Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Korban Pembunuhan.


__ADS_3

"Kamarnya masih di tempati mbak, tapi hanya seorang pemuda yang menginap".


"Dia juga masih single, tidak membawa istri ataupun pacarnya".


"Kami pihak hotel tidak bisa membukanya karena penyewa kamar sedang berada di luar".


"Tapi, gadis itu ada di depan kamar 102 mbak".


"Dia babak belur, seperti habis di hajar".


"Saya yang barusan merawat lukanya".


"Kami tahu mbak, kalau begitu kita tunggu saja sampai pemilik kamar itu pulang".


Nisa akhirnya menyerah. Dia tak mau berdebat dengan resepsionis hotel. Yang bisa di lakukan nya hanya menahan kekesalan.


Sejak masuk ke sini, hotel ini memang sudah banyak keanehan.


Roy menarik tangan Andin dan mengajaknya kembali ke kamar. Saat melintas di lobby, dia melihat di layar televisi sedang menayangkan


berita penculikan. Dan lebih menariknya lagi, foto yang di lihatnya adalah gadis yang sekarang sedang ada di kamarnya.


"Itu kan.....berarti dia korban penculikan".


"Ayo Roy,,kita harus segera membawanya ke kantor polisi".


"Pantas saja kalau dia babak belur begitu".


"Cepat Roy, kasihan orang tua nya".


Roy dan Nisa bergegas kembali ke kamar mereka berdua. Saat masuk, mereka sudah tidak lagi mendapati gadis itu di sana. Nisa dan Roy berusaha mencarinya, namun dia tak kunjung ditemukan.


"Kemana lagi gadis itu sekarang??".


"Padahal aku sudah menyuruhnya untuk menunggu di kamar".


"Kalau penculik itu melihatnya kabur, dia mungkin bisa menghajarnya kembali".


"Ayo Roy,, pihak hotel harus tahu hal ini".


Nisa dan Roy berjalan di lorong hendak turun ke bawah. Namun, suara tangis gadis itu di depan pintu kamar yang sama, membuat Nisa menghentikan langkahnya.


"Kau disini rupanya, kami sudah mondar-mandir di sini tadi".


"Berhenti menangis,, kami sudah tahu semuanya".


"Ayo, biar aku dan suami ku yang mengantar mu ke kantor polisi".


"Orang tua mu sedang mencari mu".

__ADS_1


Gadis itu hanya terdiam. Dia terus menunduk dan masih saja menangis. Dia juga tak mau beranjak sama sekali dari depan kamar 102.


Nisa kembali mendekatinya. Dia berjongkok di depan gadis muda tersebut. Nisa mengamati wajahnya yang sembab.


"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada mu".


"Jangan takut, penculik itu pasti akan di tangkap secepatnya".


"Kami bersama mu, kau aman sekarang".


"Bicaralah,, kau mendengar ku bukan??".


Nisa sudah setengah jengkel menghadapi gadis di hadapan nya. Dia tetap diam membisu, tanpa merespon sama sekali. Walaupun Roy juga telah berusaha membujuk


nya, dia tetap bergeming.


"Ya sudah,,,terserah apa mau mu sekarang".


"Aku dan suami ku akan pergi dari sini".


"Kami berniat baik padamu".


"Namun kau sendiri yang tak mau di tolong".


"Semoga kau segera bertemu dengan keluarga mu!!".


"Tolong aku......ku mohon,,!!!".


Nisa berbalik, dan di lihatnya gadis itu berdiri di depan mata Nisa. Di perutnya tertancap sebuah pisau dapur menembus bagian belakang. Darah mengalir di sela-sela luka bagian perutnya.


Nisa menutup mulutnya yang menganga karena kaget. Tak terasa air matanya menetes di pipinya. Kondisi gadis itu sungguh sangat mengenaskan. Rupanya dia sudah meninggal. Dan yang mendatangi Nisa dan Roy adalah arwah nya.


Nisa tak kuat melihat pemandangan di depan nya. Dia menangis terisak di pelukan Roy.


"Ada apa Nisa,, apa yang kau lihat sampai kau seperti ini?".


"Roy,, gadis itu.....penculik itu sudah menghabisi nyawanya".


"Dia rupanya sudah meninggal".


"Tenang Nisa,,, tanyakan padanya di mana tubuhnya sekarang".


"Kita akan segera mengurus mayatnya".


Nisa kembali memandangi wajah gadis yang ada di hadapan nya. Tangan nya menunjuk ke dalam kamar 102. Nisa yakin sekali kalau mayatnya pasti di sembunyikan di dalam kamar tersebut. Nisa segera memberitahukan hal tersebut kepada Roy.


"Kau tetap disini,, aku akan menelpon polisi dan menemui manajer hotel".


"Kita harus segera mengeluarkan mayat gadis tersebut".

__ADS_1


"Jangan lama-lama Roy,, aku takut sendirian disini".


"Aku akan segera kembali".


Nisa terjatuh di lorong. Wajahnya tertunduk lesu. Begitu kejamnya mereka menyiksa seorang gadis dan menghabisinya. Tak dapat


di bayangkan saat dirinya berteriak meminta tolong untuk dilepaskan. Bahkan pisau itu masih menancap di perutnya. Dia harus meregang nyawa di tangan penjahat yang kejam.


Nisa masih menangis saat Roy kembali bersama polisi dan manager hotel. Mereka segera membuka pintu kamar yang terkunci.


Roy memeluk Nisa untuk memberinya kekuatan. Sementara, arwah gadis muda tersebut masih berdiri di depan pintu.


Polisi masuk untuk memeriksa kamar hotel.


Sesaat kemudian dia keluar karena tak menemukan apa pun. Dan lagi, kamar dalam kondisi bersih. Hanya ada koper berisi pakaian dan barang-barang dari penyewa hotel.


"Bu Nisa, mungkin informasi yang anda terima salah".


"Silahkan masuk dan periksa sendiri, kamar nya bersih dan rapi".


"Lemari nya juga bersih Bu, tidak ada tanda-tanda penyiksaan".


"Tapi pak,, saya yakin kalau mayat gadis itu ada di dalam".


"Silahkan Bu Nisa periksa sendiri kalau tak percaya".


Nisa memberi isyarat mata pada arwah gadi muda yang masih terus mengawasi di depan kamar. Arwah itu lalu mengikuti Nisa masuk ke dalam. Di lihat dari kamarnya memang bersih dan rapi. Namun, gadis itu menunjuk ke arah bawah tempat tidur. Nisa pun mengerti, dia segera memanggil polisi untuk memeriksa tempat yang di tunjuk oleh gadis muda tadi.


"Coba bapak periksa di bawah ranjang ini, kalau perlu singkirkan dulu tempat tidurnya".


"Saya sudah periksa tadi Bu, tak ada apapun".


"Tolong pak, periksa sekali lagi...mungkin bapak kurang teliti".


Polisi dan beberapa room boy menggeser tempat tidur. Benar saja, ada satu koper besar yang di tutupi kain serupa warna kayu. Polisi menarik koper tersebut keluar. Dengan hati-hati mereka membuka koper tersebut.


Benar saja,, mayat seorang gadis berlumuran darah dan terikat plester berada di dalam nya.


Bau anyir darah menyatu dengan bau mayat yang sudah hampir membusuk. Polisi segera membawa masuk kantong jenazah dan mengevakuasi mayat gadis muda dari dalam hotel tersebut.


Sayang sekali pelaku penculikan tersebut keburu melarikan diri. Hanya tinggal barang-barang nya saja yang masih tertinggal di hotel. Nisa tak kuasa menahan air matanya ketika melihat kondisi jenazah.


Pemuda itu begitu tega melakukan perbuatan yang biadab seperti itu. Mungkin kalau arwah tadi tidak menemui Nisa, mayatnya tidak akan pernah di temukan. Setelah semuanya pergi, arwah gadis tersebut masih ada di sana. Dia seolah tersenyum kepada Nisa. Mungkin dia akhirnya bisa tenang setelah mayatnya di temukan.


"Tak berapa lama, dirinya menghilang entah kemana. Nisa dan Roy kembali ke kamarnya. Nanti mereka berdua akan memenuhi panggilan polisi untuk menjadi saksi kasus pembunuhan gadis belia korban penculikan.


Saat ini Nisa masih menenangkan diri di dalam kamarnya. Peristiwa gaib lagi baru saja dialaminya. Nisa senang, namun terkadang juga takut ketika mereka satu-persatu menampakkan diri di hadapan nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2