Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Sakit Kepala.


__ADS_3

Di kamar hotel, Nisa masih terlihat ketakutan.


Bayangan kepala buntung berambut panjang di lift tadi, masih menghantui nya. Kalau saja tidak ada pengunjung hotel lain tadi, Nisa dan Roy mungkin sudah di lilit oleh rambut panjangnya.


"Sepertinya kita memilih hotel yang salah Roy".


"Ini hotel berhantu,, mungkin penampakan tadi tewas di dalam lift".


"Aku mana tahu Nisa, ini hotel bintang lima, terkenal di Jakarta".


"Justru mungkin hotel terkenal, kerap kali memakai tumbal".


"Ya sudah,, kau minum dulu saja, setelah itu baru istirahat".


"Kondisi mu juga kurang bagus sejak berangkat tadi pagi".


"Kau benar Roy, kurasa aku harus meminum obat dari dokter tadi".


"Atau aku akan terus berhalusinasi".


Roy membantu Nisa meminum obat dan membaringkan istrinya ke tempat tidur. Pusing di kepalanya masih belum berkurang.


Di tambah lagi, sepertinya penglihatan Nisa sedikit demi sedikit sudah kembali. Jadi, Roy harus ekstra hati-hati menjaga Nisa.


Roy membuka laptopnya, sementara istrinya sedang tidur. Obat yang di berikan oleh dokter membuatnya bisa tertidur walau sebentar. Roy menghubungi Anton untuk urusan perusahaan yang akan segera di tinggalkan olehnya. Rumah kontrakan Roy pun nantinya akan meminta tolong Anton mengurusnya.


"Anton, aku sudah sampai di Jakarta, tapi kebetulan Nisa sedang tidak enak badan".


"Nanti aku akan menghubungi mu, dan kita bertemu".


"Memangnya sakit apa Nisa?".


"Kepalanya terasa pusing, aku sudah membawanya ke rumah sakit tadi".


"Dokter bilang itu karena amnesia nya kemarin".


"Dia sedang istirahat sekarang".


Di tengah-tengah pembicaraan Anton dan Roy, tiba-tiba Nisa berteriak ketakutan. Keringatnya mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Dia mengigau sambil masih memejamkan matanya. Roy langsung meletakkan ponselnya dan menghampiri Nisa. Dia membangunkan dan memberikan air minum supaya Nisa tenang.


"Kau kenapa Nisa,,mimpi buruk lagi?".


"Ayo,, di minum dulu biar kau tenang".


Roy mengusap keringat yang menetes di kening istrinya. Dia lalu memeluk tubuh Nisa yang masih gemetar.


"Katakan padaku, apa yang kau lihat di mimpi mu".


"Wanita itu,, mereka meminum darah nya Roy".


"Orang-orang itu sangat kejam".


"Mereka juga memaksa ku untuk melakukan nya".


"Aku tak bisa menyelamatkan wanita itu, kasihan dia Roy".


"Tenang Nisa, kau hanya bermimpi".


"Kau aman di sini, aku bersama mu".


"Itu bukan mimpi Roy,, aku ada di sana, menyaksikan mereka minum darah".


"Tapi ada seseorang yang bersama ku".


"Laki-laki itu,, wajahnya seperti tak asing".

__ADS_1


Nisa memegangi kepalanya. Ketika mencoba mengingat, dia merasa kesakitan.


"Jangan kau paksakan untuk mengingat Nisa".


"Dokter bilang kau tak boleh memforsir tenaga mu".


"Biarkan ingatan mu yang datang sendiri".


"Atau kau akan tersiksa menanggung rasa sakit di kepala mu".


"Sudah,, berbaring lah....kau harus banyak istirahat".


"Aku takut Roy,, kalau tertidur, mereka semua pasti datang menghampiri ku".


"Kau disini saja, jangan pergi ke mana-mana".


Nisa memegang erat lengan Roy. Dia seolah tak ingin melepaskan nya. Saking takutnya Nisa dengan bayangan-bayangan yang memenuhi pikiran nya.


Roy menemani Nisa di atas tempat tidur. Dia membayangkan betapa buruknya peristiwa yang di alaminya selama berada di rumah Alan. Mengingat di sana lah sarang iblis yang sudah merasuki dan mengikat Nisa selama ini. Tentu tak mudah bagi Nisa untuk mengingat kembali peristiwa tersebut, setelah dia mendapatkan kesadaran nya kembali.


Nisa memejamkan mata di pangkuan Roy. Lelaki itu mengusap kepalanya, sementara Nisa tak melepaskan genggaman tangan nya sama sekali. Justru dia semakin erat mencengkeram jemari Roy.


Di seberang telpon, Anton masih menantikan suara Roy yang sempat menghilang. Dia lupa mematikan ponselnya, jadi Anton bisa mendengar suara Nisa yang berteriak-teriak histeris.


"Ada apa mas,, kau kelihatan cemas".


"Itu tadi suara Nisa, kelihatan nya dia sangat ketakutan Ratri".


"Memangnya Nisa ada di sini?".


"Dia baru saja tiba dari Yogya, tapi sekarang sedang tidak enak badan".


"Roy bahkan tidak sempat mematikan ponselnya".


"Apa kita harus kesana menemuinya?".


"Memastikan kalau Nisa baik-baik saja".


"Anak itu,,, dia sudah melalui banyak hal untuk sampai di saat sekarang".


"Bahkan dia juga kehilangan Dito".


"Sementara kedua anaknya masih memerlukan ayah nya".


"Kau jangan khawatir Ratri,, sekarang sudah ada Roy di sampingnya".


"Roy akan selalu melindungi Nisa dan memastikan dia dan putrinya bahagia".


"Aku kenal baik dengan nya".


"Aku percaya mas, Roy pasti bisa menggantikan posisi Dito yang kosong".


Selama setengah jam keduanya menunggu, namun Roy tak kunjung merespon. Akhirnya Anton dan Ratri mengunjungi mereka di hotel tempat Roy menginap.


Anton mengetuk pintu kamar hotel yang sudah di beritahu oleh resepsionis. Setelah menunggu beberapa saat, Roy keluar dan membukakan pintu.


"Kalian,, ayo masuk...ada angin apa bisa sampai kemari".


"Kami mencemaskan Nisa,, apa dia baik-baik saja??".


"Iya,, dia sudah tenang sekarang".


"Ayo,, silahkan kalian masuk".


Anton dan Ratri masuk ke dalam kamar Nisa. Gadis itu masih berada di atas tempat tidur. Ketika melihat Ratri datang, dia langsung bangun.

__ADS_1


Mata Nisa tampak seperti sedang memperhatikan sesuatu di belakang Ratri. Bukan nya menyapa kedua sahabatnya, dia justru melangkah menghampiri belakang punggung Ratri.


Tangan Nisa di satukan dan memberi salam pada sosok yang di bawa oleh Ratri.


"Selamat datang Mbah,, salam hormat dari cucu mu".


Nenek tua itu mengangguk sambil tersenyum. Badan nya yang bungkuk dan rambutnya yang sudah berubah, tidak lah mengurangi wibawa perempuan tersebut.


Dialah sosok penjaga Ratri, yang selalu menemani dirinya, di manapun dia pergi.


"Sudah Nis, bukan kah kalian dulu sudah pernah bertemu".


"Aku tak tahu kalau badan mu ada yang menjaga Ratri".


"Tapi, Simbah ini baik, dia masih leluhur mu".


"Kau seperti baru tahu saja,, sudah berapa lama kita bersama?".


"Kau sudah pasti tahu kan, siapa penjaga ku".


"Maaf Ratri, mungkin Nisa sudah lupa".


"Ingatan tentang masa lalunya baru akan muncul kembali".


"Mungkin dia merasa, ini adalah sesuatu yang baru".


"Tolong kalian bantu jelaskan kepadanya".


"Aku sendiri kadang bingung mesti menjawab


bagaimana".


"Nisa, kau punya kemampuan seperti kami, bisa melihat sosok gaib".


"Tapi, jangan terlalu serius ingin mencari tahu".


"Cukup lihat dan pelajari apa yang tampak didepan mu".


"Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya".


"Benarkah,,,,apa seperti mimpi ku selama ini".


"Aku bersama seorang laki-laki".


"Sepertinya, dia mengenal baik diri ku".


"Itu mungkin suami mu Dito".


"Selama ini kalian selalu bersama bukan??".


"Sayang nya, Dito tak bisa di selamatkan".


"Mungkin saja kau benar Ratri".


"Mungkin dia suami ku yang sekarang menjaga diri ku".


Nisa masih ingin berpikir, tapi Roy mencegahnya. Dia takut Nisa akan kembali sakit kepala.


"Sudah cukup untuk hari ini".


"Kondisi pun sedang tidak baik, kau ingat kan?".


"Iya, Roy benar Nisa, kami sebaiknya pulang, supaya kau bisa istirahat lagi".


Ratri dan Anton berpamitan pada Nisa. Mereka sudah cukup puas melihat keadaan Nisa. Setidaknya, tak ada yang perlu di khawatirkan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2