
Pagi hari nya, semua keluarga sudah bersiap untuk acara pemakaman. Termasuk hadir pula Alan di situ dengan berada di sisi orang tua Dito. Nisa tertunduk dan bersedih. Dengan Dito di makamkan, rasanya dunianya sudah hancur. Meskipun Dito tak benar-benar meninggal, bagi Nisa Dito tetap sudah pergi.
Semuanya akan menjadi lain bagi Nisa dan kedua putrinya. Mereka masih belum bisa mengingat wajah ayahnya. Dan sekarang, selamanya tak akan pernah bisa melihatnya.
Roy berdiri di sisi Nisa untuk memberinya dukungan.
"Kau sudah siap kan??".
"Iya,,walaupun berat melepas mas Dito, aku harus merelakan nya kan?".
"Setidaknya kau tahu kalau kau bisa mengandalkan aku dalam hal apa pun"
"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat si kembar tidak kehilangan kasih sayang ayahnya".
"Maksud mu Roy??".
"Ah ...tidak, maksud ku, si kembar dan juga kau, aku yang akan mengurus kalian mulai sekarang".
"Jangan bicara begitu Roy,,aku masih berkabung".
"Jangan sampai mereka menduga yang tidak-tidak".
Nisa menjauh dari Roy dan khusuk mengikuti upacara pelepasan jenazah suaminya. Sementara Alan terus saja melihat tingkah laku Roy dari tadi. Dia jadi semakin tahu seperti apa sifat Roy yang sebenarnya.
Saat jenazah Dito di turunkan ke liang lahat, orang tua mereka menangis haru,begitu pula dengan Nisa dan kedua orang tuanya.Alan sendiri menangis melihat tubuhnya dimasukkan ke dalam tanah. Para pekerja makam segera menimbun dan menutup makan sampai selesai. Setelahnya para pelayat semua pulang, meninggalkan Nisa yang masih ada di makam.
"Selamat jalan mas, semoga kau beristirahat dengan tenang".
"Aku dan anak-anak akan selalu mengenang mu".
Nisa masih terduduk di pusara Dito, ketika sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Dia mencium puncak kepalanya dan menyandarkan kepala Nisa di dada bidangnya.
"Hentikan sikap mu ini".
"Diam lah Nisa, tak ada siapa pun di sini, hanya kita berdua".
"Lepaskan aku,, aku bahkan tidak mengenal tubuh itu".
"Ini aku Dito suami mu,,tubuh ini hanyalah perantara bukan??".
"Tentu lain Dito, aku dan dia bukan siapa-siapa".
"Jaga sikap mu, aku tak mau ada skandal di antara kita".
Nisa berjalan menjauh, sementara di kejauhan tampak Roy menjemputnya. Dia menghampiri Nisa karena terlihat bersama Alan.
"Apa anak itu mengganggumu?".
"Tidak,,,dia adik mas Dito, mulai sekarang aku yang harus mengurusnya bukan??".
"Ayo kita pulang, anak-anak menunggu mu".
Nisa berjalan beriringan bersama Roy. Sepeninggal Dito, Nisa yakin semuanya akan pasti berbeda. Status Nisa yang sekarang menjadi janda. Dia berharap bisa melewati semuanya.
Hari berganti hari sejak Dito meninggal. Kedua orang tua Nisa sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Nisa juga sudah bekerja lagi di kantor. Sesekali Alan datang ke rumah untuk menemui Nisa dan anak-anaknya.
Roy makin intens mendekati Nisa. Sekarang dia merasa bebas mengungkapkan perasaan nya pada Nisa. Semenjak Dito meninggal, seolah tak ada lagi penghalang bagi cintanya.
__ADS_1
Dia sering memberikan perhatian kecil pada Nisa dan putri kembarnya.
Akan halnya dengan Nisa, dia masih merasakan dilema. Tubuh Dito memang sudah meninggal, tapi arwahnya ada dalam tubuh orang lain. Dia tak mungkin bisa bersikap seperti kepada suaminya sendiri. Apalagi usia Alan masih muda, tentu ada aturan yang harus mereka ikuti bila ingin bersatu.
Nisa baru saja sampai di kantor ketika ponselnya berdering. Ada telpon masuk dari Alan untuknya. Nisa segera menjawab panggilan nya.
"Sayang, aku kangen sekali dengan mu".
"Malam ini kita bisa ketemu kan??".
"Entahlah mas,,,aku ada rapat,,,kita lihat saja nanti".
"Aku suami mu Nisa,,turuti perintah ku, baru yang lain nya".
"Oke,,,baik....jam 7 tunggu aku di depan kantor".
"Aku akan menemui mu di sana".
"Baik sayang, terimakasih".
"Siapa yang akan kau temui??".
"Roy,,kau mengagetkan ku,,,tidak......teman ku ingin mengucapkan belasungkawa mumpung ada di sini".
"Dia dari Sumatera".
"Oh.....berarti kau tak bisa ikut makan malam?".
"Aku minta maaf Roy, sepertinya aku harus absen malam ini".
Kedatangan Roy yang tiba-tiba membuat Nisa sangat terkejut. Jangan sampai Roy tahu kalau dia akan menemui Alan. Untung saja penjelasan Nisa bisa di terima oleh Roy.
Tepat pukul 7 malam, Nisa keluar dari kantor. Di seberang jalan, Alan sudah menunggunya. Nisa menghampirinya dan masuk ke mobil yang di pakai Alan. Setelah itu, dia membawa Nisa pergi bersamanya.
"Kita mau kemana mas??".
"Aku akan membawamu ke rumah ku,,eh.....rumah Alan maksudku".
"Jangan macam-macam mas,,aku belum siap harus bertemu dengan mereka".
"Kau harus tahu Nisa, Alan hidup sendiri".
"Dia pemuda yang sangat kaya".
"Aku sudah mempelajari semuanya".
"Terserah saja ya mas,, karena berada di tubuhnya bukan berarti kau bebas menjadi dia".
"Lalu aku harus apa?".
"Mana ku tahu??".
"Ini yang membuatku merindukan mu".
"Kalau di rumah Alan aku hanya sendiri,, kangen sekali dengan mu dan anak-anak".
"Bagaimana dengan ku,, kangen tidak??".
__ADS_1
Arwah Mawar tiba-tiba hadir di antara Nisa dan Alan. Hal itu tentu saja mengejutkan nya, mengingat Mawar adalah penyebab Dito celaka sampai meninggal.
"Bagaimana kau tiba-tiba bisa di sini".
"Apalagi,, aku merindukan mu lah...".
"Jangan bercanda, pergi dari sini".
"Sudah lah mas,, Mawar ini teman ku sekarang".
"Tapi, bukan nya dia yang mencelakai ku".
"Hmmm.....itu ada sebabnya kan Dito??".
"Kau mau aku cerita semuanya pada Nisa??".
"Jangan lakukan itu, atau kau mau mati dua kali hah ..??".
"Sayang,,suruh dia pergi dari sini".
"O ...jadi begitu ya,,,,dulu kau selalu senang bertemu dengan ku".
"Sekarang kenapa seperti itu??".
"Tutup mulut mu Mawar, dan pergi dari sini sekarang juga".
"Hu......takut,,,,kau pikir aku akan menurut".
"Kalian semua diam lah,,atau aku yang turun dari mobil ini".
"Jangan Nisa,, iya....aku akan diam".
"Bagus,,memang seharusnya sejak tadi kau diam".
"Jangan mulai lagi mas,, aku pusing sekarang!!".
Sepanjang perjalanan, Mawar dan Dito terus saja bertengkar satu sama lain. Entah kenapa
mereka tak ada yang mau mengalah. Nisa hanya diam saja menyaksikan tingkah keduanya.
Sampai di rumah Alan, mereka turun dan masuk ke dalam rumah. Rumah yang besar dan megah. Entah siapa Alan ini, Nisa Bahakan belum mencari tahu identitasnya. Dia sibuk mengurus segalanya sejak Dito meninggal, sampai dia lupa kalau Alan sekarang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dirinya.
Sampai di dalam rumah, seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan nya. Nisa ingat betul kalau wanita itu yang kerap kali menunggui Alan di rumah sakit. Dia menyambut Nisa dengan ramah dan mempersilahkan nya masuk.
"Silahkan non, masuk saja, ini pertama kalinya den Alan bawa teman ke rumah, jadi bibi gugup".
"Terima kasih bi, tak usah sungkan, saya hanya teman biasa".
"Saya seperti pernah melihat nona, tapi saya lupa di mana".
"Ah....bibi sudah tua jadi kadang salah mengira".
"Mari silahkan duduk".
Nisa masuk ruang tamu rumah Alan. Mirip sekali dengan rumah hantu di film-film. Lukisan tokoh-tokoh jaman dulu menambah seram penampakan ruang tamu. Nisa jadi bergidik ngeri melihatnya.
...****************...
__ADS_1