Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Dia Kembali.


__ADS_3

Roy menelpon Ki Santoso. Lama sekali baru panggilan nya tersambung.Dia menceritakan kejadian yang di alami oleh Siska.


"Ki,, Siska berjalan sendiri menuju dapur,, seperti ada yang memanggil".


"Kalian tenang dulu, ikuti Siska...sementara aku akan menelpon Anton".


"Kalian tunggu saja, semoga dia bisa mengatasinya".


"Baik Ki,, tolong cepat ya Ki??".


"Ya Roy......tunggu sebentar".


Ki Santoso yang masih di perjalanan mengantar ustad Maksum, menceritakan semua yang terjadi kepada Siska. Biasanya Nisa bisa mengatasi hal seperti ini, tapi sejak jiwanya di kuasai iblis, Nisa jadi kehilangan kemampuan nya. Ki Santoso segera menelpon Anton agar datang ke rumah Roy untuk membantu menenangkan Siska.


"Apa yang terjadi dengan Siska sebenarnya??".


"Nisa,, bacakan ayat suci dan doa-doa untuknya".


"Semoga dia cepat sadar dan tidak bertingkah aneh lagi".


"Sambil kita menunggu Anton kesini".


"Alan,, awasi kakak mu dulu, jangan sampai dia keluar rumah".


"Kalian cepatlah....!!!".


Siska terus berjalan mengikuti sosok Satria yang memanggilnya. Dia hafal betul dengan suara Satria tersebut. Langkahnya terhenti di depan rak almari tempat Roy menyimpan benda pusaka milik leluhurnya.


Siska duduk bersimpuh dengan tangan di satukan di atas hidung nya. Dia terus memandang ke dalam rak. Di dapatinya Satria tengah menatap dirinya.


"Aku siap menuruti perintah mu".


"Aku adalah pengikut sejati mu".


"Katakan keinginan mu, akan segera ku kabulkan".


"Siska,,,sadar kak.....tidak ada siapa pun di sini".


"Jangan seperti ini,, ayo bangunlah".


"Lawan iblis itu agar tak mengganggu mu terus-menerus".


Siska masih saja terdiam dengan tatapan kosong. Dia belum beranjak dari depan rak.


Seolah-olah dia melihat Satria di sana. Iblis itu kembali mempengaruhi dirinya.


Sementara Nisa, tak henti membacakan ayat suci dan doa-doa di samping Siska. Namun, gadis itu seperti tidak mendengarnya. Dia tetap pada posisinya.


Tak berapa lama, Anton akhirnya datang bersama Ratri. Mereka berdua langsung menuju tempat Siska duduk bersimpuh.


"Roy,, kalau boleh bukalah dulu rak mu tersebut".


"Mungkin yang mengganggu Siska ada di dalam".


"Aku dan Ratri akan bersiap di sini".


"Kau saja yang buka Anton, aku ngeri kalau sampai melihat sosok iblis itu".

__ADS_1


"Nisa, minggir dulu dari samping Siska".


"Siapa tahu dia nanti merasuki tubuhnya".


Nisa berlari mendekati Roy, masih dengan memegang tasbih pemberian kyai Maksum di tangan nya. Dia memperhatikan Anton dan Ratri saat sedang menyadarkan Siska.


Gadis itu tetap memperhatikan "sosok" yang memanggilnya dari dalam rak. Ketika Anton membukanya, asap biru membentuk seberkas sinar langsung masuk melalui hidung Siska. Seketika dia berubah menjadi Fransisca kembali.


Gadis itu berdiri dan memandang orang-orang di sekitarnya. Dia mendekati tempat Nisa berdiri.


"Kemarilah Nisa,, kau ingat padaku kan??".


"Aku Satria mu".


"Siska, sadarlah....jangan turuti kemauan iblis tersebut".


"Ayo,, lawan lah Siska".


Nisa maju ke depan, masih terus membaca


doa dan membawa tasbih. Saat Nisa hendak menyentuh Siska, dengan cepat dia mundur ke belakang dan menjauhi Nisa.


"Diam di situ Nisa,, atau aku tak segan-segan untuk menghukum kalian semua".


"Mungkin kyai itu mengira sudah berhasil menyingkirkan ku".


"Dia salah besar,, aku masih akan kembali untuk membawa Nisa bersama ku".


"Aku tidak mau,, jangan mengganggu ku lagi".


"Tenang aja Nisa, biar kami yang menangani nya".


Anton dan Ratri membacakan doa khusus seraya menyentuh kening Siska. Gadis itu berteriak melawan Anton dan Ratri. Mulutnya mengucapkan sumpah serapah untuk keduanya. Mata Siska bahkan sudah berubah memerah laksana darah.


"Berani kalian mengusir ku, aku akan langsung membunuh kalian berdua".


"Lihat saja nanti, kalian tak mungkin ku lepas


kan ".


"Aku ini tak terkalahkan".


Dengan kemarahan Siska, seisi ruangan telah melayang ke arah Anton dan Ratri. Dia menyerang kedua orang tersebut, dengan benda-benda yang ada di dalam rumah. Puncaknya, sebuah pisau melayang hendak mengenai punggung Ratri. Untung saja Anton langsung menangkisnya.


Siska tertawa terbahak-bahak menyaksikan kekacauan yang di timbul kan olehnya. Tak berhenti sampai di situ, dia memanggil angin yang sangat besar masuk ke rumah Anton.


Nisa sampai harus memeluk pilar supaya tidak ikut di terbangkan ke atas.


"Kalian masih berani padaku??".


"Ayo....lawan aku sekarang!!!".


"Aku masih ingin bermain di sini".


Ratri dan Anton di angkat ke atas gipsum. Badan nya di bentur-benturkan dengan keras. Mereka berdua berusaha melawan dan mengendalikan situasi.Ratri mengeluarkan sebuah batu yang ditaruh dalam kalungnya.


"Kekuatan batu berwarna ungu tersebut bisa meredakan angin besar yang di ciptakan oleh Siska.

__ADS_1


"Sudah cukup Siska, ini bukan saatnya untuk main-main".


"Pergilah sekarang juga, atau aku terpaksa bertindak".


Melihat Fransisca hanya tertawa, kedua nya pun langsung beraksi. Mereka menyatukan kekuatan membentuk bulatan cahaya berwarna terang. Cahaya tersebut di arahkan ke kening Siska. Seketika dia menjerit kesakitan dan meminta ampun. Dalam sekejap, Siska kembali sadar seutuhnya.


"Apa baru ada gempa di sini??".


"Kepala ku pusing sekali, aku rasanya ingin tidur".


Alan membawa kakaknya ke atas sofa. Dia membaringkan tubuhnya dengan hati-hati.


Anehnya, Siska langsung tertidur lelap.


"Kau yakin, iblis itu sudah pergi dari tubuh Siska sekarang??".


"Untuk saat ini ya,, tapi dia masih belum bisa di musnahkan".


"Malam ini kalian harus waspada, terutama kau Nisa".


"Dia masih mengincar jiwa mu,, jangan lengah sedikitpun".


"Baik,,Anton, aku mengerti".


"Siska akan tertidur sepanjang malam ini, kalian jangan khawatir".


"Besok pagi dia akan sadar kembali".


Anton dan Ratri langsung pamit untuk pulang. Mereka meninggalkan putranya di rumah. Lagipula, situasi telah teratasi dengan baik.


Semoga iblis itu tidak datang lagi.


"Memangnya siapa mereka Roy??".


"Aku seperti familiar dengan wajahnya".


"Mereka memang teman mu Nisa,, kita satu kantor dengan nya".


"Mereka kerap kali membantu mu dan Dito dulu".


"Siapa Dito, aku rasa, aku belum pernah melihatnya".


"Dia suami mu, tapi sudah meninggal".


"Apa kau sudah benar-benar melupakan nya?".


"Entahlah....aku tidak begitu yakin".


"Seperti pernah mendengar namanya,, tapi sama sekali belum bisa mengingatnya".


"Ya sudah,, jangan kau paksakan".


"Yang penting kau tahu kalau nama suami mu itu Dito".


Alan menghela nafas panjang. Nisa sama sekali tak menyadari kalau Dito sebenarnya ada di dekatnya. Alan harus bisa menahan diri. Dia tak ingin menambah masalah bagi Nisa. Yang terpenting bisa menjaga dirinya dan selalu di dekatnya.


Ketiga orang tersebut segera merebahkan tubuh mereka masing-masing di kasur yang sudah di tata di ruang tamu. Setidaknya mereka berempat bersama, apabila terjadi sesuatu nanti. Hari memang sudah sangat larut. Nisa dan yang lain langsung memejamkan mata.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2