Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Balas Dendam Amira.


__ADS_3

Benar saja, pagi-pagi sekali Roy sudah menelpon Nisa. Mereka berdua baru terlelap jam 3 dini hari, setelah pulang dari kantor polisi. Nisa dan Dito masih berbaring di tempat tidurnya.


"Sayang,, ponsel mu berdering terus,, angkat dulu".


"Paling hanya Roy menanyakan peristiwa semalam".


"Biar saja mas,,aku masih ngantuk, sebentar lagi".


"Terserah lah....".


Mereka melanjutkan tidurnya. Rasanya mata mereka enggan untuk dibuka. Ketika matahari sudah menyengat, mereka baru terbangun.


Nisa meraih ponselnya di meja. Dia membuka


kunci layar, banyak sekali chat dan panggilan tak terjawab. Tak terkecuali dari Anton dan Roy.Mereka menanyakan kematian ke enam narapidana pembunuhan Amira.


"Tok.....tok......tok........".


"Bu Nisa,, di depan ada tamu menunggu ibu".


"Ya Sofi, sebentar....aku baru mandi".


Nisa heran sekaligus berpikir. Mungkin yang datang bertamu adalah Roy. Dia sengaja menyuruh nya menunggu. Lagipula Dito baru


saja memakai kamar mandi.


"Mas,,cepetan mandinya,,diluar ada tamu yang sudah menunggu".


"Ya, sayang....tolong sekalian ambilkan handuk".


Nisa mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Dia kemudian melangkah ke kamar mandi dan memanggil Dito. Tangan Dito terulur keluar kamar mandi dan langsung memegang tangan Nisa. Tangan nya ditarik ke dalam kamar mandi dan Dito mengunci pintu dari dalam.


Dito mengguyur tubuh Nisa yang masih memakai gaun tidur. Lekuk tubuhnya tercetak basah oleh guyuran air shower.


"Kamu nakal sekali mas,,, ada tamu di luar".


"Tamu kita bisa menunggu, tapi aku tidak".


"Mas.........!!!".


Mulut Nisa seketika dibungkam oleh ciuman dari Dito. Bibir mereka bertemu dan saling mengisi satu sama lain.Guyuran air dingin ditambah panasnya gairah keduanya, merupakan perpaduan yang pas. Sensasi yang tercipta berpadu dengan deru nafas yang memburu, seolah ingin segera dipuaskan.


Pagi ini Nisa dan Dito melupakan segalanya. Mereka bercinta dengan nuansa yang berbeda. Mereka merasakan kepuasan satu sama lain. Setelahnya mereka akhiri aktivitas panas pagi ini dengan mandi bersama.


"Kamu ya mas,,tega sekali menyuruh tamu kita menunggu".


"Siapa suruh pagi-pagi bertamu".


"Ini sudah siang mas,, lihat..matahari sudah tinggi".


Dito meraih tubuh Nisa yang tengah berpakaian. Dia memeluk istrinya itu dari belakang, sambil menciumi lehernya. Dari tadi Nisa terus-menerus merajuk pada Dito.


"Kamu suka kan sayang???".


"Kapan-kapan kita lakukan lagi, kau mau kan??".

__ADS_1


"Apaan sih mas...!".


Nisa mendorong suaminya dan berlari ke arah pintu. Dia membuka pintu kamar dan mencari Sofia.


"Mana tamunya Sofia,,,dia sudah pergi??".


"Belum Bu,,malah makin banyak,,,lihat saja ke depan Bu".


Nisa mengintip lewat jendela kaca. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat wartawan sudah berkerumun di depan rumahnya. Dia kemudian kembali ke kamar untuk memanggil Dito.


Dito segera ke depan untuk memeriksa. Benar saja, rumah kecil mereka sudah penuh oleh wartawan yang haus akan berita. Dito kemudian meraih ponselnya dan menelpon Anton.


"Anton,,,kau harus menolongku kali ini".


"Kau sudah lihat foto yang ku kirim ke WhatsApp mu kan?".


"Iya,, mereka memburu Nisa, rekaman nya ada di beberapa media sosial".


"Itulah,,,aku tidak bisa keluar, apalagi ke kantor, sejak pagi mereka sudah disini".


"Sebentar,, biar kupikirkan caranya".


Nisa membuka hp nya dan melihat kalau seolah-olah, Nisa yang menghabisi keenam narapidana tersebut. Padahal Nisa datang setelah kejadian tersebut. Mungkinkah Amira menyamar menjadi dirinya.


"Pantas saja,, mereka pasti marah karena aku tidak ditahan".


"Wajahku ada di rekaman cctv itu".


"Padahal polisi tahu kejadian sebenarnya".


Dito dan Nisa sedang gelisah karena masalah


rekaman cctv, ketika ponsel nya berdering lagi. Kali ini Roy yang menelpon. Nisa mengangkat ponselnya dan berbicara dengan Roy.


"Nisa,,aku dan pengacaraku akan menjemputmu sekarang, bersiap-siaplah".


"Kita akan mengadakan klarifikasi di kantor polisi".


"Masalah ini harus segera diluruskan".


"Ok,, aku dan mas Dito menunggu di rumah".


"Mas,, kita harus siap-siap, pak Roy sudah mengurus semuanya".


"Sebentar lagi dia kemari untuk menjemput kita ke kantor polisi".


"Syukurlah kalau begitu".


Tidak lama kemudian Roy datang dengan membawa pengawal. Dia masuk ke rumah Nisa dan menjemput keduanya. Wartawan yang masih berkerumun segera mengajukan pertanyaan begitu Nisa keluar dari rumah. Untunglah para pengawal Roy sigap mengamankan Nisa sampai ke mobil.


Wartawan segera mengikuti mobil yang membawa Nisa dan Dito. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan klarifikasi dari Nara sumber, yaitu Nisa.


Setelah perjalanan yang penuh drama, mereka akhirnya tiba di kantor polisi. Nisa, Roy dan Dito didampingi pengacara langsung masuk keruangan interogasi. Mereka bertemu dengan kepala polisi dan petugas jaga tadi malam.


"Silahkan Bu Nisa, kita bicara dulu sebelum jumpa pers".

__ADS_1


"Iya pak".


"Ibu Nisa tidak usah khawatir, karena baju Bu Nisa dan pelaku pembunuhan napi di rekaman jelas berbeda".


"Coba anda lihat, pembunuh ini memakai baju terusan berwarna putih, sedang anda memakai kulot dan blazer".


"Dan anda juga punya banyak saksi, jadi anda terbebas dari segala tuduhan".


"Terima kasih banyak pak, mungkin itu arwah Amira yang sengaja menyerupai wajah saya".


"Syukurlah, kalau semuanya sudah selesai".


"Ok,,,sekarang kita keluar untuk wawancara".


Nisa berjalan dengan mantap ke ruang konferensi. Mereka akan mengklarifikasi video yang beredar di sosial media. Nisa berbicara dengan lantang di depan wartawan yang sedang berkumpul. Dia juga menjelaskan kronologis kejadian nya.


Saat sesi tanya jawab, Nisa memilih untuk tidak menanggapi. Dia meminta izin untuk meninggalkan kantor polisi. Nisa tidak mau publik membangun opini bahwa dirinya seorang paranormal. Itu akan sangat beresiko bagi keseharian nya.


Nisa, Roy dan Dito pergi lewat jalan belakang.


Mereka sengaja menghindari kerumunan wartawan. Dengan mengenakan jaket, Nisa langsung masuk ke dalam mobil. Mereka berhasil mengelabui wartawan.


"Berarti tadi malam kalian ke sini".


"Kami sempat menyaksikan napi yang bunuh diri, baju ku bahkan kena percikan darah"


"Aku berencana ke makam Amira, supaya dia tenang".


"Baiklah,,nanti aku akan menghubungi orang tuanya".


"Roy,, terimakasih sudah membantu urusan kami sejauh ini".


"Santai saja Dito, kemarin Nisa yang membantuku, sekarang giliran ku yang menyelesaikan masalahnya".


Hari sudah sore ketika Nisa tiba di rumahnya.


Rupanya masih ada satu dua wartawan yang menunggu di depan rumah. Mereka masih ingin mewawancarai Nisa lebih lanjut. Akhirnya Roy yang turun tangan menghadapi wartawan itu.


"Mohon maaf, ibu Nisa sedang tak ingin diganggu".


"Tadi beliau sudah klarifikasi, jadi sudah tidak ada wawancara lagi".


"Tolong tinggalkan rumah ini agar Bu Nisa bisa beristirahat".


Mendengar omongan dari Roy, wartawan itu langsung membubarkan diri. Mereka / rumah Nisa dengan raut wajah kecewa. Roy masuk ke dalam rumah Nisa.


"Nisa, boleh aku bertemu si kembar??".


"Aku kangen sekali dengan mereka".


"Sofia,, tolong bawa si kembar kemari".


"Baik Bu".


"Setelah Sofia membawa si kembar, raut muka Roy berubah cerah. Dia bermain dengan Sheila dan Sheina. Keduanya sudah hafal dengan Roy. Mereka juga kelihatan gembira.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2