Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Gertakan Fransisca.


__ADS_3

Kedua pria itu akhirnya meninggalkan rumah Nisa setelah mengurus segalanya. Nisa terduduk lemas di sofa. Sekarang ini baik jiwa maupun tubuhnya sudah sangat lelah. Ingin rasanya menyerah oleh serangan dari Fransisca. Tapi dia masih memikirkan Dito dan anak-anak nya.


Nisa hendak memejamkan mata, tapi suara ponsel berdering, membuatnya urung beristirahat. Dia menjawab panggilan dari nomer yang di rahasiakan.


"Halo,, ada yang bisa di bantu,,, dengan siapa ini??".


"Nisa,, ini aku Dito,,,, aku sudah tidak tahan lagi, aku rindu pada mu dan anak-anak".


"Mas,,, kenapa kau nekat menelpon kemari,, Fransisca masih di sini mencari mu".


"Aku tahu,, dan aku tidak perduli".


"Beberapa hari ini perasaan ku tidak enak Nisa,,aku takut terjadi sesuatu padamu".


"Tenang lah mas,, aku tak apa-apa".


"Tunggulah sebentar sampai Fransisca pergi dari sini".


"Kau ada di kantor kan sekarang??".


"Tidak mas,, aku di rumah,, aku habis kecelakaan,, tapi....kau jangan khawatir, aku tidak kenapa-napa".


"Benar kan,, kekhawatiran ku terbukti".


"Aku sudah tahu kalau ada yang tidak beres".


"Jangan terlalu kau pikirkan mas, ada Sofia di sini,, dia bisa di andalkan".


"Kau tenang saja di tempat persembunyian mu,, sebentar lagi, pasti kita bisa berkumpul kembali".


"Baik Nisa,, aku tutup telpon nya,, jaga diri mu baik-baik".


"Kau juga mas".


Bersamaan dengan Nisa menutup telpon, terlihat seseorang mengetuk pintu rumah Nisa. Dia segera berdiri dan membukakan pintu. Fransisca ada di depan pintu rumahnya. Nisa segera menyambut kedatangan nya.


"Apa lagi yang kau inginkan Francis,, apa kau belum puas juga menyerang ku".


"Siapa yang baru saja menelpon mu,, jawab!!".


"Bukan urusan mu,, itu hal pribadi, dan aku tidak berkewajiban memberitahu mu".


"Sebaiknya kau tinggalkan rumah ku sekarang juga".


"Aku sedang tidak ingin di ganggu".


"Berani sekali kau mengusir ku,, setelah kau mengetahui fakta kalau kau beberapa kali bercinta dengan adik ku".


"Kalian melakukan nya dia balkon atas bukan,, menjijikkan sekali".


"Dan sekarang kau berlagak seolah tak mengenalnya??".

__ADS_1


"Aku beri kau satu kesempatan,, kalau sampai besok malam Alan tidak kau serahkan,,maka aku akan membawa mu sebagai jaminan".


"Kita lihat,, seberapa dalam adik ku mencintai wanita seperti diri mu".


"Sampaikan itu pada nya,, kau mengerti kan??".


Fransisca melangkah keluar rumah Nisa, dan meninggalkan dirinya yang masih shock. Dari mana dia bisa tahu hubungan Alan dengan nya. Nisa takut kalau sampai Fransisca tahu bahwa di dalam tubuh Alan, sebenarnya adalah jiwa Dito yang tertukar.


Nisa mondar-mandir semakin bertambah bingung harus bagaimana. Jelas tidak mungkin kalau dia harus menyerahkan Dito. Tapi Nisa juga tahu kalau Fransisca gadis yang kejam. Nyawanya bisa terancam kalau sampai dirinya dibawa oleh wanita itu.


Untungnya,, sejauh ini Fransisca tidak menyentuh putri kembarnya. Jangan sampai dia tahu kalau kelemahan Nisa ada pada kedua putri nya tersebut. Cukup Nisa saja yang harus berkorban, asalkan keluarganya selamat.


Nisa jadi khawatir menunggu Sofia dan kedua putrinya pulang. Biasanya mereka tidak pernah terlambat. Nisa mondar-mandir di depan pintu. Sampai sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.


Perasaan nya sudah tidak enak, karena Nisa merasa tidak asing dengan mobil di depan rumahnya tersebut. Benar saja,, Sofia dan si kembar turun bersama dengan Fransisca. Dia terlihat sok akrab kepada Nisa.


"Nisa,, kebetulan aku ingin mengunjungi mu, jadi sekalian saja ku jemput mereka".


"Kau tahu kan, rumah ku dekat sekolah si kembar".


"Aku sudah kangen sekali dengan mu".


Nisa sama sekali tak menanggapi ucapan Fransisca kepadanya. Dia hanya fokus pada keadaan Sofia dan si kembar. Setelah memastikan mereka tidak terluka, Nisa baru bisa bernafas lega.


"Sofia,, bawa anak-anak masuk ke dalam,, ini sudah waktunya makan siang bukan??".


"Mereka juga pasti sudah capek di sekolah tadi".


"Iya sayang,, sampai jumpa lagi ya".


Nisa menunggu sampai Sofia masuk ke dalam rumah. Dia lalu menghampiri Francis dan menyeret lengan nya menjauh dari rumah Nisa.


"Ku peringatkan kau,, sekali lagi kau sentuh putri ku,, aku tak akan tinggal diam".


"Ini urusan kita berdua,, tak ada hubungan nya dengan anak-anak ku".


"Mungkin kau belum tahu siapa aku,, sekali saja kau mencoba mengganggu kedua putri ku,, kau akan melihat diri ku yang sebenarnya".


"Jangan sampai kau menyesal karena sudah berurusan dengan Nisa".


"Oh....ya,,,oh....aku takut sekali,, ".


"Kau pikir kau bisa mengancam ku,, justru kau yang harus mendengar ku".


"Kalau kau tak mau anak-anak mu menjadi santapan binatang peliharaan ku,, kau harus serahkan Alan kepada ku".


"Tentunya kau baru masuk ke dalam satu lukisan bukan,, itu pun sudah membuat ciut nyali mu".


"Bagaimana kalau kau tahu apa yang ada di balik masing-masing lukisan di rumah ku".


"Aku yakin kau akan segera sadar sudah berhadapan dengan siapa kau sekarang".

__ADS_1


"Batas waktu mu hanya sampai besok,,".


"Jangan sampai aku kehilangan kesabaran kepada mu".


"Atau putri-putri cantik mu itu,, akan langsung ku kirim ke surga".


"Kau mengerti kan Nisa".


Francis tertawa menyeramkan, sambil berlalu pergi membawa mobilnya. Rupanya Nisa sudah kalah melawan wanita itu. Kedua putrinya sekarang yang menjadi taruhan nya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Nisa segera masuk ke dalam rumah. Dia menyuruh Sofia membereskan barang-barang nya bertiga. Nisa sudah menghubungi orang tuanya di Yogya. Segera mungkin, anak-anak harus di ungsikan ke sana.


"Memangnya kita mau ke mana Bu,, ada apa ini sebenarnya??".


"Sofi,, tolonglah aku kali ini,, bawa anak-anak ke Yogya bersama mu".


"Wanita yang menjemput kalian tadi, sangat berbahaya".


"Nanti setelah keadaan membaik, aku akan menjemput kalian".


"Kali ini aku sendiri yang akan mengantar kalian ke bandara".


"Anton dan Ratri sudah menunggu di sana,, dia akan mengawal mu sampai ke Yogya".


"Aku percayakan anak-anak padamu Sofi,, jaga mereka baik-baik".


"Kalau ada sesuatu, langsung saja kau hubungi aku,, mengerti!!!".


"Baik Bu Nisa".


"Ayo,, kita berangkat sekarang".


Buru-buru Nisa membawa Sheina, sementara Sheila di gendong oleh Sofia. Mereka segera naik taxi online untuk berangkat menuju bandara. Sementara Anton dan Ratri sudah mengurus segalanya di sana.


Dari dalam taxi online,, Nisa melihat sepasang mata tengah mengawasi dirinya. Orang itu sama sekali tidak di kenal ya. Dia sama sekali tidak perduli. Nisa bahkan buru-buru supaya segera sampai di bandara.


Perjalanan ke bandara sama sekali tidak ada halangan. Nisa segera menemui Anton dan Ratri untuk menitipkan putrinya.


"Memangnya wanita seperti apa yang sedang kau hadapi".


"Mungkin kami bisa membantu mu".


"Hanya aku yang bisa menyelesaikan nya Ratri,, tolong kalian jaga putri ku saja,, waspada kalau ada serangan gaib".


"Aku percayakan semuanya pada kalian berdua".


"Nisa,,, hati-hati,, selalu telepon kami".


"Terimakasih Anton, Ratri,, kalian sungguh baik".


Nisa memandang kepergian putrinya bersama Anton dan Ratri. Kali ini dia harus menuntaskan masalah ini secepatnya. Biar saja nyawanya terancam asal kan anak-anak sudah di selamatkan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2