Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Pertemuan.


__ADS_3

Hari yang di nantikan itu akhirnya tiba juga. Tepat di hari ini, semua orang perwakilan dari masing- masing perusahaan memenuhi undangan Wibisana grup untuk menghadiri anniversary perusahaan sekaligus pengumuman CEO baru.


Sejak pagi, semua kolega perusahaan sudah berkumpul di hotel tempat acara di selenggarakan. Tak terkecuali Nisa dan Roy. Keduanya sudah bersiap dari pagi dan tiba di hotel lebih awal.


Dengan diantar oleh pelayan, Nisa dan Dito duduk di meja yang sudah disediakan. Ruangan pesta diatur sedemikian mewahnya. Bahkan sejak pagi, para pemburu berita sudah siap di lokasi. Nisa takjub dengan dekorasi ruangan yang glamor.


"Aku baru tahu sekali ini kalau kolega bisnis Wibisana grup sebanyak ini".


"Tentu saja,,perusahaan ini ada bahkan sebelum aku lahir".


"Entah sekarang sudah generasi ke berapa".


"Yang jelas,,mereka sangat berpengaruh, terutama di luar negeri".


"Berarti perusahaan mu sudah lama bekerjasama dengan mereka??".


"Iya,,tentu saja".


Nisa terdiam ketika tamu undangan yang lain memandang ke arah pintu masuk aula hotel.


Serempak mereka semua berdiri menyambut kedatangan keluarga Wibisana.Para pengawal berada di kiri kanan untuk mengamankan anggota keluarga tersebut.


Seorang wanita muda cantik, berambut pirang , mengenakan kacamata hitam dan tas bermerk, menggandeng lengan seorang pemuda. Sementara di belakangnya pasangan paruh baya berjalan penuh percaya diri. Nisa memperhatikan keempat orang itu dengan seksama.


Mereka melangkah ke depan dengan wajah angkuh. Setelah itu keempat orang itu duduk di tempat yang. telah di sediakan. Para tamu undangan serempak duduk kembali mengikuti si empunya acara.


Acara segera di mulai dengan dipandu moderator. Mulai dari perkenalan hingga sambutan dan masuk acara inti. Bapak Mahendra dan istrinya maju ke depan untuk memperkenalkan pewaris mereka. CEO baru di Wibisana grup, namanya Alfredo Luis.


Tepuk tangan membahana di penjuru ruangan. Kamera para pemburu berita, silih berganti mengabadikan momen di depan. Alfredo Luis maju ke depan untuk memberikan sambutan nya. Dia melepas kacamata hitamnya.


Nisa sungguh sangat terkejut. Dia kenal betul dengan sosok yang berdiri di depan sana. Walau penampilan nya sudah sangat berubah, Nisa tetap yakin kalau sosok itu adalah tubuh Alan, di mana jiwa suaminya berada di tubuh tersebut.


"Jadi itu pewaris grup Wibisana, wajahnya seperti tak asing,,iya kan Nisa".


"Iya,,tapi aku tak yakin,, penampilan CEO ini lebih modern".


"Di mana aku pernah melihatnya??".


"Sudah,,kita dengar dulu apa yang di katakan nya".


Luis Alfredo berdiri dengan penuh percaya diri. Di sampingnya, Fransisca mendampingi dirinya memperkenalkan diri kepada publik.


"Perkenalkan, saya Alfredo Luis, pewaris baru Wibisana grup. Bersama kakak perempuan saya Fransisca saya akan mulai berkantor di Inggris sebagai CEO baru menggantikan papa"


"Saya minta kerjasama dan dukungan dari kalian semua demi kelancaran kerjasama perusahaan kita".

__ADS_1


"Segala hal yang menyangkut tanggung jawab perusahaan, mulai sekarang menjadi tugas saya dan Francis".


"Sekian dan Terima kasih.


Luis dan Francis kembali duduk di kursinya, sementara moderator memimpin sesi tanya jawab untuk para wartawan. Setelah berlangsung setengah jam, tiba-tiba Nisa mengacungkan tangan nya untuk bertanya.


"Silahkan, sebutkan nama anda dan pertanyaan nya".


"Saya Nisa dari Indonesia, ingin bertanya, apakah tuan Luis pernah singgah ke Indonesia??"


Luis terkejut mengetahui kalau Nisa ada di barisan tamu undangan. Namun dia dengan cepat mampu menguasai keadaan. Mulai sekarang, dia tak boleh melibatkan Nisa dan kedua putrinya. Atau mereka yang akan menjadi korban.Dito harus pura-pura sebagai orang lain dan tak mengenal Nisa.


"Maaf nona, saya besar di Amerika dan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Indonesia".


Nisa kembali mengacungkan tangan nya untuk bertanya, tapi rupanya Luis tidak mengijinkan nya.


"Pertanyaan sudah cukup nona, tuan Luis dan keluarganya harus beristirahat".


"Kepada para tamu undangan, di mohon menghadiri jamuan makan malam bersama keluarga Wibisana grup tepat jam 8 malam ini, terimakasih".


Luis dan keluarganya meninggalkan ruangan dengan pengawalan ketat. Nisa dan Roy masih duduk di kursi yang ada di hotel.


"Aku ingat,, wajahnya mirip dengan adik angkat Dito,,, Alan kan namanya??".


"Dia bukan Alan,,aku yakin orang itu hanya mirip dengan nya".


Luis gelisah sepanjang perjalanan nya keluar hotel. Dia takut kalau kedua orang tuanya mengenali Nisa. Francis langsung saja menggandeng tangan nya naik ke dalam mobil.


"Aku tahu yang kau pikirkan".


"Orang tua kita bahkan bisa membaca pikiran mu".


"Wanita itu sedang di awasi saat ini,,,jadi jaga sikap mu..!!!".


"Aku sudah memperingatkan mu bukan".


"Francis,,ku mohon,, aku akan menuruti semua kemauan kalian".


"Tolonglah aku,, jangan sampai wanita itu terluka sedikit pun".


"Rupanya kau mulai lemah??".


"Keluarga Wibisana tidak bermental pengecut".


"Kalau sampai orang tua kita tahu akan hal ini,,, aku tak tahu hukuman macam apa yang akan mereka berikan pada mu".

__ADS_1


"Sebentar lagi kita sampai,, aku akan tunjukkan sesuatu padamu".


"Ayo....keluarlah sekarang".


Alan dibawa oleh Francis ke dalam sebuah bangunan kosong mirip stadium. Mereka berdiri di atas tingkat semacam bangku penonton.Dari sana Luis dan Francis mengamati kegiatan di dalam stadium tersebut.


Nampak seseorang memasuki arena dengan wajah ketakutan. Pintu tertutup otomatis, dan dia berteriak meminta tolong. Tak lama, dua ekor singa kelaparan mengejarnya dan menjadikan nya santapan siang. Luis memejamkan mata, tak sanggup melihat genangan darah dan kepala orang yang terpenggal akibat taring singa. yang tajam tersebut.


"Kau harus terbiasa dengan hal ini".


"Suatu saat nanti bukan tak mungkin kau sendiri yang memberi makan singa-singa piaraan orang tua kita tersebut".


"Kenapa kalian memberi makan manusia??".


"Lihat video ini,,, dia kedapatan mencuri di toko milik mama".


"Jadi mama menjadikan nya umpan bagi singa-singa nya".


"Kalian kejam,, kehidupan macam apa ini??".


"Dengar Luis,,, hilangkan sifat kemanusiaan mu saat kau sudah di daulat menjadi pewaris grup Wibisana".


"Kita bisa disegani seperti sekarang, karena kita tak mentolerir kesalahan".


"Begitu pula dengan mu sendiri".


"Jangan pernah berbuat salah, agar kau tak berakhir di perut hewan peliharaan mama".


"Rupanya kalian pembunuh berdarah dingin".


"Kecilkan suara mu,, Bahakan tembok di sini punya telinga".


"Hanya karena kau adikku, maka akan ada keistimewaan kepadamu".


"Kau salah besar,, kau harus tahu apa yang ku lalui sampai bisa seperti sekarang ini".


"Belajarlah dari ku,, aku yakin kau akan cepat mengerti".


"Jangan mencintai seseorang kalau dia bukan orang yang tangguh".


"Atau dia akan mati mengenaskan, tinggal tulang belulang seperti manusia di bawah sana".


Sekali lagi Luis memandang pria yang sekarang sudah tinggal tulang. Dia terjebak di dalam keluarga pemuja iblis. Nyawa manusia hanya di jadikan mainan. Sama sekali tidak ada rasa cinta dan perikemanusiaan. Kalau bisa, Luis ingin melarikan diri dan pergi jauh dari tempat terkutuk ini. Tapi dia sudah terjebak dan tak mungkin bisa kembali lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2