
Nisa dan Dito bergegas menuju restoran yang telah disepakati. Roy membawa kedua orang tua dari Amira, gadis putri konglomerat yang menghilang tersebut. Sampai di restoran, semuanya sudah menunggu. Nisa segera menghampiri mereka dan duduk.
"Kabarnya anda mengetahui keberadaan putri saya,,, tolong katakan di mana dia,,, saya akan memberikan hadiah yang saya janjikan".
Nisa terdiam, dia mengamati raut wajah dari ibu Amira. Nampak lelah dan sedih. Mungkin berhari-hari dia tidak tidur memikirkan nasib putrinya.
"Sebelumnya saya mohon maaf, tapi persiapkan hati kalian kalau nanti apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan keinginan kalian berdua".
"Apapun yang terjadi kami sudah siap".
"Kami hanya ingin kejelasan tentang keadaan putri kami".
"Roy................!!".
"Sampaikan semuanya, jangan ada yang ditutupi, kami sudah ikhlas".
Nisa menarik napas panjang. Berita yang disampaikan nya akan sangat berat dan menyakitkan. Semalam saja Nisa tak berhenti menangis, namun dia mencoba menguatkan hati nya. Semoga keluarga nya mampu menerima musibah ini.
Dito yang mengetahui keadaan Nisa, segera
menggenggam erat tangannya. Dia ingin menyalurkan energinya pada Nisa supaya bisa bercerita sampai akhir.
"Om dan Tante, siang itu Amira diculik dari sekolahnya"
"Ada 6 lelaki yang membius Amira dan memasukkan nya ke dalam mobil".
"Seseorang yang aku tidak mengenalnya adalah dalang dibalik penculikan ini".
"Mereka membawa Amira kedalam sebuah gudang tua dipinggir hutan dan menunggu sampai gadis itu ditebus oleh keluarganya".
"Malam itu, keenam orang penculik Amira, berjaga di sekitar gudang sambil minum minuman keras dan mengkonsumsi obat terlarang".
"Mungkin karena efek dari miras dan obat terlarang itu, mereka memperkosa Amira secara sadis".
"Sepanjang malam, keenam orang itu bergiliran, bergantian dengan disertai siksaan
menjamah tubuh Amira".
"Dia sudah tidak bisa menangis lagi".
"Dunianya sudah hancur lebur seketika oleh ulah brengsek sekelompok pemuda tersebut".
Sampai disini Nisa menangis, dia seolah turut merasakan apa yang dialami oleh Amira. Apalagi sudah berkali-kali Amira hadir menjumpainya. Bayangan peristiwa itu tergambar jelas dalam benaknya.
"Lanjutkan Nisa......".
"Di malam kedua, mereka mengerjai nya, Amira dipukul hingga jatuh, kepala nya membentur tangga gudang, dan sayangnya Amira langsung meninggal seketika".
"Bukanya takut dan menyesal melihat keadaan Amira, ke enam pemuda itu masih saja nekat menyetubuhi jasad Amira sampai menjelang malam".
"Setelah sadar, mereka panik dan menelanjangi jasad Amira kemudian memotongnya menjadi enam bagian".
__ADS_1
"Potongan jasad Amira dimasukkan ke dalam dua karung dan dibuang di dalam sebuah kolam, di tengah hutan belantara".
"Orang suruhan mereka pun sampai saat ini belum tahu akan hal ini".
Tangisan ibu Amira pecah seketika di restoran. Dia tak bisa menguasai dirinya lagi.
Nisa sangat mengerti, karena Nisa yang hanya menyaksikan lewat penglihatan nya pun tak kuasa menahan perasaan nya.
Roy menarik Nisa menjauh dari tempat duduk
orang tua Amira. Dia memandang wajah Nisa.
"Kau yakin itu Amira, bukan orang lain??".
"Maaf Roy, memang kenyataanya menyakitkan, tapi gadis di foto itu, adalah gadis yang sama, yang selalu meminta tolong padaku".
"Dan kau tahu keberadaan jasadnya".
"Iya,, nanti kalau mereka sudah tenang, telpon polisi, dan kita ambil jasadnya saat ini juga".
Roy dan Nisa kembali ke meja mereka lagi. Roy segera menelpon polisi untuk membantu evakuasi korban pembunuhan.
"Kalau kalian tidak sanggup, biar aku saja yang membereskan semuanya".
"Sebaiknya kalian pulang dan menyiapkan keperluan pemakaman".
"Kami ikut Roy,, aku harus memastikan kalau memang itu adalah putri ku".
Nisa dan Dito terharu menyaksikan ketabahan dari orang tua Amira. Namun Nisa
khawatir dengan mereka saat menyaksikan potongan jenazah Amira nanti.Mereka mungkin tak akan sanggup menghadapinya.
"Kita berangkat sekarang Nisa,, polisi sudah dibawah".
"Iya,, ayo....!!!".
Mereka segera keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil. Nisa menunjukan arah hutan yang ada di dekat persimpangan.
Mereka kemudian menepikan mobil dan menyisir hutan bersama polisi.
Nisa mencari lokasi kolam yang waktu itu ada dalam penglihatan nya. Rupanya harus masuk hutan lebih jauh lagi. Sudah separo lebih rombongan Nisa masuk kawasan hutan, saat mata Nisa melihat gapura. Kolam itu ada di balik gapura tersebut. Tempatnya memang tersembunyi dan tertutup ilalang.
"Kita harus masuk ke dalam benteng, jasad Amira ada di situ".
Polisi segera berlari memasuki benteng. Ada seperti kolam pemandian di dalam nya. Air nya sangat jernih, jadi nampak jelas dua bungkusan karung di taruh di dalam kolam.
"Roy,,,, itu jasad Amira,,, segera bawa naik".
Polisi langsung mengangkat kedua karung yang diletakkan di dasar kolam pemandian.
Mereka membawanya naik ke atas dan ditaruh di tepi kolam. Polisi membuka tali ikatan karung. Mereka kaget saat menemukan potongan kepala dan tubuh Amira di dalam karung.
__ADS_1
Nisa tak kuasa menahan air mata nya, sementara orang tua Amira sudah menangis histeris. Polisi memindahkan potongan tubuh tersebut ke dalam kantung mayat dan dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.
Sebelum meninggalkan hutan, Nisa sempat melihat bayangan Amira yang tersenyum ke arahnya. Dia seolah mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Dito,, kau bawa Nisa langsung ke kantor polisi untuk membuat BAP serta sketsa pelaku penculikan".
"Mereka harus segera ditangkap".
"Jangan sampai terjadi pada gadis lain".
"Aku akan ke rumah sakit dengan orang tua Amira".
"Baik pak Roy,, saya akan mengantar Nisa".
Langkah Nisa terhenti di pintu keluar hutan. Dia melihat kakek yang waktu itu pernah dijumpainya.
"Ini belum selesai anakku, lanjutkan tugasmu menyelamatkan arwah mereka, atau akan berakhir disini bersamaku".
Setelah mengucapkan pesan kepada Nisa, kakek tersebut langsung menghilang. Nisa lalu meninggalkan hutan dan bersama Dito, dia segera menuju ke kantor polisi.
Roy menemani orang tua Amira ke rumah sakit. Jasad Amira akan diotopsi, setelah itu mereka akan melaksanakan upacara pemakaman.
Nisa turun dari mobilnya ditemani Dito. Mereka langsung menuju kantor untuk diambil BAP dan sketsa wajah pelaku.
Kebanyakan dari mereka masih berusia remaja. Nisa sangat menyayangkan tindakan
kejam dari masing-masing pelaku tersebut.
Polisi langsung bergerak cepat. Mereka menyisir lokasi yang disebutkan oleh Nisa.Di
gudang tua pinggiran kota, keenamnya ditangkap tanpa perlawanan. Mereka masih setengah sadar karena pengaruh miras dan obat-obatan.
Keenam pelaku langsung di gelandang ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Polisi menelpon Nisa untuk mengenali para pelaku.
Nisa datang dan melihat keenam wajah pelaku. Sejenak dia mendapatkan kembali
penglihatan nya. Gambaran para pelaku dengan sadis menyiksa Amira, kembali terekam layaknya film.
"Iya,, mereka semua pelakunya pak,,, mereka sangat biadab".
"Saya ingin anda menghukum setimpal perbuatan mereka tersebut".
"Baik Bu Nisa, terimakasih atas kerjasamanya, jadi kasus ini bisa cepat terungkap".
"Sama-sama pak,, saya boleh pergi sekarang".
"Silahkan pak, nanti kalau kami butuh saksi, kami akan memanggil Bu Nisa".
Nisa dan Dito keluar dari kantor polisi dengan perasaan lega. Kasus Amira sudah dipecahkan, walau nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi.
...****************...
__ADS_1