Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Menghindari Insiden.


__ADS_3

"Nisa, sebaiknya besok kita bawa Sheila ke psikolog".


"Traumanya harus di sembuhkan".


"Atau, untuk sementara kita tinggal di rumah di kota saja".


"Bapak dan ibu juga, terlalu beresiko kalau kita di sini".


"Baik mas, besok kita bicarakan dengan bapak".


"Sekarang kau istirahat saja dulu, kau pasti capek kan??".


"Biar aku pindahkan Sheila ke kamar Sofi".


"Jangan, biar dia di sini, aku yang akan menemani nya".


"Baik mas, kau juga istirahat Nisa,,kita semua kecapekan tadi malam".


Roy merebahkan tubuhnya di samping Sheila.


Walaupun dia hanya anak sambung nya, tapi


Roy sangat menyayangi nya. Ikatan batin keduanya sudah terjalin, jauh sebelum Roy menikahi Nisa.


Nisa hendak berbaring, ketika pintu di buka dari luar. Rupanya Sheina mencari keberadaan saudara kembar' nya. Melihatnya terlelap di samping Roy, diam-diam Sheina menghampirinya.


"Kau masih belum tidur, sayang??".


"Ayo...kemari,,kau bisa tidur di dekat mama".


"Malam ini kita tidur berempat,,,ok??".


Sheina mengangguk dan tersenyum senang. Dia segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi Sheila. Nisa ada di dekat nya dan memeluknya.


"Mama,,,,aku tak bisa tidur....takut di culik seperti Sheila".


"Tidak sayang,,,mama dan papa Roy, akan menjaga kalian berdua".


"Kau lihat Sheila,,papa membawanya pulang ke rumah bukan??".


"Sekarang,,,ayo kita tidur anak mama...ini sudah malam".


Nisa memeluk Sheina erat. Rupanya kedua putrinya mengalami ketakutan yang sama, walaupun Sheila yang di bawa makhluk halus.


Nisa akan mempertimbangkan kata-kata Roy untuk membawa mereka pindah sementara di kota. Di lihatnya nya wajah putri nya, kedua


nya sudah tertidur lelap. Nisa pun segera menyusul memejamkan mata.


Pagi harinya, kamar Nisa sudah heboh dengan celotehan kedua putrinya yang sudah lebih dulu terbangun. Roy mengucek matanya dan tersenyum senang melihat kedua putrinya bercanda. Dia pun ikut menggoda keduanya dengan meraih mereka ke dalam pelukan nya.


"Papa,,,jangan.......Sheila masih sakit".

__ADS_1


"O,iya...papa hampir lupa,, kalau begitu, kita pergi ke dokter sekarang".


"Biar Sheila di periksa semuanya, supaya nanti lekas sembuh".


"Ayo sana,, minta mbak Sofi memandikan kalian".


"Kita sekalian jalan-jalan nanti".


"Baik papa!!".


Kedua putri Nisa berebutan berlari keluar dari kamar, sementara Nisa dan Roy masih ada di atas tempat tidur.


"Kau sangat menyayangi mereka Roy".


"Aku tak tahu bagaimana harus berterimakasih".


"Aku mencintai ibunya,,jadi aku pun harus mencintai putri nya juga bukan??".


"Cinta kalian sudah cukup bagi ku, aku tak mau ucapan apapun lagi".


"Mandi lah sekarang,, kita akan ke kota sementara".


"Biar aku yang bilang pada bapak kalau kita akan pergi berlibur".


"Iya Roy".


Nisa masuk ke kamar mandi, sementara Roy menemui bapak di ruang tengah. Ibu sedang mengobati lukanya dan mengganti perban.


"Sekalian kita bisa check up di rumah sakit dan berlibur di rumah yang baru".


"Kalian saja, biar bapak dan ibu di rumah".


"Ya sudah,,, kita nggak akan kemana-mana kalau ibu dan bapak tidak ikut".


"Jangan begitu Roy, anak-anak mu sudah bersiap".


"Biar saja, mereka akan kecewa sebentar dan menangis, sudah kan?".


"Aku ingin nya bapak dan ibu beristirahat sementara di rumah kami, sampai bapak sembuh".


"Mungkin perubahan suasana akan membuat bapak dan Sheila cepat pulih".


"Ya sudah,,bapak setuju".


Roy tersenyum senang bisa membujuk kedua orang tua Nisa tersebut. Tinggal mandi dan langsung berangkat saja.


Setelah hampir 1 jam, mereka selesai berkemas. Keluarga Nisa meninggalkan kampung Larangan untuk sementara. Mungkin nanti di rumah yang baru, tidak ada lagi masalah seperti yang terjadi di kampung.


Rumah yang di pilih Nisa dan Roy sangat strategis. Dekat dengan jalan raya dan fasilitas umum. Walaupun jarak antar rumah lumayan jauh, tapi setidaknya situasi nya ramai.


"Kita sudah sampai, ayo anak-anak, kita turun sekarang !!".

__ADS_1


"Ini rumah kita pa,,besar sekali,,halaman nya luas lagi".


"Iya dong,,,papa sudah belikan sepeda untuk kalian bermain nanti".


"Ayo pak, Bu...silahkan masuk!!".


Bapak dan ibu mengagumi rumah baru yang di beli oleh Roy. Menantunya itu memang benar-benar tulus mencintai Nisa. Dia rela meninggalkan Jakarta dan tinggal di kampung bersama Nisa dan putrinya.


Seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan keluarga Nisa. Dia adalah Bu Sri.


Bersama suaminya, Roy mempekerjakan keduanya di rumah baru milik Roy.


"Mas,, kau tak bilang padaku kalau ada yang bekerja di rumah ini".


"Itu,,, aku tak ingin rumah ini kosong tak terawat, jadi ku minta Bu Sri dan suaminya tinggal di sini".


"Dia juga bisa bantu-bantu pekerjaan rumah, supaya kau tidak capek".


"Sudah,,,ayo kita masuk".


Lagi-lagi Nisa tak bisa berkata-kata. Suaminya itu rupanya sungguh memanjakan dirinya. Setiap hal sudah di perhitungkan dengan matang oleh Roy.


Masuk ke dalam rumah, suasana nya pun sudah berbeda. Ruangan tampak bersih dan asri oleh tanaman yang di tata sedemikian rupa. Makanan pun sudah tersedia lengkap di meja makan. Rupanya Bu Sri adalah orang yang sangat rajin. Pantas lah kalau Roy mempekerjakan dirinya.


"Bu Sri yang memasak ini semua??".


"Iya Bu, bibi nggak tahu kesukaan masing-masing, ya sudah.....bibi masak beberapa macam masakan saja".


"Wah....dari jam berapa ini bu Sri, masih hangat...dan rasanya juga enak Lo".


"Coba deh mas,,,enak kan,, Bu Sri jago masak rupanya".


"Mari silahkan,,makan dulu semuanya".


Sementara keluarga Nisa makan, Bu Sri dengan cekatan menaruh koper di kamar masing-masing, sekalian membereskan pakaian ke lemari. Setelah selesai makan, masing-masing beristirahat di kamar mereka.


"Nanti sore aku sudah ada janji dengan dokter Hanung dan dokter Sinta".


"Kita bawa Sheila dan bapak".


"Mereka dokter yang bagus".


"Aku bahkan meminta tolong relasi ku supaya bisa bertemu kedua dokter itu".


"Baiklah mas, aku mengerti".


Di luar kamar Nisa, terdengar suara celotehan Sheila dan Sheina. Mereka tampak ceria. Suara Bu Sri kelihatan nya ikut mengawasi keduanya bermain. Sofi jadi punya waktu lebih untuk mengerjakan skripsinya.


Bapak dan ibu juga sudah beristirahat di kamar mereka. Rumah yang di pilih Nisa memang benar-benar bagus. Keduanya merasa nyaman berada dalam rumah tersebut.


Namun yang tidak di sadari oleh keluarga tersebut, sepasang mata mengawasi dari tempat yang tersembunyi. Sepasang mata merah tajam, menyala dalam kegelapan. Rupanya semua kejadian pahit di kampung tidak berhenti sampai di situ saja. Mereka sudah berusaha menjauh untuk sementara, namun bayangan makhluk tak kasat mata itu ternyata terus mengintai.

__ADS_1


Keberadaan mereka seolah berdampingan dengan manusia. Hanya, bedanya ada yang peka bisa melihat dan ada yang tidak. Hanya harus waspada dan berhati-hati.


__ADS_2