
Pagi hari di rumah ibu mertua Nisa sudah sibuk. Saudara dan tetangga berkumpul untuk
membantu orang tua Nisa mengadakan hajatan. Mereka akan menggelar acara 4 bulanan dan sekaligus upacara penyambutan bagi Nisa.
Nisa sejak pagi sudah dirias, dia terlihat cantik dengan make up ala pengantin baru.
"Acara nya jam 10 sayang,, masih ada waktu, setelah ini kalian berdua sarapan dulu".
"Iya ma".
Para tetua adat sudah mulai berdatangan ke rumah orang tua Nisa. Mereka membawa sesajen dan benda pusaka seperti tradisi Jawa. Para tetua adat menempati tempat duduk yang telah disediakan. Mereka juga terlihat membawa kain ulos khas Sumatera.
Upacara dimulai tepat pukul 10, Nisa dan Dito duduk di kursi pelaminan. Aura kecantikan Nisa seperti terpancar keluar. Wajahnya bersinar layaknya seorang putri.
Mereka mengikuti upacara adat dengan khidmat. Nisa sangat menghormati tradisi dari kampung suaminya tersebut.Tibalah giliran para tetua adat menyematkan kain ulos ke bahu Nisa.
Mereka maju ke depan dan mengalungkan kain tersebut ke bahu Nisa. Tiba-tiba Nisa bangun dari duduknya. Dia seperti orang yang tengah kerasukan. Nisa berjalan ke depan tetua adat dengan gemulai, dia menghaturkan
sembah sujud ke hadapan mereka. Setelah
nya Nisa menari tarian Batak dengan lincah dan gemulai.
Para tetua adat terkejut dan juga kagum melihat tarian Nisa. Dito apalagi, dia belum pernah melihat sekalipun Nisa bisa menari, tapi penampilannya lebih hebat dari penari profesional.
"Apa Nisa sudah belajar tarian ini sebelum nya Dito??".
"Dia bukan menantu mu,, leluhur Nisa di Jawa
menghormati penyambutan ini".
"Mereka menyuguhkan tarian ini lewat menantu mu".
"Anak itu bukan wanita sembarangan, ada yang menjaga di tubuhnya,,,dan dia menghaturkan salam perkenalan kepada kami".
Tahulah Dito dan keluarganya, kalau Nisa tengah dirasuki khodam ibu ratu, setelah pemuka adat menjelaskan panjang lebar.
Dia menghargai upacara penyambutan ini dan
'hadir' ke dalam upacara.
Kurang lebih 1 jam Nisa menari, setelah itu dilanjutkan dengan pemberian nama atau marga. Ritualnya juga hampir mirip dengan adat di Jawa. Setelah pemuka adat meminta izin kepada roh para leluhur dan penunggu yang bersemayam di dalam badan, tiba-tiba liontin Nisa mengeluarkan sinar biru.
Sepasang naga di liontin itu keluar dan berdiri di samping kiri dan kanan tubuh Nisa. Naga tersebut menundukkan kepala kepada tetua adat. Tentu saja hanya mereka yang menyaksikan hal tersebut. Mereka kemudian mengumumkan nama marga bagi pasangan suami istri tersebut.
Nisa dan Dito berdiri. Sepasang naga di sampingnya seperti memberi hormat kepada para tetua adat.
"Terimakasih saya haturkan kepada para tetua adat yang telah menerima kehadiran saya".
"Saya merasa tersanjung atas penghormatan yang anda semua berikan".
"Mohon jagalah cucu saya selama dia bertandang ke rumah anda semua".
__ADS_1
Semua orang terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan Nisa. Namun tetua adat kemudian menjawab perkataan nya.
"Cucumu sudah diterima di rumah kami".
"Kami akan mengawal dan menjaga nya dari segala macam gangguan selama di sini".
"Selanjutnya,, bawalah sepasang naga tersebut ke danau Toba, agar upacara penyambutan ini sempurna".
Nisa menunduk, tangannya diletakkan di hidung, menghaturkan sembah sujud sekali lagi kepada arwah leluhur yang mendiami tanah Medan. Dia tersenyum dan kemudian kembali duduk di kursinya.
"Apa sudah selesai mas,,, badanku capek sekali, padahal aku hanya duduk dari tadi".
"Sayang,,, wajar kau capek, hampir 1 jam kau menari untuk kami".
"Tarian tradisional Batak,,, aku malah baru tahu kemampuanmu".
Nisa merasa heran dengan kata-kata suaminya. Dia tak pernah belajar menari, apalagi tarian Batak.
Belum habis rasa heran nya, para tetua adat menyalami Nisa satu-persatu. Mereka terlhat
tersenyum bahagia. Masing-masing mengusap perut Nisa dan mendoakan bayi yang dikandungnya. Mereka bahkan ada yang menyebut Nisa putri dari kerajaan Jawa.
"Jaga baik-baik menantu mu, dia membawa banyak pengawal ke sini".
"Kami juga menaruh hormat kepada putri yang bersemayam di jiwanya".
Mertua Nisa terlihat senang dan juga bangga.
Para tamu satu-persatu sudah meninggalkan rumah Dito. Masih ada acara lagi nanti malam
pengajian dan acara adat 4 bulanan.
"Istirahat dulu sayang,,, kau pasti capek menari tadi".
"Jarang orang baru diterima dan dihormati tetua adat seperti dirimu".
"Iya ma".
Dito membawa Nisa masuk ke kamar. Pelayan sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Nisa meletakkan kain ulos yang baru saja diterimanya ketika cincin di jarinya mengeluarkan sinar merah. Sosok ibu ratu
berdiri di hadapannya.
"Nisa,,,jaga perilaku mu selama disini".
"Jangan melanggar pantangan di kampung ini".
"Hormati semua tempat yang kau singgahi, dan ucapkan permisi agar mereka tidak tersinggung dengan apa yang kau bawa".
"Baik, ibu ratu".
Nisa mengangguk mendengar perintah dari ibu ratu. Tak lama setelah nya, beliau menghilang.Secara khusus beliau hadir dan memberi wejangan langsung untuk Nisa.
__ADS_1
Nisa sudah mengganti pakaiannya. Dito datang dengan membawa makanan.
"Mas,,tolong antar aku ke danau Toba".
"Iya sayang, tapi tidak sekarang, nanti malam masih ada acara, besok kita berangkat".
"Makanlah dulu, anak kita tentu sudah kelaparan kan?".
"Anak papa ini lagi pingin disuapi sama papanya".
"Ok,,,apa saja untuk mu sayang, jangan kan menyuapi mu, memakan mu saja mas rela kok".
Nisa memukul kepala Dito dengan bantal. Niatnya menggoda Dito dibalas dengan candaan. Mereka berdua saling tertawa bahagia.
Malamnya diadakan pengajian dan santunan untuk anak yatim. Keluarga Dito mengundang panti asuhan dan seluruh karyawan tokonya.
Acara yang digelar lancar dan sukses. Mereka yang datang mendoakan agar anak yang dikandung Nisa sehat dan pintar, serta kehamilan nya lancar sampai persalinan.
Nisa sangat terharu melihat mewahnya acara yang digelar oleh mertuanya. Sepanjang acara berlangsung, mereka tak henti-hentinya memuji Nisa dihadapan teman dan saudara-saudaranya.
Namun, ditengah acara ada satu hal yang membuat Nisa merasa tidak nyaman. Kehadiran teman Dito yang bernama Ayu.
Dia adalah teman masa kuliah nya dulu.
Sejak datang, Ayu terus menempel pada Dito Tampaknya dia sangat menyukai suaminya itu.
Ayu tak membiarkan Dito dekat dengan Nisa.
Dari raut wajahnya, dia kelihatan sangat membenci Nisa. Dito juga tampak sangat nyaman berdekatan dengan nya.
"Nisa, Ayu itu masih kerabat jauh dari papa
mu, dari kecil Ayu dan Dito selalu bersama".
"Mereka hampir menikah, kalau saja Dito tidak pergi ke Jakarta".
"Jadi kau jangan heran kalau begitu bertemu, mereka saling melepas rindu".
Ibu Ayu berbicara kepada Nisa dengan nada mengintimidasi. Dia ingin menunjukkan hubungan keduanya. Seolah-olah mereka berpisah karena kesalahan Nisa.
Nisa menahan diri untuk tidak terpengaruh dengan sikap dan kelakuan Ayu yang selalu
mencari perhatian terhadap Dito.
"Tenang sayang,,, dia itu hanya ingin membuatmu marah".
"Mama heran,,, padahal mama tidak mengundang mereka, tapi mereka tak tahu malu, tetap datang ke sini".
"Nisa mengerti ma".
Nisa menyembunyikan kekesalannya kepada Dito dari mama. Sepanjang acara dia tetep tersenyum dan bersikap ramah. Sementara Dito dari tadi tidak meninggalkan Ayu sedikitpun dari sisinya.
__ADS_1