
Mbah Cokro kelihatan sangat kelelahan. Arwah jahat yang di kirim ke tubuh Nisa rupanya sangat besar kekuatan nya. Untung saja dia berhasil keluar dari tubuh Nisa sebelum mbah Cokro menghabisinya. Nisa sendiri masih kelihatan linglung dalam pelukan Roy.
"Sebenarnya aku kenapa mbah,,kenapa aku seperti orang gila?".
"Tenang Nisa,, kita pulang ke rumah bapak sekarang".
"Ayo mbah...sebaiknya kita segera pergi dari sini".
"Tunggu Roy,,, biar Nisa dan Ari pulang duluan bersama Alan".
"Kau masih harus menyelesaikan urusan di rumah mu".
"Kita harus bergegas Roy, sebelum semuanya terlambat".
Roy menyuruh Nisa dan bapak untuk pulang duluan, sementara dirinya pergi bersama mbah Cokro. Namun dasar Nisa, dia tak mau tinggal diam dan bersikeras untuk ikut dengan Roy dan mbah Cokro. Alhasil, semuanya pergi bersama ke tempat yang di tuju oleh mbah Cokro.
"Sebenarnya kita mau kemana mbah, tolong katakan padaku".
"Bergegas lah Alan, kita akan ke rumah Roy".
"Memangnya ada apa mbah,, jangan membuat kami panik".
"Keluarga Roy sedang menginap di rumah saat ini".
"Apa terjadi sesuatu dengan mereka?".
Semua yang ada di dalam mobil terdiam. Nisa sama sekali tak menyadari kalau dirinya berulang kali di buat celaka oleh ibu mertuanya. Namun, Nisa tetap saja mengkhawatirkan mereka.
Mobil Roy memasuki pelataran rumah nya. Mereka kemudian turun dan memeriksa sekeliling. Mbah Cokro terdiam beberapa saat.
Mereka terlambat, arwah Sri dan Paijo sudah menyambut mbah Cokro di pohon beringin tempat biasa Sri mengajak si kembar bermain.
"Sebaiknya kalian berhati-hati saat masuk ke dalam rumah nanti".
Raut wajah mbah Cokro terlihat sangat serius. Roy tak berani bertanya, hanya mematuhi perintah nya saja. Tak berapa Roy dan Nisa masuk lewat pintu dapur. Sementara yang lain mengikuti di belakang.
Langkah mereka terhenti ketika melihat darah berceceran di depan pintu dapur. Nisa dan Roy tercengang. Mereka tak sabar untuk masuk ke dalam, takut terjadi sesuatu pada keluarga Roy.
"Mbah tunggu di sini saja, kalian masuk lebih dulu".
"Perhatikan langkah kalian berdua, jangan menyentuh apapun di dalam rumah nanti".
__ADS_1
Nisa memegang erat tangan Roy, takut terjadi sesuatu pada ibu mertuanya. Mereka tak sabar untuk segera masuk ke dalam.
Di dalam rumah, Roy mengikuti tetesan darah yang menetes di sepanjang pintu masuk. Keduanya masuk ke dalam kamar yang gelap. Langkah nya terhenti karena menyentuh sesuatu di sebelah dinding. Buru-buru Nisa menyalakan ponselnya. Bau amis menguar masuk ke dalam hidung nya.
Nisa mengarahkan ponselnya ke depan wajahnya. Betapa terkejutnya Nisa melihat kepala Sri dan Paijo tergantung di dinding dengan darah masih menetes dari lehernya. Tubuhnya sudah terlepas entah kemana. Nisa berteriak sekuat tenaga. Pemandangan di depan nya tak kuat dia saksikan. Nisa akhirnya pingsan di tangan Roy.
Roy segera membawa keluar tubuh Nisa yang pingsan. Sampai di luar, Nisa di baringkan di bawah pohon, sambil berusaha menyadarkan nya.
"Nisa,, bangun lah.....sadar Nis!!".
"Roy....bu Sri dan Paijo,,mereka......".
"Aku tahu Nisa, tenang lah,, biar polisi yang mengurus nya".
"Alan,, telepon polisi sekarang,, katakan kalau ada mayat di rumah ini".
"Baik pak Roy".
Roy dan Nisa masih melihat kepala Paijo dan Sri yang tergantung di dalam kamar. Heran nya, orang tua dan kakaknya sudah menghilang dari rumah tersebut. Roy jadi semakin bingung, siapa yang tega melakukan hal keji tersebut di rumah nya. Lantas, di mana keluarganya saat ini berada.
"Nisa, sebaiknya kau pulang saja, kau tak akan kuat melihat ini".
"Mereka orang baik,, siapa yang tega berbuat demikian".
"Kau benar, keluarga ku juga menghilang".
"Ponsel mereka tak bisa ku hubungi".
"Kalian duduk lah, tenang kan diri dulu".
"Kita tunggu polisi datang kemari".
"Ari benar Nisa, kalian tenang lah....setidaknya kedua orang itu sudah tenang di sana".
Suara sirine polisi sudah terdengar dari kejauhan.
Mereka segera turun dan menyisir tempat kejadian. Di tkp hanya ada dua kepala, sedang tubuh mayat tersebut belum di temukan. Polisi menginterogasi semua orang yang ada di tempat tersebut, termasuk Nisa dan Roy sebagai pemilik rumah.
Roy menceritakan semua kejadian tanpa ada yang di tutup-tutupi, termasuk menghilang nya keluarganya. Polisi berjanji akan mengusut kasus pembunuhan ini sampai tuntas. Mengingat kedua mayat tersebut di mutilasi oleh pelaku.
Polisi membawa kepala Sri dan Paijo yang masih bersimbah darah segar. Kedua wajah orang itu tampak tersenyum, sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Yang jadi pertanyaan adalah di mana tubuh keduanya di simpan oleh si pembunuh.
__ADS_1
"Mbah Cokro sedari tadi terlihat duduk di bawah pohon beringin. Dia sedang mencoba berkomunikasi dengan arwah Sri dan Paijo. Sayang nya tak banyak yang bisa di katakan oleh arwah keduanya. Mereka terdiam dan menangis, meratapi nasib nya.
Mbah Cokro beranjak bangun dari duduk nya. Dia kemudian berbicara kepada bapak dan Roy.
"Kita pulang sekarang,, biar polisi yang menyelidiki kasus ini".
"Nisa masih butuh istirahat, kondisi fisik nya masih labil".
"Mbah Cokro benar Roy, kau juga tak mungkin tidur di sini bukan".
Bapak dan mbah Cokro berjalan ke mobil lebih dulu. Saat Roy hendak menggandeng Nisa, tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu.
"Pak Roy,, jangan tinggalkan kami".
"Tolong pak Roy,, aku dan Paijo kedinginan di sini".
"Bawa saya keluar sekarang, ku mohon!!!".
"Nisa,, sadar lah....ada apa lagi dengan mu sekarang??".
"Saya Sri, pak Roy......tolong....bawa saya keluar,, saya takut di sini sendirian".
"Tolong pak Roy.......ku mohon!!!!".
Suara tangisan Nisa terdengar sampai ke dalam mobil. Tak ada pilihan lain, mbah Cokro kembali turun dan menolong Nisa.
"Sri,,,aku akan menolong mu kalau kau tunjukkan di mana tempat mu berada".
"Aku tidak tahu......dia membawa ku sangat jauh".
"Baik lah Sri, bersabar lah....kami akan segera menemukan mu".
"Sekarang keluar lah dari tubuh Nisa,, atau dia akan celaka".
Sri menuruti perkataan mbah Cokro, karena tiba-tiba Nisa pingsan dan terkulai lemas. Roy buru-buru mengangkat nya ke dalam mobil. Mereka segera meninggalkan rumah tersebut dan pulang ke kampung Larangan.
Hanya mata batin mbah Cokro saja yang bisa melihat kalau arwah Paijo dan Sri mengikuti di atas atap mobil Roy. Kalau orang awam tahu pastinya mereka akan langsung pingsan, pasalnya yang ada di atap mobil Roy hanya kepala mereka saja, karean tubuhnya masih belum di temukan.
Mbah Cokro sengaja membiarkan kedua arwah tersebut mengikutinya, karena mbah Cokro tahu, Sri dan Paijo tak mungkin berniat jahat pada Nisa dan keluarganya. Justru keduanya menjadi korban saat berusaha menyelamatkan nyawa Nisa dari kejahatan ibu mertuanya.
...****************...
__ADS_1