
Nisa dilemparkan ke dalam oleh para pengawal Fransisca. Di kiri kanan tempatnya berdiri, ada sebuah sungai buatan memanjang. Pepohonan besar juga nampak berjejer rapi. Nisa takjub, bagaimana mungkin dalam sebuah lukisan, ada ruangan seperti ini. Mungkinkah iblis yang di sembah kelurga Wibisana bisa menciptakan ilusi sedemikian hebatnya. Kalau memang demikian, berarti level ilmu iblis tersebut sudah tingkat tinggi.
Nisa masih mengamati sekitar, ketika 2 ekor ular besar menyadari kedatangan nya. Yang satu melilit pohon besar, dan satunya melingkarkan tubuhnya di tepi sungai. Ular besar tersebut, rupanya bukan main-main. Sejenis ular anakonda, yang terkenal ganas dalam memangsa korban nya.
Kedua ular tersebut bergerak, seakan tengah mencium bau darah dari tubuh Nisa. Nisa berdiri mematung menahan nafasnya. Bagaimanapun nyali nya ciut juga ketika melihat kedua ular tersebut. Saat ini yang ada di pikiran Nisa, hanya bagaimana menghadapi kedua ular tersebut. Namun, dia sama sekali belum punya ide harus dengan cara bagaimana melarikan diri dari tempat tersebut.
Kedua ular tersebut bergerak bersamaan menghampiri Nisa. Keduanya sepertinya tidak sabar memangsa manusia yang sudah di sediakan oleh tuan nya. Nisa tetap diam tak bergeming. Pun ketika tiba-tiba, kedua ular tersebut berlomba-lomba untuk membelit dan memangsa tubuh Nisa.
Ekor anakonda tersebut sudah melingkar di tubuhnya, Namun ular yang satu juga berusaha merebutnya. Nisa tetap diam sambil menahan nafas. Kedua ular tersebut malah saling mematuk dan membelit. Nisa tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia kemudian berusaha melepaskan ekor ular dari tubuhnya, dan berlari kencang menembus pepohonan yang rimbun.
Nisa sungguh heran, ruangan di depan nya seperti hutan belantara. Semakin masuk ke dalam, semakin luas dan tak berujung.
"Ini hanya tipuan mata,, atau benar ruangan ini terhubung dengan hutan??".
"Ya Tuhan,, selamatkan aku".
"Aku belum mau mati,,,,aku masih ingin hidup".
"Tolong......tolong aku.......!!!".
Nisa berteriak, berharap ada seseorang di hutan tersebut yang bersedia menolongnya.
Namun, semakin jauh berlari, yang terdengar hanya suara gesekan daun yang mengenai tubuh nya.
Nisa berhenti,, dia melihat ke belakang. Nampaknya ular tersebut belum menyadari kalau mangsanya sudah pergi. Nisa kemudian bersembunyi di bawah pohon besar. Dia waspada, dan memperhatikan sekeliling nya. Dalam hatinya diliputi rasa cemas dan ketakutan.
Sementara, di ruang tamu,, Alan masih terus memperhatikan Nisa di dalam monitor. Tampaknya Francis sangat menikmati tontonan di depan nya ini. Sesekali dia tertawa senang menyaksikan Nisa menderita di dalam sana".
"Kau lihat,, sebentar lagi wanita kesayangan mu itu hanya tinggal nama".
"Dia harus tahu akibatnya kalau bermain-main dengan Fransisca".
"Ayo Alan,, kalau bisa tolong lah kekasih mu itu".
"Doakan dia dari sini,, supaya dia bisa cepat sampai ke surga".
"Francis,,,,kau ini manusia atau bukan,,,hati mu itu sebenarnya terbuat dari apa??".
"Kau tidak kasihan sama sekali dengan Nisa".
"Kau juga seorang wanita kan,,, Nisa itu seorang ibu".
__ADS_1
"Persetan dengan itu semua..!!!!".
"Sejak semula aku sudah memperingatkan nya bukan??".
"Seharusnya dia tak mencampuri urusan Fransisca".
" Ah...sudah lah,,, ayo kita nikmati pestanya".
"Berikan adik ku tisu yang banyak".
"Jangan sampai air matanya mengotori lantai
ruangan ini".
"Kau memang kejam,, bukan.....kau bahkan sudah menjadi iblis sekarang".
"Aku ngeri melihat wanita seperti diri mu".
"Alan,, kau butuh cemilan,, film nya sebentar lagi di mulai".
"Kau tak mau melewatkan kematian wanita tercinta mu kan??".
"Tapi jangan harap kau bisa mengubur jasad nya".
"Atau menunggu mereka memuntahkan sisa-sisa tulang nya".
"Nisa bukan wanita lemah, seperti yang kau kira".
"Kau lihat saja nanti,,, dia pasti bisa selamat".
"Bersiaplah untuk kecewa Francis, seandainya ending nya tak sesuai harapan mu".
"Diam,,, kau Alan....!!!!".
"Atau aku akan mengirim mu ke dalam sana!!".
Keduanya masih terus berdebat. Sembari mengamati gerakan Nisa di layar monitor. Dia masih bersembunyi di bawah pohon besar. Dan dirinya tak menyadari kalau salah satu ular itu merayap dari belakang menghampiri dirinya. Mulutnya sudah terbuka lebar siap memangsa kepala Nisa. Namun Nisa segera sadar dan menoleh ke belakang. Dia meraih ranting di sebelahnya dan di tusukkan ke dalam mulut anakonda tersebut.
Ranting tersebut berhasil mengganjal mulutnya untuk sementara, walaupun tangan nya terluka oleh taring sang ular. Hewan melata itu, menggeliat ke sana kemari berusaha melepaskan ranting yang mengganggunya. Nisa kembali berhasil lari.
Namun kemudian, ular satunya muncul dan melompat hendak menerkam tubuh Nisa. Dia menghindar dan masuk ke celah bebatuan, sehingga ular itu kesulitan mengejarnya.
__ADS_1
Nisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeluarkan kalung mustika naga miliknya. Dia ingat betul, ada sepasang naga yang menjaga dirinya di dalam kalung tersebut. Di saat terdesak, dia bisa dipanggil untuk membantunya.
Nisa melihat, dari kejauhan, ular yang satunya sudah berhasil melepaskan ranting dari mulutnya. Dengan tergesa-gesa Nisa langsung membuka tutup liontin, dia menyebutkan permintaan nya di dalam hati.
Kedua naga tersebut pun bergerak, berputar di dalam liontin. Keduanya kemudian menghilang dari pandangan dan sudah menjelma menjadi besar di belakang ular anakonda.Kedua ular tersebut berbalik dan beralih menyerang sepasang naga besar tersebut. Mereka berusaha membelit dan menggigitnya. Namun dalam sekejap, naga tersebut menyemburkan api dan menghanguskan kedua ular kelamaan tersebut. Keduanya hilang tak berbekas.
Belum cukup sampai di situ,, sepasang naga kembar tersebut juga menghanguskan hutan dan sungai buatan, yang sebetulnya hanya ilusi belaka. Hutan belantara tersebut sudah berubah menjadi ruangan kosong. Hanya ada Nisa di dalamnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, kedua naga tersebut kembali ke dalam liontin yang dikenakan di leher Nisa.
Fransisca tertegun menyaksikan segalanya dari layar monitor. Tipuan mata yang di buat oleh iblis, berhasil di lewati dengan mudah oleh Nisa. Semuanya musnah seketika. Sedangkan Nisa berhasil selamat, hanya luka kecil akibat taring ular. Alan tertawa senang melihat Francis kesal.
"Ha....ha.....ha.......kau lihat sekarang??".
"Nisa bukan lah wanita biasa".
"Kau belum cukup lama mengenalnya, untuk bisa bermain-main dengan nya".
"Sialan.........dari mana wanita itu mendapatkan kekuatan nya??".
"Siapa dia sebenarnya,,, aku sudah salah menduga".
"Bukan kah aku sudah peringatkan padamu sebelumnya".
"Kakak ku sayang,, kembalilah ke Inggris dan belajar lah lagi di sana".
"Biarkan aku dan Nisa hidup tenang di sini".
"Atau kalau tidak,, aku tidak tanggung bila Nisa sudah marah nanti".
"Diam kau Alan....!!!".
"Kali ini dia boleh menang,,tapi ruangan selanjutnya,,,kita tak tahu apa yang akan terjadi bukan??".
"Biarkan dia bernafas sejenak,,, malam masih panjang,,, dan dia akan terjaga sepanjang malam nanti".
"Sudah cukup Francis,, jangan buat macam-macam lagi dengan nya".
"Urus saja urusan mu sendiri Alan,,sebentar lagi kita akan melihat Nisa mu itu meregang nyawa, menahan kesakitan nya".
"Saat itu, dia baru akan menyadari, siap Fransisca yang sebenarnya".
"Berdoalah......semoga kali ini, Nisa mati dengan tenang...!!!".
__ADS_1
Alan terlihat jengkel sekali pada kakak nya itu. Ingin rasanya mencakar wajahnya dan menyimpan mulutnya. Tapi apa lah daya, tangan nya terikat dan tak bisa berbuat apa-apa.
...****************...