
Kakek tua itu menatap kepergian Nisa. Dito membopongnya masuk ke dalam mobil.
"Kau belum sepenuhnya lepas dari sini".
"Suatu saat, hutan ini akan memanggilmu kembali sebagai sinden".
"Kau sendiri yang memaksa masuk menjadi bagian dari kerajaan ini".
"Akan sangat sulit untuk membuat jiwamu terlepas, walaupun ragamu sudah meninggalkan tempat ini".
Mereka langsung membawa Nisa ke rumah sakit. Kondisinya yang pucat pasi dan denyut jantung melemah membuat Nisa kehilangan kesadaran.
"Cepat Roy.....jangan sampai terjadi sesuatu pada Nisa".
"Tenanglah,, di depan sudah rumah sakit, kita sudah hampir sampai".
Roy mengendarai mobilnya dengan kencang. Dia menerobos lampu merah dan langsung masuk ke dalam rumah sakit. Perawat yang berjaga segera memindahkan Nisa ke ruang
gawat darurat.
Nisa masih kehilangan kesadaran, disebabkan arwahnya belum masuk ke tubuhnya. Dari tadi Nisa kesulitan bernafas. Dokter memasang selang oksigen untuk membantunya bernafas. Baru pada saat itulah, jiwanya tersedot masuk ke terowongan yang gelap dan dalam.
Nisa membuka matanya, namun sedetik kemudian,matanya terpejam kembali. Sesekali tangan nya bergerak lemah di atas pembaringan.
Dokter keluar dan memberi penjelasan tentang kondisi Nisa.
"Bagaimana dokter,,,Nisa bisa sembuh kan??".
"Pak Dito, ibu Nisa mengalami semacam sindrom bipolar".
"Dia tak akan mengingat orang-orang di sekitarnya, dan mungkin kepribadiannya akan berubah".
"Saya harap anda akan bersabar menghadapinya".
"Untuk berapa lama Nisa akan seperti itu??".
"Kami belum bisa memastikan pak,,karena saat ini beliau juga masih belum sadar".
"Baiklah".
"Dito,, itu karena Nisa terlalu lama berada di alam gaib".
"Untung saja dia wanita yang kuat, kalau tidak dia bisa menjadi gila".
"Sudah hampir seminggu, tubuhnya pun mengalami hipotermia, jadi bersabarlah...yang penting istrimu sudah selamat".
"Iya Ki,,, aku mengerti".
Dito duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan perasaan cemas. Dia tak sabar menunggu Nisa kembali sadar. Akan menjadi siapa dirinya nanti. Bagaimana kalau dia melupakan Dito dan anak-anaknya. Apa yang harus diperbuat oleh Dito, menghadapi perubahan keadaan Nisa.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus saja berputar di kepala Dito. Anton, Roy dan Ki Santoso bahkan sudah meninggalkan rumah sakit. Kedua orang tua mereka belum tahu dengan kejadian yang menimpa Nisa.
"Maaf pak, pasien atas nama ibu Nisa sudah sadar".
"Anda boleh masuk dan menemui beliau".
"Iya suster, terima kasih".
Panggilan dari suster mengagetkan Dito dari lamunan nya. Dia kemudian berjalan menuju ruangan Nisa. Dito harap-harap cemas menghampiri Nisa di tempat tidurnya.
Nisa memandangi laki-laki yang berjalan ke arahnya. Sorot matanya masih lemah dan tidak bertenaga. Dalam hati Nisa bertanya-tanya, siapa laki-laki yang menghampirinya.
"Nisa,,,syukurlah kau sudah sadar, aku takut sekali".
__ADS_1
"Kau siapa,,kenapa kau disini, mana bapak dan ibu, tolong panggilkan mereka".
"Aku suamimu,Dito....kau tidak mengingatnya??".
"Jangan bercanda mas,,mana boleh aku menikah,aku kan masih dibawah umur??".
"Lagipula Misca selalu bilang kalau laki-laki itu jahat semua,,tak ada yang baik".
"Siapa Misca,,,aku baru mendengarnya?".
"Misca,,,dia itu.....eh...tapi janji, kau harus diam kalau aku memberitahu mu".
"Iya,,aku janji,,katakan siapa Misca??".
"Dia temanku,,,tapi sudah mati, pacarnya memperkosa dan membunuhnya".
"Jadi sekarang dia berteman dengan ku".
Dito tertegun menghadapi perubahan Nisa. Ingatan nya mundur terlalu jauh ke belakang. Dia bahkan merasa masih duduk di bangku SMA.Memang, tingkahnya makin lucu dan menggemaskan. Tapi Dito tetap saja bingung dengan perubahan nya.
"Omong-omong, kenapa aku bisa ada di sini??".
"Kau menabrak ku ya??".
"Aku sudah menduganya,, om-om seperti mu memang sering menggunakan cara ini untuk berkenalan dengan ABG seperti ku ini".
"Om,,,,apa aku kelihatan setua itu menurutmu??".
"Kau pikir saja sendiri".
"O, ya om,sebaiknya kita segera keluar dari sini,,Misca sudah tidak betah disini".
"Dan om,,, bayar rumah sakitnya karena kau yang menabrak ku".
Nisa sama sekali tidak mengingat dirinya. Dia bahkan lebih memilih teman hantunya si Misca itu daripada keluarganya sendiri.
"Aku sudah mengurus semuanya Nisa".
"Ayo, sekarang kita pulang".
"Memang rumah kita searah om,,, aturan tadi om telepon bapak atau ibu ku saja untuk menjemput ku".
"Atau, aku naik bis saja, ada trans Jogja yang biasa melewati jalan depan kecamatan".
"Tapi Nisa,, ini di Jakarta, bukan di Jogja".
"Apa,,,, ngapain aku di sini??".
"Wah....wah.....rupanya om sudah menculik ku sampai sejauh ini".
"Aku,,,sudah kubilang aku ini bukan penculik, aku suami mu, jadi berhenti panggil aku om".
"Rupanya Omo ini orang nya pemarah ya???".
"Berarti, selama aku diculik sama om, aku harus nurut gitu??".
"Om,,,aturan ma penculik itu korban nya disekap gitu atau diikat, bukan malah diobatin".
"Aneh, si om ini ".
Dito sudah sangat jengkel sejak tadi mendengar ocehan Nisa. Belum ada sehari, tapi Dito sudah hampir gila menghadapinya.
Tingkah polah Nisa kali ini sungguh memang bukan seperti dirinya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai Nis, turunlah".
"Rumah siapa ini om, luas sekali, rumahku dikampung tidak sebesar ini".
"Ayo masuk,,sementara kau tinggal disini dulu".
"Wah...benar-benar si om ini, dicari polisi baru tahu rasa nanti".
Dito masuk ke dalam rumah, sementara Nisa masih melihat-lihat. Sofia dan si kembar menyambutnya di pintu. Dito yang sudah lebih dulu jalan ke kamar, bahkan lupa untuk memberitahu Sofia, tentang kondisi Nisa yang sebenarnya.
"Selamat datang Bu Nisa,,,senang sekali melihat anda sudah sehat".
"Kau siapa,,,istri dari om-om itu??".
"Cantik juga kau rupanya,,dan anak kalian juga lucu".
"Apa maksud ibu,,ini si kembar,bukan nya ini putri ibu?".
"Eh Tante,, kau sama saja dengan suami mu rupanya".
"Panggil aku ibu segala, nama ku Nisa Tante".
"Entah kenapa aku terdampar dengan orang-orang semacam ini".
Dito yang mendengar percakapan Nisa dan Sofia langsung menarik Sofia ke dapur.
"Ibu aneh sekali pak, dia tak mengenali si kembar??".
"Sofia, Nisa kehilangan memorinya, dan dia cenderung berubah kepribadiannya".
"Kau ikuti saja kemauan nya, agar dia tidak merasa tertekan".
"Baik pak".
"Kalian tidak sopan,, ada tamu di sini, tapi kalian malah berdua-dua an di dapur".
"Nisa,, Sofia ini bukan istri ku, dia pengasuh anak-anak ku".
"Jadi kau sudah punya anak om,,, lalu untuk apa kau masih menculik aku??".
"Dasar duda mesum!!!!".
Dito geleng-geleng kepala menghadapi Nisa. Kesabaran nya benar-benar di uji kali ini.
Tingkah Nisa semakin lama hanya membuat sakit kepala saja.
"Nama mu Sofia kan,, sepertinya kita seumuran, kau ada main ya..dengan om itu??".
"Tidak Bu,, saya sungguh tidak berani".
"Kenapa kau selalu memanggil ku ibu".
"Namaku Nisa, jadi panggil saja seperti itu".
"Baik,, Nisa".
"Hei...om, dimana kamarku, aku capek sekali".
"Kamar disini kurang, jadi sementara kau tidur dengan ku".
"Atau kau mau tidur dengan si kembar??".
Nisa melongo mendengar penjelasan dari Dito bahwa dia harus sekamar dengan nya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan pria setengah baya itu kepadanya. Mana mungkin Nisa bisa tidur dengan orang asing seperti dirinya.
__ADS_1
...****************...