Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Waktu Berdua.


__ADS_3

Nisa terbangun di tengah malam. Dia hendak turun untuk mengambil minum, ketika sayup-sayup terdengar suara gamelan dari ruangan bawah. Nisa mengikuti sumber suara. Rupanya bunyi gamelan itu berasal dari salah satu lukisan dinding di ruang tamu.


Lukisan dinding nyi Roro kidul tengah menari.


Nisa mengamati dengan seksama,, ketika tiba-tiba lukisan tersebut tampak hidup. Nyi Roro kidul benar-benar menari diiringi suara Gending Jawa. Nisa masih bersembunyi di sudut sofa sambil melihat tontonan di depan matanya.


Satu tarian hampir di selesaikan ketika mata Nyi Roro kidul menangkap kehadiran Nisa. Seketika lukisan itu kembali tak bergerak, dan suara gamelan otomatis berhenti.


Nisa menggosok kedua matanya. Seakan tak percaya dengan yang baru saja di lihatnya. Dia memejamkan mata ketakutan ketika di belakang nya seperti ada yang tengah mengelus lehernya. Nisa menjerit histeris melihat sepasang tangan merangkulnya dari belakang.


"Nisa,,,ini aku,, kenapa dengan kau ini??".


"Aku Dito suami mu".


"Kau ini, mengagetkan ku saja mas".


"Sejak kapan kau berdiri di situ".


"Lagian,,,,kamu ngintip apa sih,,,serius banget gitu??".


"Lukisan itu hidup mas,,dia menari dengan iringan musik gamelan".


"Kamu,,,mulai deh .....udah nggak usah aneh-aneh,,,ayo kita ke atas".


"Sebentar mas, aku mau ambil minum".


"Ya udah,,,cepetan sana ....!!".


Nisa berjalan ke dapur sambil terus memperhatikan lukisan di dinding. Dia mengamati dengan seksama. Tetap saja tidak ada yang berubah di sana.


"Ah ....mungkin aku terlalu capek, jadinya berhalusinasi".


"Tapi penasaran juga, apa yang ada di balik masing-masing lukisan ini ya??".


Dito memanggil Nisa. Dia masih menunggu di depan lift.Nisa lalu berlari menghampirinya.


Saat itulah,,tiba-tiba lampu di ruangan bawah padam seketika.


"Kenapa lagi ini mas??".


"Mungkin lampu kristalnya mati, biar besok aku suruh orang untuk mengecek".


"Ayo,,aku masih punya urusan dengan mu".


Sementara Nisa masih bersenang-senang dengan Dito di rumah Alan, Roy datang ke rumah Nisa. Dia sengaja hendak mengajak Nisa makan malam. Mungkin dengan sedikit hiburan, Nisa bisa sembuh dari sakitnya.


Roy memencet bel pintu rumah Nisa. Sofia datang membukakan pintu untuknya.Dia terkejut mengetahui kedatangan Roy.


"Sofi, Bu Nisa ada di rumah kan??".


"Bu Nisa baru besok pulangnya pak, beliau sedang pergi ke luar kota".


"O ya,, urusan apa, kenapa aku sampai tak tahu??".

__ADS_1


"Sofi kurang tahu pak, sebaiknya tanyakan sendiri saja kepada ibu".


"Ya sudah,, aku permisi dulu Sofi".


"Silahkan pak Roy".


Roy mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi ponsel Nisa. Beberapa saat menunggu, akhirnya Nisa menjawab panggilan nya.


"Iya Roy,, ada yang bisa ku bantu??".


"Kau kemana saja Nisa,, aku cemas sekali memikirkan mu".


"Itu Roy,, aku ada urusan pribadi, besok pagi aku berangkat ke kantor".


"Tapi dimana kau sekarang,, biar aku menjemput mu".


"Jangan Roy,, kau tunggu saja aku di kantor ".


"Roy,, sudah dulu ya,, aku masih ada kerjaan".


Nisa buru-buru menutup ponselnya karena Dito berteriak memanggilnya. Dia tak mau Roy sampai curiga kepadanya.


Sementara Roy merasa ada yang aneh dengan tingkah laku Nisa. Dia sepeti tengah menyembunyikan sesuatu. Apalagi jelas-jelas Roy mendengar suara lelaki bersamanya.


"Sebenarnya kau kemana Nisa??".


"Kenapa sulit sekali mendapatkan mu".


"Aku berharap jalan ku terbuka lebar setelah Dito meninggal, nyatanya kau malah semakin menjauh dari ku".


Dito menghampiri Nisa. Rambutnya basah karena baru saja keramas. Sedangkan Nisa terlihat menekuk wajahnya.


"Ada apa lagi sayang,,kenapa kau murung??".


"Roy baru saja menelpon ku mas,, dan aku yakin dia pasti mendengar suara teriakan mu".


"Memangnya kenapa,, biarkan saja,, lagipula aku ini kan suami mu".


"Kenapa kau yang harus ketakutan begini??".


"Bukan begitu mas,, dia pasti curiga nanti".


"Cepatlah berpakaian mas,, antar aku pulang".


"Kenapa harus buru-buru,,, kita masih punya waktu kan??".


"Lagi pula setelah ini, kita akan lama lagi ketemu nya".


"Padahal aku masih merindukan mu".


"Mas,, jangan....kau basah...lepaskan......


kau ini nakal sekali mas".

__ADS_1


Dito sama sekali tak menghiraukan teriakan Nisa. Dia menggendongnya ke tempat tidur. Bibir merahnya sudah dibungkam dengan permainan lidah Dito. Nisa hanya bisa pasrah ketika sekali lagi Dito memanjakan dirinya dengan sentuhan mesra dan gerakan erotis di tempat tidur. Pakaian Nisa sudah dilempar entah kemana, sementara Dito yang hanya memakai handuk, langsung melancarkan aksinya, memberi kenikmatan kepada istrinya tersebut.


Nisa sungguh kewalahan melayani nafsu Dito yang sangat besar. Sudah bermacam gaya mereka mainkan sampai berulang kali mendapatkan kepuasan. Sejak meminjam tubuh Alan, nafsu bercinta Dito seakan meningkat berkali lipat. Maka tak heran, kalau selam dua hari dua malam, Nisa dan Dito betah berada di balkon atas rumah Alan.


Nisa bangun dan menuju kamar mandi, sementara Dito malah terlelap ketiduran. Sebentar lagi pagi, dan Nisa masih berada di rumah Alan. Dia buru-buru membersihkan diri dan berdandan sekedarnya.


"Mas,, bangun,,, kau jadi mengantar ku tidak?".


"Ini masih jam 3 malam Nisa,, yang benar saja".


"Kembalilah tidur, besok pagi aku akan mengantar mu".


"Tidak bisa mas,, harusnya aku sudah sampai rumah dari tadi".


"Sofia bisa cemas kalau sampai aku terlambat pulang".


"Iya,, tunggu sebentar,, aku bersiap dulu".


Mau tak mau Dito akhirnya bangun juga. Ini memang salahnya karena menahan Nisa dalam pelukan nya. Jadi dia terpaksa harus mengantarnya di pagi buta.


"Ayo, kita turun,, aku antar kau pulang".


"Tapi kau tidak mengantuk kan mas??".


"Kau tenang saja, aku sudah biasa begadang".


Dalam kegelapan malam, Nisa dan Dito kembali ke kota. Akhirnya Nisa yang mengendarai mobilnya karena Dito masih kelelahan setelah olahraga fisik yang mereka lakukan. Dito tertidur di dalam mobilnya, sementara Nisa berkonsentrasi melihat jalan.


Setelah tiga jam berkendara, Nisa akhirnya sampai juga ke rumahnya. Masih ada sisa waktu untuknya beristirahat. Nisa menghentikan mobilnya di jalanan dekat rumah. Dia lalu membangunkan Dito.


"Mas,, kita sudah sampai,, aku harus pulang dulu".


"Pintar sekali rupanya istri ku ini".


"Buka mata mu mas, aku harus masuk sekarang".


"Kau carilah hotel dulu dan tidur di sana sebelum kembali".


"Aku tak butuh hotel, tapi butuh ini".


Dito menarik rambut Nisa dan ******* bibirnya. Mereka berciuman lidah cukup lama. Nisa sampai kehabisan nafas.


"Stop mas,,,aku buru-buru, jangan menggodaku lagi".


"Sayang,, bagaimana kalau kita menikah saja".


"Aku tak tahan kalau harus berpisah dengan mu".


"Jangan bercanda,, aku sudah terlambat".


Besok lagi kita bicara".


Nisa menutup pintu mobil dan berlari masuk ke halaman rumahnya. Dia tak menyadari bahwa di sekitar tempat itu ada seseorang yang tengah mengawasinya. Dia sukses di buat penasaran dengan sosok lelaki yang mengantar Nisa pulang. Diam-diam dia mencatat nomor plat mobil yang dikendarainya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2