
Pagi yang cerah,,, secerah hati Nisa yang baru saja menerima telpon dari putri kecilnya. Di lihatnya Roy masih terlelap dalam tidurnya
Nisa memandang lekat wajah suaminya itu. Sungguh tak menyangka kalau akhirnya dia menjadi istri Roy. Lelaki yang sudah memberi begitu banyak kebahagiaan untuk dirinya dan keluarganya.
Nisa mengusap pipi Roy dan menciumi nya dengan gemas. Wajah nya terlihat begitu damai saat sedang tertidur.
"Jangan menggodaku sayang,, atau aku tak akan mengampuni mu seperti semalam".
"O...ya,,, apa kau masih sanggup Roy??".
"Apa kau menantang ku,,, kemari gadis nakal,,
aku akan memberi mu hukuman!!!".
Nisa berteriak ketika tubuhnya di seret Roy masuk ke dalam pelukan nya. Laki-laki itu masih belum berpakaian, setelah kegiatan nya semalam. Tak butuh waktu yang lama untuk membuat Nisa kembali merasakan kenikmatan dari laki-laki yang kini menjadi suaminya. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu untuk berbulan madu.
Sesaat setelah aktivitas keduanya usai, Nisa dan Roy mandi bersama dan di lanjutkan dengan menyantap sarapan mereka pagi itu.
Hari ini adalah hari terakhir bagi mereka untuk berlibur bersama. Nisa dan Roy sudah harus kembali ke kampung. Sudah terlalu lama keduanya meninggalkan putri kembarnya.
Sesaat setelah menghabiskan sarapan nya, Nisa melihat ada sesuatu yang mengintip di balik jendela kamar hotel. Bayangan wajah gadis kecil tengah menatap ke arah nya.
Nisa bangkit dan memeriksa jendela. Anehnya,,, tak ada apapun di sana. Nisa sungguh heran dengan penglihatan nya.
"Ada apa sayang,,, kau melihat sesuatu??".
"Tidak......mungkin aku hanya salah lihat saja".
"Sudah lah....kita pergi dari sini sekarang??".
"Iya,, anak-anak pasti sudah menunggu di rumah".
Roy membawa koper dan melangkah keluar dari kamar hotel. Mereka segera menuju meja resepsionis untuk mengembalikan kunci, setelah itu lanjut keluar dari hotel. Tak ada yang tahu kalau di belakang Nisa, ada sosok gadis kecil yang mengikutinya sejak keluar dari kamar hotel tadi.
Nisa dan Roy sudah berada di dalam mobil menuju kampung halaman nya. Sosok gadis kecil itu pun ikut serta, duduk di kursi belakang. Nisa yang masih belum pulih benar, tidak menyadari keberadaan nya. Hanya, dia
merasa ada yang aneh dengan perjalanan nya kali ini.
"Kenapa dari tadi kau kelihatan gelisah Nisa??".
"Entah lah Roy,,aku merasa ada sesuatu yang aneh kali ini".
"Apa...mungkin hanya perasaan ku saja".
"Sepertinya ada yang sedang mengawasi kita".
"Mana mungkin,,, aku yang sedari tadi mengawasi mu".
"Kau terlihat semakin cantik, jadi aku harus waspada mulai sekarang".
"Jangan bercanda Roy,, aku serius!!".
__ADS_1
Roy menggenggam jemari Nisa dan mencium nya lembut. Dia tahu kalau istrinya itu sedang gelisah. Sekedar menenangkan hatinya agar tak terlalu terlihat cemas.
Dua jam perjalanan dari kota, Nisa dan Roy akhirnya sampai di rumah nya. Mobilnya masuki pelataran rumah bapak. Dari dalam rumah, kedua putri Nisa berteriak kegirangan menyambut kedatangan kedua orang tua nya.
Nisa turun dari mobil dan berlari memeluk Sheina dan Sheila. Hampir seminggu lamanya Nisa meninggalkan mereka berdua.
"Ah....kalian sudah bertambah besar sekarang".
"Mama sudah tidak kuat lagi kalau harus menggendong kalian berdua".
"Sini,, biar papa Roy yang menggendong anak papa yang cantik-cantik ini".
"Kalian merindukan papa bukan??".
"Aku mau oleh-oleh nya ma!!".
"Oh.....jadi kalian hanya ingin oleh-oleh, bukan papa dan mama?".
Kedua putri Nisa tertawa bersamaan. Raut wajah mereka berbinar saat melihat Roy mengeluarkan dua kotak berisi boneka Barbie kesukaan keduanya.
"Siapa yang mau hadiah ini, harus cium papa Roy dulu".
"Aku mau papa,,, aku mau...!!!".
Sheina dan Sheila berebutan mengambil boneka Barbie dari tangan Roy. Mereka kemudian berlari menuju ke kamarnya. Bapak tersenyum melihat Roy yang begitu perhatian kepada kedua cucunya. Tidak salah kalau waktu itu bapak memilih Roy menjadi suami Nisa.
"Bagaimana perjalanan kalian,,,lancar???".
"Iya pak,, urusan penjualan rumah, Anton yang akan menangani nya".
"Syukurlah....bapak senang kalau urusan kalian selesai".
"Kalian pasti capek,, istirahat dulu sana".
"Ibu sudah memasak makanan untuk kalian".
"Sana Nisa,, layani suami mu!!".
"Baik pak".
Nisa dan Roy membawa koper mereka ke kamar. Keduanya beristirahat sejenak, melepas lelah setelah perjalanan yang lumayan jauh dari kota.
"Kau sudah jauh lebih baik setelah bertemu kedua putri mu".
"Mungkin kau hanya mencemaskan mereka tadi".
"Iya mas,, mungkin aku kecapekan".
"Peristiwa di hotel kemarin sedikit banyak juga menguras tenaga ku".
"Ah....apa kabar mbak Tanti sekarang".
__ADS_1
"Ku harap, dia bisa memulai hidup nya yang baru, setelah kita berhasil melepaskan nya dari jeratan iblis".
"Semoga saja Nisa,, kasihan wanita itu".
"Sudah banyak kemalangan yang di alaminya, sebelum akhirnya kau berhasil menolongnya".
Nisa jadi kangen dengan mbak Tanti. Tentunya wanita itu sekarang sudah tiba di kota yang di tuju nya. Dia akan memulai hidup baru, jauh dari suami jahatnya. Dan tentunya tak di Bebani dengan makhluk halus lagi.
Sayangnya, bayangan indah Nisa itu tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah keluar dari hotel, suami mbak Tanti berhasil menangkap nya. Dia menyekap nya di dalam kamar di rah nya. Tentu saja dia harus melayani makhluk halus piaraan nya, karena waktu itu, Nisa tak sempat memusnahkan nya. Mereka kembali kepada tuan nya, setelah menghilang dari serangan Nisa.
Sungguh malang nasib mbak Tanti, harus menjadi budak iblis. Mungkin kali ini tak ada yang bisa menyelamatkan nya. Mbak Tanti berharap, dirinya bisa segera mati saja, daripada harus menjadi budak iblis pesugihan milik suaminya.
Siang hari nya, keluarga Nisa berkumpul di ruang makan. Sofia terlihat sibuk menyuapi makan si kembar. Gadis itu sangat tulus merawat kedua buah hati Nisa. Dia bahkan melupakan dirinya sendiri.
"Sofi, anak-anak hari ini tidak sekolah??".
"Maaf Bu Nisa, mereka menunggu kepulangan Bu Nisa dan Pak Roy, jadi tidak mau berangkat".
"Saya sudah membujuknya berkali-kali, tetapi mereka tak mau dengar".
"Terpaksa saya ijin ke sekolah".
"Anak-anak,, benar yang di bilang mbak Sofia barusan??".
"Tapi ma,, kami tidak pernah libur kan??".
"Hanya sekali saja, setelah ini tidak lagi".
"Kami minta maaf mama!!".
"Baiklah,,, kali ini mama maafkan kalian,, tapi lain kali tidak boleh seperti itu lagi, mengerti??".
"Iya ma".
Keduanya kembali bermain dengan boneka nya. Sementara, bapak dan Roy sedang bercakap-cakap di meja makan.
"Jadi, kalian akan segera pindah ke kota??".
"Tidak dalam waktu dekat ini pak".
"Saya masih betah tinggal di sini, kalau bapak mengijinkan".
"Tentu saja Roy, bapak justru senang kalau kalian lebih lama lagi berada di sini".
"Bapak dan ibu hanya punya kalian sekarang".
Di usia senja ini, bapak ingin menikmati kebersamaan dengan anak dan cucu bapak".
"Tak ada lagi yang kami inginkan, kami sudah tua Roy, hanya ingin di temani oleh kalian saja".
"Tenang saja pak, Roy dan Nisa akan selalu menemani bapak di sini".
__ADS_1
Nisa sangat salut dengan sikap Roy. Dia tidak egois. Mau menuruti kemauan bapak. Beruntung sekali Nisa mengenal laki-laki sebaik dirinya. Roy adalah pilihan yang tepat untuk nya dan kedua putrinya.
...****************...