
Sampai di rumah Nisa sudah hampir dini hari. Alan menurunkan nya di pinggir jalan dan langsung pergi. Itu memang permintaan Nisa,karena tak ingin sampai ada yang tahu tentang kedekatan mereka berdua. Nisa langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar tidurnya.
Pagi harinya Nisa terbangun dengan tubuh yang lemas. Percintaan nya dengan Dito semalam masih menyisakan rasa lelah. Maklum saja, Alan adalah seorang pemuda,wajar jika stamina nya masih sangat bagus. Dan Nisa harus terbiasa menghadapi hal itu nantinya, mengingat tubuh Alan sekarang jadi milik Dito.
"Ibu tidak berangkat ke kantor hari ini??".
"Entah lah Sofi, sepertinya aku tak enak badan".
"Iya,,semalam ibu pulang larut sekali,,ibu harus jaga kesehatan mulai sekarang".
"Iya Sofi, aku mengerti".
"Tolong kau buatkan kopi untuk ku".
"Baik Bu".
Nisa berjalan ke ruang tamu dan mengambil ponselnya. Dia menghubungi nomer telepon Roy. Hari ini dia harus ijin tidak ke kantor. Nisa merasa dia butuh istirahat.
"Roy, sepertinya aku tak bisa ke kantor hari ini".
"Aku kurang enak badan, jadi aku ingin istirahat sehari saja".
"Apa kau sudah ke dokter,, biar aku antar kau sekarang".
"Tidak Roy, jangan....aku hanya butuh istirahat saja".
"Kau tak perlu cemas".
"Ok,,,istirahatlah....aku akan mampir nanti".
"Roy.........!!!".
Terlambat,,belum sempat Nisa bicara meminta Roy supaya tidak datang, dia keburu menutup telepon nya. Nisa beranjak ke dapur, mengambil kopi buatan Sofia dan kembali ke kamar nya. Dia masih saja penasaran dengan keluarga Alan.
Nisa kembali ke kamarnya. Dia membuka laptop dan menyalakan nya. Nisa mengetik nama Alan Wibisana di kolom pencarian orang. Nisa membaca satu persatu profil yang terpampang di laptopnya, sampai dia menemukan foto Alan.
Dia membaca keterangan profil di kolom bawah. Menarik sekali, ternyata Alan adalah salah satu keluarga terkaya keturunan ningrat dari tanah Jawa. Hartanya tersebar di mana-mana berbentuk perusahaan atau aset publik.
Tidak ada yang tahu pasti keberadaan orang tua Alan, tapi yang jelas laporan kekayaan nya tersusun rapi setiap tahun dan dikirimkan kepada seseorang yang berada di luar negeri.
Alan sendiri sudah lama menderita penyakit langka. Dia akan tidur sepanjang hari, tapi jika malam, Dia akan aktif beraktifitas. Dia merupakan pebisnis muda handal. CEO yang di segan i oleh beberapa perusahaan raksasa.
Bahkan perusahaan Roy dan Nisa berada di bawah manajemen nya. Alan yang menjalankan bisnis tersebut dengan bantuan dari kedua asisten kepercayaan nya.
Nisa mengamati foto pasangan suami istri paruh baya yang ada di laptop nya, ternyata orang itu adalah pelayan yang ada di rumah Alan. Nisa bahkan tak tahu kalau gelar akademis mereka berdua sangat tinggi untuk ukuran seorang pelayan.
Nisa masih menyelesaikan membaca ketika ponsel nya berdering. Rupanya Dito yang menelpon nya. Dia segera menjawab nya.
"Kau tidak ke kantor hari ini??".
"Iya, aku tak enak badan".
"Kalau begitu aku akan menjemput mu sekarang".
"Kita bisa bersenang-senang lagi seperti semalam".
__ADS_1
"Memang nya kau tidak bekerja??".
"Aku masih belum tahu apa yang harus ku kerjakan".
"Mereka masih menganggap ku sakit, jadi bibi masih melayani ku seperti di rumah sakit".
"Apa kau sudah mencari tahu tentang Alan??".
"Belum,,,di sini sama sekali tidak ada petunjuk Nisa".
"Kau harusnya tahu Dito,,kau kan sudah lama di situ".
"Setidaknya, Alan pasti punya barang pribadi kan??".
"Laptop, hand phone, apapun itu,apa kau tidak memegangnya?".
"Ini ponsel baru Nisa, bibi yang memberinya".
"Nanti coba aku cari tahu".
Nisa gemas sekali. Dito memang seperti ini. Selalu saja Nisa yang harus mendikte nya. Dia terlalu santai dan tak berprasangka apa pun.
Semua orang dianggapnya sama.
Sementara informasi di google hanya terbatas saja mengenai Alan Wibisana ini. Nisa merasa perlu mengetahui semuanya, sebelum Alan benar-benar menjadi suaminya nanti. Bagaimanapun juga, dalam tubuh pemuda itu ada jiwa Dito bukan".
Nisa berbaring mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Sofia tengah mengantar anak-anak ke play grup.Jadi Nisa sendirian saja di rumah.Dia ingin menikmati harinya dengan berbaring seharian di kasur. Namun harapan tinggal harapan. Roy datang ke rumah Nisa. Dia membunyikan bel pintu rumahnya.
Nisa bangkit dan berdiri, dia membukakan pintu untuk Roy. Pria itu membawakan nya makanan dan buah-buahan lengkap untuk Nisa.
"Ini makanlah supaya kau lekas sehat,,mana anak-anak??".
"Mereka masih di play grup bersama Sofia".
"Ayo, masuklah Roy".
"Kau mau ku buatkan kopi".
"Tidak perlu Nis, duduklah....kau harus istirahat kan??".
"Aku hanya kecapekan saja,,kau tak perlu heboh seperti ini".
Nisa memperbaiki duduknya karena melihat Roy menatapnya. Kebetulan Nisa memang masih memakai baju tidur, dia belum sempat berganti baju dari semalam.
"Maaf Roy,,aku ganti baju sebentar kalau membuat mu tak nyaman".
"Jangan, kau terlihat cantik memakai pakaian ini".
"Sudah lama aku menantikan momen ini lagi".
"Hanya berdua dengan mu saja".
"Jangan macam-macam Roy, aku masih berduka".
"Aku tahu,,aku hanya ingin memberi mu semangat ".
__ADS_1
"Kau harus bangkit bukan".
"Dito sudah pergi sekarang, dan aku rasa anak-anak membutuhkan sosok ayah".
"Kasihan, mereka masih terlalu kecil bukan?".
"Dan maksud mu??".
"Kapan pun kau siap, aku bersedia menggantikan tugas Dito di sisi mu".
"Aku belum memikirkan itu Roy,, aku masih ingin sendiri".
"Kau jangan berbohong Nisa,kita tahu kan kenapa Dito sampai meninggal".
"Dia bermain dengan wanita lain dan mengkhianati mu".
"Karena kita yang melakukan nya duluan Roy".
"Kita yang telah mengkhianati Dito".
"Aku yang bodoh waktu itu karena begitu terlena oleh kata-kata mu".
"Kita melakukan kesalahan besar".
"Kesalahan kita sudah terbayar dengan penghianatan Dito".
"Buang jauh-jauh perasaan bersalah yang masih ada di hati mu".
"Dito sudah tenang sekarang, mari kita lanjutkan hidup bersama".
Nisa mendorong Roy yang mencoba mencium nya. Sayang sekali karena Roy masih memegang tangan Nisa, jadi Nisa tak bisa lagi menghindar. Roy mencium lembut telapak tangan Nisa dan menarik tangan nya agar kembali duduk.
"Stop Roy, jangan lakukan ini,,aku tak bisa".
"Kau tahu bagaimana perasaan ku kan?".
"Aku sudah lama menahan ini".
"Sekarang tak ada lagi yang menghalangi cinta ku".
"Terimalah aku Nisa,, kumohon".
"Lepaskan Roy, atau aku akan teriak".
"Aku tahu kau juga menginginkan nya".
"Sentuhan ku waktu itu, kau masih mengingatnya bukan??".
"Jangan Roy,, hentikan ........".
Roy masih berusaha merayu Nisa. Dia menyentuh titik sensitif yang ada di tubuhnya. Pengalaman nya bersama Nisa membuatnya mengerti tentang diri Nisa yang sebenarnya.
Sementara Nisa masih mengelak. Sekuat tenaga dia menahan sentuhan dan rayuan maut yang dilancarkan oleh Roy. Sampai tak sadar kalau tangan Nisa yang lain memanggil Alan dari ponselnya.
...****************...
__ADS_1