Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kejutan Di Rumah Nisa.


__ADS_3

Begitu turun dari mobil, kedua bocah kecil itu langsung berlari mengejar Roy masuk ke dalam rumah. Mereka kelihatan sangat gembira bermain bertiga. Nisa menggandeng erat lengan ibunya. Entah kenapa, seperti ada perasaan kangen yang teramat sangat di dalam hatinya.


"Kenapa to nduk,,, kaya orang nggak pernah ketemu aja".


"Memang sudah lama Nisa nggak ketemu ibu to??".


"Ayo pak,Bu...kita masuk dulu".


"Lihat itu, anak mu saja sudah hafal kamarnya di mana".


"Iya,,sudah lama mereka ikut ibu, tapi tetep Ndak lupa sama rumah ini".


Sofia menyajikan minuman untuk semua orang yang sedang berbincang di ruang tamu, saat tiba-tiba Sheina memanggil Nisa dan berbisik padanya.


"Mama Nisa,, Tante berbaju putih di sana ingin mengajak Sheina main,, apa boleh ma??".


"Tante siapa sayang,, di sini cuma ada Tante Sofi kan??".


"Itu.....teman nya mama Nisa,,ada di kamar ku ma".


Sebelum Nisa sempat menjawab, bapak sudah menyahut terlebih dahulu.


"Nisa, anak mu itu seperti diri mu".


"Dia bisa melihat makhluk yang tak kasat mata".


"Biarkan Sofi yang menemani dia".


"Gadis itu sudah paham betul.harus bagaimana".


"Tak salah kau memilih Sofi jadi pengasuh si kembar".


"Dia mengerti betul sifat dan keadaan anak mu satu dengan lain nya".


"Apa Sheina sering melihat hal-hal ganjil seperti itu pak??".


"Saat di kampung iya,,,bahkan pernah di culik selama dua hari dua malam".


"Untung penghuni hutan larangan mengembalikan nya".


"Bapak sudah hampir putus asa mencari anak mu itu".


"Kenapa kalian tak menghubungi ku??".


"Sudah nak, tapi sampai sekarang ponsel mu tidak aktif to?".


"Bagaimana kami bisa menelpon mu?".


Nisa baru sadar kalau dirinya juga baru saja mengalami hal yang buruk. Untung saja teman-teman nya menyelamatkan dirinya.


Hendak bercerita pada orang tua nya, tapi Roy buru-buru menjawab pertanyaan ibu.


"Nisa habis kehilangan ponselnya Bu".

__ADS_1


"Ada yang mencuri barang-barang pribadi miliknya".


"Dan saat ini polisi sedang berusaha mencarinya".


"Bukan begitu Nisa??".


"Ah....iya, aku sampai lupa memberitahu ibu kalau ponsel ku baru".


"Hanya no Sofia yang masih tersimpan dan bisa ku hubungi".


"Maaf kan Nisa Bu, kalau bikin ibu dan bapak cemas".


"Ndak apa-apa nduk".


Di tengah perbincangan, Sofia tiba-tiba lari


keluar kamar. Dia memanggil Nisa karena Sheina di terbangkan ke atas plafon. Bukan nya takut, gadis kecil itu malah tertawa senang, bermain dengan "teman" barunya.


Nisa dan bapak segera mengikuti Sofi ke kamar si kecil. Bapak melihat si kecil Sheina hampir di lemparkan ke bawah oleh sosok kuntilanak berbaju putih. Rupanya dia hendak membuat Sheina celaka. Bapak tak tinggal diam. Dia naik ke atas tempat tidur dan merebut si kecil dari tangan kuntilanak.


Tentu saja bukan hanya dengan tangan kosong. Bapak mengangkat sebuah keris kecil dari saku bajunya dan di acungkan ke arah kuntilanak jahat tersebut. Sinarnya menyilaukan mata dan otomatis cengkeraman nya di lepaskan karena merasa kesakitan. Seketika sosok kuntilanak itu langsung menghilang dari kamar anak-anak.


"Sofi, jangan tinggalkan mereka sendirian".


"Rumah Nisa sepertinya banyak energi jahat".


"Entah kenapa bisa seperti ini??".


"Apa kau lama mengosongkan rumah mu??".


"Sejak.......cincin dan mustika itu hilang bersama ponsel dan yang lain nya".


Bapak merasa jawaban Nisa tidak meyakinkan. Semacam ada sesuatu yang di tutupi. Tapi bapak tetap bersabar. Dia akan menunggu sampai Nisa sendiri yang bercerita. Yang jelas, keadaan rumah Nisa sudah menjadi gambaran dari kejadian yang menimpanya.


Hari sudah agak siang, Roy pun pamit meninggalkan rumah Nisa. Sejak tadi Anton terus menelpon nya. Dia sedang menunggu dirinya di rumah.


Nisa mengantar sampai ke depan. Roy memberitahunya agar tidak bercerita kepada bapak, tentang dirinya yang koma waktu itu.


Roy hanya ingin menjaga perasaan orang tua Nisa, supaya mereka tidak khawatir.


"Aku pergi dulu Nis, nanti ku telpon".


"Entah apa yang terjadi, Anton terus saja menelpon".


"Ok,,kabari aku Roy,,aku tunggu".


Mobil Roy melaju meninggalkan halaman rumah Nisa. Tepat di saat Roy pergi, Siska entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada di depan rumah Nisa.


Nisa sama sekali tidak curiga sedikit pun pada wanita itu. Dia mengajaknya masuk ke dalam rumah. Siska mengikuti langkah Nisa ke dalam dengan seringai menakutkan.


"Ayo masuklah,,, kau dari empat kerja, atau dari mana??".


"Aku mencari mu Nisa".

__ADS_1


"Duduklah,,,biar aku ambil kan minum dulu".


Nisa masuk ke dalam untuk mengambilkan minum bagi Siska. Wanita itu mengamati sekeliling. Dia berdiri hendak menuju kamar Nisa, kalau saja bapak tidak keluar dari ruang makan.


Bapak melihat perempuan di depan nya. Nampak sekali kalau dia bukan seperti manusia biasa. Wanita itu sudah di kendalikan oleh sosok yang menyeramkan.


"Maaf nak, mau cari siapa ya??".


Siska menoleh ke belakang. Dia terkejut dengan sapaan dari bapak tersebut. Matanya hanya terus memandangi wajahnya, seolah mengerti kalau bapak bukan orang biasa.


Tak lama kemudian, Nisa keluar membawa segelas teh untuk Siska.


"Dia teman Nisa pak, Siska kenalkan ini bapak ku, baru datang dari kampung".


Bapak mengulurkan tangan nya, hendak membuktikan kecurigaan nya, kalau dia bukan wanita biasa. Benar saja, Siska menolak berjabat tangan dengan bapak.


Dia seperti ketakutan, karena melihat khodam yang ada di tubuh ayah Nisa tersebut.


"Sebaiknya aku pergi dulu Nisa".


"Kapan-kapan aku kembali".


"Tunggu sebentar nak,, bapak ingin bicara dengan mu".


"Nisa,,bapak lupa kalau ibu mu memanggilmu di dapur".


"Dia tak bisa menemukan gula".


"Baik pak,,tunggu sebentar Siska".


Sepeninggal Nisa, bapak langsung memegang lengan Siska dan langsung mengunci tubuhnya di sofa. Mata Siska memerah, seperti bola api menahan marah. Dia tak kuasa melawan khodam yang di miliki oleh orang tua tersebut. Saat berbicara pun, suaranya berubah menjadi berat dan ucapan nya kasar.


"Katakan, siapa yang mengirim mu kemari?".


"Lepaskan pak tua, aku tidak punya urusan dengan mu".


"Jelas ada, kalau yang kau datangi adalah putri ku".


"Kalau kau bermaksud buruk padanya, dengan mengirimkan wanita ini,, aku tidak akan tinggal diam".


"Keluar dari tubuhnya sekarang, atau aku yang akan memaksamu".


"Kasihan wanita ini, kau masuk ke tubuhnya dan berniat jahat pada anakku".


"Hei orang tua,,kau pikir aku takut padamu??".


"Nisa itu milik ku, dan aku akan mengambil


nya kembali".


"Kalau begitu, kau harus berhadapan dengan ku sekarang".


Sekali lagi bapak mengeluarkan keris kecil dari sakunya. Iblis itu merasa kesakitan, tapi belum mau keluar dari tubuh Siska. Bapak menempelkan keris kecil tersebut di dahi Siska, hingga dia berteriak kesakitan.

__ADS_1


Jeritan Siska di dengar oleh Nisa, yang langsung berlari ke depan. Di lihatnya, bapak masih memegangi lengan nya dengan keris kecil menempel di dahinya.


...****************...


__ADS_2