
Sesaat Nisa mengucek kedua matanya, seakan tak percaya dengan penglihatan nya barusan. Apakah Siska masih hidup, atau memang dirinya yang berhalusinasi. Sesaat tadi dia melihat gadis itu tertawa, tapi ketika di lihat lagi, dia masih terbujur kaku tak bernyawa. Nisa berbisik ke telinga Roy untuk meyakinkan dirinya.
"Tolong kau lihat Roy, apa Siska masih hidup atau memang sudah benar-benar meninggal?".
"Kau ngaco Nisa, jelas-jelas dia sudah tak bernyawa".
"Sudah,,kita pulang...daripada di sini kau lihat hal yang aneh-aneh".
"Mereka masih mengincar mu, kau ingat itu kan??".
Nisa menuruti perkataan Roy untuk meninggalkan rah pak kadus. Dia melangkah keluar ruangan, namun telinga nya mendengar panggilan dari arah jasad Siska.
"Nisa.......tolong aku,,,aku kedinginan!!".
"Jangan pergi Nisa,,,,,selamat kan aku darinya".
Sejenak Nisa menghentikan langkahnya. Suara itu makin kencang di telinga nya. Sesaat kemudian Roy menarik tangan nya ketika Nisa hendak berbalik. Dia lantas membawa Nisa pergi dari rumah pak kadus.
Sampai di tengah jalan, Nisa masih saja bengong. Suara Siska masih terngiang di telinganya. Seakan dirinya sangat menderita.
"Hentikan lamunan mu itu, buang semua hal yang mengganggu pikiran mu".
"Lihat aku,,jangan dengarkan apa pun".
"Hanya pikirkan diri ku saja".
"Kau paham kan Nisa??".
"Tapi Roy,,Siska memanggil nama ku dan meminta ku untuk membantunya".
"Apa yang bisa kau bantu, kau tak bisa berbuat apapun".
"Gadis itu sudah meninggal, jangan pikirkan yang lain-lain lagi".
"Kita disini untuk memulai hidup baru bukan,,,jadi berhentilah mengurusi orang lain".
Sejenak Nisa tersadar. Ucapan suaminya memang ada benarnya. Abaikan semua hal yang mengganggu hidup kita. Atau mereka akan memanfaatkan diri kita untuk mencapai semua keinginan nya.
Nisa mengeratkan pegangan nya ke pinggang Roy. Beruntung sekali dirinya mendapatkan suami yang sangat memahami sifat Nisa. Dia lah yang selalu menjadi penyelamat di setiap situasi berbahaya.
Keduanya sampai di rumah. Di lihatnya si kembar sedang bermain bersama ibu. Roy menghampiri putrinya yang sudah pintar mengoceh.
"Kau tidak kembali ke sana lagi Roy".
"Tidak Bu, silahkan ibu dan Sofia kalau mau melayat".
"Biar aku dan Nisa yang jaga anak-anak".
"Aku mau ikut nenek pa!!".
"Jangan sayang, kau di rumah saja sama mama dan papa".
"Ayo,, kita main lagi di ruang tamu saja".
__ADS_1
Kedua putri Nisa berlari mengejar Roy ke dalam rumah. Nisa pun segera mengikutinya.
Saat Nisa masuk, Sheina seperti ketakutan dan tak mau dekat dengan Nisa. Wajahnya terus di tutupi dengan tangan.
"Kenapa sayang, Sheina takut sama mama?".
"Bukan mama,, tapi Tante di belakang mama, seram.....bajunya merah darah".
"Tante siapa sayang,, tak ada siapa-siapa di belakang mama".
"Ih....ada papa,,, Tante rambut panjang, mukanya serem deh pa".
"Suruh Tante itu pergi papa,, Sheina takut!!".
Roy melihat ke arah Nisa. Sepertinya tidak ada apapun di belakang istrinya. Tapi melihat Sheina yang ketakutan, Nisa jadi ikut merinding.
"Gimana ini mas, ada apa sebenarnya dengan ku??".
"Sudah,, tak ada apa-apa, biar aku telepon bapak dulu".
"Kalian tetap disini bersamaku, jangan ada yang pergi".
Roy menghubungi bapak dan menceritakan perihal Sheina yang ketakutan ketika melihat Nisa. Bapak segera bergegas kembali ke rumah untuk memeriksa keadaan. Saat bapak tiba, pintu rumah nya tertutup, sedang Roy dan anak-anak ada di dalam bersama dengan Nisa juga.
Bapak mengetuk pintu, dan Nisa yang membukanya langsung. Dia melihat tak ada apapun di rumah maupun di tubuh putrinya. Sheina juga sudah kembali bermain dan tertawa. Bapak segera mendekati cucunya.
"Sheina,, apa yang Sheina lihat tadi nak?".
"Tantenya sudah terbang kakek".
"Tapi, Sheina takut kakek, Sheina nggak mau main sama Tante jelek itu".
"Ya sudah,, biar kakek nanti yang usir Tante jelek itu".
"Sebenarnya ada apa pak, kenapa masih ada gangguan disini".
"Padahal kemarin Mbah Cokro sudah berhasil mengatasinya".
"Ini hal yang lain Roy, makhluk yang di bawa Siska".
"Ternyata dia sama jahatnya dengan yang merasuki Nisa waktu itu".
"Aku takut anak-anak dalam bahaya".
"Sementara Mbah Cokro belum bisa mengatasinya".
"Lalu, kita harus bagaimana sekarang pak?".
"Aku akan tetap di sini, aku yakin dia mengincar Nisa".
"Apalagi tadi Sheina juga sudah melihatnya".
"Dia bisa saja merasuki salah satu dari mereka".
__ADS_1
"Tetap temani Nisa dan anak-anak Roy".
"Tunggu sampai mayat Siska di makamkan, biar Mbah Cokro yang mengurusnya".
"Baik pak".
Semuanya masih berkumpul di ruang tamu, saat tiba-tiba Nisa berdiri dengan pandangan kosong. Bapak langsung saja memegang tubuhnya dan membasahi mukanya dengan air.
"Nisa, sadar lah...fokuskan pikiran mu".
"Jangan sampai makhluk itu merasuki mu".
"Dia akan menggunakan tubuh mu untuk berbuat jahat".
"Tetap sadar dan konsentrasi penuh".
"Tapi pak,, dia membawa seseorang menuju ke hutan".
"Aku melihatnya dalam bayangan ku".
"Sebentar lagi, dia akan tenggelam di sungai pak".
"Wanita itu sudah membawanya masuk ke dalam air".
Nisa tanpa sadar terus saja mengoceh. Seakan dia sendiri yang mengalami peristiwa tersebut. Bapak tetap memegangi tubuhnya, sambil mendengarkan semua perkataan Nisa.
Rombongan para pelayat baru pulang dari pemakaman.Mereka sudah selesai menguburkan Siska. Belum sampai pulang ke rumah masing-masing, seorang warga sudah melapor ke pak kadus karena putranya hilang.
Dia masih usia remaja.
Seharusnya anak itu sudah pulang dari sekolah. Tapi dari tadi dia belum juga sampai. Orang tuanya sudah mencari ke tempat teman-teman nya, tapi tetap tidak ada juga.
Warga kampung beramai-ramai mencari pemuda tersebut. Tapi sampai malam hari, tak kunjung ada tanda-tanda keberadaan pemuda tersebut. Hal tersebut sampai di telinga bapak. Dia langsung mengingat ocehan Nisa ketika tidak sadar tadi siang.
"Nisa,, kau masih ingat yang kau katakan tadi?".
"Di mana kau melihat pemuda itu??".
"Aku tak tahu apa yang bapak bicarakan".
"Kau tadi bilang ada seorang pemuda di bawa pergi oleh wanita itu".
"Coba kau ingat Nisa, kasihan orang tuanya".
"Wanita itu membawanya masuk ke dalam air pak".
"Tapi, aku tak tahu di mana?".
Bapak bergegas pergi ke rumah pak kadus. Rupanya Mbah Cokro sudah mengetahui keberadaan anak hilang tersebut. Mereka sudah bersiap menuju sungai. Bapak-bapak membawa obor untuk penerangan.
Mengingat jalan menuju hutan larangan sangat sepi dan rimbun. Mbah Cokro bersama pak kadus memimpin pencarian, sementara bapak kembali ke rumah.
Mereka sampai di pinggir sungai. Tak di temukan tanda-tanda orang tenggelam. Mbah Cokro justru melihat sosok kuntilanak berbaju merah itu tengah tertawa diatas pohon beringin. Nampaknya dia mendiami tempat tersebut.
__ADS_1
Kuntilanak itu tertawa sambil bergelayutan di atas pohon. Tentu saja hanya Mbah Cokro yang melihatnya. Dia lah makhluk halus yang di bawa oleh Siska. Rupanya dia adalah hantu yang jahat.
...****************...