Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Tipu Muslihat.


__ADS_3

Fransisca di bawa masuk ke dalam mobil polisi yang sudah terparkir di depan rumah Nisa. Bukan nya marah dan melawan, dia justru tersenyum menakutkan kepada Nisa dan Dito. Wanita cantik itu seolah berkata kalau dirinya sama sekali tidak takut dengan hukum yang berlaku. Dengan sukarela Fransisca masuk ke dalam mobil dan segera menuju kantor polisi.


Nisa dan Dito segera mengikuti ke kantor polisi untuk menjadi saksi. Mereka berdua yakin kalau Fransisca pasti mendekam di penjara. Perbuatan nya selama ini sudah cukup meresahkan bagi Alan sendiri dan bagi masyarakat sekitar.


Polisi masukkan Fransisca ke dalam sel yang sudah di huni oleh 4 orang narapidana. perempuan. Sementara Nisa dan Dito sedang di mintai keterangan. Mereka menjelaskan kronologi kejadian dan kejahatan Fransisca dengan sedetail-detail nya.


"Baik pak Alan dan bu Nisa, laporan anda sudah kami terima".


"Kami akan proses secara hukum".


"Bila mana di perlukan, kami akan memanggil anda sebagai saksi".


"Baik pak,, terima kasih banyak,, kami permisi dulu".


Nisa dan Dito keluar dari kantor polisi dengan perasaan lega. Mereka berharap Fransisca menerima hukuman yang seberat-beratnya.


Kejahatan wanita itu sudah sangat banyak dan tak mungkin di ampuni.


"Aku lega,, akhirnya Fransisca tidak akan mengganggu kita lagi".


"Sekarang tinggal menjemput Sofia dan anak-anak bukan??".


"Sementara mereka masih di Yogya, aku akan menemani mu di rumah".


"Ya....kau benar sekali,, semoga dengan di tangkapnya Fransisca, kau bisa bernafas dengan tenang, mulai sekarang".


"Kecuali kalau orang tua Alan mendengar kabar ini dan segera kemari".


"Aku pasti terancam lagi".


"Bisa jadi mereka membawaku kembali ke luar negeri".


"Semoga kabar ini tidak sampai ke telinga mereka".


Tak terasa mereka berdua sudah sampai di rumah Nisa. Keduanya segera turun dari mobil dan berniat masuk ke dalam rumah.


Namun, tampaknya ada yang aneh di rumah Nisa. Pintu rumah yang semula terkunci, sekarang sudah sudah terbuka sedikit.


"Perasaan tadi, aku sudah mengunci rumah ini kan??".


"Tapi,, siap yang ada di dalam sana".


"Kenapa pintu nya sudah terbuka??".


"Kau benar Nisa,,ayo kita periksa sekarang".


Keduanya masuk ke ruang tamu. Tepat di saat itu, lampu ruangan menyala seketika.


Ada seseorang yang tengah duduk membelakangi keduanya. Orang itu memakai jaket dan penutup kepala. Alan meraih kayu yang ada di parkiran rumah Nisa, berjaga-jaga hendak memukul orang tersebut.


"Hai,,, siapa kau,, sedang apa kau di rumah ini??".

__ADS_1


"Ku peringatkan,,berbalik lah....dan katakan niat mu,, atau aku akan panggil polisi".


Orang itu tetap bergeming. Dia sama sekali tidak takut dengan gertakan dari Alan. Saat akhirnya dia berbalik dan membuka kerudungnya,,, Nisa dan Alan sangat terkejut melihat wajah seseorang di balik nya.


"Kau.......bagaimana mungkin kau bisa ada di sini??".


"Bukan nya tadi kau ada di penjara??".


"Kenapa,,, kalian terkejut melihat kedatangan ku??".


"Kalian pikir aku mudah di kalah kan??".


"Kalian salah besar,,, tidak ada dalam kamus Fransisca untuk bisa di penjara"


Alan dan Nisa tentunya sangat terkejut mendapati Fransisca sudah berada di rumahnya. Padahal jelas-jelas tadi, dia meninggalkan wanita itu di balik jeruji besi.


Namun, dia bahkan lebih cepat kembali dari Nisa dan Alan sendiri.


"Ku peringatkan pada kalian,,,terutama pada mu Alan".


"Jangan pernah main-main dengan ku".


"Kau belum sepenuhnya mengenal ku,,,".


"Aku.....jauh lebih berbahaya dari apa yang kalian bisa bayang kan"


"Bawa mereka berdua,,,, mereka harus di beri pelajaran karena sudah menghina Fransisca".


Tidak butuh waktu lama, Mobil Fransisca sudah masuk ke parkiran di rumah Wibisana.


Dia segera masuk ke dalam, sementara Fransisca membawanya ke ruang tamu.


"Coba katakan pada ku,, ruangan mana yang sebaiknya kalian tempati berdua".


"Kalian tamu di sini bukan,,,jadi aku harus memperhatikan kenyamanan kalian".


"Oh,,ya Nisa....kau sudah pernah mencoba masuk ke dalam lukisan mawar bukan??".


"Ayo katakan....lukisan mana yang begitu ingin kau masuki".


"Kau tak bisa melakukan ini Fransisca,, lepaskan aku sekarang juga".


"Aku akan melepaskan mu, setelah kau memilih ruangan yang kau sukai".


"Kurasa,, kau harus menginap beberapa hari di sini".


"Setidaknya kau tidak akan penasaran lagi dengan keluarga Alan".


"Fransisca,, urusan ini hanya antara kita berdua".


"Lepaskan Nisa sekarang juga".

__ADS_1


"Hanya aku yang kau inginkan bukan,, baik


aku akan menuruti permintaan mu".


"Tapi, biarkan Nisa pergi dari sini".


"Adikku sayang,,,rupanya kau sangat mencintai wanita ini".


"Bagaimana kalau kita sedikit bermain-main dengan nya,, kau setuju bukan???".


"Coba kita lihat,, malam ini wanita kesayangan mu ini akan menginap dengan siapa".


"Jangan Fransisca,, ku mohon.....lepaskan Nisa".


"Kau sudah cukup membuatnya kesulitan".


"Jangan lagi membuatnya menderita".


"Fransisca,,, kau dengar aku kan??".


"Sudah terlambat,,,waktu kalian habis untuk memilih kamar".


"Sekarang,,,, bawa wanita itu ke dalam kamar yang berisi ular".


"Kurasa ular-ular itu sudah kelaparan dan tak sabar lagi untuk memangsa daging manusia".


"Jangan,,,,,lepaskan aku Fransisca....!!!!".


"Alan....tolong aku,,, aku masih ingin hidup".


Francis menekan tombol lukisan bergambar


sungai. Saat pintu terbuka,, nampak 2 ekor ular besar sedang melata di samping sungai buatan. Pengawal memasukkan Nisa ke dalam ruangan tersebut. Dia bergidik ngeri dan berteriak ketakutan.


Nisa berdiri di tengah 2 ekor ular besar. Lidah mereka menjulur ke luar dan mendesis melihat kedatangan Nisa. Nisa mematung, tak tahu harus berbuat apa. Dia bersikap waspada menghadapi dua ekor ular tersebut.


Sementara, di ruang tamu, Francis menyalakan monitor dan melihat gerak-gerik Nisa di dalam kamar. Dia menikmati ketakutan dan jeritan Nisa saat kedua ular besar tersebut mendekatinya.


"Kau lihat,,,wanita kesayangan mu sebentar lagi akan berada di perut ular kesayangan ku".


"Kebetulan mereka memang sudah sebulan belum di beri makan".


"Sebentar lagi,, kita akan mendengar bunyi tulang Nisa yang remuk dililit oleh ular-ular kesayangan ku".


"Setelah itu,,,mereka akan memangsanya hidup-hidup".


"Tentunya kau sudah membaca tabiat ular anakonda kan??".


Dito gemetaran melihat gambar Nisa dan mendengar penjelasan dari Francis. Tubuhnya lemas seketika. Kali ini memohon pun percuma. Francis tidak akan pernah mencabut keputusan nya. Sangat tidak mungkin dia mengampuni Nisa.


Dito masih ingat waktu mereka memberi makan singa. Tak ada rasa belas kasihan sedikitpun di hati Fransisca. Hatinya sudah mati dan membatu. Dia juga wanita yang haus darah. Kekejaman nya sudah berkali-kali di buktikan oleh Dito. Dia hanya bisa berharap keajaiban yang bisa menyelamatkan Nisa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2