Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Menjadi Tumbal Kuntilanak.


__ADS_3

Nisa tak menyangka mendapat serangan yan mendadak di pinggir jalan seperti itu. Dia masih shock karena dikerubungi ribuan laron hanya dalam waktu sekejap saja.


"Sayang,,, kau baik-baik saja kan??".


"Aku hanya sedikit mual mas, perutku rasanya


seperti diaduk-aduk?".


"Kau mau kita ke dokter??".


"Kita pulang saja mas,,aku akan bikin teh hangat untuk meredakan mual nya".


"Kalau kau sedang tidak sehat,,, sebaiknya biar Anton dan Ratri yang mengurus ini".


"Aku tak mau terjadi sesuatu padamu, seperti waktu itu, sayang.....".


"Iya mas,,,, aku akan menjaga diri ku,,,kalau mereka sampai memberikan peringatan kepadaku,,, berarti masalah ini sangat serius mas".


"Sebaiknya kau berhati-hati Nisa, mereka bisa


menyerang mu kapan saja".


"Kali ini kita tak boleh main-main".


"Aku kan hubungi Ratri nanti,,, sebaiknya kita pulang sekarang mas".


"Ayo,, naiklah..".


Nisa dan Dito lantas melanjutkan perjalanan


mereka ke rumah. Gangguan yang dialami Nisa tadi semakin membuatnya penasaran untuk mengungkap misteri di rumah Yeni.


"Ratri,,, kau dengar aku,,, mereka baru saja memberi peringatan kepadaku di jalan tadi".


"Apa maksud mu Nisa???".


"Seorang nenek tua, matanya hilang dan separuh wajahnya hancur dan berbau anyir"


"Mulutnya semula berdarah, tapi tiba-tiba


mengeluarkan ribuan laron dan menyerang aku dan Dito di jalan".


"Aku tahu nenek itu,, dia mengawasi kami sepanjang acara makan malam tadi".


"Jadi mereka sudah tahu rencana kita, kalau begitu, kita harus bergerak cepat".


"Besok pagi aku dan Anton akan ke rumah Rudi untuk menjemput anak-anak".


"Baiklah Ratri, aku tutup dulu".


"Ok Nis, selamat beristirahat ".


Keesokan paginya, Ratri dan Yeni berangkat ke rumah Rudi. Rencana nya dia akan


menjemput anak-anak. Sesampainya di rumah Rudi, tampak bendera kuning di depan


rumahnya. Banyak orang yang lalu lalang di


rumah dan banyak warga yang bertakziah.


Yeni panik melihat kerumunan orang-orang


di depan rumahnya itu. Dia khawatir ada anggota keluarganya yang meninggal dunia.


"Ratri,,, aku mau turun, memastikan siapa yang meninggal di rumahku".


"Tunggu sebentar mbak,, sabar dulu,, mbak tunggu di mobil saja, biar aku yang ke dalam".


Ratri turun dari mobilnya. Dia menemui salah satu pelayat di depan rumah Rudi.


"Maaf Bu,, kalau boleh tahu, siapa yang meninggal ??".


"Itu non,, Nina, anak sulung pak Rudi, tadi malam kecelakaan sewaktu mau pulang dari kampus nya".

__ADS_1


"Kasihan non,, mana anaknya cantik, ramah lagi".


"Iya Bu, saya turut berduka cita Bu".


Ketika Yeni tengah menunggu Ratri di dalam mobil,,, tiba-tiba di samping jok mobilnya, muncul wanita yang menyerupai dirinya.


Dia menunduk dengan rambut terurai.Yeni


terkejut karena tidak menyadari ketika wanita itu masuk mobil.


"Mau apa kau kemari??".


"Sudah kubilang kan,,,, jangan coba-coba melawanku,,, atau kau akan kehilangan suami dan anak-anakmu".


"Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya, kalau tidak patuh perintahku".


Yeni hendak menjawab perkataan nya, tapi secepat kilat dia raib dari pandangannya.


Yeni kian gelisah dan ketakutan menunggu


kehadiran Ratri di dalam mobil.


Ratri masuk ke dalam rumah, dia melihat Rudi


dan istrinya di depan jenazah.Ratri mendekati


Rudi dan mengucapkan bela sungkawa. Rudi


tampak sangat terpukul kehilangan putrinya.


Sementara, kuntilanak itu menatap tajam ke arahnya.


Ratri menyelinap diantara para pelayat untuk masuk ke pekarangan belakang rumah Rudi.


belum sampai ke sana, tiba- tiba di belakangnya muncul Yeni. Dia memegang


bahu Ratri dari belakang.


"Sudah kubilang, jangan masuk ke dalam".


"Baik,,,,aku akan pergi,,,lepaskan sekarang".


"Kali ini kau menang,,,tapi lihat saja nanti,,, aku akan kembali dan membuat perhitungan dengan mu".


Yeni tertawa melengking,,,yang tentu saja hanya dapat di dengar oleh Ratri.Dia sudah berhasil menguasai semuanya.


Ratri menyelinap keluar dari rumah Rudi. Dia


mencoba menyampaikan kabar duka tersebut


dengan berhati-hati.


"Mbak,,,kau harus tabah, putri mu Nina sudah tiada,,,tadi malam dia kecelakaan".


"Apa,,,,,tidak mungkin,,,Nina .......biarkan aku ke


sana sekarang".


"Ya Tuhan,,,,putriku,,,kenapa kau tinggalkan ibumu nak???".


Yeni tergesa-gesa hendak turun untuk melihat jenazah putrinya. Ratri memeluk erat dan menahan nya supaya tidak keluar dari mobil.


"Tenang mbak,,,tabah kan hatimu,,, belum saatnya kita melawan makhluk itu".


"Dia baru saja dari sini Ratri,,,, dia mengancam ku di mobil".


"Ternyata kali ini dia serius,,,,dia sudah mengambil putriku".


Yeni masih menangis terisak-isak di pelukan Ratri. Ujian hidupnya memang sungguh berat


kali ini. Kuntilanak itu sudah mengambil nyawa anak yang tidak berdosa.


Aku menunjukkan rekaman wajah Nina yang diam-diam sempat kuambil sewaktu di dalam tadi. Yeni masih belum berhenti menangis, sama seperti Rudi, dia juga sangat terpukul

__ADS_1


kehilangan Nina, putrinya.


"Sekarang, sebaiknya kita pulang dulu mbak,


setidaknya sampai Deni putramu, bisa kita selamatkan".


"Nanti,,,kita baru bisa bertindak kalau Deni sudah keluar dari rumah terkutuk itu".?


Mbak Yeni menyeka air matanya. Dia mengangguk mendengar kata-kata ku. Tatapan nya kosong dan wajahnya sendu.


Aku sungguh tak tega melihatnya. Mbak Yeni


tampak sungguh menderita. Kuntilanak itu


menjadikan Nina sebagai tumbal.


Ratri membawa mbak Yeni ke kantor. Tak mungkin meninggalkan dia sendirian. Dia bisa berbuat nekat karena kehilangan putrinya


Nisa menyambut kedatangan Ratri dan mbak


Yeni. Wajah mbak Yeni masih sembab karena


sepanjang jalan tak berhenti menangis.


"Dimana anak-anak,,,kalian berhasil membawa mereka bukan??".


"Kami terlambat Nis,,,Nina sudah tiada".


"Kuntilanak itu sudah menjadikannya tumbal".


"Aku sudah masuk kerumahnya dan melihat


jenazahnya langsung".


"Ya ampun,,,,mbak Yeni, aku turut berduka cita


semoga Nina diterima disisiNya.


"Dia memang sudah memberi peringatan sebelumnya,,,kalau aku melawan, dia akan menghabisi keluargaku satu per satu".


"Tenang mbak, kita jangan takut,, nanti, kita


kembali ke sana, kita jemput putramu saat


pemakaman kakaknya".


"Setelah itu, Anton akan membujuk suamimu, biar Anton tahu kalau istrinya itu kuntilanak yang jahat".


"Aku sudah mencoba masuk rumahnya tadi, tapi dia mencegahku".


"Bagaimana kalau kita berempat ke sana sekalian, paling tidak, kita bisa membawa putra mbak Yeni pergi dari rumah itu".


"Aku akan panggil Anton".


Ratri masuk ke ruangan Anton.Dia sedang


menelpon temannya. Dia mendapat kabar


soal kematian anak Rudi.


"Ratri,,,, bagaimana keadaan Yeni sekarang??".


"Aku membawanya ke kantor,,, atau dia akan


nekat menemui jenazah anaknya".


"Nisa meminta kita berempat untuk ke sana


bersama,, paling tidak anak mbak Yeni bisa kita bawa".


"Ok,,,, aku setuju,,, kita berangkat sekarang??".


"Kurasa,,,, lebih cepat, lebih baik".

__ADS_1


Akhirnya mereka berempat berangkat menuju


rumah Rudi.Mereka merasa perlu menyelamatkan putra Yeni yang masih hidup, kalau tidak, mereka takut dirinya juga ikut menjadi tumbal seperti kakaknya. Kuntilanak itu sanggup melakukan apa saja. Nisa sendiri bahkan sudah diperingatkan secara terang-terangan.


__ADS_2