
Pagi ini hari Minggu, Anton Ratri dan Ki Santoso berencana mengunjungi rumah Rudi.
Kebetulan kantor juga libur, jadi mereka bebas
untuk beraktivitas di luar seharian.
Ki Santoso akan turun tangan langsung untuk
membuka pintu ruangan yang dijaga itu. Yeni
yang sudah di kabari Ratri langsung bersiap-siap. Dia berharap kasus ini bisa langsung selesai. Kalau perlu para penunggu itu pergi dari rumah nya untuk selamanya.
Mereka sudah sampai di rumah Yeni dan Rudi. Satpam rumahnya sudah hafal dengan Anton dan Ratri, jadi langsung mengijinkan
mereka masuk. Yeni membuka pintu rumahnya. Dia mempersilahkan tamu nya untuk masuk ke dalam.
Ki Santoso duduk di sofa ruang tamu. Dia mengamati sekeliling rumah. Ada energi jahat
yang sangat besar melingkupi rumah Rudi.
Yeni segera memberikan kunci kepada Ratri.
Kebetulan Rudi dan Deni sedang olahraga bersama. Jadi kesempatan ini bisa mereka manfaatkan.
Mereka berempat segera menuju rumah belakang. Ki Santoso sudah siap dengan segala peralatan yang dibawanya. Dia sudah
mengarahkan kuncinya ke pintu, ketika tiba-tiba nenek tua itu muncul dengan menghembuskan serangga ke arahku Santoso.
Ki Santoso segera mengeluarkan jurus untuk melindungi dirinya. Tubuhnya tiba-tiba seperti
dilapisi plastik. Serangga yang keluar dari mulut nenek itu tidak bisa mengenai tubuh
Ki Santoso.
Dia lalu melanjutkan membuka pintu. Walaupun nenek itu menjerit melengking, tetap tidak berpengaruh pada Ki Santoso sama sekali. Hanya Ratri dan Anton yang sibuk menutup kedua telinga nya.
Nenek itu terus mengganggu Ki Santoso.
Kali ini dengan sekali pukulan dari cincin berbentuk tengkorak,, nenek itu akhirnya terdorong ke belakang dan menghilang.
Ki Santoso lantas membuka pintu ruangan itu. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati monster yang ada di dalamnya. Siluman kera putih yang tubuh dan mukanya belum terbentuk sempurna. Bentuknya sungguh mengerikan.
Siluman kera itu menghisap arwah perawan yang dikorbankan padanya. Arwah perawan tersebut berjumlah 38 orang. Semuanya
berada di dalam perutnya. Karena bentuk perutnya belum sempurna, arwah-arwah tadi
kelihatan menggapai minta tolong
Siluman kera itu menyeringai ke arah Ki Santoso. Ki Santoso merasa kasihan dengan arwah perawan yang terkurung di dalam perutnya. Ketika Ki Santoso lengah, dari mata kera itu keluar sinar putih yang langsung menyerang tubuhnya.
Ki Santoso terdorong ke belakang dan rebah di tanah. Ratri dan Anton lantas menghampiri dan menolongnya. Mereka juga terkejut melihat penampakan siluman tersebut.
"Mari ki,,,, kau tak apa-apa kan??".
"Inilah yang mereka sembunyikan,,, kalau sampai tubuh dan wajahnya sempurna,,dia akan menjadi sangat jahat dan beringas".
"Sekarang saja kekuatan nya sudah sangat
besar".
"Apa kita perlu bantuan kyai Ahmad Ki??".
__ADS_1
"Boleh saja,, siapa tahu kalau arwah itu di doakan, mereka bisa tenang".
Siluman kera itu datang lagi dan siap menyerang mereka bertiga. Ki Santoso lantas
mengeluarkan trisula sakti miliknya. Dia arahkan ke perut siluman itu, tapi dengan cepat, kera itu mengembalikan serangan hingga mengenai perut nya.
Ki Santoso jatuh dan berteriak kesakitan. Anton membantu dengan tenaga dalamnya,
sementara Ratri sibuk mengalihkan perhatian
siluman kera itu.
"Mustahil kita bisa melawan nya sekarang".
"Aku sudah terluka,,bilang pada Ratri untuk pergi dari sini".
Anton berteriak pada Ratri, sial nya Ratri yan menoleh jadi terkena serangan. Tangannya terbakar dan kepanasan.
Anton yang lebih dulu memapah Ki Santoso keluar, lantas menyeret Ratri ke depan, dan menutup pintu ruangan.
Ratri dan Ki Santoso terluka cukup parah.
Mereka tak mungkin bisa melanjutkan melawan siluman kera itu.
"Yeni,,, jangan biarkan orang lain membuka pintu itu, termasuk kau dan keluargamu".
"Kalian bisa kehilangan nyawa, kalau perlu
kalian pindah dulu dari sini".
"Baik,, aku akan bicara dengan mas Rudi nanti".
"Kami permisi dulu".
Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, Ki Santoso berinisiatif untuk mengunjungi Nisa. Dia meminta Anton untuk mengantar ke sana.Anton dan Ratri dengan senang hati menuruti permintaan Ki Santoso.
Minggu pagi di rumah Nisa sudah rame. Bapak-bapak membersihkan halaman rumah sambil olahraga, sementara ibu-ibu masak di dapur. Mereka tak mengijinkan Nisa membantu.Dia benar-benar dimanjakan oleh
kedua ibunya.
"Nanti kalau kau ngidam, bilang pada Dito untuk segera mencarikannya".
"Mama nggak mau cucu pertama kita jadi meludah terus,, iya kan mbak??".
"Iya Nisa, dan ingat jangan stres, kalau perlu kau minta cuti dulu dari kantor".
"Hmmm...aku senang sekali kalau begini,,, gimana kalau kalian tinggal disini saja".
"Aku rela menuruti semua permintaan kalian,
asal aku tetap dimanjakan seperti ini".
"Kami akan sering-sering berkunjung Nis,, nanti kalau kau melahirkan baru ibu dan mama mu ini menginap lagi".
Mereka sedang ngobrol seru di dapur. Dito kemudian menyusul untuk memberikan susu
kepada Nisa.
"Ayo minum,,, aku sudah buatkan spesial untukmu sayang".
"Terimakasih mas,,, aku sangat beruntung dikelilingi orang-orang yang mencintaiku".
__ADS_1
"Ini,,,kamu sarapan dulu, jangan nunggu kami
nanti cucu ku ini keburu kelaparan".
"Tapi Bu,, Nisa masih kenyang habis minum susu ini".
Orang tua Nisa tidak peduli mendengar penolakan Nisa. Mereka langsung menyuapi
Nisa agar bayinya tidak kelaparan.
Di luar rumah terdengar suara klakson mobil.
Tak berapa lama,wajah Ratri sudah nongol di
dapur. Telapak tangannya diperban.
"Itu kenapa tanganmu??".
"Oh ..ini, biasa..aku habis kecelakaan, ini terbakar saat sedang memasak".
"Sudah dikasih salep belum,,,sini biar Tante bantu".
"Nggak usah Tante,,ini sudah habis dari dokter".
"Ya sudah,, ini diminum dulu,, sama Tante bikin gorengan,, ayo dicicipi".
"Terima kasih Tante".
Ratri memandang kedua ibu dan mertua Nisa bergantian. Mereka begitu hangat dan perhatian. Ratri yang sudah lama jauh dari orang tuanya jadi rindu. Melihat Nisa yang sangat dicintai oleh keduanya, membuat Ratri
jadi iri.
"Kenapa malah bengong??? ayo diminum".
"Eh....iya Nis,,, aku cuma heran, jarang ibu kandung dan mertua bisa akur begitu".
"Itulah....makanya aku kerap merindukan keduanya".
"O..ya, bagaimana hasilnya??".
"Kita tetap harus minta bantuan kyai Ahmad,
Ki Santoso juga terkena serangan mereka tadi".
"Di ruangan itu ada siluman kera yang selalu minum darah perawan, jadi arwah mereka ada di tubuhnya".
"Itu yang membuatnya sangat kuat, karena serangan dari kami mengenai arwah para gadis itu".
"Kasihan sekali mereka".
"Iya,, dan arwah Nina juga di tawan di sana".
"Kalau kita minta bantuan kyai Ahmad, beliau bisa mendoakan para arwah agar kembali ke alamnya".
"Dengan begitu, kekuatan siluman itu jadi melemah".
"Dan sebelum dia menjadi sempurna, kita bisa menyerangnya".
"Tapi kau harus hati-hati Nisa,, kalau mereka tahu kau hamil, mereka pasti mengincar bayimu".
"Kau tenang saja,,, kalau mereka berani mengusik anak ku,, mereka akan tahu kemarahan Nisa seperti apa".
__ADS_1
Ratri dan Nisa masih berbincang-bincang di dapur. Sekelebat bayangan lewat di depan nya. Nisa bersikap waspada bila akan terjadi
serangan lagi seperti tadi malam.