
Nisa membuka matanya dan mengamati sekeliling. Dinding kamar yang di dominasi warna putih, serta arsitektur Jawa kuno mendominasi ruangan. Buktinya semua perabotan di ruangan ini di dominasi oleh ukiran kayu jati.
Pelan-pelan Nisa bangun dari tidurnya dan mengatur sekeliling. Ini bukan rumahnya, seingat Nisa, terakhir kali dia tergolek.lemah tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Mustahil juga kalau bangunan rumah sakit sangat mewah seperti ini.
Nisa mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan. Sama sekali Nisa tak mengenali ruangan yang sedang di masuki nya saat ini. Terlebih lagi, Nisa mengenakan kebaya kebaya lengkap dengan sanggul dan perhiasan nya.
"Sebenarnya aku ada di mana sekarang??".
"Harusnya kau masih di rumah sakit bersama Dito".
"Kenapa kau bisa sampai ke tempat ini??".
Nisa melangkah mendekati pintu. Dia sangat penasaran dengan tempat yang ia datangi. Nisa membuka pintu kamarnya. Tampak orang-orang sibuk berlalu lalang di luar. Sepertinya mereka sedang menggelar acara atau hajatan.
Nisa masih diam mematung di depan pintu. Sampai seseorang menegurnya dengan bahasa Jawa yang halus.
"Kamu di dalam saja cah ayu,,tidak pantas kalau calon pengantin keluar kamar??".
"Memangnya ini di mana mbok??".
"Lo....kepiye to kamu ini,,,ya ini kan rumah mu to cah ayu!!!".
"Sudah,,,masuk sana....nanti kalau ketahuan den ayu, kamu bisa di marahi Lo!!".
Nisa semakin bingung saja. Dia kembali masuk ke kamarnya dan mencari ponselnya. Benda itu tak juga di temukan olehnya. Di dalam lemari kamarnya hanya berisi baju-baju kebaya kuno. Nisa jadi kesal sendiri di buatnya. Dia bahkan tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamarnya.
Sesaat kemudian, seorang wanita cantik berdandan Jawa dan juga memakai kebaya, memasuki kamar Nisa. Dia duduk di kursi rotan yang ada di kamarnya.
"Nduk....cah ayu, ini perias sudah datang".
"Mereka akan membuat mu tampak cantik di acara nikahan mu besok pagi".
"Ikuti apa kata-kata mereka ya cah ayu".
"Ibu ke depan dulu,, saudara bapak mu sudah pada datang".
Nisa nampak kebingungan, wanita itu bukanlah ibunya. Nisa hafal betul dengan kedua orang tuanya. Nisa tersentak dari lamunan nya,tatkala juru rias menyuruhnya duduk di depan cermin.
Nisa mengamati wajahnya di cermin. Masih sama, namun Nisa kelihatan lebih cantik dan jauh lebih muda daripada usianya. Dia ingat betul kalau dirinya sudah menikah dan punya dua anak. Lalu kenapa sekarang dia harus menikah lagi.
"Maaf Bu, boleh saya bertanya??".
__ADS_1
"Monggo,, silahkan..den ayu mau tanya apa??".
"Sebenarnya saya mau di nikahkan dengan siapa??".
"Lo,,, gimana to den ayu Sekar ini,, sama calon suami sendiri kok lupa??".
"Sekar,,,siapa Sekar Bu??".
"Wah......wah....den ayu ini sembrono,, mbok ya ndak usah grogi, mosok sama namanya sendiri kok ya lupa".
"Den ayu ini mau menikah sama den bagus Satria".
"Itu Lo den,,, pangeran dari negeri seberang".
"Orangnya gagah dan tampan, den ayu pasti suka".
Nisa semakin bertambah bingung mendengar penjelasan dari para juru rias. Ingatan nya akan masa lalunya hanya samar-samar. Nisa hanya mengingat kedua putrinya saja, selebihnya dia sama sekali tak mengetahuinya.
Setelah para juru rias pergi, Nisa berbaring lagi di tempat tidurnya. Kepalanya pusing memikirkan kejadian yang menimpanya. Lagi pula dia tak di ijinkan sama sekali untuk meninggalkan kamar nya.
Setelah agak malam, Nisa yang sudah di rias dan di pakaikan kebaya di bawa keluar ke tempat acara. Semua mata yang memandang tampak mengagumi kecantikan Nisa. Dirinya di bawa duduk di kursi dan diapit oleh ibu dan bapaknya.
ini bukan istana, melainkan hanya rumah yang sangat megah dan ke semuanya terbuat dari ukiran kayu jati. Nisa bersyukur, setidaknya dia tidak sedang berada di zaman kerajaan kuno. Hanya saja mungkin benar kalau mereka ada keturunan atau silsilah darah ningrat.
Rombongan mempelai laki-laki datang dari pintu depan. Kedua orang tua Nisa langsung berdiri untuk menyambutnya.
"Sekar,,ayo bangun...itu calon suami mu Lo nduk,,jangan bikin malu to".
Nisa bangun dan mengikuti gerakan ibunya.
Matanya sibuk mencari-cari yang mana sebenarnya suaminya.
"Lihat mbak yu, putri mu sudah tak sabar bertemu pangeran nya".
"Dari tadi pandangan nya tak beralih dari pintu depan".
"Sabar cah ayu,, Satria masih ada di luar,, sebentar lagi dia juga kemari".
Nisa hanya tertunduk malu, di pergoki oleh calon ibu mertuanya. Niat hati penasaran dengan wajah calon suaminya, tapi tingkahnya ketahuan. Akhirnya Nisa kembali bersikap biasa.
Sampai akhirnya, seorang lelaki gagah lagi kekar berjalan dari arah luar. Laki-laki itu masih sangat muda dan juga tampan. Dia menghampiri tempat orang tua Nisa duduk, lalu mencium telapak tangan keduanya.
__ADS_1
"Kamu tau kebiasaan to,, acara pernikahan mu saja kok Yo masih kerja".
"Tanggung Bu,, sebentar lagi selesai".
"Dik....kamu cantik banget malam ini".
"Wis......sana, duduk dulu dekat orang tua mu".
Nisa tersenyum dan kemudian menunduk. Seolah dirinya tak percaya, kalau akan menikah lagi dengan lelaki setampan Satria.
Nisa masih bingung apakah dirinya sedang di dunia nyata, atau kah hanya ilusi yang diciptakan oleh iblis. Apakah semua orang ini bagian dari mereka, untuk mengacaukan jiwa Nisa. Benarkah Nisa akhirnya bergabung dengan sang iblis yang di puja oleh Fransisca.
Nyatanya, malam pertunangan nya dengan Satria berlangsung dengan sukses. Tinggal besok pagi pelaksanaan acara pernikahan keduanya. Nisa bingung, harus berbagi cerita ke siapa. Semua orang di sini satupun tak ada yang di kenalnya.
Liontin naga dan cincin mustika pun ikut lenyap dari tubuhnya. Nisa seperti orang asing di tengah kumpulan orang-orang yang menganggap nya keluarga. Kalau bisa, Nisa ingin berteriak sekencang-kencang nya. Melepaskan rasa yang bergejolak di dalam dadanya. Namun Nisa hanya bisa terdiam dan menantikan kejutan-kejutan yang selanjutnya.
Saat malam tiba pun, Nisa hanya bisa terlelap sambil berharap, kalau saja ini mimpi, semoga dia segera bangun dari tidurnya. Dia sangat ingin kembali ke dunia nyata.
Pagi-pagi buta, Nisa sudah di bangunkan. Nyatanya dia masih berada di tempat yang sama. Mereka bilang hari ini adalah hari pernikahan nya. Para juru rias bertugas mempercantik penampilan nya di hari besarnya ini.
Acara pernikahan dengan adat Jawa kental, baru saja dilalui Nisa bersama dengan suaminya Satria. Keduanya kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Selepas resepsi kedua pasangan pengantin baru ini di bawa menuju ke kamarnya.
Kedua nya kini duduk saling berhadapan di atas ranjang pengantin. Nisa terlihat canggung, menghadapi suaminya. Dia sama sekali belum pernah bertemu dengan nya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya??".
"Apa maksud mu Sekar, kita menikah tentu saja karena sudah saling mengenal".
"Kemarilah,, sekarang tugas mu untuk menyenangkan hati suami mu ini".
"Tapi, aku sungguh belum siap,, bisakah kita menundanya".
"Aku mau kita melakukan nya karena saling cinta bukan karena kewajiban".
"Ku mohon,, kau bersedia memberi aku waktu bukan????".
"Waktu mu sudah habis Nisa,,, ini saat nya bagi kita untuk bersenang-senang!!!".
Nisa tak mungkin salah dengar. Pria itu menyebut dirinya Nisa,,, berarti dia memang mengenal Nisa dengan baik. Hanya saja Nisa yang masih belum mengenalinya. Dia hanya terkejut melihat tatapan mata dan seringai Satria yang seolah-olah bersiap untuk menelanjanginya.
...****************...
__ADS_1