
Nisa memasukkan cincin giok berwarna hitam ke kantung nya. Walaupun belum musnah, setidaknya iblis itu sudah terkurung sekarang. Dia tak akan bisa keluar karena mbah Cokro sudah memberi mantra ke dalam cincin Mohana. Iblis itu sudah mendapat kan pelajaran setimpal atas perbuatan nya.
Nisa membawa bungkusan kecil tersebut dan langsung di serahkan kepada mbah Cokro. Orang tua itu tentu tahu apa yang mesti di lakukan nya terhadap Mohana. "Silahkan mbah, tolong di simpan baik-baik, supaya iblis jahat ini tidak berulah lagi", kata Nisa sambil menyerahkan cincin giok kepada mbah Cokro. Mbah Cokro mengambil bungkusan kain dari tangan Nisa. Kemudian ketiganya keluar dari dalam kafe. Untung saja pengunjung masih sepi, jadi tidak ada yang melihat Mohana lenyap begitu saja.
Ketiganya segera kembali ke hotel. Nisa tak sabar
untuk segera berjumpa dengan suaminya.
Anton dan Alan meletakkan tubuh Roy di ranjang kamar Nisa. Sesaat kemudian, laki-laki itu membuka matanya. Di lihatnya sekeliling ruangan, sambil mengamati wajah ketiga teman nya satu-persatu. "Di mana aku sekarang, kenapa kepalaku pusing sekali?", tanya Roy sambil memegangi dahinya. Ratri memberinya segelas air putih agar Roy segera sadar.
"Apa kau tak ingat dengan kami Roy?", tanya Ratri setelah nya. "Mana mungkin aku lupa dengan kalian, tentu saja aku masih ingat",jawab Roy tegas. Matanya sibuk berkeliling kesana kemari, mungkin mencari keberadaan Nisa. "Apa kalian melihat istri ku?", tanya nya kemudian saat tak melihat kehadiran Nisa. "Dia segera kembali Roy, kau tunggu saja sebentar. Beristirahat lah dulu, kami akan menunggu di luar", jawab Anton. Dia menggandeng tangan Ratri keluar kamar dengan di ikuti Alan di belakang mereka. Ketiganya menunggu kedatangan Nisa di depan kamar.
Sementara, di dalam kamar Roy kembali berbaring. Entah kenapa kepalanya terasa sangat berat. Padahal dirinya ingat betul kalau semalam sudah tidur lebih awal. Beberapa pertanyaan juga sempat hinggap di benaknya. Kenapa pagi ini terbangun di hotel, padahal semalam dia masih tidur bersama Nisa di rumahnya. Roy berusaha mengingat kembali. Tapi semakin di pikirkan, kepalanya semakin bertambah sakit. Saat ini hanya Nisa yang di butuhkan nya. Dia lah yang selalu memberi obat untuk sakit kepala yang belakangan semakin sering di rasakan oleh Roy.
__ADS_1
Di luar kamar hotel, Nisa terlihat berjalan dengan sedikit tergesa. Dia tak sabar untuk segera menjumpai suaminya. Setelah sekian lama, akhirnya Roy kembali ke pelukan nya. "Kau sendirian saja Nis, mana bapak dan mbah Cokro?", tanya Anton sesaat setelah Nisa tiba.
"Mereka sudah pulang duluan. Kita pun harus segera berkemas. Mbah Cokro memintaku untuk segera membawa Roy ke rumahnya", jawab Nisa kemudian.
Ketiganya paham dengan perintah Nisa. Mereka segera menuju kamar masing-masing untuk berkemas. Sementara, Nisa langsung masuk ke kamar nya. Tak sabar rasanya menahan kerinduan dengan suaminya selama ini. Di lihatnya Roy masih berbaring dengan mata terpejam. Hati-hati Nisa mendekati Roy. Di cium nya lembut kening Roy, sembari mengusap rambut nya. "Sayang.....bangun, kita harus segera kembali ke kampung", bisik Nisa lembut.
"Hmm....kau dari mana saja Nis, aku mencari mu sejak tadi", sahut Roy sambil keheranan melihat Nisa menggenggam erat tangan nya. Ada bulir air mata menghiasi wajah cantik istrinya. Roy buru-buru mengusap dan terbangun memeluk erat tubuh istri cantiknya itu. Nisa tak bisa lagi membendung air matanya. Kali ini dia menangis sejadi-jadinya. Semua perasaan sedih, cemas, takut di tumpahkan di bahu Roy.
"Ada apa ini sayang,, coba ceritakan padaku sekarang!!", tukas Roy. Dia semakin heran dengan kelakuan istrinya kali ini. "Sebentar saja Roy,,
Nisa tak perduli dengan apa yang di katakan oleh Roy. Dirinya sudah larut dalam kebahagiaan. Setelah sekian lama berpisah, kini akhirnya bisa bersama kembali dengan cintanya. Nisa beranjak dan melepaskan pelukan nya. Dia berkemas dan merapikan kamar hotelnya. Sesaat kemudian di lihat nya kembali wajah Roy. "Ayo sayang,, sudah saat nya kita pulang. Kembali ke kampung halaman tercinta", ujar Nisa. "Baru kemarin kau menolak permintaan ku untuk pulang kampung, apa sekarang kau sudah berubah pikiran?", tanya Roy heran.
"Iya Roy,,aku sudah berubah pikiran. Dan ku putuskan untuk tinggal di kampung saja sementara waktu. Anak-anak pasti senang kalau kita bisa menemani mereka setiap hari", jawab Nisa. Keduanya keluar dari kamar hotel dengan senyum sumringah. Ketiga sahabatnya sudah menunggu di lobi. Tak butuh waktu lama, Roy dan yang lain segera berkendara untuk pulang menuju kampung Larangan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan di lalui dengan saling bercerita dan bersendau gurau. Rupanya tak ada yang berubah sama sekali dari Roy. Begitu Mohana lenyap, pengaruh ilmu sihir nya pun lenyap seketika dari tubuh Roy. Dia bahkan tak menyadari sama sekali tentang apa yang terjadi.
Roy bersikap biasa, seolah-olah tidak pernah betpisah dengan Nisa. Makanya dia heran dengan kedatangan Anton dan Ratri. Untung saja Roy percaya kalau sahabat nya itu memang sedang liburan di Yogya.
Adapun Mohana, mbah Cokro membawanya ke tempat rahasia jauh di tengah hutan Larangan. Dia akan menjadi penghuni baru di tempat tersebut. Petualangan jahatnya harus di bayar dengan menjadi pelayan bagi dewi ular. Itu sudah menjadi kesepakatan antara mbah Cokro dengan sosok gaib tersebut. Makanya dengan mudah nya, Mohana bisa di kalahkan. Rupanya memang mbah Cokro sudah meminta bantuan dewi ular dengan imbalan Mohana menjadi pelayan baginya.
"Semua sudah selesai Ari, aku sudah mengembalikan semua pada tempatnya. Hanya satu yang mesti kau ingat, jangan pernah sekalipun kau ijinkan anak keturunan mu menginjak kan kaki di tempat ini. Hanya sekali ini saja aku bisa membantu mu. Kalau.sampai hal itu terjadi, aku tidak bertanggung jawab atas kehancuran keluarga mu, kau mengerti pesan ku kan Ari??". "Tentu saja mbah Cokro, aku akan selalu mengingatnya", sambung bapak dengan menghela nafas panjang.
Keduanya pergi meninggalkan hutan Larangan.
Tanpa di sadari, sosok Mohana dan dewi ular tersenyum penuh arti. Entah apa yang di rencanakan mereka. Yang pasti, Nisa dan keluarganya masih belum sepenuhnya aman.
Bapak tiba bersamaan dengan kedatangan Nisa dan Roy. Bapak bahagia karena akhirnya Roy bisa kembali lagi di tengah-tengah mereka. Kebahagiaan yang sempurna bisa beekumpul kembali dengan anak menantunya. Hanya satu yang tampak mengganjal di hati bapak tatkala melihat Roy. Mata merahnya begitu menarok perhatian bapak.Seolah mengingatkan nya kembali dengan sosok yang pernah di lihatnya. Ah...tapi bapak tak ingin merusak suasana. Mungkin saja bapak yang salah lihat atau berburuk sangka. Dia kemudian masuk ke kamar. Membiarkan Nisa dan Roy melepas rindu bersama ketiga sahabatnya.
__ADS_1
SELESAI
...****************...