
Siang itu keluarga Nisa masih berkumpul di meja makan, setelah selesai santap siang. Tiba-tiba dari arah kamar si kembar, Sheila berlari keluar sambil menangis. Gadis kecil itu langsung menghambur ke pangkuan Nisa.
"Ada apa sayang,, kenapa kau menangis??".
"Mama,, gadis itu jahat sekali".
"Boneka Barbie ku di rusak oleh nya".
"Suruh dia pergi dari sini ma, aku tak suka padanya".
"Sebentar.....biar mama lihat dulu".
"Mungkin Sheina hanya bercanda,, ayo kita temui saudara mu".
Nisa menggandeng tangan Sheila menuju ke kamarnya. Sheina masih duduk di karpet dengan memeluk boneka Barbie yang baru saja di belikan oleh Nisa. Sementara, tak jauh dari tempat duduk Sheina, boneka Barbie satu nya sudah rusak parah.
Baju dan rambut boneka itu sudah kotak, sedangkan kepala dan tangan nya sudah tidak berada di tempatnya. Nisa memandangi wajah Sheila yang tampak pucat dan memegangi boneka nya dengan erat.
"Sheina sayang,, kau yang melakukan ini pada mainan saudara mu??".
Sheina hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya. Dia masih tertunduk, tak berani menatap wajah Nisa.
"Dari tadi kalian hanya main berdua kan di kamar ini??".
"Kalau bukan kau, siapa yang melakukan ini?".
"Mama....bukan aku yang merusak boneka Sheila".
"Baiklah,,,,ayo..ikut mama sekarang, biar papa yang menyelesaikan masalah ini".
Nisa memungut boneka Barbie milik Sheila yang sudah rusak. Dia membawa kedua putrinya keluar dari kamar, dan menemui Roy.
"Lihat mas,,,apa yang sudah putri mu lakukan terhadap mainan saudaranya".
"Aku tak menyangka, Sheina tega berbuat seperti ini pada Sheila".
"Entah apa yang ada di pikiran nya".
"Bukan aku yang melakukan nya pa".
"Kau masih belum mau mengaku juga??".
"Tenang Nisa,,kau membuat mereka takut".
"Biar aku saja yang selesaikan ini".
"Kau terlalu memanjakan mereka mas".
"Lihat kelakuan Sheina sekarang".
Nisa masih saja mengomel panjang lebar saat Roy menggandeng kedua putrinya ke teras depan. Roy tak mau si kembar ketakutan melihat kemarahan Nisa. Biarlah kedua gadis itu tenang dulu bersamanya.
"Sayang,,,kemari sebentar...ada yang ingin papa tanyakan pada kalian".
"Tapi,,,kalian harus janji untuk menjawab dengan jujur pertanyaan papa nanti".
Kedua gadis kecil itu mengangguk bersamaan saat Roy menatap mata mereka.
Roy tahu kalau ini hanya salah paham saja.
__ADS_1
Pertengkaran kecil di antara sesama saudara.
Dan itu adalah hal yang wajar.
"Coba sekarang kalian ceritakan, kenapa boneka Sheila bisa rusak seperti ini".
"Kami sedang bermain bersama pa,,,tapi.....
dia memaksa ingin meminjam boneka Sheila".
"Tentu saja Sheila marah,,,dan tidak mau memberikan boneka nya".
"Tapi dia memaksa pa,,,jadinya boneka Sheila di rebut olehnya".
"Dan dia langsung merusaknya dengan marah pa".
"O,,ya.....apa benar begitu kejadian nya Sheila??".
"Iya papa,,,dia jahat sekali,,,kami tak mau bermain dengan nya lagi".
"Suruh dia pergi dari rumah kita pa".
"Aku tak suka dengan nya!!!".
"Tunggu,,,,papa jadi bingung,,dia siapa??".
"Bukan nya kalian hanya berdua di rumah ini??".
"Papa.....ini rahasia,,,,dia bilang....dia itu teman mama".
"Dan dia menyuruh kami untuk diam".
"Kami tak suka dengan teman mama itu".
"Papa bisa kan mengusirnya dari rumah ini".
"Teman mama yang mana yang kalian maksud??".
"Itu,,,anak kecil yang bersama mama kemarin siang".
"Dia terus mengganggu kami sepanjang hari".
"Bahkan setiap malam dia tidak membiarkan kami tidur nyenyak pa".
"Baiklah,,,papa mengerti.....sekarang coba tunjukkan, di mana anak nakal itu".
Sheina dan Sheila saling bertatapan dengan perasaan takut. Gadis kecil yang di maksud olehnya, sedang menyeringai marah ke arah mereka berdua. Kedua gadis itu menunduk ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Roy.
Tahu lah Roy apa yang sedang di hadapi kedua putrinya saat ini. Tanpa sengaja, ada sosok anak kecil yang mengikuti Nisa sampai ke rumah. Tapi anehnya, kenapa Nisa dan bapak tidak bisa melihat kehadiran nya. Justru kedua putri nya lah yang terus menerus di ganggu oleh makhluk itu.
"Sofia,, tolong kemari sebentar".
"Iya pak,, ada yang bisa saya bantu".
"Tolong temani si kembar sebentar, jangan biarkan mereka sendirian".
"Aku harus bicara dengan Nisa sebentar".
"Baik pak".
__ADS_1
Roy meninggalkan kedua putrinya dan melangkah ke dalam mencari Nisa. Dia masih terlihat kesal rupanya. Kebetulan bapak ada bersama nya di ruang tengah.
"Bagaimana mas, apa Sheina mau mengakui perbuatan nya??".
"Kali ini anak itu harus di beri hukuman mas".
"Ini bukan salah Sheina, Nisa".
"Berhentilah memarahinya seperti itu".
"Kau selalu saja membela putri mu, mereka jadi besar kepala kalau bersama mu".
"Nisa,, apa kau atau pun bapak tak melihat sesuatu yang aneh di rumah kita??".
"Maksud mu apa mas,, kenapa kau jadi mengalihkan pembicaraan??".
"Nisa,,kau ingat hari terakhir kita di hotel waktu itu?".
"Kau bilang seperti melihat seseorang di balik jendela".
"Kurasa, yang kau lihat itu bukan manusia,,dan parah nya lagi, dia mengikuti mu sampai kemari".
"Sosok anak kecil, perempuan.....dia lah yang sudah mengganggu kedua putri ku".
"Termasuk merusak boneka Barbie milik Sheila".
Nisa dan bapak terkejut mendengar perkataan Roy. Mereka heran karena tidak menyadari kehadiran makhluk gaib di rumah nya. Biasanya bapak sangat peka kalau menyangkut hal seperti ini.
Tanpa menunggu lama, bapak segera masuk ke kamar si kembar, di ikuti oleh Nisa dan Roy.
Mereka memeriksa sekeliling ruangan, namun tak menemukan apa pun.
"Di mana anak-anak sekarang,Roy??".
"Mereka di halaman depan bersama Sofia pak".
"Aku akan memeriksanya sekarang".
Bapak bergegas menghampiri kedua cucu kembarnya. Sementara Nisa dan Roy masih di kamar si kembar, memeriksa setiap sudut ruangan dalam kamar tersebut.
"Apa anak-anak mengatakan padamu mas??".
"Tentu saja,,,mereka bahkan sangat ketakutan".
"Kau malah memarahi mereka dan menuduh macam-macam".
"Kau harus segera menemukan nya Nisa,,atau anak-anak dalam bahaya".
Nisa sudah berusaha keras menyisir seluruh ruangan. Tapi tetap saja dia tak menemukan sosok yang di maksud oleh Roy dan kedua putri nya. Nisa jadi penasaran, seperti apa tampang makhluk halus yang berani mengganggu putri nya itu.
Sementara itu, di luar rumah, bapak menghampiri cucu-cucu nya. Dia memperhatikan keadaan sekitar. Nyatanya, bapak juga tak melihat penampakan makhluk gaib seperti yang di sebutkan oleh Roy.
"Sheila,,,,Sheina....kemari lah....!!!".
"Mbah kung ingin bicara dengan kalian".
"Sofia,,, biar bapak yang jaga mereka, kau masuk saja ke dalam".
Sofia meninggalkan kedua anak asuh nya bersama kakeknya. Dia segera masuk ke dalam rumah. Sementara, bapak langsung menyuruh kedua cucu nya untuk duduk di pangkuan nya. Sama hal nya dengan Nisa, bapak juga penasaran dengan sosok gaib yang di sebutkan oleh Roy. Bapak butuh mendengar langsung dari kedua cucu nya perihal insiden di antara mereka.
__ADS_1
...****************...