Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Tamu tak Terduga.


__ADS_3

Sepeda motor yang di kendarai Nisa dan Roy, memasuki pelataran rumah nya. Keduanya turun dari sepeda motor. Bapak dan ibu menyambut di depan pintu dengan raut wajah gembira.


"Syukurlah kalian bisa pulang dengan selamat".


"Sudah seminggu ini kami terus mencari keberadaan kalian".


"Perasaan, kami hanya singgah semalam di kampung Kahyangan".


"Mana bisa kami hilang seminggu lamanya pak??".


"Karena kalian berdua masuk ke kampung gaib, jadinya waktunya berbeda".


"Sehari di sana, bisa jadi seminggu di sini".


"Untung saja kalian bisa keluar dengan selamat".


"Biasanya mereka jarang mengembalikan korban nya hidup-hidup".


"Tapi mereka baik pak, justru menolong saya dan Nisa memperbaiki motor yang rusak".


"Sudah,, masuk dulu kalian, sebentar lagi Mbah Cokro datang".


"Biar dia yang menjelaskan semua pada kalian".


"Bapak meminta tolong Mbah Cokro, untuk menemukan kalian".


"Bapak dan ibu sudah bingung, mau cari kalian di mana lagi".


Nisa dan Roy masuk ke dalam rumah. Mereka mandi dan berganti pakaian. Mereka berdua juga melepas rindu dengan si kembar. Sampai Mbah Cokro datang ke rumah.


"Akhirnya mereka mau melepaskan kalian juga".


"Kalian bisa pulang dengan kondisi selamat dan utuh".


"Itulah, makanya aku sering bilang kepada pengantin baru untuk tidak keluar rumah dulu selama 40 hari".


"Kecuali ada kepentingan mendesak yang tidak bisa di tunda".


"Penghuni pasar Bubrah itu, mungkin masih mengincar kalian berdua".


"Kemarin saat aku meminta, sepertinya mereka sudah sekali melepas kalian pergi".


"Kami minta maaf Mbah,,bukan maksud kami untuk menyusahkan Mbah Cokro".


"Kami hanya bermaksud membeli barang di Malioboro".


"Rupanya, kami berdua malah tersesat sangat jauh".


"Roy,, Nisa,,,mereka masih belum melepaskan kalian".


"Penghuni pasar bubrah tersebut tadi mengikuti kalian berdua sampai ke sini".


"Aku akan berusaha membuat mereka agar tidak lagi mengganggu kalian, terutama Nisa".


"Kalian istirahat dulu, biar aku yang melihatnya dari rumah".

__ADS_1


Mbah Cokro segera pamit pulang. Dia harus melakukan ritual supaya penghuni gaib pasar Bubrah tidak mengganggu Nisa. Tadi Mbah Cokro sempat melihat dalam penerawangan nya, sosok gaib yang menemani perjalanan Nisa dan Roy pulang ke rumah. Sosok gaib tersebut tertahan untuk masuk karena ada penunggu hutan larangan yang menghadang nya. Tapi bukan tak mungkin dia masih akan terus mengganggu Nisa dan Roy nantinya.


"Sana,,,kalian istirahat saja dulu".


"Tentunya kau dan Roy capek, setelah berkendara cukup jauh".


"Jangan pikirkan apapun, biar bapak dan Mbah Cokro yang mengatasinya".


"Baik pak".


Nisa mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar. Semalam kemarin memang mereka tidak tidur sedetik pun. Tak tahu nya memang kampung yang mereka datangi bukan kampung yang sebenarnya.


"Ini lah kenapa aku tak mau pergi dari Yogya Nis".


"Bapak dan Mbah Cokro selalu membantu tanpa di minta".


"Orang tua tak akan pernah membiarkan anak mereka menderita".


"Mereka akan selalu ada untuk kita".


"Kau benar sekali mas".


"Aku senang karena kau bersedia hidup dan tinggal disini".


"Istirahatlah.....kau juga capek kan??".


Nisa berbaring di samping Roy. Kali ini Nisa merasakan ketenangan. Tidak seperti waktu dulu, Nisa selalu merasa gelisah dan was-was. Mungkin karena Roy bisa memahami perasaan Nisa dan mencintai dirinya dengan tulus. Makanya Nisa merasa nyaman berada di sisinya.


Menjelang sore hari, baru Nisa dan Roy terbangun. Pintu kamar mereka di ketuk oleh ibu, karena ada tamu dari Jakarta. Nisa tentu saja heran, dan segera membuka pintu kamarnya untuk menemui tamu dari Jakarta tersebut.


"Alan,, kau tahu dari mana kalau rumah Nisa di sini".


"Aku bertanya pada pak Anton, dia yang memberi alamat ini".


Alan tentu saja tahu alamat lengkap Nisa. Rumah ini sudah berulang kali di singgahi nya. Tak bisa di pungkiri, di dalam tubuh Alan ada jiwa Dito. Walaupun hanya Nisa yang mengetahuinya. Dia masih berharap ada jalan untuk bisa bersama Nisa kembali. Meskipun sekarang dia sudah bahagia dengan Roy.


"Memangnya ada perlu apa kalian datang kemari?".


"Anton juga tak menelpon ku sebelumnya".


"Beliau mengirim berkas penting ini pak Roy".


"Komunikasi dengan anda terputus seminggu yang lalu".


"Anda berdua sulit di hubungi, jadi dia mengutus saya kemari".


"Roy mengajak Roy keluar dengan membawa berkasnya tersebut. Dia lalu berbicara kepada Alan dengan setengah berbisik.


"Kau tahu kan Nisa sedang di obati disini".


"Untuk apa kau bawa Siska kemari juga??".


"Siska sudah sembuh pak Roy, jangan khawatir".


"Dia sekarang sudah baik-baik saja seperti Nisa".

__ADS_1


"Awas saja Alan, kalau sampai istri ku mengalami kesulitan lagi karena ulah mu".


"Saya janji pak, Siska tak akan bikin ulah".


Di dalam ruang tamu, tatapan Siska memandang tajam wajah Nisa. Sedari datang tadi, bapak memang sudah merasa ada sesuatu yang lain pada gadis di depan nya ini.


Semacam ada aura jahat yang melingkupinya.


Bapak masih terus memperhatikan gerak-gerik Siska tersebut.


"Siska, jam berapa kalian berangkat dari sana?".


"Itu,,,aku berangkat tadi pagi Nisa".


"Aku mencari diri mu, kau tiba-tiba menghilang begitu saja".


"Kau pergi dengan Satria bukan??".


"Siapa Satria,, aku merasa tak mengenal nama itu??".


Mendengar Siska menyebut nama Satria, Roy tentu saja kembali meradang. Dia mencekal lengan Alan dan bermaksud menyuruhnya pergi.


"Kau dengar kan kata-kata kakak mu barusan".


"Berikan padaku berkasnya, dan cepat bawa kakak mu kembali ke Jakarta".


"Aku tak mau Nisa kembali lagi seperti dulu".


"Kalau perlu, kembali dengan penerbangan malam ini juga".


Alan terdiam. Dia takut menghadapi kemarahan Roy. Padahal sudah beberapa hari ini Siska tenang. Namun saat bertemu Nisa, dia kembali membuat ulah. Alan jadi merasa tidak enak dengan Roy dan orang tua Nisa.


Buru-buru Alan pamit dari rumah Nisa. Dia mengajak Siska untuk kembali ke Jakarta. Gadis itu tentu saja heran, dan menolak ajakan Alan. Dia lebih memilih untuk tinggal di rumah Nisa, walaupun hanya beberapa hari.


"Kita kan baru saja sampai Alan,, kenapa tidak menginap disini saja".


"Tidak bisa kak, rumah Nisa sudah penuh".


"Lagi pula kita tadi sudah memesan hotel bukan".


"Sebaiknya kita segera pulang sebelum nanti kemalaman di jalan.


Walaupun Siska menolak, Alan tetap saja menarik lengan nya. Bapak sangat cemas, pasalnya dalam tubuh gadis tersebut, tampak sosok wanita berambut panjang dan bertampang mengerikan. Sebelah wajahnya hancur. Dan dia terlihat sangat menakutkan.


Setelah keduanya pergi, bapak memanggil Nisa dan Roy.


"Sebaiknya kalian jauhi kedua orang itu".


"Bapak merasa ada yang aneh dengan nya".


"Terutama kau Nisa,, jangan pernah mengangkat telepon nya sekalipun".


"Atau malah bertemu dengan nya".


Keduanya mendengar nasehat bapak dengan seksama. Ketenangan keduanya terusik oleh kehadiran tamu yang tak di undang. Untung saja Roy segera menyadari nya. Dia tak mau Nisa kembali kambuh seperti kemarin lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2