
"Jelas-jelas semalam kau melihatnya kan Nisa??".
"Dito bersama seorang wanita".
"Lalu, bagaimana foto wanita tersebut tiba-tiba raib".
Nisa semakin dibuat bingung. Antara Roy dan Dito, siapakah yang sudah membuat rekayasa. Kalau cctv hotel saja sudah diperiksa keakuratan nya. Lalu bagaiman mungkin foto wanita itu bisa tidak ada.
"Dito,, jawablah jujur...dengan siapa kau semalam kemari".
"Itu bukan urusan mu Roy,, ayo sayang...kita pulang sekarang".
"Kau tak perlu lagi percaya dengan laki-laki macam Roy".
"Dia senang kalau pernikahan kita hancur".
Dito menggandeng tangan Nisa memasuki mobilnya. Pikiran nya masih bercabang. Keanehan yang dialaminya ini,,, secara tidak langsung menyelamatkan dirinya. Tapi, pergi kemana Mawar. Sepagi itu dia sudah menghilang dari kamar. Padahal Dito ingat, semalam mereka berdua bercinta hebat.
Di mobil, Dito berusaha menjelaskan kepada Nisa tentang kejadian yang dituduhkan oleh Roy. Dito merasa bersalah telah mengkhianati Nisa, jadi dia merasa perlu untuk berbaik hati kepadanya. Apalagi ditambah raut wajah Nisa yang kurang bersahabat sejak dari hotel tadi.
"Sayang,, aku minta maaf kalau tidak pulang".
"Aku ketiduran di hotel,, dan tanpa sadar hari sudah pagi".
"Sungguh Nisa,,aku tak bersama siapa pun".
"Kau harus percaya padaku".
Nisa memandang wajah Dito. Selama ini memang dia suami yang penyayang. Dia bukan tipe orang yang suka selingkuh. Nisa mengalah, demi keutuhan rumah tangganya, dia mempercayai Dito. Lagipula, Nisa pun juga pernah berbuat kesalahan.
"Baiklah mas,,aku percaya padamu".
"Mulai sekarang, kita buka lembaran baru".
"Kita mulai semuanya dari awal lagi mas".
"Baik Nisa,,aku setuju,,,kita bangun kembali rumah tangga kita".
Sepanjang jalan menuju rumah, Nisa hanya terdiam. Begitu juga dengan Dito. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Dito bahkan jauh lebih gelisah. Dia memikirkan keberadaan Mawar saat ini.
Sampai di rumah, Nisa langsung masuk ke kamar. Sementara Dito, dia sibuk menghubungi ponsel Mawar. Tapi di seberang sana tidak ada jawaban. Dito lalu mengirimkan pesan kepadanya.
"Hubungi aku,,,secepatnya....!!!".
Setelah itu, dia kemudian menyusul Nisa ke kamar tidur. Dilihatnya Nisa sudah bersiap-siap hendak berangkat ke kantor. Dia telah berdandan dan berganti baju.
"Sayang,,,ini kan sudah siang,,bagaimana kalau kau libur saja".
"Tak bisa mas,,,kemarin kita sudah terlalu lama cuti,,,lagipula hari ini Anton dan Ratri pulang dari baby moon mereka".
"Ok,,,kalau begitu aku ikut,,,tunggu sebentar....
aku akan segera bersiap".
Sembari menunggu Dito, Nisa melihat ke kamar putri kembarnya. Mereka sudah semakin besar. Bahkan, Sheina sudah hampir berjalan.
"Sofia,,anak-anak aman kan semalam??".
__ADS_1
"Iya Bu, mereka tertidur pulas".
"Ibu dan pak Dito sudah berbaikan??".
"Maaf Bu, kalau saya lancang bertanya".
"Tak apa Sofi,,,kau juga bagian dari keluarga ini".
"Semoga ke depan nya, aku dan Dito tak ada pertengkaran lagi".
"Iya Bu,,Sofi juga mendoakan keluarga ini tetap harmonis Bu".
Nisa dan Sofia masih asyik bermain dengan si kembar, ketika Dito memanggil nya dari ruang tamu.
"Sayang,,,aku sudah siap...ayo kita berangkat".
"Iya mas,, sebentar...aku datang".
Nisa dan Dito menaiki mobilnya dan berangkat ke kantor. Di tengah perjalanan, handphone Dito berbunyi. Dito melihat sekilas, wajah Mawar terpampang di layar, tapi Dito takut menjawab karena Nisa bersamanya.
"Kau tak mau mengangkat telepon mu dulu mas???".
"Siapa tahu, itu panggilan penting".
"Nanti saja di kantor sayang".
"Itu cuma Andre, dia mau membahas reuni".
Nisa tak curiga sedikitpun. Dia mengira kalau
memang benar Andre yang baru saja menelpon. Sementara Dito tampak gelisah dan sesekali mencuri pandang pada Nisa.
"Ini dia yang kita tunggu-tunggu,, bagaimana kabar kalian selama kami pergi".
"Aman terkendali,,, pokoknya kau tenang saja Anton!!".
"Nisa,,,, aku kangen sekali padamu".
"Aku juga Ratri,, tinggal menunggu hari dan kau akan segera menjadi ibu".
"Kau makin cantik saja Nis,, bagaimana si kembar??".
"Mereka baik,, semakin aktif, dan Sheina sudah belajar berjalan".
"Oh,,,,aku jadi merindukan mereka".
Mereka berlima segera terlibat pembicaraan yang hangat. Tak ada satupun yang menyinggung perselisihan mereka bertiga.
Mereka tak mau merusak suasana kebahagiaan Anton dan Ratri. Walau sesekali Dito dan Roy nampak sekali terlihat kesal satu sama lain. Nisa juga berusaha menutupi permasalahan yang terjadi.
Suara nyaring ponsel Dito memecah keheningan di sela obrolan mereka berlima.
Buru-buru Dito menjauh untuk menerima telepon.
"Permisi sebentar,,aku harus angkat telepon".
Dito melihat layar di handphone nya. Wajah Mawar terlihat di sana. Dito kemudian segera mengangkat telepon. Dia berbicara dengan setengah berbisik.
"Kemana saja kau,,, aku mencari mu dari tadi".
__ADS_1
"Sayang,,aku buru-buru...tak sempat pamitan".
"Aku kangen sekali padamu".
"Kita ketemu sekarang, nanti aku jelaskan semuanya".
"Tidak bisa sekarang, aku masih di kantor,,nanti ku hubungi lagi".
Buru-buru Dito menutup telepon nya dan bergabung dengan yang lain. Saat kembali, Roy kembali berulah dengan menanyakan panggilan telepon yang baru saja diterimanya.
"Telepon dari siapa Dito,,,kenapa sepertinya rahasia sekali".
"Bukan urusan mu Roy,,,tolong hargai privasi orang".
"Dan Nisa,,, kau tak anggap dia sebagai istri mu??".
"Di depan nya pun sikapmu seperti itu".
"Hentikan Roy,,,aku sudah cukup menahan kesabaran ku".
"Ini kantor, dan aku tidak mau ada keributan".
"Sudah........sudah, kalian ini kenapa??".
"Kita partner kan,,,kenapa harus ribut seperti ini".
"Anton,,kau urus saja teman mu yang kurang ajar itu".
"Aku mau masuk ke ruangan ku dulu".
Dito berlalu masuk ke ruangan nya. Sementara Nisa berpamitan kepada Ratri untuk keruangan nya juga. Dia sama sekali enggan berkomentar. Tapi dari sikap mereka berdua, Anton yakin telah terjadi masalah yang serius. Dito bukan seorang yang pemarah.Kalau itu terjadi, berarti ada yang memicu sikapnya tersebut.
Roy juga kemudian menyusul masuk ruangan. Tersisa Anton dan Ratri yang bertanya-tanya tentang perubahan sikap ketiga rekan kerjanya.
Di dalam ruangan nya, Dito kembali menelpon Mawar. Dia masih penasaran dengan wanita tersebut. Tiba-tiba menghilang dari kamar hotel. Dan rekaman cctv nya pun juga tampak misterius.
"Kenapa sayang,, kau sudah punya waktu sekarang?".
"Bukan begitu,,, aku butuh penjelasan darimu".
"Aku tak suka kalau kau sudah jadi detektif seperti ini".
"Yang aku tahu,, ketika aku menginginkan mu, kau harus siap menemui ku".
"Jangan tanyakan macam-macam lagi".
"Yang penting kita berdua bahagia".
"Tapi Mawar, aku sudah punya istri, dan aku tak bisa seperti ini terus".
"Aku tahu.....aku jamin Nisa mu itu tak akan pernah tahu tentang diriku".
"Sudah,, nanti kutemui kau di taman kota".
"Malam ini aku tak bisa".
"Kau harus bisa,, atau aku sendiri yang akan memaksamu datang".
Mawar memutus telepon nya. Anehnya, diakhir pembicaraan dia tertawa melengking. Tawa khas yang di milikinya mengingatkan Dito akan sosok tak kasat mata. Namun Dito tak berani menyimpulkan, dia masih berpikiran positif.
__ADS_1
...****************...