Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kecewa.


__ADS_3

Dari depan pagar rumah nya, Nisa menatap Mohana yang berjalan menghampiri Roy di depan rumah. Betapa Nisa sudah berteriak sangat kencang memanggil suaminya tersebut, namun rupanya Nisa seolah makhluk tak kasat mata di depan mata Roy. Justru sebaliknya, Mohana lah yang kini menguasai hati dan pikiran suaminya.


Nisa menjatuhkan diri di pinggir jalan. Kedua kalinya dia harus merasakan kecewa karena kehilangan orang yang begitu di cintai nya. Suara tangisan nya begitu kencang hingga menarik perhatian salah seorang pengendara. Dia berhenti di depan Nisa dan turun menghampirinya.


Di pandanginya wajah kusut Nisa, sembari mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, dan di angsurkan ke depan wajah Nisa. "Hapus air mata mu, kau kelihatan sangat kacau sekali", ucapnya lirih sambil berjongkok memperhatikan raut wajah wanita cantik di hadapan nya.


Nisa mendongak ke atas dan memperhatikan raut wajah yang sudah sangat di kenalnya tersebut. Di ambilnya sapu tangan pemberian nya, sembari mengelap air mata yang masih menggenang di wajahnya."Terimakasih Alan,,tapi aku baik-baik saja", sahut Nisa masih tetap menyeka mukanya yang terlihat kusut dan sembab. "Omong-omong Alan,,kenapa kau datang kemari?". Nisa berhenti dan menatap serius ke arah Alan."Bukan nya Roy sudah menyuruh mu kembali ke Jakarta bukan??", sambung nya lagi.


"Aku mengkhawatirkan diri mu, m...maksud ku anda bu Nisa", ralat Alan agar Nisa tak curiga.


Nisa menelisik wajah Alan, seperti orang yang di kenalnya. Wangi sapu tangan ini mengingatkan parfum seseorang yang begitu familiar di hidung nya. "Dari mana kau membeli parfum merk ini Alan??". Nisa bertanya sambil masih menciumi sapu tangan yang bekas di pakainya.


"Lupakan itu bu, mari ikut saya sekarang".


"Bu Nisa sudah menjadi tontonan para pengguna jalan", tungkas Alan sambil menggandeng tangan Nisa dan membawa masuk ke dalam mobil. Kedua nya segera pergi meninggalkan rumah Roy, menuju ke hotel tempat Nisa menginap.

__ADS_1


Senyum kemenangan tersungging di bibir Mohana yang menyaksikan kejadian di depan rumah nya dari balik jendela kamar. Kali ini, dia sangat yakin kalau usahanya merebut Roy sudah pasti berhasil. Tinggal menunggu waktu, dan Mohana secepatnya bisa menyerupai manusia seutuhnya.


"Apa yang kau lihat sayang, apa ada sesuatu di luar sana?", ujar Roy sambil tangan nya memeluk Mohana dari belakang. Wanita itu terkejut dengan kehadiran Roy yang tiba-tiba. Dia kemudian berbalik dan merebahkan kepalanya di bahu Roy sambil berbisik mesra di telinganya. "Aku hanya sedang melamun sayang, membayangkan kebahagiaan kita berdua", ujarnya sambil mendongak. "Andai kita punya anak lagi, alangkah bahagia nya hayi ku ini", sambung Mohana memancing reaksi dari Roy.


"Kita akan memilikinya, kalau itu yang kau ingin kan Nisa",tukasnya cepat sambil tangan nya aktif bergerak di bagian sensitif tubuh Nisa. Roy menatap mesra wajah Mohana sembari berbisik di telinga nya, "kita bisa mulai sekarang juga kalau kau sudah siap". Mohana tersenyum, kerlingan mata nakalnya, sukses menghipnotis Roy. Tangan kekar itu langsung mengangkat tubuh Mohana ke atas ranjang. Sudah bisa di banyangkan kelakuan panas kedua pasangan tersebut. Sesuai dengan keinginan Mohana. Apalagi kalau dia berhasil mendapatkan keturunan dari Roy nanti nya. Sempurna...keinginan nya untuk menggantikan Nisa.


Alan dan Nisa sampai di hotel menjelang senja. Penampilan nya se kacau hatinya. Bagaimana tidak, suami nya sudah di ambil oleh wanita lain, tepat di depan wajahnya. Sementara dirinya tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Mohana sudah merencanakan segalanya dengan begitu matang. Tak ada celah sedikitpun bagi Nisa meyakinkan Roy. Jangan kan meyakinkan Roy, untuk sekarang ini mungkin akan sangat sulit melihat wajah suami nya lagi.


"Kita sudah sampai bu, anda bisa masuk dan beristirahat sekarang",ucap Alan sembari membukakan pintu mobil untuk Nisa. "Kalau ibu butuh sesuatu, tinggal hubungi ponsel saya saja, kamar kita bersebelahan", lanjut nya lagi. Nisa terdiam mendengar ucapan Alan. Entah di mana pikiran nya saat ini. Langkahnya gontai memasuki pintu hotel menuju ke kamar nya. Alan pun dengan setia berdiri di belakangnya, takut terjadi sesuatu pada Nisa.


Sepanjang jalan di lihatnya raut wajah Nisa. Dia seperti kehilangan harapan hidup. Tubuhnya bak mayat hidup, sama sekali tak ada cahaya di matanya. Alan terlihat menahan marah. Sebegitu cinta nya kah Nisa pada Roy?. Sementara diri nya adalah Dito suaminya dahulu. Kehilangan Dito dahulu, Nisa tidak sekacau saat ini. Wajar bagi Alan untuk merasa sangat cemburu pada Roy.


"Nisa.....berhenti!!!", teriaknya keras, mengagetkan Nisa dari lamunan nya. Dia baru sadar kalau kamarnya sudah terlewat. "Ayolah.....


tak ada gunanya kau seperti ini", lanjut Alan sambil menarik tangan Nisa kembali ke depan pintu kamar. "Sadar lah....kau tidak akan bisa membawa Roy kembali sementara diri mu sendiri kacau begini". "Kau sama sekali bukan Nisa yang ku kenal!!", teriak Alan lantang di telinga Nisa.

__ADS_1


"Ku rasa....aku sudah kalah Alan", jawab nya lirih.


"Roy tak mungkin kembali pada ku", sambungnya.


"Kau tahu....dia bersama dengan wanita yang menjelma menjadi diri ku".


"Sangat tidak mungkin Roy menyadari kalau wanita di depan nya bukan Nisa yang asli", ucap nya pasrah. Nisa telah menyerah rupanya. Sulit baginya melawan Mohana. Iblis itu tahu betul bagaimana menjelma menjadi sosok Nisa.


Alan terdiam mendengar keluh kesah Nisa. Saat ini dirinya harus rela menjadi pendengar yang baik bagi mantan istrinya. Di satu sisi Alan gembira karena Roy tak lagi di samping Nisa. Namun, di sisi lain Alan juga merasa kecewa melihat kesedihan Nisa yang kehilangan suami.


Alan membuka pintu kamar hotel dan membawa Nisa masuk ke dalam. Sangat tidak mungkin di waktu ini meninggalkan Nisa sendirian saja di kamar. Pria itu merebahkan tubuh Nisa di sofa ruang tamu. Pikiran nya masih saja kosong dan terlihat tak bersemangat sama sekali.


Alan berjalan ke pantri dan menyeduh secangkir kopi. Dia membawa ke ruang tamu dan mengangsurkan ke depan muka Nisa.


"Minum lah Nisa, kau akan lebih baik setelah nya", ucap Alan lirih. Perhatian nya mengingatkan Nisa pada seseorang dari masa lalu nya. Sejenak dia berhenti meminum kopi dan menatap ke dalam mata Alan. "Aku seperti mengenal mu", ucap nya penasaran.

__ADS_1


Ditatap secara intens membuat Alan jengah. Dia berdiri dan mengalihkan pandangan dari wajah Nisa. "Tentu kau mengenal ku, aku sudah lama menjadi teman kalian bukan?", ujarnya mengalihkan pembicaraan. "Tidak....kau seperti, semua hal yang kau lakukan pada ku memgingatkan ku pada almarhum suami ku Dito". Nisa masih saja bersikukuh dengan sangka annya. Dalam hati Alan, dia bersorak gembira. Nisa mulai kembali ingatan nya. Tapi, belum saatnya untuk mengungkapkan semua hal pada Nisa sekarang. Bukan waktu yang tepat menurut Alan. Nisa masih kecewa dengan ulah Roy dan iblis wanita di luar sana.


...****************...


__ADS_2