
Tak salah lagi apa yang di pikirkan Nisa. Dia memang pernah masuk ke rumah ini. Suasana dan dekorasi nya sama persis dengan bayangan nya. Rumah joglo milik seseorang yang tak asing baginya. Namun, sayang nya Nisa tak ingat kapan dan dengan siapa dia tinggal di rumah ini.
Nisa memberanikan diri bertanya pada sahabat Roy. Hanya sekedar memastikan kalau ingatan nya tidak salah.
"Maaf mas, kalau boleh saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini".
"Maaf Bu, beliau masih berada di luar kota".
"Saya sendiri pun juga jarang bertemu dengan mereka".
"Memang kenapa,, kau suka dengan rumah ini?".
"Bukan,, aku hanya ingin mengenal pemilik rumah ini saja".
"Apa kau setuju kalau kita ambil rumah ini saja".
"Belum,, kita lihat-lihat saja lagi".
Nisa masuk ke ruangan dalam. Di situ ada tiga kamar yang masing-masing berjajar.
Menurut apa yang di ingatnya, dia pernah masuk ke kamar tengah. Kamar itu pernah di pakainya bersama seorang pria.
"Tunggu,,, sepetinya di dalam kamar tersebut ada ranjang berukuran king size, dengan rak di sebelahnya serta cat tembok berwarna pink".
" Untuk dua kamar lain nya, aku tak begitu paham".
"Berarti.....ibu sudah pernah tinggal di sini?".
"Entahlah......dulu sekali mungkin,, saya sendiri sudah lupa".
"Soalnya deskripsi yang ibu gambarkan sama persis dengan keadaan kamar ini".
"Silahkan....anda lihat sendiri ke dalam".
Roy masuk kamar dan menemukan gambaran yang sama persis dengan yang di sampaikan oleh Nisa. Tentu saja Nisa sendiri pun terkejut karena apa yang dia gambarkan ternyata benar adanya.
"Dengan siapa kau tinggal di sini??".
"Aku tak tahu Roy,, hanya samar-samar terbaca di ingatan ku".
"Rumah ini sudah lama kosong pak, tak mungkin istri anda tinggal di sini".
"Kami merenovasi ulang setahun yang lalu, dan ini baru saja selesai".
"Jadi, rumah ini sudah hampir 3 tahun tak di tempati".
"Begitu......saya mengerti".
Nisa menarik Roy ke sudut ruangan, saat dirinya melihat 2 orang wanita memakai kebaya lewat di sampingnya. Mereka mengangguk hormat pada Nisa. Lain halnya dengan Roy, sepertinya dia tidak merasa terganggu sama sekali".
"Ada apa kau menarik ku kemari??".
"Sebaiknya kita batalkan saja,, aku tak mau membeli rumah ini".
"Kau yakin,, rumah ini bagus dan murah".
"Aku tak nyaman di sini Roy".
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini".
Nisa buru-buru menarikan tangan Roy, ketika seorang wanita tua tiba-tiba muncul di pendopo joglo. Dia memakai baju kebaya lengkap dan wajahnya agak sedikit membungkuk. Dengan suara parau, wanita tua itu memanggil Nisa.
"Nduk.......jangan pergi.....!!!".
"Kemari nduk........!!!".
__ADS_1
"Tinggal di sini saja,,, Mbah buyut akan selalu menjaga mu".
Nisa menutup telinganya dan berlari keluar secepat mungkin. Dia berhenti tepat di samping mobilnya. Tak berapa lama, Roy berhasil menyusulnya.
"Cepat Roy,, buka pintu ini".
"Sabar Nisa,, aku sedang berusaha mencarinya".
"Ini dia,,,ayo...masuklah!!".
Roy menjalankan mobilnya menjauh dari rumah joglo yang hendak di belinya. Tak berapa lama, dia ingat kalau meninggalkan tas nya di ruang pendopo.
"Ya ampun.......tas ku ketinggalan".
"Sebentar....aku putar balik dulu".
"Kau ini, ceroboh sekali mas!!".
"Bisa-bisa nya tas mu ketinggalan di rumah itu".
"Kau sendiri sih,,,tergesa-gesa menarik ku keluar".
Roy memarkir mobilnya di tempat yang sama.
Namun kali ini, rumah joglo itu sudah tak tampak lagi. Tentu saja Roy kebingungan.
Rumah joglo tersebut sudah berganti dengan kompleks pemakaman.
Roy bertanya pada juru kunci makam tersebut. Kebetulan orang tua itu sedang membersihkan makam.
"Ada yang bisa di bantu mas?".
"Barang kali sedang mencari makam seseorang?".
"Apa ini tas nya,, saya temukan tergantung di pohon Kamboja".
"Iya pak,,,ini tas nya, terima kasih pak".
"Sama-sama mas??".
"O,ya pak....tadi saya dan istri saya baru saja dari sini".
"Kami sedang melihat-lihat rumah joglo yang mau saya beli".
"Belum ada setengah jam, rumah joglo tadi sudah berubah menjadi makam".
"Apa memang ini benar sebuah makam atau kami yang kesasar?".
"Beruntung kalian bisa keluar dari joglo tadi".
"Kalau tidak, mungkin nasib kalian akan sama dengan dua orang ini".
"Mereka berdua tewas berpelukan di bawah nisan besar itu".
"Mungkin tadinya mereka juga mengira kalau ini rumah seperti kalian".
"Sudah banyak yang mengalami kejadian aneh saat melintas di depan makam ini".
"Bahkan ada yang menghilang dan sama sekali tak kembali".
"Saat saya meminta jazad nya di kembalikan, mereka sama sekali tak bersedia menyerahkan".
"Berarti firasat istri saya benar pak".
"Untung kami tak jadi membeli rumah tadi, kalau tidak mungkin nasib kami akan seperti mereka".
__ADS_1
"Istri anda mempunyai keterikatan yang kuat dengan tempat ini".
"Sebaiknya kau berhati-hati menjaganya".
"Semua penghuni tempat ini sepertinya sangat menyukai istri anda".
"Mereka enggan berpaling darinya sejak tadi".
Roy memperhatikan Nisa yang masih berada di dalam mobil. Dia sepertinya sedang asyik memainkan ponselnya. Mendengar penjelasan dari juru kunci, Roy buru-buru pamit pulang. Dia takut kalau para penghuni di makam tersebut benar-benar tertarik pada Nisa.
"Lama sekali,, ketemu tidak tas nya?".
"Sudah,, ayo kita pergi, tempat ini memang tidak baik, sama seperti yang kau bilang tadi".
"Wo ...rupanya kau sudah berubah pikiran ya??".
"Iya,, kau memang pintar istri ku!!".
Baru Lima menit mereka berjalan, ponsel Roy berbunyi. Ada panggilan masuk dari Adit. Buru-buru Roy menerima telpon nya tersebut.
"Kau ini nyasar kemana sih, udah dua jam aku di sini menunggu kalian".
"Apa maksud mu,, kita sudah ketemu kan tadi?".
"Lihat lokasi ku di ponsel mu, 10 menit kalian belum sampai, aku langsung pergi".
"Tunggu sebentar,, kau ini benar Adit bukan??".
"Apa kau kira aku hantu??".
"Jangan banyak bicara, cepat kesini sekarang juga".
Roy terkejut dengan apa yang di katakan Adit.
Rupanya sedari tadi mereka salah jalan. Adit yang di temui nya di makam tadi rupanya bukan Adit yang sebenarnya.
"Kenapa wajah mu seperti itu mas??".
"Kita di kerja i oleh makhluk halus Nisa".
"Bukan rumah tadi yang akan di jual Adit".
"Dia bahkan sudah menunggu kita di rumahnya sejak dua jam lalu".
"Berarti yang di joglo tadi, dia hanya menyerupai wajah Adit".
"Apa ku bilang,,, kamu nggak percaya sih".
"Hmm........Sial sekali aku hari ini".
Roy memperhatikan ponselnya dan menetap kan arah yang sudah di bagikan oleh Adit. Dia mengikuti rute yang ada di ponsel. Sampai kemudian dia tiba di rumah Adit.
"Kalian nyasar ke mana, seharusnya jarak dari hotel cuma setengah jam".
"Panjang ceritanya Dit,,,tapi...kau benar Adit bukan??".
"Apa kau kira aku memang benar-benar hantu??".
"Keterlaluan kau sama sahabat sendiri sepeti itu".
"Karena aku dan Nisa baru saja bertemu hantu yang menyerupai diri mu".
Adit melongo. Wajahnya berubah pucat. Dia menarik senyum di bibirnya, hingga Roy tertawa senang melihatnya.
...****************...
__ADS_1