau terus dibayang-bayangi wanita lain".
"Itu akan mengganggu pertumbuhan bayinya juga".
"Kau terlihat sangat menyayanginya, padahal kalian tak punya hubungan apapun".
"Siapa yang mengenal Nisa dan tak menyayanginya, kau dulu juga jatuh cinta padanya kan??".
"Iya,, tapi sekarang sudah ada yang lain di hatiku".
"Aku hanya wanita ini satu-satunya yang akan menemaniku nanti".
"Sudah,,, jangan kebanyakan gombal".
"Aku serius Ratri,,, aku jatuh cinta padamu, kalau perlu, aku akan melamar mu sekarang".
"Atau jangan-jangan kau masih ragu denganku yang bekas narapidana".
"Aku juga punya aib,,, hanya saja Tuhan masih menutupi aib ku tersebut".
"Aku hanya ragu,, aku tidak punya orang tua, aku takut keluargamu tidak akan menerimaku".
"Tidak akan Ratri, mereka paham agama, jadi tak mungkin menolak mu".
"Berikan aku waktu sedikit lagi,, aku akan memberikan jawaban nya segera".
"Aku akan menunggu sampai kapanpun itu".
Ratri dan Anton terlarut dalam pikiran nya masing- masing.Mereka sudah saling cinta, tapi masih enggan untuk jujur satu sama lain.
Di Bandara Soekarno-Hatta, terlihat seorang perempuan berjalan keluar dari ruang kedatangan. Perempuan itu terlihat mencolok dengan dandanan nya yang super menor. Dia
juga mengenakan aksesoris yang berlebihan.
Dia mendorong kopernya dan bergegas keluar untuk mencari taxi.
"Benar-benar Dito ini,, dia memblokir nomor ku".
"Aku harus mencari dia dimana sekarang??".
"Setelah sekian lama,,, tak mungkin aku biarkan dia hilang lagi".
Wanita itu adalah Ayu. Dia mencoba menyusul Dito ke Jakarta. Dia tak ingin kehilangan Dito lagi untuk kedua kalinya.
Dulu mereka sudah hampir menikah, kalau saja Dito tidak pergi meninggalkannya ke Jakarta.
Walaupun sudah menjadi istri Nisa, Ayu tidak perduli. Menurutnya, Nisa akan bisa disingkirkan dengan mudah. Dia tinggal membayar jasa paranormal langganan nya untuk memuluskan rencananya.
Serangan malam itu pun tidak luput karena ulahnya. Dan dia benar-benar bertekad untuk
__ADS_1
menyingkirkan Nisa kali ini. Dito harus menjadi suaminya bagaimanapun caranya.
"Mas,,bagaimana kalau nanti Ayu menemukan mu?".
"Jakarta ini luas Nisa,, lagipula dia tidak mengenal siapapun disini".
"Kau tak usah memikirkan itu, yang penting sekarang adalah kesehatan mu".
Mereka masih bercakap-cakap di ruang rawat inap, ketika Nico kembali datang mengunjungi Nisa.
"Selamat sore bumil cantik,,,, gimana hari ini,, kau happy??".
"Nico,, kau kembali lagi??".
"O....maaf, kukira bumil ini sedang sendiri seperti biasanya".
"Nico,, kenalkan ini suamiku mas Dito".
"Mas, ini Nico, dia yang membantu merawat ku selama penerbangan Medan-Jakarta".
Dito dan Nico saling bersalaman. Dito mengucapkan terimakasihnya karena telah mengurus Nisa selama di pesawat.
"Mas Dito jangan pernah lagi meninggalkan
bumil cantik ini sendirian".
"Seharusnya anda menjadi suami siaga".
"Ya, itu memang salahku,, dan aku sudah menyesalinya".
"Terima kasih atas bantuanmu merawat istriku".
"O...ya, apakah bumil ini masih mengijinkan aku berkunjung kemari?".
"Tentu saja Nico, kami tidak keberatan kau datang, justru kau membuatku merasa terhibur dengan musik ini".
"Itu bagus,,, aku yakin baby mu nanti akan menjadi anak yang cerdas dan cantik seperti mama nya".
"Semoga saja".
"Makanlah buah ini, dan aku permisi dulu,
lain kali aku kemari lagi".
"Permisi mas,,,jaga bumil ini baik-baik,,oke!!".
Dito tersenyum dan mengangguk. Dia tak menyangka kalau yang menolong Nisa adalah pemuda yang tampan. Perasaan nya agak sedikit tidak enak karena melihat keakraban
diantara mereka.
"Jadi dia yang sering datang kemari??".
"Iya mas...".
"Rupanya tampan juga pemuda itu,, masih muda dan kuliah lagi".
"Jangan mulai mas,,, dia orang baik,aku salut
dengan empati nya.
"Tentu saja dia rela menolong mu, kau bumil cantik nya kan??".
Nisa tertawa dalam hati melihat tingkah Dito.
Seakan dia lupa kalau melakukan hal yang lebih buruk saat bersama Ayu.
__ADS_1