Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kebenaran.


__ADS_3

Hanya sebentar saja Nisa bisa tenang, saat bapak keluar dan mengobrol dengan Roy, Nisa kembali berteriak kesakitan. Perawat dan dokter jaga tak mampu menahan amukan Nisa. Dia bahkan berteriak kepanasan sekujur tubuh nya. Bapak dan Roy bergegas masuk ke dalam ruangan dan mencoba menenangkan Nisa.


"Nisa, kendalikan diri mu nak, bapak yakin kau mampu melawan rasa sakit mu itu".


"Seluruh tubuh Nisa terbakar pak,,ini panas sekali.....sakit pak,, Nisa butuh air....tolong Roy,,aku bisa hangus terbakar".


Bapak memegang tangan Nisa yang terus mengamuk, melempar apapun yang ada di depan nya. Sementara itu, Roy memeluk tubuhnya dan berusaha menenangkan istrinya. Bapak melihat ke dalam mata Nisa, ada kilat api yang berkobar di sana. Bapak semakin yakin kalau ada yang mencoba mencelakai putri nya itu.


Untung saja mbah Cokro datang bersama dengan Alan. Mereka mendengar teriakan kesakitan Nisa dari luar ruangan. Mbah Cokro bergegas masuk ke dalam dan melihat kondisi Nisa.


"Sudah ku duga kalau ini akan terjadi Roy".


"Aku sudah pernah bilang padamu kan,,sebuah kekuatan besar datang dari rumah mu".


"Jadi, maksud mbah Cokro waktu itu....tapi mbah bilang kalau kekuatan itu melindungi kedua putri ku, tapi kenapa sekarang berbalik menyerang Nisa??".


"Aku minta izin pada mu sekarang Roy,kalu kau ingin Nisa sembuh, kau harus pula mendengar kebenaran nya".


"Aku belum paham mbah,, apa maksud mbah Cokro,, kebenaran apa yang mesti ku dengar??".


"Dengar Roy, Nisa di celakai oleh kekuatan jahat yang berasal dari keluarga mu sendiri".


"Carilah di dalam rumah mu, minta dia untuk menghentikan serangan nya pada Nisa".


"Kalau aku yang bertindak, ku pastikan kau bisa kehilangan salah satu anggota keluarga mu".


"Silahkan kau buat keputusan Roy, waktu kita tak banyak".


"Orang itu sengaja ingin menghabisi Nisa rupanya".


Roy melepaskan pelukan nya dan segera berlari secept mungkin menuju tempat parkir. Dia bergegas mengambil mobilnya dan meluncur pulang ke rumah. Kali ini Roy memarkir mobilnya jauh dari rumah dan diam-diam masuk lewat pintu belakang.


Semula Roy mencurigai Sri dan Paijo, makanya dia langsung memeriksa kamar mereka. Nihil,,,Sri dan paijo bukan orang nya. Roy melanjutkan masuk ke dalam rumah. Kakaknya sedang tidur di kamar, sementara bapak berbaring di atas sofa. Hanya ibunya yang tidak terlihat.


Roy diam-diam membuka pintu kamar ibunya. Saat masuk ke dalam, Roy melihat ibunya sedang duduk bersila di depan sesaji. Roy mengendap-endap dan melihat dengan jelas, sebuah boneka kecil dengan foto Nisa, sedang di panggang di atas bara api sambil di tusuk-tusuk dengan jarum di sekujur tubuh boneka tersebut.


"Rupanya ibu pelaku nya,,, tega sekali ibu melakukan ini pada Nisa".


"Roy.....ibu tak mendengar suara mobil mu,, kau sudah pulang rupanya??".

__ADS_1


"Apa salah Nisa bu,,, kenapa ibu berniat menghabisinya dengan cara seperti ini?".


"Kau salah sangka nak, ibu tak melakukan apapun pada istri mu itu".


"Semuanya sudah jelas,,, dan ibu masih mengelak??".


Saking marah nya, Roy menendang sesajen di hadapan ibunya. Dia mengobrak-abrik seisi ruangan hingga suaranya terdengar sampai di luar. Semua orang terbangun dan melihat ke dalam kamar ibu Roy.


"Aku sangat mencintai Nisa bu,,!!".


"Kalau ibu anggap itu suatu kesalahan, hukum aku, tapi jangan sakiti istri dan anak ku, ku mohon kepada mu ibu,,,hentikan semua ini!!!".


"Nisa hampir meninggal karena ulah ibu".


"Apa yang membuat ibu begitu membenci dirinya??".


"Hanya karena aku mencintai nya, ibu jadi gelap mata,,, sadar lah bu!!!".


"Ibu sejak semula tidak setuju kau menikah dengan janda itu kan, Roy??".


"Tapi kau sudah terkena guna-guna wanita itu, hingga nekat menikah tanpa sepengetahuan kami".


"Jadi ini isi hati ibu sebenarnya, ibu tak merestui Nisa menjadi menantu mu".


"Kau sungguh menyakiti hati ku,,andai kau tahu kalau Nisa bukan lah seperti penilaian mu".


"Aku sangat kecewa dengan sikap mu ini ibu,, sungguh benar-benar kecewa".


Roy berlalu meninggalkan ibunya yang tetap saja bergeming dengan keangkuhan nya. Dia bahkan tak mau meminta maaf pada Nisa, sekalipun hampir melenyapkan nyawa nya.


Roy sama sekali tak menduga kalau ibunya bisa berbuat nekat seperti itu.


Langkah Roy terhenti ketika melihat Sri berdiri di pintu dapur. Wajah wanita paruh baya itu di penuhi air mata.


"Kau tahu sejak awal kan Sri, kenapa tak mengatakan nya padaku??".


"Apa kau juga membenci Nisa dan ingin dia mati, sama seperti ibu ku??".


"Tidak pak Roy,, saya takut nyonya marah kalau saya bilang yang sebenarnya pada pak Roy".

__ADS_1


"Saya sudah menyuruh pak Roy untuk memberi bu Nisa air kelapa bukan??".


"Sambil saya pikirkan cara untuk membujuk nyonya tua".


"Maaf kan saya pak Roy,, saya benar-benar menyesal".


"Sudah lah Sri,,, kita bicara lagi nanti,, aku harus ke rumah sakit sekarang".


Roy pergi dengan rasa marah dan kecewa. Orang-orang terdekat nya justru ingin menghabisi nyawa Nisa. Padahal selama ini Nisa sudah bersikap baik kepada ibu mertua dan kakak ipar nya itu, tapi nyatanya ibu sungguh tega berbuat sehina itu.


Di rumah sakit, mbah Cokro sudah mengobati Nisa dari guna-guna yang di kirim oleh ibu mertuanya. Lelaki tua itu tidak menceritakan siapa dalang di balik sakit nya Nisa. Mbah Cokro merasa tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga Roy. Biarlah dia sendiri yang menjelaskan nya nanti pada bapak dan Nisa.


"Kau sudah sembuh sekarang Nisa,, kekuatan jahat yang mengganggu mu sudah ku singkirkan".


" Kau sudah bisa pulang dari sini".


"Sebenar nya siapa yang mencelakai ku mbah, kenapa aku bisa sampai seperti ini?".


"Mungkin orang yang tidak suka padamu Nisa, jangan kau pikirkan".


"Dokter sudah datang untuk memeriksa mu, mbah permisi keluar dulu".


Bapak menemani mbah Cokro keluar ruangan, sementara dokter memeriksa Nisa.


Dokter merasa heran karena Nisa sudah sembuh dan tidak ada penyakit sama sekali. Dia bahkan di izin kan pulang hari itu juga.


Dari kejauhan, bapak melihat Roy berjalan ke arah mereka. Wajah Roy sudah tegang dankelihatan sangat ketakutan. Dia tak mungkin bisa menghadapi kemarahan bapak.


Saat akhirnya Roy sampai, dia langsung bersimpuh di kaki bapak dan meminta maaf.


"Maaf kan Roy pak, tidak bisa menjaga Nisa dengan baik".


"Roy juga tak berhasil menyadarkan ibu agar meminta maaf pada Nisa dan bapak".


"Sudah lah Roy,, bapak paham,,semua ini memang sudah pasti akan terjadi".


"Bangun lah,, bapak tidak menyalahkan mu sama sekali".


"Kau sudah menjaga Nisa dengan baik selama ini".

__ADS_1


Bapak mengangkat tubuh Roy dan memeluknya dengan erat. Beban yang di rasakan oleh Roy, setidaknya bisa sedikit berkurang.


__ADS_2