
"Roy,, malam ini kau ada waktu??"
"Aku sedang butuh teman minum, datanglah ke kafe,, aku tunggu kau sekarang".
"Dito,, kau sedang mabuk,, apa Nisa tahu??".
"Tunggu disitu, aku akan segera menjemputmu".
Roy segera menutup telponnya. Dia bergegas menuju tempat yang disebutkan oleh Dito. Akan sangat berbahaya baginya kalau sedang mabuk dan membawa mobil.
"Roy,,, kurang ajar kau..!!".
"Datanglah kemari,, kita selesaikan malam ini juga".
Sampai di lampu merah, Roy teringat untuk menelpon Nisa. Roy berpikir, kalau Nisa sendiri melihat Dito mabuk, mungkin nanti Nisa membencinya. Dengan begitu, peluangnya untuk mendapatkan Nisa, jauh lebih besar.
Di rumah, Nisa panik. Dia menghubungi teman-teman Dito. Tapi, tak satupun yang melihat dirinya. Nisa takut terjadi sesuatu padanya, setelah pengakuan Nisa tadi.
Tiba-tiba handphone Nisa berbunyi. Ada nama Roy di layar ponselnya. Nisa urung mengangkat telpon. Dia sebisa mungkin ingin menjauh dari Roy. Namun, dirinya cemas, jangan-jangan Dito pergi menemui Roy. Buru-buru Nisa mengambil ponselnya dan menjawab telpon dari Roy.
"Nisa,, akhirnya kau angkat telpon juga".
"Temanku memberi kabar, dia melihat Dito mabuk di kafe".
"Aku baru saja akan menjemputnya,, kau datanglah kalau tidak repot".
"Baik Roy, aku segera ke sana".
"Sofia,, jaga si kembar, aku keluar sebentar".
"Ibu mau kemana??".
"Aku ada urusan,, sebentar aku kembali".
"Baik Bu".
Nisa buru-buru memesan grab dan meluncur ke lokasi yang telah disebutkan Roy. Inilah yang ditakuti nya selama ini. Dito akhir nya lari ke alkohol. Nisa hanya berharap, Dito masih punya akal jernih untuk berfikir.
Perjalanan dari rumah ke kafe terasa sangat lama bagi Nisa. Memikirkan Dito dan Roy bertemu. Semoga saja mereka tidak saling baku hantam.
Nisa turun di tempat parkir, bersamaan dengan Roy yang juga selesai memarkir mobilnya. Mereka segera masuk ke kafe bersama. Dito yang melihat istrinya bersama Roy, lagi-lagi dirinya kalap. Dia bangkit berdiri dan bertepuk tangan menyambut kedatangan Nisa dan Roy.
"Bagus,,,,rupanya ini yang kalian lakukan di belakangku".
"Ayo,,, kemarilah istriku....dan tentu saja bersama selingkuhan nya".
"Mas, kau mabuk....sebaiknya kita pulang sekarang".
"Dito, bicaramu ngaco,, ayo Nisa, bawa Dito ke depan, aku akan mengantar kalian".
"Lepaskan aku.......!!!".
"Cukup sudah sandiwara kalian...!!!!".
"Kau.....istri yang tak tahu diri..!!!".
"Dan kau,,,,ternyata kau musuh dalam selimut, bermuka dua...!".
__ADS_1
"Tega-teganya kau merebut istri ku".
"Selama ini kau hanya berpura-pura baik,,,setelah itu kau memanfaatkan kesempatan untuk menidurinya...!!!".
"Dito.......!!!!".
"Mas......!!!!!".
"Nisa,, ayo bawa Dito, kita bicarakan ini di rumah, dia sudah terlalu mabuk".
"Rupanya kalian takut perselingkuhan kalian diketahui banyak orang???".
"O...ya,,, Roy......siapa yang tidak mengenalmu,, kau orang yang terhormat".
"Nyatanya derajat mu rendah,,, kau juga Nisa,, istri macam apa kau ini,, kau seperti wanita ******.......!!".
"Plak............!!!!!".
Nisa menampar Dito. Tak disangka, penghinaan ini justru datang dari suaminya sendiri. Semua mata pengunjung kafe menatap rendah kepada Nisa. Mungkin dia memang bersalah, dan dia telah menyesali hal itu. Tapi seharusnya dia tak layak untuk dipermalukan seperti ini. Ucapan wanita ****** dari mulut Dito, tak ubahnya peluru yang menembus tepat di jantungnya.
"Diam.....mas,,, ayo kita pergi dari sini!!!".
"Kalian berdua pergilah.....lanjutkan percintaan kalian".
"Aku jijik melihat muka kalian berdua!!!!".
"Bug.....!!!!".
Roy meninju wajah Dito. Dia tak terima melihat Nisa dihina sepeti itu. Perlakuan tidak manusiawi di hadapan banyak orang. Terlebih lagi dari suaminya sendiri.
"Hentikan Roy....tak ada gunanya kau memukulnya".
"Tolong antar kami pulang".
Roy membantu Nisa memapah Dito ke dalam mobil. Mereka kemudian melajukan kendaraan menuju rumah Nisa.
"Kau lihat,,,,, sebagai suami dia tak pantas berkata seperti itu kepadamu".
"Kau salah Roy,, Dito benar,, kita berdua melakukan dosa besar".
"Pantas kalau Dito sampai berbuat sepeti itu".
"Aku sudah mengkhianati kepercayaan nya".
"Apapun yang dia ingin lakukan nanti, aku pasrah menerima semuanya".
"Pun kalau dia mengajukan perceraian".
"Karena baginya, aku hanya seorang wanita ******".
Roy mengepalkan tangannya dan memukul dashboard mobilnya. Mendengar kata-kata Nisa, hatinya merasa tidak terima. Sebutan yang sama sekali tidak pantas untuk dialamatkan pada Nisa.
"Hentikan mengucapakan hal itu, aku tidak suka mendengarnya".
"Bagiku, kau tetap Nisa yang sama".
"Lalu kenapa kalau kita melakukan kesalahan, bukan kau yang harus menanggung ini semua".
__ADS_1
"Kalaupun Dito menganggap mu serendah itu,
aku tentu tidak terima".
"Kalau Dito memang sudah tidak menginginkan mu, aku yang akan bertanggung jawab".
"Aku akan menikahi mu, segera setelah kalian bercerai".
Nisa terdiam. Dia tak mampu lagi menjawab ataupun berpikir. Satu kesalahan saja, dia harus membayar mahal. Rumah tangganya yang selama ini harmonis, kini ada diambang kehancuran.Itu lah konsekuensi dari sebuah perselingkuhan.
Sesampainya di rumah,Nisa dan Roy memapah Dito menuju kamarnya. Nisa membaringkan Dito di ranjang dan melepas sepatunya. Bagaimanapun Dito masih suaminya. Walaupun sekarang Dito sangat membencinya.
"Sebaiknya kau pulang Roy,, terimakasih sudah membantu membawa Dito pulang".
"Kau yakin,,, kalau dia sadar nanti dan berbuat kasar pada mu, telpon aku segera".
"Kau tak perlu khawatir, ini rumah tanggaku, biar ku selesaikan sendiri".
"Nisa,,seharusnya dia tidak memperlakukan mu seperti ini".
"Pulanglah Roy,,, atau masalah ini akan tambah runyam".
Nisa mengantar Roy sampai halaman. Dia kemudian masuk ke kamar Dito. Suaminya itu masih belum sadar. Dia sudah terlalu banyak minum. Nisa jadi merasa bersalah.
Saat hampir petang, Nisa tengah bermain dengan kedua putrinya. Dito keluar dari dalam kamar dengan memegangi kepalanya. Dia masih pusing akibat pengaruh alkohol.
"Kau sudah bangun mas,,,aku buatkan kopi ya??".
"Sofia, tolong kau bikinkan aku kopi".
"Bawakan aku obat sakit kepala, entah berapa gelas yang ku minim tadi".
Dito kembali ke kamarnya, sementara Nisa mengikuti di belakangnya. Nisa mengunci pintu kamar, agar Sofia tak mendengar pertengkaran mereka.
"Aku ingin bicara mas".
"Sudah cukup Nisa, jangan ganggu aku, kepalaku sedang pusing saat ini".
"Itu yang ingin aku bicarakan, dengan kau mabuk, apa kau pikir masalah selesai??".
"Yang ada kau malah mempermalukan keluarga mu sendiri".
"Oh.....jadi sekarang kau merasa malu Nisa,, lalu kenapa saat kau tidur dengan Roy, tak ada rasa malu sedikitpun di wajahmu".
"Sementara, saat ini kau malu, karena perbuatan kalian diketahui orang-orang??".
"Bukan begitu caranya mas, tidak sepantasnya kau menghina istri mu sendiri".
"Aku sudah jujur dan berusaha memperbaiki kesalahan ku, tapi nyatanya, kau sendiri yang justru malah menghina diriku di depan umum".
"Bagus...kau masih punya rasa malu".
"Setidaknya kalian tidak menyembunyikan perbuatan terlarang kalian itu".
"Sudah cukup mas,, nampaknya kau memang belum bisa diajak bicara".
"Sebaiknya aku keluar dulu".
__ADS_1
"Setelah pikiranmu jernih, nanti kita bicara lagi".
Nisa memilih untuk mengalah dan menghindari pertengkaran. Emosi Dito yang masih tidak stabil,akan membuatnya semakin salah paham.