
"Hei om, aku tahu kau kesepian, tapi jangan coba-coba mengambil kesempatan dari ku".
"Terserah,,,kau bisa memilih, kamarku atau kamar si kembar dan Sofia".
"Bagaimana Misca,, kau setuju dengan permintaan nya?".
"Baiklah,,, aku mau,, tapi ingat,, Misca akan mengawasi kita setiap malam".
"Jadi jangan coba-coba berbuat mesum padaku".
Dalam hati Dito tersenyum. Tidak susah rupanya membuat Nisa mengikuti perintahnya. Setidaknya dia masih bisa satu kamar dengan istrinya itu. Dito akan berusaha mengembalikan ingatan Nisa sebagai istrinya kembali.
Memang agak aneh rasanya mendengar Nisa memanggil dirinya om. Tapi itu malah membuat Dito semakin merasa tertantang untuk meluluhkan hati Nisa lagi.
"Om,,,aku mau pergi sebentar boleh??".
"malam-malam begini, kau mau kemana???".
"Itu,,temani Misca jumpa pacarnya".
"Nggak ada,, tetap di rumah, jangan pergi kemana-mana!!".
Sudah hampir pukul 8 malam, ketika Nisa minta ijin pada Dito untuk keluar malam. Dia hendak menemani teman gaibnya yang bernama Misca. Sejak pertama kali sadar, Nisa memegang sudah diikuti sosok gadis bernama. Misca. Dia tewas dalam kecelakaan
sehingga wajahnya rusak. Tetapi Misca selalu menampakkan diri dengan wajah cantiknya, jika di depan Nisa.
Hantu bernama Misca ini lah yang ikut andil
menjadikan Nisa sepeti sekarang ini. Segala sesuatu yang Nisa lakukan selalu meminta pendapat pada Misca. Andai saja Dito dapat melihat hantu, sudah habis si Misca ini dimaki-maki olehnya.
Keanehan Nisa berlanjut ketika Dito melarangnya keluar rumah. Dia masuk ke kamar dan duduk bersedekah menghadap jendela. Dito memanggilnya, tapi Nisa diam saja. Tiba-tiba suaranya berubah berat dan matanya hanya berwarna putih saja.
"Dia jahat,,,aku membencinya".
"Nisa kau kenapa, nyalakan lampunya!!".
"Pergi dari sini,,atau aku bawa Nisa pergi".
"Dia dalam kendali ku sekarang!!".
"Iya,,baik...aku pergi".
Setelah Dito keluar dari kamar, tiba-tiba lampu langsung mati. Dari dalam terdengar suara tawa cekikikan dan suara berat Nisa yang berubah-ubah. Dia seperti sedang bicara sendiri. Dalam hati Dito timbul rasa takut.
Mungkinkah ini akibat jiwa Nisa terlalu lama berada di alam gaib. Jadi semua makhluk tak kasat mata dengan mudah bisa masuk ke tubuhnya.
Setelah hampir 1 jam, Nisa keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Dito yang tengah duduk di sofa depan televisi.
"Aku boleh duduk di sini om??".
"Silahkan Nisa, kau bisa lakukan apa pun disini".
"Di rumah ini banyak sekali foto kita berdua,, bahkan ada foto pernikahan juga, tapi aku tak merasa ingat dengan om Dito".
"Pelan-pelan saja, jangan terlalu memaksakan diri, nanti kau juga lama-lama akan mengingatnya".
"Jadi sebenarnya om ini saudaraku atau suamiku sih,,, heran aku!!".
Dito menggeser duduknya menghadap Nisa. Dia lalu menatap matanya dan memegang tangan Nisa erat.
"Apapun anggapan mu tentang aku, yang pasti, aku orang yang mencintai mu".
__ADS_1
"Aku tidak berniat buruk padamu, sebaliknya aku hanya ingin selalu dekat dengan mu, itu saja".
"Aku akan menunggu sampai kau mengingat ku kembali".
"Kau mengerti perkataan ku bukan??".
"Ya,,, aku paham sekali om,, jadi om ini orang yang dijodohkan denganku??".
"Baiklah,,, aku paham sekarang".
Panggilan dari Roy memotong pembicaraan keduanya. Nisa lalu mengangkat ponselnya dihadapan Dito".
"Nisa, besok pagi kau bisa datang ke kantor kan, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan mu??".
"Hei.....pelan-pelan kalau bicara,, memang aku harus ke kantor apa?".
"Kantor guru atau kantor BK??"
"Nisa, berikan ponselmu padaku, biar aku yang bicara".
Dito lalu mengambil ponsel Nisa dari tangan nya.Dia menyambung pembicaraan Roy.
"Maaf Roy, Nisa sepertinya belum bisa lanjut mengerjakan proyek kalian".
"Tenang saja Dito, aku hanya butuh beberapa tanda tangan darinya".
"Besok pagi aku akan menjemputnya dan kembali mengantarnya pulang".
"Ok,, aku percaya padamu, dan Roy, kau harus tahu kalau Nisa menganggap dirinya masih anak SMA".
"Baiklah,,, aku mengerti apa yang harus kulakukan padanya nanti".
Roy tersenyum membayangkan penampilan
"Memangnya aku ada salah apa om, kenapa harus ke kantor dan bukan ke sekolah".
"Kau sudah lulus dan sedang bekerja dengan orang ini".
"Besok dia akan menjemputmu".
"Kau harus baik-baik di kantornya, mengerti??".
"Hmmm....oke??".
"O, ya om, Misca bisa ikut bersama ku kan??".
"Terserah kau saja, lakukan sesuka mu".
"Ok,, terimakasih om".
Nisa menghampiri Dito dan mencium pipinya.
Kemudian dia berlari-lari kecil menuju kamarnya. Tindakan spontan yang dilakukan Nisa, mampu membuat Dito tersenyum senang. Dia seperti terbawa ke masa mudanya lagi.
Dito masuk ke kamarnya menyusul Nisa.Dia lebih dulu berbaring di sisi kanan kasur mereka. Dito menatapnya sebelum menyusul ke pembaringan. Dia tersenyum dan merebahkan diri di samping istrinya itu.
Keesokan paginya Nisa bangun dan mendapati Dito tidur di sampingnya. Dia berteriak histeris membuat Dito terkejut.
"Ada apa kau berteriak pagi-pagi begini, si kembar bisa terbangun mendengar suaramu?".
"Kau tidak menyentuhku kan om, kita hanya tidur saja kan semalam??".
__ADS_1
"Apa maksudmu,,, kau mau disentuh oleh ku sekarang,, baik bersiaplah".
"Tidak om,, jangan,,menjauh dari ku".
"Tapi aku ingin sekali mencium mu sekarang".
"Jangan om,,, Nisa masih kecil".
Nisa berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu. Dito tertawa melihat tingkah polos Nisa yang ketakutan.
Di luar, suara bel berbunyi. Roy datang untuk menjemput Nisa. Mereka akan berangkat ke kantor. Dito menemuinya sembari menunggu Nisa selesai mandi.
"Bagaimana Nisa sekarang Dito, sudah jauh lebih baik?".
"Begitulah,, kadang menjengkelkan, kadang menggemaskan, aku hanya harus bersabar menghadapinya".
"Semoga saja dia segera pulih".
"Ya, aku juga berharap begitu".
Nisa keluar kamar. Dia sudah berpakaian. Tapi kali ini penampilan Nisa sanggup membuat kedua lelaki di hadapan nya melongo. Nisa terlihat sangat cantik dengan balutan kaos yang ketat serta celana jeans model pensil.
Dia juga merias wajahnya ala anak ABG.
"Tunggu, ini yang bernama Roy??".
"Iya,, aku Roy, rekan kantor mu selama ini".
"Ah,,, kenapa temanku omo-om semua".
"Apa tidak ada yang seumuran denganku??".
"Kau lihat kan sekarang Roy??".
"Jadi om,,,, tolong kau jaga Nisa dengan baik, dan pulangkan dia tepat waktu, atau aku akan menghukumnya nanti".
"Baiklah om Roy,, ayo kita berangkat sekarang,
aku tak mau dia menghukum ku nanti".
Nisa sudah lebih dulu melangkah ke luar rumah. Dito dan Roy tersenyum melihat tingkahnya. Dalam hati Roy mengakui kalau Nisa jauh lebih muda dan cantik sekarang.
"Baiklah,,, aku akan membawamu jalan-jalan hari ini".
"Serius om,,, wah.....aku senang sekali".
"Tapi om Dito tak memberi ku uang,, bagaimana kalau aku ingin beli baju??".
"Tunggu sebentar, aku akan minta dulu".
"Tidak usah,, hari ini aku yang akan mentraktir mu, kau boleh berbelanja sesuka hatimu".
"Sungguh,,,,, hm.......tampaknya aku mulai menyukai mu om Roy".
"Jangan panggil aku om, aku belum menikah".
"Panggil saja aku Roy, mengerti!!".
"Baiklah Roy,, terserah kau saja".
"Begitu lebih baik bukan,, seperti seorang teman jadinya".
__ADS_1
Nisa senang sekali rupanya bersama Roy. Daripada bersama Dito, Nisa lebih bebas dan nyaman ngobrol dengan Roy. Sepertinya Dito harus waspada dengan sikap Roy kepada Nisa. Diam-diam Roy ingin menjadikan Nisa sebagai miliknya.
...****************...