Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Mencari Sheila di Hutan Larangan.


__ADS_3

Hari sudah menjelang pagi. Semburat warna kuning sudah mengintip di ufuk timur, pertanda fajar sudah mulai menyingsing. Rombongan bapak sudah tiba di hutan larangan. Sebagian yang lain juga sudah mencari di sekitar kampung. Tapi tak satu pun mereka menjumpai tanda-tanda keberadaan cucu pak Ari tersebut.


"Sebaiknya, kita istirahat sebentar pak Ari".


"Kasihan bapak-bapak yang lain".


"Baik pak RT, kita duduk sebentar di sini".


"Kalau hanya di bawa manusia, Sheila tak mungkin bisa berjalan jauh pak Ari".


"Tapi, kalau Sheila di ganggu penunggu hutan, maka kita harus minta bantuan Mbah Cokro juga".


"Saya sudah menyuruh orang menjemput beliau pak RT, mungkin sebentar lagi Mbah Cokro sampai".


Roy ikut duduk bersama rombongan bapak-bapak yang lain. Hatinya begitu cemas memikirkan putri sambungnya tersebut..Anak sekecil itu, kemana mereka membawanya.


Kalau tidak segera di temukan, Sheila bisa ketakutan nanti.


Tak berapa lama, Mbah Cokro muncul bersama dengan warga kampung yang menjemputnya. Untung saja rombongan itu masih berada di depan hutan, jadi mereka bisa mencari berdasarkan terawangan dari Mbah Cokro langsung.


"Monggo Mbah.....kami sudah lama menunggu".


"Aku tahu,,, tapi kali ini agak sedikit berat".


"Sheila di bawa oleh Wewe, penunggu hutan di sini".


"Tubuhnya pasti di sembunyikan di suatu tempat".


"Biar aku coba menerawang keberadaan nya dulu".


Mbah Cokro menghidupkan dupa dan kemenyan di atas cobek dari tanah. Mulutnya komat-kamit, entah mantra apa yang di bacanya. Dia juga mengeluarkan kembang kantil dari dalam kantong plastik yang di bawa nya.


Setelah hampir setengah jam duduk bersila, mbah Cokro membuka matanya. Dia kemudian menoleh ke arah Roy.


"Putri mu benar di sembunyikan oleh penunggu hutan ini".


"Aku sudah meminta nya untuk mengembalikan gadis kecil itu".


"Dia minta syarat untuk di tukar dengan boneka yang di beri baju anak itu".


"Kau bisa membawanya ke sini sekarang??".


"Tunggu Mbah, biar saya telpon Sofia dulu".

__ADS_1


"Biar dia yang menyiapkan nya".


Roy berjalan menjauhi hutan agar bisa menelpon Sofia. Begitu tersambung, dia meminta gadis itu mengantarkan syarat yang di minta oleh Mbah Cokro. Sofia segera menyiapkan syarat yang di minta oleh Roy.


"Ada apa Sofi,, apa Sheila sudah di temukan??".


"Bagaimana keadaan nya sekarang??".


"Masih belum Bu Nisa, pak Roy hanya meminta boneka dan baju Sheila untuk di antarkan ke hutan larangan".


"Biar aku ikut Sofi,, mungkin aku di perlukan di sana".


"Tapi Bu, ini terlalu beresiko, nanti malah ibu sendiri yang kenapa-napa".


"Pak Roy menjemput di persimpangan Bu, jangan khawatir".


"Saya berangkat dulu".


"Hati-hati Sofia!!".


"Baik Bu!!".


Nisa hanya bisa memandang Sofia dari dalam jendela. Dia ingat kalau dirinya tak boleh keluar pagar yang di buat Mbah Cokro. Padahal, dirinya ingin sekali ikut menemani Roy mencari putri nya Sheila.


Langkah kaki Sofia sampai ke persimpangan, jalan masuk menuju hutan larangan. Di lihat nya dari kejauhan, Roy sudah menunggu di jalan tersebut. Sofi bergegas menghampiri Roy dan menyerahkan apa yang di minta.


"Terimakasih Sofi,,, kau langsung pulang saja".


"Awasi Nisa agar jangan sampai keluar rumah".


"Dan kau, hati-hati di jalan".


"Baik pak Roy".


Sofia kembali ke rumah, sementara Roy berbalik menuju ke hutan larangan kembali.


Dia mempercepat langkah nya agar segera sampai. Takut nya, putri nya kelamaan di bawa oleh Wewe atau kuntilanak penunggu hutan.


"Ini Mbah, syarat yang Mbah minta sudah saya bawa".


"Bagus,, lalu....siapa yang akan menjemputnya?".


"Dia harus masuk ke alam gaib, dan menukar boneka ini dengan anak mu".

__ADS_1


"Biar saya yang melakukan nya Mbah".


"Roy masih belum paham tentang hal-hal seperti ini".


"Baik lah.....kalau begitu, lekas bersiaplah Ari".


"Waktu mu hanya 10 menit, saat Wewe itu melepaskan cucu mu, segera kau bawa pergi dia".


"Aku hanya bisa membantu mu dari sini saja".


"Apa kau sudah paham penjelasan ku?".


"Iya Mbah,, saya mengerti".


"Pintu masuk nya di pohon besar itu".


"Kurang dari 10 menit, kau harus sudah kembali ke pohon itu Ari".


"Atau,,,selamanya kau akan terkurung di dunia gaib".


Bapak mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Mbah Cokro. Tugas yang berat, namun dia harus tetap menyelamatkan cucu nya. Bapak pun bersiap-siap, bersemedi di depan Mbah Cokro. Keduanya khusuk membaca ritual untuk membuka pintu gaib yang ada di depan nya.


Roy dan warga kampung yang lain, hanya bisa


melihat dan mengawasi dari dekat. Mereka sudah percaya kepada Mbah Cokro, terlebih untuk urusan seperti ini. Dahulu Nisa juga pernah mengalaminya.


"Roh bapak sudah meninggalkan raganya. Di depan nya, dia melihat pintu gerbang tinggi menjulang. Di sela-sela pagarnya, tumbuh ilalang liar, sehingga rumah yang ada di dalam nya tidak terlihat dari luar.


Dengan hati-hati bapak membuka pagar rumah yang ada di depan nya. Dia segera berjalan ke dalam rumah mencari keberadaan Sheila. Sulur tanaman panjang menutupi penampakan rumah tua tersebut.


Saat masuk ke dalam, bapak melihat banyak anak-anak yang berada di situ. Semuanya terlihat sangat bersedih. Tatapan matanya kosong, tidak menyiratkan cahaya kehidupan sama sekali. Bapak melihat satu-persatu wajah tersebut, tak nampak ada cucu nya Sheila di antara mereka.


Bapak terus saja masuk ke dalam ruangan yang lain. Ada suara tangisan yang terdengar di salah satu ruangan. Bapak mengikuti suara tangisan tersebut. Sepertinya suara nya tak asing di telinga bapak.


Bapak semakin mempercepat langkahnya. Saat di rasa yakin sumber suara itu dari ruangan di depan nya, perlahan bapak membuka pintu nya. Nampak oleh nya Sheila duduk di pangkuan wanita tua. Rambutnya putih panjang, di gunakan sebagai alas duduk, sementara kukunya yang panjang menancap di leher cucunya.


Wanita itu menyanyikan tembang untuk Sheila sambil membelai rambutnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan di pangkuan wanita tua yang biasa di sebut Wewe.


Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Wewe adalah hantu penculik anak-anak. Biasanya dia menampak kan diri saat Maghrib tiba. Itulah sebabnya orang tua zaman dulu melarang anak mereka keluar pada saat menjelang senja.


Bapak mencoba mendekati tempat duduk Sheila, karena wanita tua itu tidak melihat bapak sama sekali. Dia berusaha menukar Sheila dengan boneka yang di bawanya. Secepat kilat, bapak menggendong Sheila dan berusaha keluar dari ruangan tersebut.


Rupanya, Wewe tersebut menyadari kalau anak yang ada di pangkuan nya bukan yang sebenarnya. Dia marah dan berusaha mengejar bapak dan Sheila.

__ADS_1


Ruangan yang baru saja di tinggalkan bapak berubah menjadi pohon besar, dengan sulur panjang yang hendak menangkap mereka berdua. Wewe tersebut berdiri di tengah pohon dengan seringai menakutkan. Bapak tetap berusaha lari, dan membawa Sheila keluar. Dia tak perduli apa yang terjadi di belakangnya.


...****************...


__ADS_2