
Hari-hari Nisa dan Roy tanpa berita dan akses dari luar di mulai pagi ini. Keduanya benar-benar menjadi orang desa. Demi memenuhi permintaan bapak, serta menghindari masalah, Roy memilih mengalah untuk sementara. Toh, tak ada ruginya juga, hanya mungkin urusan bisnisnya sedikit tertunda.
"Mama dan Papa hari ini libur kerja?".
"Tumben bisa ikut sarapan bersama kita, iya kan Sheila?".
"Kalian benar,,,ayo cepat sarapan...mama dan papa yang akan antar kalian hari ini".
"Hore.......kami senang sekali ma".
Si kembar reflek melompat kegirangan. Sudah lama Nisa dan Roy tak meluangkan waktu untuk mereka. Pikiran nya sibuk dengan kasus di rumah baru nya.
"Alan,,,untuk sementara...kau kembali saja ke kota dan berangkat ke kantor".
"Jangan,,,kalian harus tetap di sini".
"Jangan ada yang pergi dari kampung ini, sebelum bapak mengijjnkan kalian".
"Memang nya kenapa pak, bukan nya Alan tidak terlibat, jadi tak masalah bukan kalau Alan ke kota".
"Pokoknya turuti saja apa kata bapak,, sekarang kalian antar dulu kedua putri kalian itu".
Nisa dan Roy terdiam. Keduanya segera membawa Sheila dan Sheina pergi ke sekolah. Jaraknya tidak begitu jauh, jadi mereka memilih jalan kaki.
"Kau lihat bapak tadi kan sayang, dia aneh sekali".
"Aku baru kali ini melihatnya begitu tegas".
"Kau benar mas,,apa sebaiknya kita mampir ke rumah mbah Cokro saja".
"Mungkin beliau tahu, penyebab bapak berubah sikap nya kepada kita".
"Kau benar Nisa, setelah ini kita kesana".
Setelah mengantar kedua putri kembar nya, Nisa dan Roy mendatangi rumah mbah Cokro. Orang tua itu seperti tahu kedatangan keduanya. Mbah Cokro sudah menyambut di depan rumah.
"Sudah ku duga, kalian pasti datang kemari".
"Masuk lah..aku sudah menunggu kedatangan kalian berdua".
Nisa dan Roy mengikuti mbah Cokro masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di tempat yang sudah du sediakan oleh mbah Cokro.
__ADS_1
"Ceritakan pada ku Nisa, apa saja yang kau temui di ruang bawah tanah rumah mu".
"Jadi,, mbah Cokro sudah tahu semuanya??".
"Padahal, kita belum cerita pada siapa pun, termasuk bapak".
"Kalian ingat kan apa yang ku katakan saat datang ke rumah mu?".
"Ada energi yang sangat kuat di sekitar mushola".
"Dan itu berasal dari ruang bawah tanah".
"Ceritakan sekarang Nisa, mungkin saja aku bisa membantu mencari jalan keluarnya".
"Sepengetahuan saya mbah, ada banyak patung terbuat dari emas, juga banyak peti yang masih tertutup gembok".
"Ada satu patung wanita yang sangat terang berkilauan".
"Dia tersenyum dan memberi isyarat supaya Nisa mendekat mbah, sesudah itu saya tak tahu apa-apa lagi mbah".
"Itu karena Nisa keburu kerasukan oleh penunggu
patung yang di dekatinya mbah".
"Mbah tahu Roy, lantas.....apa yang di ucapkan sosok gaib itu?".
"Dia setengah mengancam dan juga memperingatkan kami agar tidak mengusik harta tempat nya mbah, dan juga menunjuk Nisa sebagai pemegang kunci atau apa lah, saya kurang jelas mendengar kata-katanya".
"Itu yang harus di waspadai Roy, dia mengincar istri mu".
"Resapi kata-kata mbah ini, dan kaitkan dengan kejadian belakangan ini".
"Kalian pasti akan temukan jawaban nya".
"Sekarang.... kalian pulang lah".
Roy dan Nisa keluar dari rumah mbah Cokro dengan raut wajah kebingungan. Mereka belum bisa paham dengan perkataan mbah Cokro tadi.
Maksud apa yang hendak di sampaikan orang tua itu sebenarnya, Nisa dan Roy belum menemukan nya.
"Mas, memang kau sudah tahu sebelumnya kalau di rumah mu itu ada harta karun sebanyak itu?".
__ADS_1
"Kalau aku tahu, tak mungkin aku mau menempatinya".
"Harta seperti itu malah bikin penyakit Nisa, buktinya Sri, Paijo, pak Agus, semua meninggal di rumah itu".
"Kau benar juga mas, kalau begitu....siapa yang memilikinya kira-kira?".
"Aku yang memiliki kamu,, jangan pikir yang lain lagi".
Tangan Roy mendarat di bahu Nisa dan mengecup pipi istri nya. Belakangan ini keduanya sudah di buat tegang oleh banyaknya kejadian ganjil di seputar rumah nya. Wajar saja kalau Roy merasa harus sedikit menghibur Nisa.
Sementara itu, di rumah Nisa yang ada di kota terlihat sepi. Sejak kematian pak Agus, rumah tersebut tak lagi di jaga oleh anggota polisi.Garis polisi yang terpasang di sekitar rumah pun sudah di lepas. Mereka takut akan ada korban lagi kalau nekat masuk ke dalam rumah.
Selang satu hari kepergian Nisa dan Roy ke kampung, rumah tersebut sudah seperti kondisi semula. Bahkan kerap kali terdengar aktivitas pemilik rumah di dalam nya. Tetangga nya mengira kalau Nisa dan Roy sudah kembali menempati rumah mereka tersebut.
Seperti pagi ini, tukang sayur yang lewat deoan rumah Nisa merasa mendengar panggilan dari dalam rumah. Dia pun berhenti tepat di depan pagar. Dari dalam rumah, Nisa keluar sambil tersenyum lebar.
"Rupanya benar bu Nisa yang memanggil, saya kira kalau orang lain yang tinggal di sini".
"Silahkan bu, mau belanja apa hari ini?".
"Bungkus semua sayur dan lauk nya pak, ini uang nya, nanti letakkan di depan pintu".
"Baik bu, dengan senang hati".
Setelah menyerahkan uang pada abang sayur, Nisa lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Sementara itu, abang sayur sibuk menurunkan dagangan nya. Dalam hati dia berpikir kalau tingkah Nisa kali ini sangat aneh.
"Tumben bu Nisa borong dagangan saya,,,apa ada acara di rumah ini?".
"Ah...bodo amat...yang penting hari ini dapat rejeki nomplok".
"Tapi,, bu Nisa jadi lain.....jadi lebih pendiam sekarang".
Abang sayur bergumam sembari meletakkan belanjaan Nisa di depan pagar. Setelah selesai, dia berteriak memanggil Nisa untuk berpamitan. Lama tak ada sahutan, akhirnya abang sayur pun pergi sambil tersenyum senang karena dagangan nya laku terjual.
Bukan hanya abang penjual sayur saja yang kerap di borong dagangan nya, semua penjual yang lewat depan rumah Nisa tak luput dari aksi Nisa berbagi rezeki. Setiap malam bahkan rumah tersebut sangat ramai, seperti semua keluarga berkumpul di dalam. Anehnya, ketika pagi hari, rumah Nisa tampak lengang seperti tak berpenghuni. Bahkan mereka juga tak pernah melihat suami dan anak-anak Nisa keluar dari rumah.
Hal tersebut sudah berlangsung selama seminggu ini, tapi orang-orang menganggap itu hal yang wajar, jadi mereka tak pernah mempermasalahkan. Hanya saja, rumah itu pagarnya selalu terkunci. Tak seorang pun yang berani masuk ke dalam rumah tersebut.
Suatu waktu, petugas polisi lewat di depan rumah Nisa ketika malam hari. Benar saja yang di katakan orang-orang, rumah Nisa tampak ramai penuh dengan orang. Seperti sedang mengadakan pesta atau hajatan. Iseng-iseng, petugas polisi tersebut menghubungi nomer ponsel Nisa dan Roy untuk memastikan keberadaan keduanya di dalam rumah. Mengingat rumah tersebut masih berstatus tkp.
Namun, ponsel keduanya sama sekali tidak aktif.
__ADS_1
Makanya, petugas itu berhenti dan menepikan mobilnya di depan rumah Nisa.
...****************...