
"Bapak sudah lama menjadi penjaga makam".
"Arwah- arwah di sini sering menampakkan diri dan bercerita, termasuk Mawar".
"Ketika berangkat kemari, dia membawa batu giok, warisan keluarganya".
"Sampai saat ini pun mereka belum tahu kalau Mawar sudah meninggal".
"Jadi keinginan Mawar, selain membalas dendam, dia juga ingin berpamitan dengan keluarganya dan mengembalikan giok tersebut kepada mereka".
"Saya mengerti pak,,,tapi sampai saat itu, mungkin suami saya sudah meninggal".
"Kondisi fisik nya tidak mungkin membuatnya bertahan lama, jauh dari arwah nya".
"Tugasmu hanya mencari batu giok itu dulu,tentang suami mu, serahkan semua urusan kepada Yang Maha Pencipta".
"Kalau kalian ditakdirkan bersama,,Dia mempunyai cara tersendiri untuk menyatukan kalian nanti".
"Lalu,,,apa yang harus saya lakukan,,saya sama sekali tidak mengenal Mawar".
"Wajahnya mirip sekali dengan mu,,tinggal kau berdandan seperti dirinya".
"Pergilah ke bar tempat Mawar bekerja".
"Setelah itu, kau akan tahu nanti harus berbuat apa"
"Tapi pak,,,bukan kah akan sangat beresiko, mengingat Mawar adalah pekerja malam".
"Bukan tak mungkin Nisa akan diperlakukan tak senonoh nantinya".
"Lebih baik kau pikirkan lagi Nisa".
"Tentang Dito, kita lihat dulu perkembangan nya".
"Kau bisa minta bantuan Ki Santoso untuk melawan Mawar".
"Kehidupan pribadi nya sama sekali bukan urusan mu".
"Kalian akan berpikir lain setelah mendengar cerita tentang Mawar ini".
"Dia hanya korban,,, orang terdekatnya sudah mengambil keuntungan darinya".
Penjaga makam lantas menceritakan kisah hidup Mawar yang di peroleh nya sewaktu berkomunikasi dengan nya. Gadis lugu yang menjadi korban kelicikan manusia kota. Nisa sampai menangis mendengar cerita penjaga makam. Nisa kemudian memutuskan untuk membantu sebisanya.
Setelah mendengar cerita penjaga makam, Nisa dan Roy kembali ke rumah sakit tempat Dito di rawat. Nisa langsung dipanggil karena kondisi Dito yang terus menurun. Dengan mengenakan baju steril, Nisa masuk ke ruang
ICU. Betapa terkejutnya dirinya karena arwah Mawar berada dia atas kepala Dito. Lengan nya memeluk Dito erat sehingga dia kesulitan bernafas. Sesekali arwahnya duduk di atas badan Dito yang tengah terbaring tak berdaya.
"Hentikan Mawar, sudah cukup kau berbuat ulah".
"Lepaskan Dito, jangan kau tambah lagi kesakitan nya".
"Setidaknya, biarkan dia berjuang".
Arwah Mawar tertawa mengejek, mendengar permohonan dari Nisa. Ini sudah sering dilakukan Mawar sebelum menghabisi para korban nya. Dia akan menyiksa dan bermain-main dengan jasad yang sudah sekarat.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, monitor penopang alat kehidupan Dito berbunyi. Mawar berteriak kegirangan. Sebentar lagi, arwah Dito akan menemaninya. Satu orang korban lagi berhasil dia habisi.
"Kau bukan seperti Mawar yang dulu".
"Kalau seperti ini, kau sama seperti teman mu itu?".
"Kalian telah berubah menjadi jahat".
"Kau tega,, mengorbankan nyawa orang yang tidak berdosa".
Wajah Mawar berbalik dan menyeringai menakutkan mendengar kata-kata Nisa. Dalan sekejap mata, arwah Mawar sudah berada dihadapan nya. Matanya melotot dan wajahnya penuh darah. Rambutnya juga acak-acakan. Dia terlihat sangat menakutkan. Nisa memejamkan mata, tak tega melihat nya.
"Kau pun jijik kan menatap ku seperti ini???".
"Seperti inilah malam itu mereka memperlakukan ku".
"Mereka memperkosa ku tanpa ampun".
"Caci-maki, siksaan bahkan organ vital ku sampai rusak".
"10 laki-laki biadab telah menghancurkan hidup ku".
"Dan kau sebut aku jahat??".
"Apa salahnya jika aku ingin merubah nasib di ibu kota".
"Sampai hati mereka memperlakukan ku seperti ini".
"Bahkan suami mu pun sama saja".
"Setelahnya, dia campakkan aku seperti sampah agar bisa kembali pada mu".
"Apa itu memang sudah sifat kalian??".
"Dunia ini memang sungguh kejam, tidak berperikemanusiaan".
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengejar teman mu".
"Malah sibuk mencari hidung belang untuk kau jadikan tumbal".
"Seharusnya, mereka berdua yang telah menjual mu yang harus kau jadikan sasaran".
"Nyatanya mereka masih tetap menikmati hasil dari kematian mu".
"Aku tidak bisa menyentuh mereka"
"Mereka membawa batu giok,, jimat warisan leluhur ku".
"Kalau kau bisa, ambilkan itu untuk ku".
"Setelahnya, aku sendiri yang akan mengurus mereka berdua".
"Baik,, aku akan membantu mu".
"Tapi sampai saat itu, jangan kau sentuh suamiku".
__ADS_1
"Dan kau harus tetap ada di dekat ku, aku butuh belajar menjadi diri mu Mawar".
"Kau juga harus melindungi ku di saat ada bahaya mengancam ku".
"Baiklah,,, aku setuju!!".
Nisa dan Mawar sepakat untuk memberi pelajaran pada Susi dan mucikari nya. Dengan begini, bukan saja Nisa membalaskan dendam Mawar, tapi dia otomatis juga melindungi gadis-gadis kampung yang lain agar tidak bernasib sama seperti Mawar. Mereka merantau ke kota dengan harapan meningkatkan ekonomi nya menjadi lebih baik, nyatanya sampai di kota hanya di jadikan wanita penghibur.
Nisa keluar dari ruang ICU. Mulai sekarang, arwah Mawar menempel terus padanya.
Kalau orang-,orang melihat, sepintas mereka memang mirip. Mawar menjelaskan rencana nya kepada Nisa. Layaknya dia seorang manusia saja. Berbicara dengan hantu, Nisa harus menjaga sikapnya. Salah-salah malah dia dikira orang gila.
"Kenapa kau diam saja,,mengerti tidak dengan yang ku jelaskan barusan??".
Mawar jengkel karena Nisa hanya mengangguk saja. Tapi Mawar juga tidak melihat situasi. Rumah sakit ini sedang jam berkunjung. Dan koridor penuh dengan keluarga pasien. Makanya Nisa menahan diri untuk tidak menjawab Mawar.
Mawar yang jengkel, bergerak berpindah-pindah di sekeliling Nisa. Dia memasang wajah cantik hingga tampang yang paling seram untuk menarik perhatian nya. Nisa hanya bisa menutup wajahnya. Sesaat kemudian, dia berdiri dan menuju toilet rumah sakit. Tentu saja Mawar mengekor di belakang nya.
"Kau ini sebenarnya kenapa sih Nisa,,aku sudah berbusa bicara dengan mu, tapi kau tetap diam saja".
"Hello........kau lupa kalau kau ini hantu".
"Mereka bisa menyangka aku gila kalau bicara sendiri".
"Oh.....begitu,,,aku memang kadang mengira kalau diri ku ini masih hidup".
"Baiklah......aku hanya akan bicara di depan mu, jadi kau tak perlu menjawab lagi".
"Sekarang kau temui arwah suami mu, dia sedang membutuhkan mu saat ini".
Nisa keluar dari toilet dengan perasaan campur aduk. Dia masih tak menyangka hidupnya akan jadi seperti ini. Memenuhi permintaan hantu gadis desa yang sedikit kampungan. Semoga saja Nisa kuat menghadapinya.
Nisa masuk ke ruang ICU dan langsung menemui Dito. Nisa memandangi tubuh Dito yang terbaring penuh luka. Semua ini tak akan terjadi seandainya Dito tidak bermain api. Sekarang setelah tahu semuanya, marah pun percuma rasanya.
"Kau tampak lelah Nisa,,, beristirahatlah di rumah".
"Aku akan menerima takdir apa pun yang akan menimpa diri ku".
"Aku hanya memohon padamu, kalau mungkin, tolong maafkan kesalahan ku".
"Wanita sebaik dirimu,,,,aku sudah tega sekali mengkhianati mu".
"Mungkin inilah hukuman bagi ku".
"Berhentilah bicara mas,, mari kita sama-sama berjuang".
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sisi mu".
"Bersemangat lah,,, itu akan membantu mu supaya lekas sadar".
"Urusan Mawar, biar aku yang tangani".
Inilah cinta sejati Nisa untuk Dito.Dia tulus merawat dan menemani Dito dengan kondisi nya yang seperti ini. Walaupun Dito hendak meninggalkan dirinya, nyatanya Nisa tetap setia di samping nya.
...****************...
__ADS_1